Destroy

Destroy
Pura Pura tak Kenal


__ADS_3

Astrid diam memandangi peralatan canggih yang ada di dalam kotak hitam besar diatas meja tamu.


Alex dan Patrick saling lirik , mereka heran melihat Astrid tiba tiba terdiam dan seperti tercenung.


"Astrid, ada apa?" tanya Alex, menatap heran.


"Ah, nggak. Aku cuma kepikiran aja." ujar Astrid, menepis lamunannya yang muncul selintas dalam benaknya tadi.


"Mikir apa?" Tanya Patrick.


"Lex, kamu benar bisa melacak apa saja dengan semua peralatan canggihmu ?" tanya Astrid, menatap lekat wajah Alex.


"Ya, bisa. Kenapa?" tanya Alex.


"Aku bisa minta tolong satu hal lagi?" Ujar Astrid.


"Apa itu?" Tanya Alex lagi.


"Aku kehilangan jejak Pamanku, dulu, saat Ayahku di tangkap dan di penjara, Pamanku yang merawatku, tapi, saat Aku masuk ke penjara remaja dan dibawa kerumah sakit jiwa, sejak itu Aku gak pernah bertemu Pamanku lagi." Ujar Astrid lirih.


"Tiba tiba saja Pamanku menghilang, gak pernah datang menemuiku saat Aku berada di dalam penjara." Ujar Astrid.


"Hanya sekali saja Paman dulu datang menemuiku di rumah sakit jiwa, tapi, Dia di halangi petugas, sehingga kami gak bisa bicara, hanya saling pandang saja, dan sejak itu Paman menghilang." Ungkap Astrid.


"Apa yang kamu mau Aku lakukan?" ujar Alex , menatap serius wajah Astrid yang gundah memikirkan nasib Pamannya.


"Aku khawatir, Gerard dan Zahara mencelakai Paman, atau, mereka sengaja menahan Paman di suatu tempat, karena dulu, Paman berusaha meneruskan perusahaan Ayah, sebelum akhirnya di ambil paksa Gerard dan Paman di campakkan juga." jelas Astrid pada Alex.


"Aku ingin tau, apakah Pamanku masih hidup hingga saat ini, atau sudah mati, jika pun mati, Aku ingin, mayatnya di temukan, agar Aku bisa menguburkannya dengan layak." Ungkap Astrid sedih.


"Kamu sudah coba datangi ke rumah Pamanmu? Dan bagaimana keluarganya?" Tanya Patrick.


"Paman selama hidupnya hanya tinggal sendirian, tak punya istri dan juga anak, hanya Aku saja satu satunya yang menemani hidupnya dulu." Jelas Astrid.


"Aku memang belum datangi rumahnya yang dulu sejak bebas dari penjara, tapi, Aku yakin, rumah Paman pasti sudah bukan miliknya lagi ." Ucap Astrid lirih.


"Hmm...Baiklah. Aku akan mencoba mencari tau keberadaan Pamanmu." Ujar Alex.


"Ya, Aku juga akan membantumu mencari pamanmu itu. Akan Aku coba cari data data di kantor kepolisian tempatku bekerja, mungkin saja ada file yang berisi tentang Pamanmu." Ujar Patrick.


"Ya, terima kasih, Patrick, Alex." Ujar Astrid.


Astrid lantas mengambil dompet dari kantong celananya, lalu, Dia mengeluarkan selembar photo usang, berisi wajah Pamannya.


"Ini satu satunya Photo Pamanku, photo itu diambil saat Aku kecil, pertama kali di asuh Paman." Ujar Astrid.


Astrid menyerahkan photo usang pada Patrick, Patrick menerimanya, Alex ikut melihat photo yang di pegang Patrick.


"Siapa nama Pamanmu?" Tanya Patrick.


"Erick, Erick Setiawan namanya." Jelas Astrid.


"Oke, akan Aku cari tau keberadaannya." Ujar Patrick.


"Aku juga akan mencari tau dari Gerard dan Zahara, mudah mudahan, Aku berhasil menemukan kabar Pamanmu." Ujar Alex.


"Ya, hidup atau mati, Aku ingin tau tentang Pamanku." Tegas Astrid.


"Kamu tenang saja Astrid. Tetap focus dengan rencanamu. Serahkan pada Aku dan Alex soal Pamanmu." ujar Patrick.

__ADS_1


"Iya." Angguk Astrid.


"Baiklah, Aku mau pulang dulu, terima kasih untuk semuanya." Ujar Astrid.


"Biar Aku antar." Ujar Alex.


"Gak usah Lex, biar Aku naik taksi saja. Kalo kamu keseringan datang kerumahku, dan Zahara melihatmu, Dia akan menaruh curiga, karena kita saling kenal." Ujar Astrid.


"Benar kata Astrid, Lex. Kamu kan di kenali Zahara sebagai pemegang saham perusahaannya, kalo Dia sempat melihatmu bersama Astrid, Dia pasti akan bertanya tanya, apa hubungan kamu dan Astrid." Ungkap Patrick, mengingatkan Alex.


"Benar juga, Aku harus berhati hati, Zahara wanita licik. Baiklah, jika kamu butuh apapun juga, hubungi Aku via hape." ujar Alex pada Astrid.


"Ya, pasti akan Aku hubungi." Ujar Astrid.


Astrid lantas berdiri dari duduknya di sofa, Alex dan Patrick juga ikut berdiri, mereka mengantarkan Astrid keluar rumah, pulang dengan naik taksi seorang diri.


---


Antoni berjalan santai menyusuri trotoar jalanan, Dia baru saja pulang dari tempatnya bekerja, disebuah mini market, Antoni pulang siang hari karena pergantian shift kerja dengan karyawan mini market lainnya.


Saat berjalan mendekati arah rumah Astrid, Antoni melihat sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah Astrid, atau rumah Camelia, teman masa kecilnya dulu.


Antoni menghentikan langkahnya, Dia berdiri diam melihat ke arah taksi. Sesaat kemudian, keluar Astrid dari dalam taksi, dan tak berapa lama, Taksi berlalu.


"Gadis itu, sepertinya Dia benar benar tinggal dirumah Camelia sekarang." Gumam Antoni.


Antoni melihat Astrid berjalan masuk ke halaman rumahnya, Antoni bergegas jalan mengikuti. Antoni bersembunyi di samping pagar rumah, melihat Astrid yang membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


Setelah Astrid masuk ke dalam rumahnya, Antoni keluar dari persembunyiannya, Dia berdiri diam mengamati rumah Astrid tersebut.


"Siapa sebenarnya gadis itu? Aku kok merasa ada sesuatu pada dirinya?" Gumam Antoni berfikir.


Di dalam rumahnya, Astrid merasa seperti ada yang sedang mengintainya, Insting Astrid memang sangat kuat, Dia bisa merasakan jika ada sesuatu hal yang mencurigakan atau mengikuti dirinya, Astrid berbalik dan mengintip ke jendela rumahnya. Lalu Dia melihat ke luar rumahnya.


"Apa Antoni mengenali diriku sebagai Camelia?" Gumamnya lagi berfikir.


Astrid melihat Antoni masih saja berdiri di depan halaman rumah, sambil terus memandangi rumah Astrid.


"Bagaimana ini? Apa yang harus Aku lakukan?!" Ujar Astrid.


Astrid resah, Dia khawatir, penyamarannya sebagai Astrid terbongkar oleh Antoni, jika Antoni mengenali dirinya sebagai Camelia, teman masa kecilnya dulu.


Astrid bimbang, namun, Dia tak ingin keberadaan Antoni menjadi penghalang niatnya menjalankan misi balas dendamnya.


Jika Dia tak menemui dan bicara pada Antoni, Antoni pasti akan semakin penasaran, Antoni pasti akan terus mencari tahu tentang siapa dirinya sebenarnya.


Astrid menghela nafasnya, Dia akhirnya memutuskan untuk menemui Antoni, agar Antoni tak penasaran dengan dirinya.


Astrid bergegas membuka pintu dan keluar dari dalam rumahnya, Dia berjalan menghampiri Antoni yang masih berdiri diam di halaman rumah.


"Hei, mau apa kamu berdiri di situ?!" Tegur Astrid, sambil terus berjalan mendekati Antoni.


Antoni terkesiap kaget mendengar suara Astrid, Dia tak menyangka, Astrid mengetahui keberadaan dirinya.


Antoni berusaha untuk tetap bersikap tenang, Dia berdiri diam, Astrid tiba dan berdiri di depannya.


"Kamu kan karyawan mini market itu?!" Ujar Astrid.


Astrid sengaja berpura pura mengenali diri Antoni sebagai karyawan mini market.

__ADS_1


"Iya , benar. Kita pernah ketemu waktu itu." ujar Antoni.


"Mau apa kamu berdiri di halaman rumahku?" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Antoni.


Astrid terdiam menatap wajah Antoni, Astrid mengakui, bahwa sosok Antoni tak berubah sama sekali, wajahnya masih saja tetap sama seperti dulu, wajah yang imut, Cakep dan gagah.


Astrid berusaha tak gugup dan tetap tenang dihadapan Antoni, Dia mencoba menghilangkan kenangan masa kecilnya bersama Antoni dulu.


"Ah, maaf, Aku gak sengaja melihatmu tadi masuk kerumah ini." Ujar Antoni.


"Oh." ujar Astrid datar.


"Apa ini rumahmu?" tanya Antoni, memberanikan dirinya bertanya.


"Ya, Ini rumahku, Aku baru membelinya." Ujar Astrid.


"Oh, begitu." Ujar Antoni, mengangguk mengerti dan paham.


"Memang kenapa?" Tanya Astrid.


Astrid sengaja bertanya karena Dia penasaran dan ingin tahu, apakah Antoni juga mengingat rumahnya ini.


"Ah, nggak. Rumah ini dulunya milik teman masa kecilku, namanya Camelia, Dia tinggal hanya berdua dengan Ayahnya. Aku sangat dekat dengan Ayahnya juga." Ujar Antoni, menjelaskan pada Astrid.


Astrid terkesiap kaget mendengar penjelasan Antoni, Dia tak menyangka, Antoni masih ingat tentang masa kecilnya, dan bagaimana diri Antoni sangat dekat juga dengan Ayahnya.


Namun Astrid berusaha tetap tenang, Dia tak ingin Antoni melihat kegugupan dan rasa kagetnya.


"Sejak Ayah Camelia di penjara, Camelia gak tinggal lagi di rumah ini, Dia dibawa Pamannya, dan sejak itu, Aku gak pernah lagi bertemu dengan Camelia." Ujar Antoni lirih.


"Oh, begitu." Ujar Astrid.


"Ya, kabarnya Ayah Camelia mati terbunuh di dalam penjara, dan Camelia menghilang , Aku masih berharap bisa bertemu lagi dengannya." Jelas Antoni.


"Jika Camelia masih ada, Dia seumuran denganmu." Ujar Antoni.


"Oh ya?" Ujar Astrid berpura pura.


"Ya, rambut Camelia pun ikal, sama sepertimu. Dan, Ada tahi lalat besar di punggungnya." Ujar Antoni.


Lagi lagi Astrid terkesiap kaget mendengar perkataan Antoni. Astrid tak menyangka, Antoni masih ingat dengan tahi lalat, sebagai tanda lahir yang ada di punggungnya.


Dulu, saat mereka sering mandi di laut bersama Ayahnya, memang Antoni sering melihat tanda lahir di punggung Astrid, dan hingga saat ini, tanda lahir itu masih ada di punggungnya.


Tanpa sadar Astrid memegang punggungnya, Antoni menatapnya lekat, Astrid lalu cepat tersadar dan melepaskan tangannya dari punggungnya, Dia berusaha tetap bersikap tenang di hadapan Antoni.


"Oh, ya. Aku Antoni, boleh Aku tau namamu?" tanya Antoni pada Astrid.


"Oh, Aku Astrid." Ujar Astrid, memperkenalkan dirinya.


"Baiklah, senang bisa kenal kamu. Aku pulang dulu, rumahku gak jauh dari sini." Ujar Antoni tersenyum.


Senyuman Antoni meluluhkan hati Astrid, sebenarnya Astrid sangat merindukan Antoni, dulu, Dia sangat menyayangi Antoni, berharap, kelak,saat mereka sudah sama sama dewasa, mereka menikah dan hidup bersama.


Namun, Astrid harus membuang semua impiannya itu, karena harus membalas dendam, mau tak mau, Dia harus membuang jauh jauh segala macam perasaannya pada Antoni, dan berpura pura tak mengenal Antoni. Itu semua dilakukannya agar rencananya berjalan lancar.


"Oh, iya, sama sama." jawab Astrid.


Antoni tersenyum, Dia lalu berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Astrid yang masih berdiri di halaman rumahnya.

__ADS_1


"Aku tau rumahmu Antoni, maafkan Aku, Aku harus berpura pura gak mengenalimu." bathin Astrid bicara.


Astrid menghela nafasnya, Dia memandangi kepergian Antoni yang sudah semakin menjauh, lalu, Astrid berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya.


__ADS_2