Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Tentang Sebuah Level


__ADS_3

Di rumah mewah bergaya klasik Eropa itu, Nilam duduk tertunduk di sebuah sofa. Kedua telapak tangan yang berkeringat dingin itu saling meremas. Sedangkan Gavin duduk di sebelahnya dengan santai tanpa beban.


Tak tak tak ....


Suara derap langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arah mereka.


Dengan setelan santai berpadu wedges berwarna silver di kaki mulusnya, Briana berdiri bersilang tangan di hadapan kedua muda-mudi itu.


"Baru ingat pulang kamu, Gavin?"


Gavin bangkit menghampirinya. Seperti biasa, sikap santai selengeannya itu menjadi ciri khas ketika berhadapan dengan sang mama. "Aku hanya liburan, Ma," kilahnya seraya memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dari belakang.


"Liburan? Bersama dia?" Telunjuk Briana terarah pada Nilam yang masih bergeming di tempatnya.


"Iya, kenapa?" Jawaban enteng Gavin di iringi pertanyaan.


Namun terdengar menjijikkan di telinga Briana. "Kamu bisa ajak wanita lain yang lebih pantas, Gav."


Gavin melepaskan pelukannya, lalu menuntun Briana untuk duduk di sofa berseberangan dengan Nilam. "Ma, aku meminta restu Mama." Tanpa perduli dengan kicauan Briana sebelumnya, ia bersimpuh di hadapan wanita itu, dengan kedua lutut menjadi tumpuannya.


"Restu? Untuk?" Briana mengernyit tak mengerti.


Di awali seulas senyum. "Untuk menikahi Nilam."


"Nilam ...?" Mata Briana melirik gadis yang terduduk di hadapannya.


"Iya, Ma. Tolong restui aku."


"Tunggu dulu, Gav, Nilam siapa yang kamu maksud?"


Gavin tersenyum, lalu mengarahkan wajahnya ke arah Nilam. "Dia, Ma."


Briana memberengut bingung. "Bukankah namanya Nuri?"


"Iya. Tapi itu hanya nama samaran, Ma. Nilam adalah nama sebenarnya."


"Nama samaran?"

__ADS_1


"Ia sengaja merubah namanya untuk menjaga dirinya dari bahaya yang tengah mengincarnya waktu itu."


"Mama benar-benar tidak mengerti, Gav."


"Nanti aku jelaskan. Oiya, Ma, apa Mama tahu, dia ini gadis yang aku ceritakan pada Mama. Gadis yang selama ini aku cari-cari. Gadis yang selalu aku rindukan. Jadi aku mohon, restui pernikahanku dengan dia. Ya, Ma?"


Briana terdiam. Raut kesungguhan Gavin, sedikit menyentuh perasaannya. "Ta- tapi, Gav. Dia ...."


"Dia adalah kebahagiaanku, Ma. Mama boleh hukum aku, jika kelak hubunganku dengan dia tak sesuai dengan apa yang Mama harapkan. Tapi aku akan membuktikan, bahwa Nilam memang layak mendampingiku. Untuk saat ini, aku hanya butuh restu Mama," pungkas Gavin meyakinkan.


Tak bisa di pungkiri, di balik diam dan wajahnya yang menunduk, hati Nilam sungguh dalam harap dan cemas.


Gavin beringsut bangkit. Menggeser tubuhnya mendekati Nilam, lalu duduk di samping gadis yang masih membisu itu. "Nilam, boleh aku buka kain di kepalamu ini?" pintanya lembut.


Sorotan mata Nilam menatapnya bingung. "Untuk?"


"Buka saja. Bisa?"


Sebelum menjawab, Nilam melirik sekilas ke arah Briana yang masih terdiam memperhatikan. Sesaat kemudian kepalanya mulai bergerak ke atas lalu ke bawah, pertanda ia menyetujuinya. "Iya, Gav."


Briana masih terdiam. Diam yang di dalamnya terselip keterpanaan.


Seperti dalam mode belum puas, Gavin menarik ikat rambut yang masih melingkar di cepolan rambut Nilam itu, dan ....


Wussh! Rambut panjang nan legam itu tergerai indah bak selendang dewi.


Nilam cukup terkejut dengan ulah kekasihnya tersebut. Perasaan tak nyaman sedikit menggoda diamnya. Ia kembali menundukkan wajahnya.


Kali ini tak bisa di sangkali, wajah Briana dalam tahap melongo. Perlahan mulutnya mulai bergerak, membentuk kata, "Sempurna ...." Sebuah gumaman yang nyaris tak terdengar. Namun gerakan bibirnya masih bisa di tangkap Gavin.


Pemuda itu tersenyum. "Benar, Ma. Sempurna. Mama pasti mengerti, bagaimana tidak, aku tergila-gila padanya."


Tak pernah tersipu, meskipun milyaran puja dan puji mengalir untuk anugerah yang di milikinya, Nilam selalu merasa itu hanyalah sebuah bualan dan tipu daya. Biasa saja. Tak perlu melambung. Sebuah pemikiran logis yang nyaris langka untuk seorang wanita yang pada dasarnya sangat suka di puja.


Namun suara pujian Gavin itu, membuat Briana mengerjap seketika. Berusaha menetralisir kekagumannya. "Ta- tapi ... te- tetap saja dia tak selevel dengan kita, Gavin."


Degg! Sebuah kalimat sederhana, namun cukup menimbulkan sebuah goresan kecil di hati Nilam.

__ADS_1


Apakah kasta sepenting itu bagi mereka? Berhasil ! Satu bulir bening di sudut mata indahnya, terjun bebas tanpa penghalang.


"Ma!" sergah Gavin dengan oktaf suara setahap lebih tinggi. "Tolong ... jangan menyangkut pautkan segalanya dengan kedudukan dan harta. Atau Mama akan menyesal. Dulu Mama menghadirkan wanita yang menurut Mama selevel dengan kita. Tapi lihat! Wanita itu sudah menghancurkanku, menghancurkan kepercayaanku! Sekarang ... biarkan aku menentukan sendiri pilihanku."


"Gav ..." suara lemah Briana dalam sebersit penyesalan.


Pandangan Gavin beralih pada Nilam. Ia menyentuh dagu yang hampir membentur leher itu, lalu mengangkatnya perlahan. "Ya, Tuhan ...." Sisa lelehan air di pipi Nilam membuat hatinya berdesir perih. Seketika ia mengarahkan wajahnya pada Briana. "Mama lihat ini ... ucapan Mama telah menyakiti hatinya. Juga hatiku."


"Gavin. Ma--"


"Ayo, Sayang. Kita pergi dari sini," pungkas Gavin seraya bangkit berdiri, lalu meraih telapak tangan Nilam dan menariknya.


Namun di luar dugaan, Nilam malah menepis lengan Gavin. Ia berdiri menghadap lurus ke arah Briana. "Nyonya benar, aku memang bukan siapa-siapa. Levelku kalah telak di bawah levelmu. Atau mungkin aku memang tidak memiliki level sama sekali. Karena aku tak pernah mengukur kehidupanku dari segi level seperti yang Anda maksud, Nyonya. Dalam hidupku, aku hanya berpegang teguh pada satu hal ...." terdiam sesaat. "Rasa syukur."


Gavin terhenyak. Tak menyangka, si lugu kekasihnya itu, sanggup mengatakan hal di luar dugaannya.


Juga Briana. Tersentak, terperangah, dan segala bentuk keterkejutan menjadi hiasan di wajahnya kini. Penuturan Nilam itu benar-benar membuat tahta kepongahannya menciut seketika. Ia terdiam tak mampu berkata.


"Meskipun hidupku tak sesempurna hidup Anda, Nyonya, tapi aku bahagia. Bahagia yang tercipta dari rasa syukurku. Bagiku harta bukan sebuah jaminan kebahagiaan. Bisakah Anda berkaca pada masa lalu Gavin?"


"Maksudmu?" tanya Briana.


"Anita, gadis kaya raya yang awalnya ingin Anda sandingkan dengan Gavin, malah membawa luka untuk anakmu itu, Nyonya. Dia memang berhasil merebut hati Gavin, sesuai harapan Anda. Tapi Anda lihat, bukan? Bagaimana dia meluluh lantakkan hati puteramu kala itu. Apakah Anda bahagia melihat Gavin tersakiti?" lanjut Nilam.


"Sayang, sudah, ya ...." Gavin berusaha menghentikan.


"Berkacalah dari sana, Nyonya. Bahwa sebuah kasta yang begitu Anda agung-angungkan itu, tidak selamanya menghasilkan kebahagiaan. Maaf, Nyonya, bukan maksudku merendahkan prinsipmu. Aku hanya ingin katakan, bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak dari banyaknya harta, atau dari tingginya kasta. Melainkan dari sini." Nilam menunjuk dadanya sendiri. "Dari sebuah ketulusan."


Bagai seekor kecoa yang terinjak, Briana di buat skakmat. Gadis miskin yang di pandangnya dalam kerendahan itu, sanggup membungkam sisi congkaknya, hingga mengecil, lalu hancur, sehancur-hancurnya.


"Dan aku ... aku hanya memiliki cinta yang tulus ... untuk Gavin," lanjut Nilam seraya menundukkan kepalanya. Air matanya sudah terurai berjatuhan.


Laksana di sapa seribu bidadari surga, Gavin memandang Nilam takjub. Hatinya layaknya sakura di musim semi. Indah dan beterbangan.Tanpa babibu, ia menarik gadis luar biasa itu ke dalam pelukannya. Di dekapnya tubuh itu erat. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Aku mencintaimu."


Hati Briana mencelos sakit. Ia menatap sendu anaknya yang tengah memeluk gadisnya itu penuh kasih. Tuhan, aku tak pernah melihat anakku sebahagia itu. Gadis itu ... menakjubkan!


°°°°°

__ADS_1


__ADS_2