
Dari celah lubang jendela kamar Edward melihat kedalam kamar, Dia melihat Astrid saat ini sedang berdiri di samping ranjang dan memandangi Hardi Wijaya yang tidur diatas kasurnya, wajah Edward terlihat serius mengamati, Dia melihat Astrid sedang mengarahkan pistol ditangannya kepada Hardi Wijaya .
Di dalam kamar, Hardi Wijaya masih tidur , rebah diatas kasurnya, Astrid lantas bergerak lebih mendekat lagi , lalu dengan pistolnya Astrid menyenggol kaki Hardi Wijaya, Astrid mau membangunkan Hardi Wijaya .
Tak berapa lama, tubuh Hardi bergerak dan Dia mengulet sebentar, lalu, karena merasa ada yang menyentuh kakinya, Hardi membuka kedua matanya.
Masih dalam keadaan setengah mabuk, Hardi Wijaya melihat samar samar wajah Astrid yang berdiri di samping ranjang sambil menatap tajam pada dirinya .
"Siapa Kamu?!" Ucap Hardi Wijaya .
Hardi Wijaya menggosok kedua matanya, agar bisa melihat jelas wajah Astrid, begitu Dia melihat pistol diarahkan tepat ke wajahnya, Hardi Wijaya seketika tersentak kaget .
"Mau apa Kamu?!!" Ujar Hardi Wijaya kaget.
Cepat Hardi Wijaya bangun dari rebahnya di kasur , Dia duduk diatas kasur, Hardi tampak mulai ketakutan karena ditodong pistol oleh Astrid .
"Dapat salam dari Edward, orang yang Kamu fitnah beberapa tahun lalu ." Ucap Astrid dengan menatap tajam wajah Hardi Wijaya .
"Edward ?!! Apa hubungannya denganmu?" Tanya Hardi Wijaya semakin kaget .
Dia tahu Edward, dan tak akan pernah melupakan Edward, karena mereka dulu berteman baik, dan Hardi Wijaya juga ingat, kalau Dia dulu ikut menjebak dan memfitnah Edward , lalu memasukkannya kedalam penjara dengan tuduhan yang di buat buat kelompoknya .
"Kamu orang yang gak tau diri Hardi ! Sudah banyak dibantu Edward hingga sukses, tapi Kamu menikamnya dari belakang!!" Ujar Astrid, menatap geram Hardi Wijaya.
"Apa maksudmu?!" Tanya Hardi Wijaya menatap lekat wajah Astrid yang berdiri disamping ranjang sambil tetap mengarahkan pistol ditangannya pada Hardi Wijaya .
"Aku anaknya Edward ! Aku akan menuntut balas atas perbuatan hina dan kejimu pada Bapakku !!" Ujar Astrid, menatap geram .
"Apa maumu !" Ujar Hardi, sedikit membentak pada Astrid .
Hardi Wijaya sebenarnya takut , karena Astrid memegang pistol dan mengancam dirinya, Tapi Dia tak berdaya, karena tak akan ada yang bisa menolong dan menyelamatkan dirinya saat ini.
Sebab, dirumah hanya ada Dia bersama Asisten rumah tangga yang mengurus segala macam keperluan rumahnya .
Sebagai Pengusaha kaya raya dan seorang pejabat penting, Hardi Wijaya tak mau menggunakan jasa Keamanan dirumahnya.
Dia tak nyaman jika ada orang yang selalu mengikuti dan mengawalnya, Dia tak bisa bebas berbuat sesuka hatinya, karena itu Dia tak memakai jasa keamanan .
Apalagi Dia merasa, bahwa selama ini Dia aman, dan tak akan ada yang berbuat jahat pada dirinya . Karena Dia tahu, kelompok organisasinya pasti akan selalu melindungi dirinya .
"Aku akan membuatmu menyesal karena telah menghancurkan hidupku dan hidup Bapakku!" Ujar Astrid, dengan geram dan marah pada Hardi Wijaya .
__ADS_1
"Jika Kamu membunuhku, Kamu akan diburu oleh teman temanku!" Ujar Hardi Wijaya .
Hardi Wijaya mencoba untuk mengancam balik Astrid, Dia bermaksud mengatakan hal tersebut, agar Astrid mengurungkan niatnya untuk membunuh dirinya .
Tapi Astrid tak bergeming dan tak terpengaruh dengan ancaman Hardi Wijaya, Dia malah tersenyum sinis menatap wajah Hardi Wijaya .
"Siapa pimpinan kelompokmu?!!" Bentak Astrid , menatap tajam wajah Hardi Wijaya.
Hardi Wijaya tersenyum sinis mendengar pertanyaan Astrid tersebut .
"Kamu gak akan bisa menyentuh pimpinan Kami, Dia orang paling kuat dan paling berpengaruh di negara ini." Ungkap Hardi Wijaya .
"Sampai kapanpun, Kamu gak akan bisa menemukan dan mengetahui siapa pimpinan kelompok organisasi Kami." Lanjut Hardi Wijaya.
"Karena, dalam kelompok Kami, pimpinan adalah Kami, dan Kami adalah pimpinan." Ucap Hardi Wijaya tersenyum sinis menatap wajah Astrid.
"Keparaat Kamu !!" Ujar Astrid.
Karena sudah diselimuti dengan rasa amarah yang menggebu gebu, dengan geram Astrid langsung saja menghantamkan ujung pistolnya ke wajah Hardi Wijaya .
Hardi Wijaya tertawa kecil, Dia lantas menghapus darah dari celah sudut bibirnya yang terluka akibat kena hantaman ujung pistol Astrid.
"Aku gak takut padamu. Kamu anaknya Edward ?! Kamu sama saja bodohnya dengan Bapakmu itu!!" Ujar Hardi Wijaya sinis pada Astrid.
Sekali lagi Astrid menghantamkan ujung pistolnya ke wajah Hardi Wijaya hingga pelipisnya berdarah.
Astrid sangat marah sekali pada Hardi Wijaya, karena Dia sudah merendahkan dan menghina Bapaknya dan juga dirinya, Dia tak bisa menerima perkataan Hardi Wijaya .
Sementara itu , diluar rumah, dari celah lubang jendela kamar, Edward yang mengintip dan menyaksikan Astrid tengah mengancam Hardi Wijaya dengan pistolnya sangat marah sekali.
Edward juga bisa mendengar jelas perkataan Hardi Wijaya dari kamarnya itu, Edward geram dan menahan amarahnya mendengar Hardi Wijaya menghina dirinya .
" Sebelum Kamu bisa menemukan pimpinan kelompok Kami, Kamu akan mati ! Kamu akan segera menyusul Bapakmu yang sudah mati itu!!" Ujar Hardi Wijaya, tertawa sinis pada Astrid.
Sama sekali Hardi Wijaya belum tahu, jika Edward masih hidup, Dia tahunya Edward mati dalam penjara dulu, karena saat membuat rencana membunuh Edward dalam penjara, Hardi juga ikut dan terlibat dalam mengatur rencana tersebut .
Astrid semakin marah mendengar perkataan Hardi Wijaya yang terus saja meremehkan dan merendahkan dirinya dan juga Papahnya .
Astrid geram dan muak melihat Hardi Wijaya yang malah mentertawakan dirinya itu .
Tiba tiba saja...
__ADS_1
"Dooor ...!! Dooor ...!! Doorr ...!!"
Terdengar suara letusan tembakan dari pistol di tangan Astrid. Astrid menembak Hardi Wijaya, Dia sudah tak bisa menahan dirinya , karena amarahnya sudah memuncak pada Hardi Wijaya .
Astrid menembak Hardi Wijaya sebanyak tiga kali, satu dibagian dada dan tepat mengenai jantungnya, satu di kaki dan satunya lagi tepat di dahi Hardi Wijaya.
Seketika itu juga Hardi Wijaya rebah diatas kasurnya dengan bersimbah darah, Hardi Wijaya mati di tembak Astrid, tiga lubang peluru terlihat di bagian dada , kaki dan dahi Hardi Wijaya .
Edward yang masih menyaksikan dari celah lubang jendela kaget mendengar suara tembakan dari dalam kamar, Dia kaget melihat Astrid menembak Hardi sebanyak tiga kali, Edward tak menyangka, Pistol Astrid tak memakai peredam, sehingga suara letusannya terdengar keras hingga keluar rumah .
Didalam kamar, Astrid menatap sinis Hardi Wijaya yang sudah terkapar diatas kasur dengan bersimbah darah .
"Mampus Kamu ! Enyahlah ke neraka !!" Ucap Astrid, dengan geram dan marah .
Astrid terlihat puas karena sudah berhasil membunuh Hardi Wijaya, salah satu musuh dari Papahnya.
Bertambah satu lagi korban yang sudah di bunuh Astrid .
Astrid lantas berbalik badan, Dia lalu berjalan santai dan pergi keluar dari dalam kamar itu, Dibiarkannya mayat Hardi Wijaya tergeletak diatas kasur .
Dengan tenangnya Astrid berjalan keluar kamar, Dia tak menutup pintu kamar itu, Astrid terus melangkah menuju ke ruangan depan rumah, Dia hendak pergi.
Astrid sengaja membiarkan Asisten rumah tangga Hardi Wijaya masih terikat didalam ruang kamar kosong, agar nanti, jika Asisten rumah tangga bisa membebaskan dirinya , Asisten rumah tangga pasti akan melaporkan tentang kematian Hardi Wijaya.
Astrid sengaja tak mengikat kuat ikatan kain selendang ditangan Asisten rumah tangga, dengan maksud agar Asisten rumah tangga mudah melepaskan ikatannya itu .
Pintu rumah terbuka, Astrid lalu melangkah keluar dari dalam rumah itu, sementara di samping rumah, Edward masih terdiam di bawah jendela kamar .
Dia masih tak menyangka, jika dirinya menyaksikan langsung bagaimana Astrid, anaknya sudah mengeksekusi Hardi Wijaya hingga mati .
Lalu Edward tersadar, Dia lantas segera berdiri dan hendak pergi . Saat Edward beranjak pergi dan keluar dari samping rumah, Astrid juga sedang berjalan menuju ke halaman rumah.
Astrid melihat Edward bergerak hendak pergi ke arah yang berbeda, Astrid tak melihat wajah Edward, Dia hanya melihat punggung dan bagian belakang tubuh Edward saja .
"Berhenti !! Atau ku tembak !!" Bentak Astrid .
Melihat ada orang lain di luar rumah, Astrid cepat menodongkan pistol yang masih di pegangnya itu .
Mendengar bentakan Astrid, Edward langsung berhenti melangkah, Dia tahu, Astrid saat ini pasti sedang mengarahkan pistol ke arahnya .
Edward tak mau berbuat kesalahan, sekali saja Dia bergerak dan mencoba lari, pasti Astrid akan menembaknya.
__ADS_1
Edward memilih berhenti dan diam ditempatnya, namun Dia tak mau berbalik badan dan melihat Astrid .
Astrid sesaat diam mengamati sosok Edward, lalu, sambil tetap masih mengarahkan pistolnya pada Edward, Astrid berjalan mendekati Edward, yang berdiri diam sambil membelakangi Astrid .