
"Teman? Benarkah?" Gavin tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"I- iya, Gav ... di- dia benar-benar temanku di desa." Jawaban kaku Nilam itu membuat Gavin menyipitkan matanya.
"Apakah dia orang yang menggantikan aku setelah aku meninggalkan desa itu dulu?"
Tatapan penuh intimidasi itu membuat Nilam semakin salah tingkah. Haruskah ia mengakui, bahwa pria yang kini sedang dalam penanganan dokter itu adalah mantan kekasihnya?
Bagaimana ini? Apakah Gavin akan marah, jika aku mengakuinya?
"Jujur saja. Aku tidak apa-apa."
Seolah di desak di ujung tepian jurang, yang memaksanya untuk terjatuh ke dasarnya, Nilam tak lagi bisa mengelak.
"Iya, Gav. Namanya Danu. Dia ... dia adalah mantan kekasihku," akunya, lalu menuntun kepalanya untuk menunduk.
Degupan tak biasa di dada Gavin, seolah menjadi irama pengiring untuk sakit yang kini di mendera hatinya. "Pantas saja kamu begitu mengkhawatirkannya."
Nilam mendongak, menatap wajah yang secara kasat mata terlihat biasa saja itu dengan tatapan sendu. Ia sangat tahu, di balik sirat datar itu, ada goresan luka yang menyakitkan. Dan semua itu karena dirinya.
Meraih telapak tangan Gavin ke dalam genggamannya. "Gav ... aku sungguh tidak ada maksud apapun. Sumpah demi Tuhan, aku hanya ingin menolongnya. Itu saja," jelas Nilam.
Sekilas terdengar hembusan nafas berat. "Aku percaya." Senyuman Gavin itu, entah apa artinya. "Aku tinggal keluar sebentar," ucapnya seraya berdiri.
Dengan cepat Nilam menahan lengan Gavin, yang hendak melenggang pergi. "Kamu mau kemana, Gav?"
"Ak--"
"Keluarga Tuan Danu!" Panggilan seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Danu, memotong kalimat yang baru saja hendak di lontarkan Gavin. Dan tentu saja kedua sejoli itu menoleh ke arahnya.
"Iya kami temannya." Dengan langkah pasti Nilam menghampiri Dokter yang berdiri di ambang pintu itu. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya ingin tahu, masih dengan hiasan kecemasan.
"Semua baik-baik saja, Nona. Lebam-lebam di wajahnya akan pulih dalam beberapa hari."
"Lalu kenapa dia sampai tak sadarkan diri, Dok?"
"Penyebabnya karena kelelahan, dehidrasi, dan sepertinya perutnya sama sekali belum terisi makanan. Hingga ia kehilangan energinya," tutur dokter laki-laki paruh baya itu menjelaskan. "Silahkan jika Anda ingin menemuinya, dia sudah sadar."
"Iya, Dok. Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."
Nilam hanya mengangguk.
Baru saja satu langkah kakinya bergerak, ia menoleh ke arah belakang. Gavin masih berdiri dengan ekspresi tak terbaca. Lalu mengurungkan niatnya untuk menemui Danu.
"Kenapa tidak jadi?" Pertanyaan Gavin itu, kemana tujuannya? Kenapa terdengar sangat tidak mengenakkan di telinga Nilam. Hingga gadis itu hanya terdiam tak menyahuti.
"Tidak apa-apa, temui saja dia. Aku tunggu disini."
"Tapi, Gav, tidakkah lebih baik kalau kamu ikut saja ke dalam?"
"Tidak. Kamu saja."
"Gav ...."
Senyuman aneh itu kembali terlihat. "Masuklah, temui dia." Jujur saja, jauh di relung hatinya, ia sungguh tak rela membiarkan Nilam menemui mantan kekasihnya itu. Namun sebisa mungkin di tahannya dengan menanamkan sedikit kepercayaan dalam hatinya, bahwa Nilam tidak mungkin berbalik hati. "Cepat! Masuklah," ulangnya, karena Nilam masih bergeming di tempatnya.
"Apa kamu yakin tidak apa-apa?" Nilam dalam ketidak nyamanan hatinya.
"Ya."
"Baiklah, aku temui dia sebentar."
Dengan langkah perlahan Nilam menjejakkan kakinya di ruangan persegi yang syarat dengan bau obat-obatan yang menusuk indera penciuman itu.
Namun kakinya terhenti beberapa jarak dari ranjang dimana Danu terbaring, ketika kedua bola matanya saling bertemu dengan mata milik Danu yang terbelalak karena melihatnya ada ditempat itu.
"Nilam ... kamu disini?" Suara terkejut Danu.
Menundukkan kepalanya sekilas lalu tersenyum. "Iya, bagaimana keadaanmu, sudah baikan?" tanya Nilam sembari melangkah mendekat ke arah Danu.
Sungguh ucapan yang terdengar sangat canggung.
Lelaki itu menyunggingkan senyum bahagianya. "Aku baik. Umm, Nilam ... bagaimana kamu ada disini? Apakah kamu juga yang membawaku ke rumah sakit ini?" Danu ingin tahu.
Balasan senyum yang di sunggingkan Nilam, membuat kerinduan dihati Danu seketika bergolak kembali. Senyuman itu ... aku sangat merindukannya.
"Iya. Aku menemukanmu tergolek di bawah pohon dipinggir jalan," jawab Nilam jujur. "Danu, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" lanjutnya penasaran.
__ADS_1
Menatap langit-langit kamar, ingatan Danu kembali bergeser pada kejadian yang menimpanya karena ulah Sella. "Aku ... saat itu aku tak sengaja melihat mobil laki-laki bernama Kenzie itu, melintas di jalanan desa beriringan dengan satu mobil mewah lainnya. Aku meyakini pasti ada kamu di antara salah satu mobil itu. Dan ternyata benar."
Nilam yang sudah mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi di samping Danu, masih terdiam.
"Aku tahu kamu sudah memiliki orang lain, tapi entah kenapa, aku masih tak bisa merelakanmu." Mengalihkan tatapannya pada Nilam. "Nilam ... aku masih sangat mencintaimu."
Degg!!
Kalimat itu begitu jelas mengudara di telinga Gavin yang berdiri di balik pintu ruangan itu. Nilam ... siapa yang tidak akan jatuh cinta pada gadis itu. Kesempurnaan fisik dan sikap lemah lembutnya, tak akan bisa membuat lelaki manapun bersikap masa bodo terhadap pesonanya.
Tak serta merta, ia langsung menyibakkan daun pintu yang tak tertutup sempurna itu, lalu masuk ke dalam ruangan yang membuat Nilam dan Danu seketika menoleh ke arahnya.
"Hay, Tuan. Bagaimana keadaanmu?" tanyanya basa-basi.
Nilam yang terduduk tenang berdiri seketika. "Gav ...."
Laki-laki itu ...? Aku ingat. "Saya baik-baik saja, Tuan," jawab Danu tersenyum. "Maaf, sepertinya Anda bukan Dokter atau perawat disini?" Jelas, pertanyaan itu adalah bentuk kalimat 'kura-kura dalam perahu'. Pura-pura tidak tahu.
Kali ini, Gavin memasang smirk yang sedikit diselipi perasaan ingin menampol wajah Danu. Sialan!
"Umm aku ...." Melingkarkan lengannya dipundak Nilam seraya bertanya, "Sayang, kamu tidak akan memperkenalkan aku padanya?"
Tentu saja! Kalimat bernada sarkas itu, menciptakan kegugupan di wajah Nilam. Ia melirik wajah Gavin dan Danu bergiliran."Umm ... i-iya Danu, kenalkan, ini Gavin. Kekas--"
"Aku tunangannya. Dan sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan," pungkas Gavin cepat.
Dagdigdugderr ....
Irama jantung Danu berdentam sangat kencang.
Kabar ini seperti sebuah aliran listrik yang menyengat tubuhnya hingga terkapar.
Kali ini, cinta yang di simpannya kuat untuk Nilam dalam hatinya itu, benar-benar telah hancur hingga berdarah-darah.
Baiklah, mulai sekarang ia harus ikhlas.
"Benarkah? Kalau begitu selamat untuk kalian berdua. Aku tunggu undangannya."
"Tentu. Kami pasti mengirimkannya untukmu. Iya, kan, Sayang?"
__ADS_1
Pengalihan tatapan itu seketika membuat Nilam mengerjap. "I- iya, pasti." Andai boleh jujur, melihat wajah Danu yang seolah baik-baik saja itu, membuat hatinya mencelos perih. Bukan karena ia masih mencintai lelaki itu, namun ia merasa terlalu kejam, dengan mematahkan hati seorang Danu tanpa belas kasih sedemikian.
Maafkan aku, Danu.