
Samuel berjalan santai masuk ke dalam rumahnya, dalam ruangan seluruhnya gelap, Samuel terus berjalan menyusuri koridor pelataran ruang ruang dalam rumahnya.
Saat melewati sebuah kamar, Samuel menghentikan langkahnya, Dia lantas berdiri di depan pintu dan berfikir sesaat.
Kemudian, Samuel tersenyum sinis, Dia lalu membuka pintu kamar tersebut dan langsung masuk ke dalam.
Di dalam kamar, Dia mendapati Jack yang terkapar di lantai karena sudah over dosis memakai obat obatan terlarang.
Samuel sedikit kaget melihat Jack yang terkapar pingsan di lantai kamarnya itu, sesaat Samuel hendak memberi bantuan, namun, Dia mengurungkan niatnya untuk memberi pertolongan pada Jack yang pingsan karena over dosis obat obatan terlarang yang dipakainya.
Samuel tersenyum sinis melihat sebuah jarum suntik tergeletak di lantai, tak jauh dari posisi Jack yang pingsan.
Samuel lalu berjongkok dihadapan Jack, Dia tersenyum sinis menatap wajah adik tirinya itu.
"Pecandu kayak kamu begini kok di paksakan untuk menjadi pemimpin perusahaan. Kamu gak pantas menjadi ahli waris , Kamu gak pantas mendapatkan harta kekayaan Papahku." Ujar Samuel, dengan sikap dinginnya menatap wajah Jack yang pingsan itu.
Bukan cepat memberi pertolongan, Samuel malah mengambil jarum suntik yang tergeletak di lantai , lalu, Dia melihat botol obat terlarang di atas meja.
Samuel lantas mengambil botol, lalu, memasukkan cairan ke dalam jarum suntik, setelah itu, Dia menyuntikkannya ke lengan tangan Jack yang sudah pingsan.
Samuel malah menambah kadar pemakaian obat dan zat terlarang yang di pakai Jack sehingga over dosis.
Samuel lantas berdiri dari jongkoknya, Dia lalu mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, membuka file video di ponsel dan mulai merekam Jack yang pingsan karena over dosis.
Seluruh ruang kamar juga di rekam Samuel, termasuk semua obat obatan terlarang yang tergeletak diatas meja, dan juga merekam tubuh Jack yang pingsan di lantai, terbaring dengan mulutnya mengeluarkan busa karena sudah over dosis.
Samuel membiarkan saja Jack pingsan terkapar dilantai kamarnya. Lalu, dengan senyum sinisnya, Dia pun berjalan keluar dari dalam kamar Jack tersebut.
Dengan langkah yang santai dan cuek Samuel berjalan menyusuri koridor ruangan ruangan dalam rumahnya, berjalan sambil bersiul siul kecil dan pelan. Samuel lalu masuk ke dalam kamarnya.
Kejadian over dosis yang menimpa Jack direkam Samuel, dan Dia berniat untuk menjadikan rekaman itu sebagai senjatanya dalam menentang Papahnya saat nanti di laksanakannya pengangkatan pimpinan perusahaan yang baru.
Samuel bermaksud ingin menjatuhkan Jack dan mempermalukan Gerard dihadapan para dewan direksi dan pemegang saham perusahaan, dengan mengetahui bahwa Jack ternyata masih juga suka memakai barang barang haram dan menikmati obat terlarang hingga over dosis, itu akan membuat hilangnya kepercayaan para dewan direksi dan pemegang saham perusahaan.
Samuel berfikir, dengan begitu, mereka semua yang tadinya mendukung Gerard dan Jack, pastinya mereka akan berbalik nanti mendukung dirinya menjadi pemimpin perusahaan menggantikan Gerard.
---
Di rumah Astrid, mobil Alex tiba dan langsung masuk ke halaman rumah, dengan cepat Alex mematikan mesin mobil dan segera keluar dari dalam mobil.
Astrid yang sudah menunggunya di teras rumah segera berjalan menghampiri Alex yang keluar dari dalam mobilnya.
"Kenapa lama?" tanya Astrid.
"Aku kan harus persiapkan peralatan dulu buat ku bawa untuk mayat Jackson." Ujar Alex, menjelaskan.
"Oh." Angguk Astrid paham.
"Dimana mayatnya?" Ujar Alex bertanya.
"Di samping rumahku, Ayo kita kesana." Ujar Astrid.
__ADS_1
Alex mengangguk, lalu, bersama Astrid, Dia segera berjalan menuju ke samping rumah Astrid.
Suasana malam hari terlihat terang, karena saat ini sedang bulan purnama, setibanya mereka di samping rumah, Astrid langsung menunjuk mayat Jackson yang terbaring diatas tanah.
"Itu mayatnya." Ujar Astrid.
"Oh, sebentar, Aku ambil pacul." Ujar Alex.
Alex hendak berbalik dan pergi mengambil pacul di mobilnya, namun, Astrid mencegahnya, Dia memegang tangan Alex yang hendak pergi.
"Ngapain ambil pacul?" Ujar Astrid, menatap lekat wajah Alex.
"Kan, mayatnya mau di kubur." Jawab Alex.
"Gila Kamu !! Masa kamu kubur di samping rumahku, bisa gawat urusannya nanti jika ada yang tau!" Ujar Astrid, dengan wajah tegang.
"Terus, mau dibawa kemana mayatnya tengah malam begini? Ujar Alex bingung.
"Kamu kan biasanya selalu punya ide buat nyingkirin mayat, makanya Aku manggil kamu, biar Kamu yang membuang mayat Jackson. Kok malah nanya Aku!" Ujar Astrid kesal.
Mereka malah hampir saja berdebat membahas harus digimanakan mayat Jackson tersebut.
Akhirnya Alex mengalah, Dia diam sesaat dan terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, Astrid yang berdiri disampingnya diam saja memperhatikannya.
"Ah, Aku tau." Ujar Alex.
"Apa?" Tanya Astrid, menatap heran wajah Alex .
"Bantu Aku angkat mayatnya. Bawa ke mobilku." Ujar Alex.
Lalu, keduanya segera mengangkat mayat Jackson, dan cepat membawanya ke mobil. Mayat Jackson dimasukkan ke dalam bagasi mobil Alex.
"Aku ikut Lex !" Ujar Astrid.
"Ayo." Jawab Alex.
Alex lalu masuk ke dalam mobilnya, sementara Astrid berlari ke rumahnya, lalu Dia menutup dan mengunci pintu rumahnya, lalu, mencabut kunci rumah dan mengantongi kunci di kantong celananya.
Lalu Astrid bergegas lari dan masuk ke dalam mobil, Dia duduk di jok depan, disamping Alex yang duduk di belakang stir mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mesin mobil menyala, lalu, Alex segera menjalankan mobilnya, mobil kemudian meluncur di halaman rumah, melaju keluar menembus ke jalanan umum.
Di dalam mobil, Astrid menyeka keringatnya yang mengalir di dahinya, Dia berkeringat karena habis menggotong mayat Jackson.
"Mau dibawa kemana mayatnya?" tanya Astrid, menoleh pada Alex yang menyetir mobilnya.
"Buang ke jurang, di daerah terpencil yang jarang di jamah orang." Ujar Alex, sambil tetap focus menyetir mobilnya.
"Yakin Kamu gak ketauan orang nanti?" tanya Astrid .
"Yakin, Jurang itu sepi, apalagi akses jalan ke arah jurang itu curam dan terjal, hanya jalanan setapak tanah, yang bisa melewati jalan ya hanya mobil mobil besar seperti punyaku." Ujar Alex.
__ADS_1
"Oh, begitu." Ujar Astrid.
"Kenapa Jackson tiba tiba bisa tau rumahmu?" tanya Alex, sambil menoleh sebentar pada Astrid yang duduk di sampingnya.
"Aku ketauan Jackson, Dia ternyata punya kamera cctv di rumahnya, dan Aku ceroboh, gak memeriksa sebelumnya." Ujar Astrid, menjelaskan pada Alex.
'Oh ya?" Alex kaget.
"Ya. Dia melihat wajahku yang terekam di kamera cctv miliknya, katanya, Dia menghancurkan semua kamera cctv yang Aku pasang dirumahnya, Dia juga melacak Aku dan mencari data data tentangku. " Jelas Astrid.
"Dan Dia akhirnya menemukan dirimu, dan juga alamatmu, lalu langsung mendatangimu dan menyerangmu, begitu?" Ujar Alex, bertanya sambil tetap menyetir mobilnya.
"Iya, begitu katanya." Jawab Astrid.
"Dia tau siapa Kamu?" Tanya Alex lagi .
"Dia tau, Dia menyebut nama Bapakku." Jelas Astrid.
"Aku sempat kalah duel dengannya, tapi, Dia gak membunuhku, Dia malah pergi meninggalkan Aku yang sempat terkulai di lantai kamar karena kalah darinya." Ujar Astrid.
"Untung Kamu gak dibunuhnya, Jackson kan pembunuh bayaran berdarah dingin." Ujar Alex.
"Katanya, Dia gak ada urusan denganku, sebab, Dia hanya membunuh orang orang sesuai tugas yang di berikan padanya, dan Aku bukan targetnya." Jelas Astrid.
"Oh, begitu." Angguk Alex, mengerti dan paham.
"Saat Jackson lengah dan mau pergi, Aku mengejar dan langsung menikam perutnya berkali kali dengan pisau belatiku hingga Dia mati. " Jelas Astrid.
"Oh, begitu." Angguk Alex.
Lalu, untuk sesaat suasana hening, mereka berdua sama sama terdiam, Alex tetap serius menyetir mobilnya, mobil melaju dijalan raya dengan kecepatan sedang membelah pekatnya malam yang diterangi bulan purnama.
Sementara Astrid terdiam, Dia terlihat sedang berfikir keras, Alex lantas menoleh dan melihatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Alex.
"Ada yang membuatku kepikiran terus hingga saat ini." Ujar Astrid.
"Soal apa?" tanya Alex.
"Soal ucapan Jackson, Dia bilang, Kalo Aku tau siapa orang yang menyuruh dan membayar Jackson untuk membunuh Bapakku, Aku pasti kaget. Aku pasti gak akan menyangka, jika tau siapa orang yang ingin Bapakku mati." Ungkap Astrid, menjelaskan pada Alex.
"Oh ya? Dia gak bilang siapa orangnya?" Ujar Alex bertanya.
"Nggak, Dia gak mau menyebut namanya, Aku paksa Dia tetap bungkam, Aku jadi penasaran, siapa orang tersebut ." Ujar Astrid geram.
"Apa Gerard? Atau Zahara?" Ujar Alex.
"Bukan mereka berdua ! Kalo mereka, Aku gak akan kaget, karena Aku kan menduga mereka pelakunya, tapi, dari ucapan Jackson sebelum Dia mati, ada orang lain, yang lebih berpengaruh dari Gerard dan komplotannya." Ujar Astrid serius.
"Hmm...Iya juga. Kita harus menyelidikinya, mungkin, kalo Kita mencari dan menyelidiki lebih dalam tentang jaringan kejahatan Ishadi yang Kamu bunuh, kita bisa menemukan orang tersebut." Ujar Alex.
__ADS_1
"Iya, Lex. Satu satunya cara, kita harus membongkar jaringan komplotan dan konspirasi Gerard." Ucap Astrid bersemangat.
Alex mengangguk, mengiyakan perkataan Astrid, mobil terus melaju di jalan raya.