
Suasana pagi ini cukup cerah.
Pendar cahaya matahari tersenyum diatas tahtanya, seolah menegaskan ... bahwa ia telah berhasil mengalahkan mendung yang selalu muncul di waktu belakangan.
Kantor perusahaan Pradana
Gavin, pria itu tengah sibuk berkutat dengan layar laptop menyala beserta lembar perlembar gawainya. Terusik! Ketika daun pintu itu tiba-tiba terbuka, tanpa ada ketukan terlebih dahulu.
Tak ada raut terkejut. Hanya melirik sekilas, lalu kembali pada fokusnya. Seolah sosok yang kini sudah duduk dikursi putar dihadapannya itu adalah semilir angin.
Kenzie! Ya... hanya dia yang berani melakukan ketidak sopanan itu. Terlalu biasa!
"Ada apa?" tanya Gavin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hari ini akan ada lagi seorang kandidat yang akan melakukan interview."
"Who's that?" Dengan nada malas.
"Dia rekomendasi dari Pak Haris. Beliau bilang, kemampuan orang itu cukup mempuni dan berpengalaman diposisi urgent yang kita butuhkan saat ini."
"Darimana Pak Haris mendapatkan keyakinan semacam itu?"
"Dari segala yang diketahuinya. Konon orang itu adalah anak sahabatnya. Ia adalah orang terbaik diperusahaan tempatnya bekerja sebelumnya. Ya, meskipun itu hanya sebuah perusahaan kecil didaerah terpencil. Tapi tidak ada salahnya kita coba dan memberinya kesempatan."
"Lalu apa alasannya, dia tiba-tiba ingin beralih ke perusahaan ini?"
"Kau sudah bisa menebak!"
"Gaji yang lebih besar?"
"Itu salah satunya. Namun aku rasa setiap potensi membutuhkan wadah pengembangan untuk maju. Dan dia menyanggupi tawaran Pak Haris untuk mengukur potensinya diperusahaan besarmu ini. Dan rela melepaskan jabatannya diperusahaannya sebelumnya. Tidak ada salahnya, kan, kita coba?" Kenzie berusaha meyakinkan.
"Baiklah, tidak masalah," cetus Gavin. "Dia laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki. Aku sudah melihat Curriculum Vitae-nya di email perusahaan. Semuanya oke," ujar Kenzie.
"Benarkah?" Masih dalam ketidak yakinannya. "Semoga itu benar. Karena aku mulai bosan mendengar kegagalan dari beberapa interview sebelumnya dari mulutmu, Ken."
__ADS_1
"Iya. Aku mengerti yang kau khawatirkan. Tapi melihat riwayatnya, juga keyakinan Pak Haris, aku rasa dia mampu menggantikan Jessy memimpin divisi satu."
"Begitu menurutmu?" Mengetuk-ngetukan bolpennya ke meja, dengan raut seolah berpikir. "Baiklah, silahkan kau urus semuanya bersama bagian HRD. Seperti biasa, aku menunggu hasilnya kemudian." Lalu kembali menaik turunkan scroll dilaptopnya.
"Tidak! Kali kau sendiri yang akan melakukannya."
Menghentikan gerak jarinya, dengan wajah terheran, Gavin menatap Kenzie yang bersandar santai bersilang tangan dengan satu kaki terangkat bertumpu pada paha kaki lainnya.
"Maksudmu? Aku yang meng-interviewnya?"
Mengangguk santai. "Ya."
"Lalu dirimu?"
"Ah, iya, aku harus pulang lebih awal hari ini." Mulai bangkit seraya merapikan jas dan dan dasinya.
"Pulang?" Kening Gavin berkerut dalam.
"Iya. Hari ini hari spesial untukku. Aku ingin menemani isteriku check-up bulanan ke dokter kandungan. Sekalian aku ingin mengajaknya jalan-jalan."
"Kau akan merasakannya setelah kau menikahi adikku," ucap Kenzie tersenyum. "Baiklah aku harus pergi. Interviewnya akan berlangsung setengah jam lagi." Berbalik badan dan mulai melangkah meninggalkan sahabatnya yang masih memaku tak habis pikir.
"Sejak kapan dia perduli? Melihatnya menggandeng Hana saja, aku tidak pernah. Dasar aneh!" umpat Gavin usai pintu itu menelan tubuh Kenzie. Namun seketika wajahnya berubah menjadi senyuman menggelitik. "Mungkinkah dia mulai mencintai Hana?" Membayangkan itu Gavin terkekeh. "Sepertinya aku ketinggalan satu episode tentangmu, Ken." Geleng-geleng kepala. "Ah aku harus tanya Nilam soal ini." Lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
...••...
Setengah jam itupun berlalu.
TOK TOK TOK ....
"Masuk!" sahut Gavin.
Dan munculah seorang dari balik pintu yang terketuk itu. "Selamat pagi, Pak."
"Pagi, silahkan duduk." Gavin yang masih berbelit dan fokus dengan berkas-berkas pentingnya, menyempatkan diri untuk mendongak tipis melihat sosok yang kini terduduk dihadapannya. Dan ....
Seketika mata bulatnya membesar. "Kamu ... bukankah kamu ...?"
__ADS_1
"Gavin," lelaki itu tersenyum tak menyangka. "Jadi kamu ...."
Sama-sama terkejut!
Namun Gavin berusaha tak menunjukkannya dengan memulas wajahnya dengan senyuman santai selanjutnya. "Apa kabar ... Danu?" Seraya menjulurkan telapak tangannya ke arah pemuda ex-rival -nya itu.
"Aku baik. Sangat baik!" seru Danu seraya menerima uluran telapak tangan Gavin. "Jadi kamu yang akan meng-interviewku saat ini?"
Gavin menegakkan tubuhnya. "Ya, awalnya rekanku yang akan melakukannya. Tapi berhubung dia ada kepentingan lain, jadi ya ... aku."
Danu tersenyum. "Baiklah. Semoga kau puas dengan hasil yang ku berikan nanti."
"Oke, kita mulai sekarang ... atau ... kau ingin kita ngobrol sambil ngopi dulu misalnya?" Gavin berusaha lebih santai dengan menciptakan suasana cair. Meskipun tak dipungkiri, gelenyar-gelenyar ketakutan mulai merayap menggoda hatinya.
Ketakutan yang tentu saja berhubungan dengan Nilam. Tapi ....
Ah, sudahlah! Nilam tak mungkin tergoda kembali oleh pria ini, kan?
Seperti itulah!
"Aku rasa kita mulai interview saja dulu. Setelah itu baru kita bahas yang lain. Bagaimana?" Danu menyarankan.
"Ok, baiklah."
Dan proses interview itupun mulai berlangsung dengan serius. Gavin dengan aura kepemimpinannya mampu memasang konsistensinya sebagai seorang CEO, tegas dan berkarisma. Membuang segala ego pribadi yang sebenarnya bertengger dilevel dua setelahnya.
Dan Danu ... pria muda itu juga tak kalah keren, setiap pertanyaan Gavin mampu di jawabnya dengan sangat lancar dan juga vivid, dengan visi dan misi yang memukau dimata Gavin. Tak ada cela!
Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya kegiatan itu selesai. Terlihat raut puas diwajah Gavin. "Baiklah, Danu." Kembali menjulurkan telapak tangannya ke arah pria di hadapannya. "Selamat bergabung. Kamu ku terima diperusahaan ini."
Menerima uluran telapak tangan Gavin dengan rasa melengak setengah tak percaya. "Benarkah? Aku langsung diterima saat ini juga? Semudah itu?"
"Tentu. Berhubung perusahaan sedang membutuhkan cepat, jadi tak ada alasan untukku menunda. Dilihat dari kemampuanmu, aku rasa kau mampu mengemban tugas ini dengan baik."
Danu tersenyum lebar. "Baiklah, aku akan berusaha semampuku juga sebaik mungkin."
...•••••...
__ADS_1