Destroy

Destroy
Kencan Pertama


__ADS_3

Pada malam harinya, seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya , Samuel lantas datang untuk menjemput Astrid dirumahnya, dan lantas pergi makan malam bersama.


Terlihat malam ini Astrid anggun dan sangat cantik dengan memakai busana yang serasi dengan bentuk tubuh dan wajahnya, sehingga Samuel terpesona dengan kecantikan alami wajah Astrid.


Dengan menggunakan mobil Samuel mereka pergi menuju ke restoran yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Samuel.


Setibanya di restoran yang sangat mewah dan terlihat asri itu, Mereka berdua duduk di sebuah kursi yang ada di sudut ruang restoran. Samuel sengaja memesan meja di sudut ruangan, agar mereka tak terganggu dengan pengunjung lainnya yang datang dan wara wiri dalam restoran tersebut.


Sejak datang tadi Samuel tak henti hentinya memandangi wajah Astrid, Dia benar benar sangat terpukau dengan kecantikan Astrid yang sangat alami. Astrid tanpa memakai peralatan make up yang berlebihan, Dia hanya memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan mewarnai bibirnya dengan lipstick yang senada dengan warna kulit bibirnya , membuat sinar kecantikannya terlihat jelas.


Astrid tahu, Samuel memandangi dirinya, Dia berpura pura jengah dan merasa grogi di pandangi Samuel.


"Kamu apaan sih, mandangin Aku terus." Ujar Astrid, tertawa kecil.


"Kamu cantik, baru malam ini Aku bisa jelas memandangi wajahmu, kecantikanmu benar benar sangat alami." Ujar Samuel, tersenyum lembut memuji kecantikan Astrid.


"Ah, Kamu bisa aja." Ucap Astrid tertawa kecil.


"Lia...Terima kasih ya, udah mau menemaniku makan malam. Hatiku terhibur dengan kehadiranmu di sisiku." Ucap Samuel, dengan menatap lembut wajah Astrid yang duduk dihadapannya itu.


"Memang suasana hatimu lagi gak enak gitu?" Tanya Astrid.


"Ya, sudah sejak lama suasana hatiku gak enak, Aku merasa gak nyaman dengan orang orang dirumahku. " Ujar Samuel.


"Tapi untuk pergi menghindar, Aku gak bisa. " Lanjut Samuel.


"Mengapa gak bisa? Kamu kan punya uang, seorang Direktur perusahaan lagi, tentu Kamu bisa membeli rumah sendiri ." Ujar Astrid.


"Ya, Kamu benar, tapi Aku gak bisa melakukannya." Ucap Samuel.


"Iya, kenapa?" tanya Astrid lagi.


"Karena, kepergianku adalah hal yang di inginkan orang tuaku, terutama ibu tiriku." Ungkap Samuel.


"Dia ingin menyingkirkanku dan membuangku dari menjadi ahli waris harta Papahku." Tegas Samuel.


"Oh." Ujar Astrid, mengangguk paham.


"Jika Aku pergi dari rumahku, artinya Aku membiarkan harta Papahku di warisi oleh adik tiriku, dan Aku gak mau itu terjadi. Bagaimana pun caranya, Aku harus berjuang untuk mendapatkan harta Papahku dan menjadi ahli waris yang sah di mata hukum." Tegas Samuel.


"Jadi, Ibumu itu bukan ibu Kandungmu?" Ujar Astrid.


"Bukan, Dia hanya ibu tiri, Dia perusak hubungan Papah dan Mama kandungku, Zahara juga penyebab Mamaku meninggal." Ujar Samuel.


"Oh ya?" Astrid sedikit kaget, namun, Dia berusaha menenangkan dirinya.


"Saat ketauan berselingkuh, Mamaku melabrak Zahara dirumahku, Zahara sering kerumah bahkan menginap dan terang terangan bermesraan dengan Papahku di depan Mama. " Ujar Samuel.


"Mama dan Zahara sering bertengkar hebat, dan Aku pernah melihat pertengkarannya, waktu itu Aku masih berusia 12 tahun, Aku bersembunyi dan mendengar semua pertengkaran mereka." Ujar Samuel.

__ADS_1


"Intinya Mamaku menegur dan meminta agar Zahara meninggalkan Papahnya, tapi Zahara melawan, Dia malah menampar dan memukul Mamaku, Aku melihat, mereka berkelahi, saling tarik tarikan rambut, hingga akhirnya, Mamaku terjatuh dari tangga karena di dorong Zahara, dan lalu, Mama lumpuh dan tak bisa bicara." Ungkap Samuel.


"Oh ya?!" Astrid kaget.


Dia tak menyangka, bahwa sudah sejak lama ternyata Zahara mempunyai tabiat jahat.


"Mama terbaring sakit, seminggu terbaring sakit, Mama meninggal, dan dua minggu kemudian, Papah menikahi Zahara, sampai akhirnya lahir Jack dan Melani." Ungkap Samuel.


"Aku sampai detik ini yakin, Mama meninggal gak wajar, sebab, beberapa kali Aku melihat, Zahara datang ke kamar Mama dan memberikan obat serta minuman, sepertinya racun, karena Aku masih kecil, Aku gak tau apa yang diberikan Zahara, setelah Aku semakin dewasa, Aku tau, bahwa itu adalah racun, karena Aku pernah menemukan botol obat yang sama seperti digunakannya pada Mama dalam kamarnya dulu." Lanjut Samuel.


"Tapi, untuk menuduhnya, Aku gak punya bukti, Aku cuma pernah bicara langsung sama Zahara, bertanya tentang kematian Mamaku, Aku katakan, Aku sering meliatnya dulu memberi obat dan minuman pada Mamaku, tapi Zahara bilang, Mama meninggal karena sakit." Lanjut Samuel.


"Sejak itu Zahara menghindar dan berusaha menyingkirkanku, Dia mulai menghasut Papah, agar Papah juga membenciku, dan Papah menurutinya, Papah mulai membenciku, Dia juga menurut pada Zahara, agar memberikan Jack sebagai ahli waris tunggalnya, bukan Aku." Tegas Samuel.


"Aku pernah bilang ke Papah, soal penemuan botol obat dan seringnya Zahara memberi obat dan minuman waktu Mama sakit, tapi Papah gak percaya dan gak mau dengar omonganku, Dia lebih percaya Zahara." Ungkap Samuel.


"Jahat sekali wanita itu." Ujar Astrid.


"Ya, itulah Zahara, Kamu harus hati hati di dekatnya. Jangan sampai Kamu terpedaya dengan tipu daya dan ucapan manisnya. Dia sangat berbahaya." Ujar Samuel, dengan wajah serius memberi peringatan pada Astrid, agar berhati hati terhadap Zahara kedepannya nanti .


"Jika nanti Kamu ke rumahku, dan Zahara bersikap memusuhimu, abaikan saja, jangan perdulikan Dia." Ujar Samuel.


"Ya." ujar Astrid, mengangguk.


"Oh ya, Sam. Aku melihat ada mobil ambulance yang datang kerumahmu, sebenarnya , apa yang terjadi dirumahmu, sehingga datang mobil ambulance, dan Aku gak tau siapa yang dibawa oleh mobil itu." Ujar Astrid.


Astrid berpura pura tak tahu siapa yang dibawa oleh petugas medis yang datang dengan mobil ambulance, Dia bertanya, ingin mengetahui reaksi Samuel .


"Over dosis?!" Astrid berpura pura kaget. Padahal Dia sudah tahu sebelumnya, bahwa Jack seorang pecandu, karena Dia pernah melihat Jack di tangkap Polisi karena memakai barang haram tersebut.


"Ya. Jack Pecandu, Dia gak bisa lepas dari obat obatan terlarangnya. Setiap hari kerjaannya begitu saja. Sudah berkali kali Dia over dosis, tapi gak mati mati juga." Ucap Samuel, penuh nada kebencian pada Jack.


"Hmm...Artinya, Jack dilarikan kerumah sakit sama petugas medis yang datang dengan mobil ambulance?" Ujar Astrid.


"Ya." Angguk Samuel.


"Kamu kenapa gak ikut ke rumah sakit mengantar Jack?" Tanya astrid.


"Buat apa? Jack bukan siapa siapaku. Aku gak pernah menganggap Dia sebagai saudaraku!" Tegas Samuel .


"Oh, Ya, Aku paham." Ujar Astrid.


"Aku malah berharap Jack mati kali ini, agar Aku yang menjadi ahli waris tunggal Harta kekayaan Papahku." Ujar Samuel, dengan wajahnya yang serius.


"Hmm...Sepertinya Kamu sangat menginginkan sekali menjadi pewaris harta Papahmu, dan juga ingin menjadi pimpinan perusahaan Papahmu?" Ujar Astrid.


"Ya, karena Aku merasa ,itu semua memang hak Aku. Yang di renggut oleh Zahara dan anaknya !" Tegas Samuel.


"Papah dan Zahara pintar, mereka mendekati para dewan direksi perusahaan dan juga semua pemegang saham untuk memihak dan satu suara dengan mereka, setuju menetapkan Jack sebagai pimpinan perusahaan yang baru menggantikan Papahku." Ujar Samuel.

__ADS_1


"Sedangkan yang mendukungku, kalah suara dengan mereka." lanjut Samuel.


"Tidak semua pemegang saham yang memihak Jack." Ujar Astrid.


"Maksudmu?!" Samuel bertanya dengan menatap tajam wajah Astrid.


"Masih ada satu pemegang saham yang belum menentukan suaranya memihak pada siapa, dan pemegang saham perusahaan Papahmu itu yang terbesar diantara pemegang saham lainnya, Aku yakin, jika Dia menolak penunjukkan Jack sebagai pimpinan perusahaan yang baru, maka, Jack gak akan bisa di angkat menggantikan Papahmu." Ujar Astrid, menjelaskan pada Samuel.


"Sepertinya Kamu sangat tau tentang perusahaan Papahku. Apa Kamu tau juga, siapa pemegang saham yang Kamu maksud itu?" Ujar Samuel bertanya serius pada Astrid.


"Aku tau, dan Kamu juga mengenalnya. Walau belum lama mengenalnya. Kamu pasti tau orangnya." Ucap Astrid, tersenyum penuh arti.


"Oh ya? Siapa orangnya?!" Ujar Samuel.


Samuel penasaran, Dia ingin tahu, siapa orang yang di maksud Astrid, yang mempunyai saham perusahaan paling besar diantara pemegang saham lainnya.


Astrid tersenyum simpul menatap wajah penasaran Samuel , Dia sengaja menahan dirinya untuk tidak mengatakan siapa orangnya kepada Samuel.


"Kapan rapat penunjukkan pimpinan yang baru dilaksanakan?" Tanya Astrid.


"Entahlah, melihat Jack sedang di rawat di rumah sakit, pasti Papah memundurkan jadwalnya." Ujar Samuel.


"Kapanpun itu, Kamu liat saja nanti, Orang yang Aku maksud itu akan hadir di rapat tersebut, dan Dia akan memberikan suaranya, Akan ada sebuah kejutan nantinya." Ujar Astrid, tersenyum penuh arti menatap wajah Samuel.


"Kenapa gak sekarang saja Kamu katakan padaku. Siapa orangnya? Agar Aku bisa mendekatinya dan meyakinkan dirinya untuk mendukungku nantinya." Ujar Samuel.


"Kamu gak usah susah payah mendekatinya, Dia pasti akan mendukungmu sepenuhnya." Ujar Astrid.


"Dari mana Kamu tau kalo Dia bakal mendukungku nanti?" Tanya Samuel heran.


"Liat saja nanti. Kamu pasti gak menyangka." Ucap Astrid.


Astrid tersenyum kecil menahan tawanya, Dia lucu melihat wajah kaget, heran dan penasaran Samuel, Dia benar benar sudah membuat Samuel bertanya tanya siapa orang yang di maksud.


Astrid sengaja tidak memberi tahunya sekarang,karena memang Dia sudah berniat untuk memberikan kejutan pada Gerard dan Zahara. Selama ini mereka tak tahu, jika diam diam, Astrid menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan Gerard.


Dan Astrid juga tahu, bahwa akan ada rapat keseluruhan untuk menetapkan siapa pengganti Gerard memimpin perusahaan kedepannya. Dan Astrid berniat untuk hadir di rapat tersebut. Itu sudah di rencanakannya jauh sebelum Dia bicara banyak dengan Samuel seperti sekarang ini.


"Ah, Kita pesan makanan yuk, Aku udah lapar." Ujar Astrid.


Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Samuel makan, agar Samuel tidak terus membahas soal tadi lagi.


"Pesanlah, Aku makan apa yang Kamu makan juga." Ujar Samuel.


"Oke." Angguk Astrid.


Astrid lantas memanggil pelayan restoran, pelayan menghampirinya, Astrid segera memesan beberapa menu makanan dan minuman yang tertera pada menu diatas meja. pelayan mencatat pesanan Astrid, lalu, Pelayan pergi meninggalkan Astrid dan Samuel.


Samuel masih diam duduk di kursinya, Astrid tersenyum kecil melihat raut wajah Samuel yang tengah memikirkan sesuatu hal.

__ADS_1


Dalam hatinya, Astrid berniat membantu Samuel untuk menyingkirkan Jack, lalu, Dia akan menghancurkan Samuel juga, beserta Gerard dan Zahara, untuk kemudian, mengambil alih kembali perusahaan Gerard, yang sebenarnya adalah perusahaan milik Bapaknya yang di ambil paksa oleh Gerard dan komplotannya, serta menghilangkan nama Astrid dari pewaris tunggal Bapaknya untuk memiliki harta kekayaan dan perusahaan Bapaknya. Astrid sangat bertekat untuk mengambil semua haknya kembali , yang di rampas oleh komplotan Gerard.


__ADS_2