
Samuel masuk ke dalam rumah Astrid, Dia berdiri sambil matanya memandangi seisi ruangan, sementara Astrid dengan santainya berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam bersama Samuel.
Saat Asyik memandangi seisi ruangan dalam rumah, telepon Samuel berdering , cepat Dia mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.
"Ya, Hallo? Gimana ?" tanya Samuel, bicara di teleponnya.
Samuel tampak wajahnya serius mendengarkan suara dari teleponnya, wajahnya tiba tiba berubah senang dan terlihat menahan geram.
"Okay, tunggu Saya, Saya akan segera kesana sekarang juga." Ujar Samuel di teleponnya.
Wajah Samuel terlihat sangat serius menerima telepon dari seseorang, Samuel lantas bergegas jalan menuju dapur untuk menemui Astrid.
"Camelia." Ujar Samuel.
Samuel berdiri di belakang Astrid yang tengah menyiapkan piring dan gelas untuk makan bersama, mendengar panggilan Samuel, Astrid seketika berbalik dan melihatnya.
"Ya, Ada apa?" tanya Astrid.
"Maaf, sepertinya acara makan kita harus di tunda malam ini." Ucap Samuel.
"Loh, kenapa?" tanya Astrid heran.
"Semuanya udah beres kok , makanannya tinggal di bawa ke ruang makan aja." Ujar Astrid.
"Aku ada urusan penting , baru aja Aku di telepon tadi." Ungkap Samuel.
"Oh, begitu." Ujar Astrid.
"Iya, Maafkan Aku ya, karena urusan ini gak bisa di tunda. Mau gak mau, Aku harus pergi." Ucap Samuel.
"Maafkan Aku ya." Lanjut Samuel.
Ada rasa tak enak hati dalam diri Samuel pada Astrid yang sudah sibuk menyiapkan makanan untuk acara makan malam bersama mereka berdua.
Namun, kabar yang diterimanya sangat penting sekali, dan itu tak bisa di tunda lagi, karena, jika Dia tak segera datang ketempat yang dikatakan si penelepon padanya, pasti semuanya menjadi sia sia, dan Samuel tak ingin mengalami kegagalan.
"Ya, udah. Gak apa apa kalo Kamu mau pergi." Ujar Astrid.
"Next time, Aku janji, lain waktu, kita pasti bisa makan bersama." Ujar Samuel.
Samuel mencoba tersenyum pada Astrid, agar Astrid tak kecewa, Astrid membalas senyumnya, Dia juga tersenyum dan bersikap santai.
"Ya, next time." Jawab Astrid tersenyum.
"Aku pergi ya." Pamit Samuel.
Astrid mengangguk sambil tersenyum, Samuel berbalik badan dan berjalan menuju ke ruang depan rumah, Astrid berjalan mengikutinya di belakang, Dia mengantarkan Samuel hingga keluar rumahnya.
Samuel segera bergegas menyeberang lalu masuk ke halaman rumahnya yang tepat berada di hadapan rumah Astrid, sementara Astrid berdiri di depan teras rumah mengamati Samuel.
Samuel masuk kedalam mobil dan segera menyalakan mesin mobil dan bersiap untuk pergi.
Beberapa saat kemudian, mobil mulai berjalan, melaju pergi meninggalkan halaman rumah Zahara dan meluncur kejalanan, Astrid menghela nafasnya melihat kepergian Samuel dari teras rumahnya, Dia lantas bergegas balik badan dan masuk kembali kedalam rumah sambil tak lupa menutup dan mengunci pintu rumahnya.
Di dalam rumah, Astrid berdiri diam, Dia tengah berfikir, Astrid memikirkan reaksi dan sikap Samuel tadi saat bilang ada urusan dan membatalkan acara makan malam mereka.
__ADS_1
"Siapa yang nelpon Sam? Keliatan wajahnya tadi tegang , seperti ada hal yang serius." Gumam Astrid.
Astrid menghela nafasnya, Dia lalu melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Astrid berjalan mendekati meja riasnya, dengan cepat Dia meraih ponsel yang tergeletak diatas meja rias, lalu Dia segera menelpon
"Hallo, Sorry Lex , Aku telpon Kamu malam malam begini." Ujar Astrid bicara di teleponnya.
"Ya, ada apa?" Tanya Alex, dari seberang telepon.
"Aku mau tanya, apa Kamu juga menaruh alat pelacak di mobilnya Samuel anak Zahara dan Gerard?" tanya Astrid dengan wajah serius di teleponnya.
"Ya, Aku memasang alat pelacak di semua mobil keluarga Gerard. Termasuk mobil Samuel, kenapa?" tanya Alex, di seberang telepon.
"Samuel tadi ada dirumahku , pas Kami mau makan malam, Dia dapat telepon , lalu Aku liat wajahnya berubah serius dan tegang , juga seperti menahan amarah gitu." Ungkap Astrid di telepon.
"Melihat sikapnya yang tegang dan seperti terburu buru itu, Aku curiga, pasti ada sesuatu hal yang serius sedang di rencanakannya. Dan sepertinya Dia akan bertemu dengan seseorang." Lanjut Astrid diteleponnya.
"Apa Kamu bisa mengecek alat pelacaknya, agar Aku bisa tau, kemana Samuel pergi?" tanya Astrid pada Alex di telepon.
"Kenapa Kamu mau tau kemana Samuel pergi?" tanya Alex, dari seberang telepon.
"Aku curiga, Samuel sedang merencanakan tindak kejahatan, dan Aku mau memastikan saja, benar nggaknya dugaanku ini." Ucap Astrid, di telepon.
"Oh gitu. Ok, Aku coba cek, nanti ku kabari Kamu." Ucap Alex, dari seberang telepon.
"Terima kasih, Lex, Aku tunggu ya." Jawab Astrid senang.
Astrid lalu segera menutup teleponnya, lantas ponsel di letakkannya kembali ke atas meja riasnya.
Di jalan raya, terlihat Samuel menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, wajahnya tampak tegang, mobilnya menyalip semua kendaraan yang ada dijalan raya itu, Dia ingin segera sampai di lokasi tujuannya.
Samuel sambil menyetir mobilnya segera memasang headset bluetooth teleponnya, lalu menelpon anak buahnya yang sedang berada di lokasi.
"Sebentar lagi Saya sampai, Kamu tetap tunggu disana." Ujar samuel serius ditelepon.
Lantas Samuel melepaskan headset bluetooth dari telinganya, lalu menambah kecepatan mobilnya. Mobil melaju semakin cepat menyusuri jalan raya.
Di rumahnya, Astrid terlihat sudah berganti pakaian dan bersiap hendak pergi. Saat Dia sedang merapikan rambutnya di kaca cermin meja rias, ponselnya berbunyi.
Astrid cepat mengambil ponsel dari atas meja riasnya, Dia melihat kelayar ponsel, ada satu pesan yang masuk. Dia tahu , itu pasti dari Alex. Astrid segera membuka pesan yang Dia terima itu.
"Ini alamat lokasi Samuel."
Begitu bunyi pesan yang di kirimkan Alex ke ponselnya, lengkap dengan peta lokasi keberadaan Samuel saat ini. Alex bisa mudah menemui lokasi Samuel dengan alat pelacak canggih miliknya.
"Ok, terima kasih."
Astrid lalu segera mengirim pesan balasan pada Alex, lantas Dia segera menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam kantong celananya. Astrid lalu bergegas keluar dari dalam kamarnya sambil tak lupa membawa kunci mobilnya.
---
Mobil Samuel berhenti di pinggir jalan, dekat dengan sebuah rumah, Samuel lalu keluar dari dalam mobil, Dia berjalan masuk ke halaman rumah tersebut.
Di samping rumah, Di bawah jendela , Joko terlihat sedang bersembunyi dan mengintai, Dia melihat kedatangan Samuel, Joko dengan cepat berlari menghampiri Samuel.
__ADS_1
"Dia masih ada didalam rumah Bos." Ujar Joko, memberi laporan pada Samuel.
"Okay. Kerja yang bagus Jok. Kamu berhasil menemukan tempat persembunyiannya." Ujar Samuel.
"Ya bos. Saya terus melacak keberadaannya, sampai Saya melihatnya saat berada di sebuah Cafe, sedang bertemu dengan seorang Pria tua. Lalu, diam diam saya ikuti sampai ke sini." Ungkap Joko.
"Pria tua? Kamu tau siapa orangnya? " Tanya Samuel.
"Saya gak kenal bos." Ujar Joko.
"Oh, gitu." Jawab Samuel.
Samuel diam sesaat, Dia terlihat berfikir, siapa Pria tua yang di lihat Joko sedang bersama Sulis, sekretaris papanya itu?
Ya, ternyata saat ini Samuel sedang berada dirumah persembunyian Sulis, sekretaris Papahnya, setelah berhari hari Dia mencari keberadaannya, akhirnya, anak buah yang ditugasinya melacak , sukses menemukan lokasi persembunyian Sulis.
Itulah sebabnya, saat di rumah Astrid, wajah Samuel terlihat tegang dan serius, serta menahan geramnya. Karena ternyata Dia mendapat kabar, bahwa persembunyian Sulis sudah ditemukan.
Dan Samuel tak mau menyia nyiakan waktu lagi, Dia tak mau Sulis kabur lagi dan Dia gagal mendapatkannya, karena itu, Dia lebih baik menggagalkan acara makan malamnya bersama Astrid. Karena menangkap Sulis lebih penting bagi dirinya.
"Bos mau masuk kedalam rumahnya sekarang?" tanya Joko.
"Ya. Kamu temani Saya." Ujar Samuel.
"Siap Bos. Dia sendirian didalam, Saya sudah cek semuanya, gak ada siapa siapa, hanya Dia sendiri aja." Ungkap Joko.
"Okay." Jawab Samuel serius.
Samuel lantas bergegas melangkah masuk ke teras rumah, di ikuti Joko. Samuel melihat, di dalam rumah gelap, lampu tak ada yang menyala satu pun. Dia menduga, Sulis sudah tidur di dalam rumah, karena seluruh lampu dalam ruangan rumah dimatikannya.
Joko perlahan lahan membuka kunci pintu dengan alat yang dibawanya, tak menunggu lama, Joko berhasil membuka pintu, Dia lalu mempersilahkan masuk ke dalam rumah pada Samuel.
Samuel lalu berjalan masuk ke dalam rumah, di ikuti Joko yang lantas menutup pintu setelah masuk kedalam rumah persembunyian Sulis itu.
Suasana didalam rumah sangat gelap, Samuel berdiri bersama Joko, matanya menyusuri ruangan yang gelap, Dia mencari kamar Sulis.
Joko mengikuti Samuel berjalan mendekati sebuah kamar yang ada di dalam rumah itu. Perlahan lahan, Samuel membuka pintunya, tak di kunci, pintu terbuka sedikit.
Samuel melihat kedalam kamar dari depan pintu, di atas ranjang, terlihat Sulis tengah tertidur pulas.
Samuel lalu berjalan pelan masuk ke dalam kamar, di ikuti Joko yang lantas menutup pintu dengan pelan pelan, agar tak mengganggu dan membuat Sulis terbangun dari tidurnya.
---
Sementara itu, dijalanan, Astrid memacu mobilnya dengan cepat, wajahnya terlihat serius.
"Mau apa Samuel kerumah itu? Apa yang akan di rencanakannya ?" Gumam Astrid, berfikir sambil tetap menyetir mobilnya.
Kembali ke dalam kamar Sulis, Samuel berdiri di samping ranjang, Joko juga ikut berdiri di samping Samuel.
Samuel diam menatap wajah Sulis yang sedang tidur pulas diatas kasurnya, wajah Samuel terlihat geram, Dia menyeringai buas menatap tajam wajah Sulis.
Sulis yang tidur tak tahu, jika saat ini Samuel sedang memperhatikannya tidur, Dia juga tak sadar, jika saat ini, nyawanya tengah terancam, sebab, Samuel ada di hadapannya.
Sulis yang tidur pulas itu tak tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Sementara Samuel, terus menatap tajam wajah Sulis, terlihat raut mukanya sedang memikirkan sesuatu hal. Samuel seperti sedang membuat satu rencana untuk Sulis. Tampak Dia terus menyeringai menahan geram dan amarahnya menatap wajah Sulis yang terlelap tidur itu.
__ADS_1