
Suasana di pagi hari terasa sejuk, sebab, dari semalam hingga subuh di guyur hujan deras sekali.
Astrid terlihat sudah selesai mandi dan memakai pakaian rapi. Dia hendak menikmati sarapan paginya, duduk di kursi makan yang ada di ruang makan rumahnya.
Baru saja Astrid hendak menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, terdengar bel rumah berbunyi.
"Huuu...Siapa lagi sih yang datang...! Ganggu makanku saja." Ujar Astrid, menggerutu kesal.
Bel rumah terus saja berbunyi, hingga Astrid semakin kesal karena tak bisa menikmati sarapannya dengan tenang.
Astrid membanting sendok ke piring, Dia lantas berdiri dari kursinya, dengan wajah kesal Dia berjalan keluar menuju depan rumahnya.
Bel rumah terus saja berbunyi, seperti di sengaja terus di bunyikan, agar penghuni rumah segera datang dan membukakan pintunya.
Dengan wajah kesal Astrid melangkah cepat mendekat ke pintu, lalu, di bukanya pintu rumahnya. Terlihat tepat di depan pintu, di teras rumahnya berdiri wanita setengah baya, Wanita itu seperti Zahara usianya.
Astrid langsung saja terkesiap kaget saat Dia melihat siapa sosok wanita yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
Astrid mengenal Wanita itu. Dia Karina, seorang Psikiater yang dulu memeriksa dan merawat Astrid. Wanita inilah yang memvonis Astrid mengalami gangguan jiwa hingga sempat di masukkan ke dalam rumah sakit jiwa.
Astrid tak bisa melupakan sosok wanita itu, ya, Dia Karina, Sahabat baik Zahara dan suaminya, yang bekerjasama dalam menghancurkan masa depannya dan juga menjebak Bapaknya dulu hingga di penjara.
Tubuh Astrid terlihat bergetar kecil sambil menatap wajah Karina yang tengah berdiri dan tersenyum manis menatapnya.
"Hai...Kenalkan, saya Karina. Saya pemilik rumah ini sebelum kamu tempati." Ujar Karina, memperkenalkan dirinya.
Astrid muak dengan sikap sok ramah Karina di hadapannya, Dia sangat tahu, Karina adalah wanita licik dan berhati ular, mulutnya berbisa. Dia sama saja seperti Zahara, tak ada bedanya.
Namun Astrid berusaha untuk tetap menyembunyikan rasa benci dan muaknya pada Karina, Astrid berusaha bersikap tenang menyambut Karina.
"Oh, begitu. Saya Camelia." Ujar Astrid, mencoba bersikap ramah memperkenalkan dirinya.
Karina tersenyum mengangguk , Dia menatap lekat wajah Astrid yang masih berdiri termangu di depan pintu rumahnya.
"Boleh saya masuk?" Ujar Karina.
Belum sempat Astrid menjawab dan mempersilahkannya masuk, Karina dengan seenaknya saja main masuk langsung ke dalam rumah.
Hal itu membuat Astrid geram dan semakin kesal. Wanita tak punya adab, geram Astrid. Bisa bisanya belum di beri izin sudah masuk ke rumah orang.
Astrid geram, Ingin rasanya Dia menendang tubuh Karina yang berjalan lenggak lenggok sok anggun itu. Tapi, Dia kembali menahan dirinya agar tak kebawa emosi.
Dia mencoba tetap sabar dan tenang dengan sikap Karina yang tak ada adab masuk kerumahnya itu.
"Hmm...Gak ada yang berubah dari rumah ini. Hanya perabotannya dan sofanya saja yang berganti." Ujar Karina.
Karina menyapu kedua matanya ke seluruh ruangan, Astrid dengan geram melangkah mendekatinya, Karina terus berjalan masuk keruangan lainnya. Astrid kesal melihat hal itu.
Apalagi Karina hendak seenaknya saja mau membuka pintu kamarnya dan sepertinya ingin masuk ke dalam, Astrid cepat berlari dan mencegahnya.
__ADS_1
"Maaf, Kamar ini gak boleh dimasuki siapapun, hanya saya saja." Ujar Astrid.
Astrid berdiri tepat di depan pintu kamarnya, menghalangi dan mencegah Karina agar tak bisa membuka pintunya. Karina terdiam berdiri dihadapan Astrid. Dia lalu tersenyum menatap wajah Astrid.
"Oh, begitu. Baiklah." Ujar Karina santai.
Karina berbalik badan dan berjalan keruang lain di dalam rumah, Astrid mengikutinya. Astrid semakin geregetan dengan sikap kurang ajar dan tak sopan Karina, yang mau masuk ke kamarnya, Karina benar benar keterlaluan, Dia mengamati seisi ruangan rumah Astrid.
"Suamimu mana?" Tanya Karina.
Karina berhenti melangkah dan berbalik badan, Dia berdiri di depan Astrid yang juga berhenti melangkah.
"Suami?!" Astrid tersentak kaget.
"Ya. Bukankah yang beli rumah ini suamimu? Aku liat pembeli rumahku ini atas nama Alex, bukan Camelia, namamu." Ujar Karina, menatap tajam wajah Astrid.
"Oh, itu. Alex abang saya. Memang Dia yang membeli rumah ini atas suruhan saya, karena waktu itu saya masih di luar kota." Ujar Astrid.
Astrid berusaha menjelaskan pada Karina, agar Dia tak menaruh kecurigaan pada dirinya semakin jauh.
"Dan rumah ini sedang di urus balik nama, nanti di akte tertulis nama saya sebagai pemiliknya." lanjut Astrid, meyakinkan Karina.
"Oh, begitu." Ujar Karina, tersenyum.
"Sebenarnya Saya gak setuju rumah ini di jual, karena, rumah ini banyak sekali meninggalkan kenangan." Ujar Karina, memandangi seisi ruangan.
"Ah, tapi, karena itu haknya mantan suami saya, saya gak bisa mencegahnya." Lanjut Karina.
"Baiklah. Semoga kamu betah tinggal di rumah ini. Dan juga, semoga kamu bisa bergaul dengan baik pada tetangga tetangga di sekitarnya." Ujar Karina tersenyum kecil menatap wajah Astrid.
"Ya." Jawab Astrid datar.
"Oh, ya. Jika kamu gak betah tinggal dirumah ini dan mau menjualnya, kabari Saya ya. Biar saya yang beli kembali rumah ini." ujar Karina, tersenyum kecil menatap Astrid.
"Oh, iya." Jawab Astrid.
"Enak saja, kamu kira Aku akan menjual rumah ini? Sampai kiamat gak bakal ku jual rumah Ayahku ini, Aku sudah dapatkan rumahku kembali, dan akan Aku pertahankan selamanya." Gumam bathin Astrid bicara.
"Baiklah. Saya pulang. Sampai bertemu di acaranya Bu Zahara, tetanggamu yang tinggal di depan seberang jalan sana." Ujar Karina.
"Kamu juga di undang kan?" tanya Karina.
"Ya, saya di undang Tante Zahara." Ujar Astrid.
"Oh, Kalian sudah bertemu dan berkenalan?" Tanya Karina menatap Astrid.
"Ya. Semalam kami ketemunya." Jelas Astrid datar.
"Okay. Sampai ketemu ya." Ujar Karina tersenyum.
__ADS_1
Dia lalu berbalik badan, dan berjalan keluar dari dalam rumah, Astrid mengikutinya.
Setelah Karina keluar dari dalam rumahnya, Astrid cepat menutup dan mengunci pintu rumahnya, Dia tak mau menemani , apalagi menunggu kepergian Karina.
Karina berdiri di depan mobilnya, Dia tampak mengamati rumah tersebut.
"Aku seperti pernah ketemu gadis itu, tapi dimana? Wajahnya sangat akrab." Gumamnya berfikir.
Karina mencoba mengingat ingat, tapi Dia tak bisa mengingat, Dimana Dia pernah bertemu dengan Astrid.
Karina merasa kalau wajah Astrid pernah Dia lihat sebelumnya, tapi Dia tak tahu, Dimana Dia pernah bertemu.
Karina menghela nafas, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam mobilnya.
Mesin mobil menyala, lalu, sesaat kemudian, mobil melaju pergi meninggalkan halaman rumah Astrid.
Di ruang makan, Terlihat Astrid sangat kesal sekali karena bertemu dengan Karina.
"Wanita Ular ! Mengapa wanita Iblis dan wanita ular itu datang menemuiku? Apa maksud dan tujuan mereka?!!" Geram Astrid.
"Apa Zahara mengenalku, dan sengaja menyuruh si wanita ular Karina datang untuk memastikan siapa Aku sebenarnya?!!" Gumam Astrid berfikir.
"Ah, Aku harus hati hati, dan Aku harus mencari tau, apa mereka mengingatku atau tidak." Ujarnya.
"Zahara dan Karina sudah berani menunjukkan batang hidungnya langsung di hadapanku. Aku harus segera bergerak dan bertindak, gak bisa di tunda lagi." Ujarnya.
Astrid lantas beranjak pergi dari ruang makan, Dia tak jadi memakan nasi gorengnya, Astrid keburu kenyang, karena kesal dengan kedatangan Karina ke rumahnya.
---
Karina menyetir mobil sambil menelpon Zahara, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Aku baru saja pulang dari rumah gadis yang bernama Camelia itu." Ujar Karina, bicara di telepon.
"Apa kamu merasa ada sesuatu hal pada gadis itu?" Tanya Zahara dari seberang telepon.
"Nggak juga sih. Cuma, Aku kayak gak asing dengan gadis itu, seperti pernah ketemu sebelumnya, tapi Aku gak tau dimana dan kapan." Ujar Karina, di teleponnnya.
"Ya, Aku juga merasakan yang sama. Pas Aku ketemu dan melihat si Camelia itu, Aku kayak pernah melihatnya juga." Ujar Zahara, dari seberang telepon.
"Ah, mungkin kita berdua pernah liat wajah yang hanya mirip aja sama gadis itu." Ujar Karina, di telepon.
"Ya, mungkin juga. Tapi, Aku penasaran aja." Ujar Zahara, dari seberang telepon.
"Kalo penasaran, kamu bisa cari tau tentang gadis itu, Kamu kan bisa mendekatinya nanti, apalagi kalian bertetangga." Ujar Karina, di telepon.
"Kamu menyuruhku dekat dengannya? Gak level, Dia berada jauh di bawahku. Dia gak pantas dekat apalagi berteman denganku." Ujar Zahara, sinis di seberang telepon.
"Ya...ya...terserahmu. Sudah dulu ya. Aku lagi nyetir nih." Ujar Karina.
__ADS_1
Karina langsung mematikan ponselnya, Dimasukkannya ponsel ke dalam dashboard , lalu, Dia kembali berkonsentrasi menyetir mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan raya yang tak terlihat padat itu.