
Astrid menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya, Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Pertemuan dengan Antoni untuk kedua kalinya benar benar membuat resah hati Astrid. Biar bagaimana pun, Antoni tak dapat begitu saja Dia lupakan.
Sejak kecil mereka dekat, dan selalu bermain bersama sama, dimana ada Astrid, pasti di situ ada juga Antoni.
Walaupun Ayahnya sering mengajaknya bepergian, bertamasya ke tempat rekreasi, atau pun ke pantai, Antoni pasti selalu di ajak Ayahnya untuk ikut bersama mereka.
Ayah Astrid, Edward, sangat baik dan sayang pada Antoni, Antoni anak yang sama seperti Astrid, sejak kecil sudah tak punya Ibu kandungnya, Ibu Antoni meninggal dunia, kabar yang di dapat dari Astrid, Ibu kandung Astrid pun meninggal dunia saat Dia berusia 6 tahun.
Antoni hidup bersama Bapaknya yang seorang nelayan dan satu orang adik yang saat ini sekolah di SMA. Adiknya bernama Cassano.
Astrid ingat masa kecil Dia bersama Antoni, saat mereka sering menghabiskan waktu berenang di pantai bersama Ayah Astrid.
--- Flash Back ---
Kembali ke Masa lalu, saat Astrid dan Antoni berusia 9 tahun.
Antoni kecil dan Astrid kecil berlari larian bermain pasir di pinggir pantai, Edward, Ayahnya Astrid duduk di atas pasir sambil memperhatikan Astrid yang asyik bermain bersama Antoni.
Astrid membuat istana dari pasir, Antoni ikut membantunya, mereka bersama sama membuat istana pasir.
"Aku ingin, nanti saat kita dewasa, kita berdua tinggal di istana , Toni." Ujar Astrid, tersenyum manja melihat Antoni.
"Ya, Istana yang indah dan nyaman." Ujar Antoni.
"Yang berada di tepi pantai, agar kita setiap hari bisa memandangi keindahan pantai dari istana kita nantinya." Ujar Astrid kecil tertawa.
Antoni juga ikut tertawa bersama Astrid, Edward melihat keakraban anaknya itu dengan Antoni, Dia senang, karena Astrid terlihat sangat ceria jika sedang bersama Antoni.
Karena itu, Dia membiarkan Astrid dekat dengan Antoni, agar hati anaknya selalu terhibur dan bisa tersenyum, dan tidak murung.
Astrid kecil mengeluarkan sebuah kalung kerang dari kantong celananya, Dia memperlihatkan kalung itu pada Antoni.
"Kalung ini untukmu, Antoni." Ujar Astrid, tersenyum manja menatap wajah Antoni kecil.
Antoni kecil mengambil kalung kerang dari tangan Astrid, terukir nama Antoni dan Camelia di kalung kerang tersebut.
"Wah, bagus sekali." Ujar Antoni senang.
"Simpan, dan pakailah, agar kamu selalu mengingatku." Ujar Astrid kecil.
"Ya." Angguk Antoni kecil.
Antoni kecil cepat memakai kalung kerang ke lehernya, Dia memegangi kalung kerang yang sudah tergantung di lehernya, wajah Antoni berseri seri, Dia senang sekali di kasih kalung kerang buatan Astrid.
"Astrid, Akan Aku pakai dan ku jaga selamanya kalung darimu ini." Ucap Antoni kecil, dengan raut wajah berseri seri.
"Ya." Angguk Astrid kecil tersenyum senang .
--- Flash Back berakhir ---
Kembali ke masa sekarang.
__ADS_1
Astrid menarik nafasnya dalam dalam, Dia berfikir, apakah Antoni sampai sekarang masih memakai kalung di lehernya? Atau sudah di lepas dan di buang Antoni.
Astrid berfikir, Dia mencoba mengingat ingat, saat tadi Dia bertemu dan bicara dengan Antoni, Di lehernya, tak ada kalung yang menggantung, apakah itu artinya, kalung kerang yang dibuatnya dulu sudah tak ada pada Antoni.
Wajah Astrid berubah menjadi kecewa, Dia sedih, jika benar kalung kerang pemberiannya sudah tak di pakai dan di buang Antoni.
"Ah, Aku harus membuang jauh jauh perasaanku pada Antoni, lupakan Dia Astrid, lupakan Dia." Ujarnya.
Astrid mencoba menepis dan membuang segala ingatan dan kenangan indahnya bersama Antoni saat kecil dulu.
Astrid tak ingin, konsentrasinya terpecah, hingga Dia tak bisa focus dalam menjalankan misi balas dendamnya pada keluarga Gerard dan Zahara.
Tujuan utamanya datang kembali kerumah lamanya untuk mengintai dan mengawasi serta mendekati keluarga Zahara, agar Dia bisa lebih mudah menjalankan aksi balas dendamnya.
Untuk itu, Dia harus bisa melupakan perasaan dan hatinya pada Antoni, karena, jika Dia tak bisa membuang Antoni dalam ingatannya, Antoni akan menjadi penghalang terbesar dirinya menjalankan misi balas dendam.
Bukan tak mungkin Antoni akan membuka rahasia jati diri Astrid di depan keluarga Zahara, jika mereka tetap berhubungan dekat, Antoni sangat mengenal sosok Astrid saat kecil dulu, dan lama kelamaan, Antoni pasti akan dapat mengenali dirinya. Dan Astrid tak ingin itu terjadi.
"Aku harus menghindar dari Antoni, jangan sampai Dia mengetahui siapa Aku sebenarnya." Gumam Astrid.
Astrid kembali menghela nafasnya, Dia lalu beranjak pergi, masuk ke dalam kamarnya, untuk bersih bersih mandi serta berganti pakaian rumah.
---
Di dalam rumah mewah dan luas milik Gerard, Samuel, yang berusia 37 tahun ,Anak tertua Gerard dan Zahara masuk ke dalam rumahnya, Dia berjalan menuju ke ruang kamarnya.
Saat Dia berjalan di selasar rumahnya, Dia berpapasan dengan Sulis, Sekretaris Papahnya, yang baru saja keluar dari dalam ruang kerja Papahnya.
Tanpa disengaja, Samuel bertabrakan dengan Sulis, karena Sulis keluar dari dalam ruang kerja tanpa menyadari kehadiran Samuel yang mau ke ruang kerja Papahnya.
Berkas berkas dokumen dalam map ditangan Sulis jatuh berantakan di lantai, Samuel melihat berkas berkas itu, Dia segera berjongkok dan membantu Sulis memungut berkas berkas yang berserakan itu.
"Hati hati lain kali kalo jalan, liat liat." Ujar Samuel.
"Iya, Tuan." Jawab Sulis, sambil memunguti berkas.
Saat Samuel mengambil beberapa lembar berkas dokumen yang terjatuh di lantai, tak sengaja Dia melihat dan membaca sebuah Dokumen.
Samuel terdiam, Dia kaget melihat berkas dokumen tersebut, Sempat Samuel melihat, bahwa berkas itu berisi penunjukkan ahli waris pengganti Papahnya menjadi pimpinan utama perusahaan milik papahnya.
Sulis cepat mengambil dan menutup berkas itu, Dia lalu bergegas berdiri, berusaha menghindar, Sulis tak ingin Samuel tahu tentang berkas tersebut , karena dokumen itu sebenarnya sangat rahasia, hanya Dia dan Gerard saja yang tahu isi dari dokumen tersebut.
"Maaf, Tuan Muda, Saya Permisi." Ujar Sulis, sambil menutupi kegugupannya dan berusaha tenang di hadapan Samuel.
Samuel berdiri, Dia diam tak menjawab, Sulis bergegas pergi cepat meninggalkan Samuel yang berdiri diam dan tercenung.
"Apa Aku gak salah liat tadi?" Gumamnya, berfikir.
"Pengganti Papah Jack ? Bukan Aku, anak tertuanya ? Apa maksud Papah, memberikan perusahaannya pada Jack, si pecandu obat obatan terlarang itu?!" Ujar Samuel geram.
"Aku harus cari tau kebenarannya." Ujarnya.
Dengan rasa penasaran Samuel bergegas jalan dan masuk kedalam ruang kerja Papahnya.
__ADS_1
Gerard yang baru saja selesai menelpon seseorang melihat Samuel masuk ke dalam ruangannya dan berjalan mendekatinya.
"Pah, Aku mau Papah jujur padaku." Ujar Samuel.
Tanpa basa basi menyapa lebih dulu Papahnya, Samuel langsung saja melontarkan pertanyaan pada Papahnya. Sehingga membuat Gerard heran melihat sikapnya itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Gerard cuek.
"Apa benar, Papah akan memberikan perusahaan Papah pada Jack ?" Tanya Samuel, dengan nada tegas.
Mendengar pertanyaan Samuel, Gerard sedikit kaget, Dia heran, dari mana Samuel bisa sampai tahu hal itu, sebab, Dia dan sekretarisnya sangat merahasiakan hal itu.
Rencananya, Dia akan mengumumkan pengganti dirinya saat Dia menyatakan pensiun nantinya di depan para pemegang saham perusahaannya.
Gerard sengaja memberikan perusahaannya pada Jack, untuk mengambil alih dan melanjutkan roda perusahaan, karena Dia tak mempercayai Samuel yang lebih licik dari adiknya Jack.
Samuel, anak tertua Gerard, yang bukan lahir dari rahim Zahara, namun berbeda ibu dengan Jack, yang anak kandung Zahara tidak di sukai Gerard karena sifatnya yang licik dan picik.
Sebenarnya karakter Samuel itu sama saja seperti Gerard, sifat licik dan picik yang di miliki Samuel hasil didikan dan turunan dari Gerard, Bapak biologis Samuel langsung.
Gerard berfikir, jika perusahaan di pegang Samuel, maka, perusahaannya akan hancur, bukan hanya itu saja, Gerard bisa pastikan, jika Samuel menguasai seluruh harta warisannya, Dia akan mengusir Zahara dan Jack serta Melani, dan menguasai rumah mereka.
Karena Gerard tak ingin masalah itu terjadi, diam diam Dia membuat warisan, dengan menempatkan Jack sebagai pemegang perusahaan menggantikan dirinya, sekaligus, ahli waris yang sah.
"Kenapa Papah diam? Apa benar yang Aku liat dalam berkas sekretaris Papah itu?!" Tanya Samuel sekali lagi.
Kembali Gerard terkesiap kaget, karena ternyata, Samuel mengetahuinya dari Sekretarisnya.
Tapi, bagaimana mungkin Samuel tahu begitu saja? Tak mungkin Sekretarisnya berkhianat dan memberi tahu Samuel tentang hal itu, Gerard berfikir keras.
"Maaf, Sam, Papah sibuk, gak ada waktu membahas hal itu." Ujar Gerard.
Gerard lalu berdiri dari kursi kerjanya, membereskan berkas berkas dalam map yang ada diatas meja, lalu meraih ponsel dan menyimpannya kedalam kantong kemejanya.
"Papah ada pertemuan hari ini, nanti saja kita bicarakan hal itu." Ujar Gerard.
Gerard pergi begitu saja meninggalkan Samuel. Samuel terbengong berdiri melihat kepergian Papahnya.
Dia tak menyangka, Dirinya di cuekin begitu saja oleh Papahnya, dan Papahnya tak menjawab pertanyaannya tadi. Samuel sangat geram mendapatkan perlakuan cuek papahnya.
"Aku harus cari tau dari si Sulis !" Ujarnya geram.
Samuel lalu buru buru berjalan keluar dari dalam ruang kantor Papahnya, Dia berniat, untuk menemui Sulis, Sekretaris Papahnya, dan bertanya tentang kebenaran dari berkas dokumen yang dia baca tadi, dimana berkas dokumen itu berisi tentang penunjukkan Jack, adik tirinya sebagai ahli waris tunggal dan pemilik perusahaan menggantikan Papahnya.
Jika hal itu benar adanya, Samuel tak bisa menerima kenyataannya, karena Dia menganggap, Dirinya yang pantas mendapatkan semua itu, karena Dia adalah anak kandung Gerard, dan anak tertua Gerard, jadi, tak ada alasan bagi Gerard untuk tidak menyerahkan perusahaan miliknya itu.
Percikan percikan api permusuhan di keluarga Gerard mulai terlihat, Samuel, yang memang selama ini tak menyukai Jack dan Zahara, ibu tirinya itu semakin membenci mereka.
Samuel tahu, Zahara juga ingin menguasai semua harta milik Papahnya, Dan Samuel juga tahu, bahwa Zahara sudah mempengaruhi Papahnya, hingga Papahnya selalu menurut pada Zahara dan tak bisa menentangnya.
Samuel tak mengetahui, mengapa Papahnya tunduk pada Zahara, ibu tirinya, Samuel tak mengetahui, bahwa ada rahasia besar yang di pegang Zahara, Dia memiliki kartu As ditangannya, segala macam rahasia kejahatan Gerard ada ditangan Zahara.
Sekali saja Gerard berbuat macam macam pada Zahara atau kedua anaknya, Jack dan Melani, Zahara pasti akan membongkar rahasia besar itu, dan jika terbongkar, Gerard akan mendapatkan masalah besar, Dia akan berurusan dengan pihak berwajib, dan bahkan akan di penjara untuk puluhan tahun atas kejahatannya selama ini.
__ADS_1
Gerard sebenarnya sedang mencari cara, bagaimana agar Dia bisa membungkam Zahara tanpa di curigai siapapun.
Pernah terbersit dalam pikiran Gerard untuk membunuh istrinya itu , namun, Dia mengurungkan niatnya, Dia tahu, jika itu dilakukannya, orang orang akan curiga dengan kematian mendadak istrinya, dan Polisi pasti bisa mengungkapnya, Gerard tak mau mendapat masalah. Dia lebih memilih mencari cara yang lebih aman, tidak menyusahkan dirinya dibelakang hari nantinya.