Derita Si Kembang Desa

Derita Si Kembang Desa
Bom asap beracun


__ADS_3

"Hallo ...."


"Tuan Muda!! Nyonya, dan Tuan Besar, Tuan Muda...!!"


Teriakan seseorang diseberang telpon itu, membuat Gavin panik seketika.


"Mama, ada apa dengan Mama dan Papa, Pak Kus?"


"Nyonya dan Tuan Besar beserta seluruh pembantu, pinsan, Tuan Muda!! Mereka terpapar gas beracun dari bom asap. Sekarang dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan tercepat."


"Apa?! Bom asap?!" Gavin dalam keterkejutannya.


"Bom asap dimana?"


"Ada yang melemparnya ke seluruh bagian rumah."


Si penelpon tak lain adalah satpam penjaga rumah besar Gavin.


"Baiklah aku segera kesana." Menutup telponnya dalam panik. "Ada apa lagi ini, Tuhan...?"


"Ada apa, Gav?!" Nilam ingin tahu.


Gavin berjalan ke arah kekasihnya itu dengan tergesa. "Sayang ... Mama dan semua penghuni rumah, pinsan. Mereka terpapar gas beracun dari bom asap."


"Bom asap?"


"Iya. Ada yang melemparnya ke dalam rumahku."


"Ya, Tuhan...." Memaksakan diri untuk bangkit dari baringnya, Nilam dengan kejut dan khawatirnya.


"Sayang, kamu mau apa? Tidak usah bangun." Menahan tubuh yang masih lemah itu, Gavin mendorongnya untuk kembali berbaring.


"Aku ingin melihat mamamu dan semuanya, Gav." Dengan raut memohon.


"Tidak bisa. Kamu masih terlalu lemah. Biar aku sendiri saja, okay. Lagipula mereka sudah dibawa ke klinik."


"Ta-tapi, Gav...."


Tak ingin ada penolakan, Gavin hanya membentangkan telapak tangannya ke arah Nilam, seraya menaruh ponsel itu di telinganya.


"Hallo, Ken. Kau dimana?"


"Aku baru saja akan pergi ke rumah sakit." Sahutan Kenzie di seberang line telponnya.


"Baiklah. Bisa lebih cepat?!"


"Ada apa?"


"Aku harus pulang dulu. Ada masalah dirumah."


"Masalah?"


"Ya ... ada yang melempar bom asap beracun kedalam rumahku. Mama Papaku dan seluruh orang yang ada didalam rumah, dalam keadaan tak sadarkan diri karena terpapar asapnya."


"Apa katamu?! Bom asap?"


"Iya," balas Gavin. "Cepatlah kemari, Ken. Aku minta kau jaga Nilam."


"Baiklah. Tetap tenang dan jangan panik. Aku meluncur." Sambungan diputus Kenzie sepihak.


"Sayang, aku pulang dulu. Tidak apa-apa, kan, aku tinggal?" Berdiri membungkuk, Mata Gavin menatap netra indah itu bergantian.

__ADS_1


"Iya, Gav. Keluargamu lebih membutuhkanmu."


"Terima kasih selalu mengertiku." Satu kecupan hangat dan mendalam, didaratkannya di kening Nilam. "Ken dalam perjalanan kemari. Dia akan menemanimu sampai urusanku dirumah selesai."


"Iya, Gav. hati-hati. Jangan kebut-kebutan."


"Iya, Sayang. Aku pergi. Dan satu lagi ...."


"Apa?"


"Jangan sampai tergoda oleh Ken."


"Ya, Tuhan.... Tidak akan! Sudah sana pergi!" Ada kekehan kecil dibibir Nilam.


"Aku selalu percaya padamu."


Menengokkan wajahnya kearah Nilam berkali-kali dalam langkah menuju pintu. Sungguh, jauh dipalung hatinya, Gavin tak rela meninggalkan kekasihnya itu seorang diri di ruangan persegi itu.


Selain khawatir dengan keselamatannya, ia juga sedikit terganggu dengan caranya menitipkan Nilam pada Kenzie.


Andai ia tahu kejadian ini lebih awal, maka ia pasti menahan Hana untuk tetap tinggal. Sekarang apa? Hanya Kenzie yang bisa ia andalkan. Meskipun ada kilatan tak rela dalam hatinya, membiarkan Nilam berdua bersama lelaki yang akan selalu menjadi rival dan tantangan untuknya. Karena pesona lelaki itu, bisa saja mengalihkan Nilam dari dunianya.


Parno badai!


Di luar pintu, ia berpesan kepada dua orang penjaga itu untuk menjaga Nilam dengan ekstra, yang tentu saja mendapatkan anggukkan dari keduanya.


*****


Kenzie mulai memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Namun baru saja beberapa meter meninggalkan rumahnya, ia merasa ada yang aneh dengan laju mobilnya. Kenapa terasa berat?


Menekan rem lalu keluar dari alat angkut beroda empat itu untuk memastikan. Di hitarinya sekeliling mobilnya. Dan jelas ia mendapatkan jawaban keganjilan itu.


"DAMN!!!"


"Aku harus bagaimana ini?" Letak bengkel yang cukup jauh dari posisinya sekarang, membuat emosinya mulai meradang. Berjalan mondar-mandir, memaksa otaknya untuk bekerja secepat mungkin.


Bisa saja ia menghubungi montir langganannya untuk datang ke tempat itu. Tapi, hey! Itu akan sangat menyita waktu. Nilam seorang diri di ruangan itu.


Tunggu tunggu! Nilam.


Sebentar....


Mengingat nama itu ia mulai mengerti sesuatu.


Sepertinya ada yang tidak beres.


Rumah Gavin dilempari bom asap. Dan anak itu sekarang pulang untuk memastikan keadaan rumah dan keluarganya. Dan sekarang, dua ban mobil yang dikendarainya pecah tiba-tiba.


Tunggu! Apakah ini sebuah kebetulan? Wajah Kenzie memberengut kala menghubungkan dua kejadian yang terjadi bersamaan itu dalam pikirannya.


Tidak! Ini sengaja dilakukan, untuk membuat Nilam sendiri diruangan itu.


"Nilam. Nilam dalam bahaya!"


Dengan gelisah ia meraih ponselnya didalam mobilnya dan mulai menghungi sebuah nomor.


Namun ....


"Maaf nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. The number you are calling cannot be reached."


"SHIT!!" Gerutunya.

__ADS_1


Lalu menghubungi nomor lainnya. Namun suara wanita operator itu yang juga di dengarnya. "Kemana dua orang itu?!" Ia mulai panik.


"Chaka! Tolong urus mobilku dipersimpangan dekat rumah!"


Panggilan terakhir yang dilakukannya. Kemudian tanpa babibu, ia berlari meninggalkan tempat itu berbekal rasa khawatir yang teramat sangat.


****


Sepeninggal Gavin, didepan pintu kamar rawat Nilam.


"Permisi, Tuan-Tuan." Suara seorang wanita berseragam perawat dengan masker menutup sebagian wajahnya menghampiri kedua lelaki yang ditugaskan Kenzi untuk berjaga didepan pintu itu. Satu nampan berisi dua gelas susu hangat tertenteng ditelapak tangannya. "Saya liat kalian cukup lama berjaga disini."


"Lumayan, Sus."


"Kalau begitu ini, minumlah. Semoga bisa menambah energi dan mengurangi rasa kantuk kalian."


Dengan senyum mengembang, kedua lelaki itu menerima gelas-gelas susu itu, lalu mulai meneguknya hingga tandas. "Terima kasih, Suster."


"Sama-sama."


"Kalau begitu, saya permisi. Selamat bertugas."


Perawat itu lalu hengkang meninggalkan dua lelaki yang cukup terbius oleh mata indah miliknya.


Tak lama ....


"Hoaaammm." Berulang kali kedua lelaki itu menutup mulutnya yang menguap.


Deretan kursi penunggu yang terletak tak jauh darinya, cukup menggoda untuk mereka tiduri.


Dan tentu saja mereka lakukan. Karena kantuk sudah mencapai level tertingginya. Keduanya merebah dengan asal-asalan dan mulai melaju menuju alam mimpi yang membuai.


Sebuah tangan lembut meraba-raba saku celana dan baju kedua orang itu. "Ini dia," ucapnya dengan seringai. Dua ponsel milik dua lelaki itu dalam genggamannya. Tak serta merta ia langsung me-nonaktifkan kedua benda itu dan menaruhnya kembali ke tempat asalnya. "Selesai."


Wanita berseragam perawat bermasker itu mulai memutar knop pintu ruangan yang kini tak lagi berpenjaga. Perlahan daun pintu itu disibakannya.


"Malam, Nona Nilam."


Mendengar suara itu, pandangan Nilam yang semula membentur dinding dengan segala isi pemikirannya sukses teralihkan. " Malam, Sus. Ada apa?"


"Tidak Nona. Saya hanya diminta Tuan Gavin untuk menemani Anda diruangan ini. Karena hal urgent yang harus diurusnya. Ia tidak tega meninggalkan Anda sendirian disini," ungkapnya. "Umm ... manis sekali, bukan?"


"Oh, begitukah? Kalau begitu terima kasih." Nilam tersenyum. "Gavin memang selalu berlebihan."


Sang perawat mulai mendudukkan tubuhnya disebuah kursi disamping Nilam. "Anda sangat beruntung, Nona." Pancaran mata itu terlihat tersenyum.


"Iya, aku memang sangat beruntung."


Nilam mencoba mengimbangi.


"Iya, sebuah keberuntungan yang kau rebut dari seseorangan." Kilatan dimatanya berubah tajam.


"Maksud Anda, Suster?" Kalimat sarkas itu membuat Nilam mengernyit heran.


"Ya ... lelaki penuh pesona itu seharusnya bukan milikmu, Nona!"


"Ap-apa ...?"


Tunggu! Suara itu ... aku seperti mengenalinya. Seketika matanya membelalak.


"Anita!"

__ADS_1


••••


Jangan lupa jejakmu ❤❤❤


__ADS_2