Destroy

Destroy
Kemunculan si "Boss"


__ADS_3

Pria yang datang menemui Gerard di ruang kantornya tersenyum penuh arti menatap wajah Gerard yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Apa Kamu gak menyuruh Saya untuk duduk?" tanya Pria tersebut.


"Oh, Maaf, silahkan duduk." Ujar Gerard.


Pria itu tersenyum, lantas segera duduk di sofa yang ada dalam ruang kantor tersebut, Gerard juga ikut duduk di sofa.


Gerard terlihat gugup saat berhadapan dengan Pria tersebut. Sebab, Pria itu adalah orang kepercayaan sekaligus tangan kanan orang yang selama ini di panggilnya dengan sebutan "Boss".


Pria ini bernama Dimas, Dia juga penasehat si "Boss " , sering kali Dimas memberikan nasehat dan saran pada si "Boss" sebelum mengambil sebuah keputusan besar dalam organisasi mereka.


"Kamu pasti sudah tau, mengapa Saya datang ke sini." Ujar Dimas, tersenyum menatap wajah Gerard yang duduk di hadapannya.


"Maaf, Saya belum tau." Jawab Gerard.


"Jangan pura pura dan berusaha menutupinya." Ucap Dimas, sinis.


"Maksudnya?" Tanya Gerard.


Gerard menatap wajah Dimas yang tersenyum sinis menatapnya, Gerard masih menduga duga apa yang akan di bahas Dimas nantinya.


"Ini soal kematian Ishadi, kenapa dalam beberapa hari ini Kamu gak lapor ke si "Boss" , jika ternyata Ishadi mati di bunuh." Ungkap Dimas.


Gerard terdiam mendengar perkataan Dimas, pahamlah Dia, bahwa kedatangan Dimas untuk membahas soal kematian Ishadi.


"Ah, soal itu, begini, biar Saya jelasin." Ujar Gerard.


"No...no...Jangan cerita ke Saya." ujar Dimas, mencegah Gerard untuk menjelaskan duduk perkara soal kematian Ishadi.


"Kamu di minta datang menghadap si "Boss", Beliau ingin mendengar langsung darimu, apa Kamu tau soal kematian Ishadi, dan mengapa Dia di bunuh." Ujar Dimas.


"Oh, ya. Baiklah. Saya akan datang menemuinya." Ujar Gerard, mengangguk paham dan mengerti pada Dimas.


"Kamu tau, si Boss marah besar mendengar kematian Ishadi, sebab, selama ini, Ishadi yang menjalankan bisnis obat terlarang dan judi online, kematiannya akan menghambat bisnis si Boss. Jadi, harus ada penyelesaiannya." Ungkap Dimas , memberi penjelasan.


"Ya, Saya paham. Saya juga sedang berusaha mencari pelakunya." Ujar Gerard.


"Jangan hanya berusaha, tapi, harus di tangkap, dan segera di habisi pelakunya." Ucap Dimas.


"Ya." Angguk Gerard.


"Baiklah. Begitu saja untuk saat ini, Saya pulang, Jangan sampai Kamu gak datang menemui Boss." Ujar Dimas , memberi peringatan pada Gerard.


"Ya. Saya pasti datang secepatnya." Ujar Gerard.


Dimas lantas bangun dan berdiri dari duduknya di sofa, Gerard juga ikut berdiri.


"Tidak perlu Kamu antar." Ujar Dimas.


Gerard mengangguk hormat, mengiyakan, lalu, Dia berdiri diam dan membiarkan Dimas berjalan sendiri keluar dari dalam ruang kantornya.

__ADS_1


Gerard menghela nafasnya dengan berat, Dia lantas berjalan kembali ke meja kerjanya, di hempaskannya tubuhnya di atas kursi kerja.


Wajahnya terlihat tegang, Dia tahu, jika Boss memanggilnya, maka, Dia akan mendapat teguran pastinya. Selain itu, Gerard masih juga memikirkan keberadaan Karina yang menghilang tanpa kabar berita.


---


Keesokan harinya, tanpa berlama lama dan menunda waktu, Gerard akhirnya datang dan bertemu dengan orang yang selalu di panggil dengan sebutan "Boss".


Terlihat dalam sebuah ruangan yang luas, Gerard berdiri menghadap di depan meja kerja, sementara, di sebuah kursi kerja, terlihat Sosok Pria tua bertubuh gemuk duduk di kursi dengan posisi yang membelakangi Gerard.


Hanya punggungnya saja terlihat, karena duduk membelakangi, Gerard tak bisa melihat wajah orang yang di sebut "Si Boss " .


Sosoknya masih misterius, belum di ketahui wajah dan nama Dia yang sebenarnya.


Hanya Gerard dan orang orang dekat serta orang kepercayaan saja yang bisa melihat langsung wajah "Si Boss" dan mengetahui namanya.


"Apa Kamu tau kesalahanmu?" Tanya si Boss dengan suaranya yang berat dan berwibawa.


"Ya, Boss. Karena Saya telah merahasiakan kematian Ishadi, dan tidak cepat melaporkannya pada Boss." Ujar Gerard, menjawab pertanyaan si Boss.


"Kenapa Kamu diam dan tidak memberi tau?" Tanya si Boss.


"Karena saya masih bingung, belum tau pelakunya, dan apa motif si pembunuh menghabisi nyawa Ishadi." Ujar Gerard.


"Apa Kamu gak bisa langsung mengambil kesimpulan, bahwa Ishadi mati karena ada hubungannya dengan bisnis kita?!" Ujar si Boss.


"Awalnya Saya berfikir begitu Boss. Tapi, Saya ragu, jika kematian Ishadi karena masalah bisnis kita. Saya berfikir ada masalah lain." Ujar Gerard.


"Saya berfikir, motif pembunuhan Ishadi karena balas dendam, bukan masalah bisnis." Ujar Gerard, menjelaskan.


Mendengar perkataan Gerard, Si Boss cepat membalikkan tubuhnya dan langsung menatap tajam wajah Gerard. Gerard akhirnya berhadapan dan bisa melihat langsung wajah si Boss tersebut.


"Apa maksudmu? Balas dendam apa? Apa Ishadi punya musuh?" Tanya Si Boss, menatap tajam wajah Gerard yang berdiri di hadapannya, tepat di depan meja kerja yang besar.


"Ya, Boss. Itu pemikiran Saya saat ini." Ujar Gerard.


"Coba jelaskan, mengapa Kamu katakan, bahwa Ishadi mati karena ada yang dendam padanya. Karena setau Saya, Ishadi tak punya musuh, jika ada, Saya pasti lebih tau darimu, dan musuhnya, pasti sudah di habisi lebih dulu." Ujar Si Boss.


"Ishadi tidak punya musuh, Boss. Tapi, kematiannya tersebut ada hubungannya dengan kasus Edward, beberapa tahun yang lalu." Ungkap Gerard.


"Edward?!!" Si Boss tersentak kaget mendengar Gerard menyebut nama Edward.


"Sudah lama sekali Saya gak mendengar namanya, lebih dari belasan tahun." Ucap Si Boss.


"Mengapa Kamu bisa mengatakan, kalo kematian Ishadi ada hubungannya dengan kasus Edward dulu?" tanya si Boss, menatap tajam wajah Gerard.


"Karena sebelumnya, beberapa anak buah Saya, orang kepercayaan Saya juga mati di bunuh, bahkan, ada mayatnya yang sengaja di buang dan di letakkan dalam garasi mobil di rumah saya." Ungkap Gerard.


"Apa ?!!" Si Boss, tersentak kaget dan langsung berdiri menggebrak meja.


"Kenapa Kamu gak bilang, jika anak buahmu ada yang mati di bunuh? Apa maksudmu diam dan tidak memberi tau Saya? Apa Kamu udah gak mau di bantu organisasi kita?!" Ujar Boss membentak marah.

__ADS_1


"Maaf, Boss. Saya hanya gak mau melibatkan organisasi kita. Saya hanya ingin menyelesaikannya sendiri." Ujar Gerard.


"Apa Kamu bisa menyelesaikannya sendiri? " Ujar Si Boss.


"Saya usahakan Boss, Saya lagi mencari pelakunya, dan Saya yakin, pelakunya sama." Ujar Gerard.


"Kamu yakin,ini murni balas dendam?" tanya si Boss, menatap serius wajah Gerard.


"Ya, Saya yakin, Boss. Dan Saya sudah mengantongi satu nama untuk di curigai dan di selidiki sebagai Pelakunya." Ungkap Gerard.


"Oh, ya? Siapa orangnya?" Ujar Si Boss, ingin tahu.


"Astrid, Boss. Anak Edward." Ungkap Gerard.


"Astrid ?!!" Si Boss terlihat tersentak kaget mendengar nama Astrid di sebut Gerard.


"Dari mana Kamu bisa buktikan keyakinanmu, bahwa pelakunya Astrid, anaknya Edward ?!" Tanya Si Boss, dengan tatapan tajam dan wajah serius melihat Gerard.


"Karena, Dia menulis sebuah pesan yang sengaja di tujukan pada Saya. Inti pesannya, Dia datang membalas dendam atas kejahatan Saya dan komplotan kita pada Bapaknya beberapa tahun lalu, dan Dia juga bilang, bahwa yang berikutnya, Dia akan menuntut balas pada saya dan keluarga Saya." Ungkap Gerard, menjelaskan pada si Boss.


Setelah mendengar penjelasan dari Gerard, Si Boss seketika terdiam, Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal. Lalu, ditatapnya wajah Gerard .


"Apa Kamu yakin itu Astrid? Bukankah selama ini, Astrid berada dalam penjara wanita?!" Ujar Si Boss.


"Dia sudah di bebaskan Boss. Kami sudah memeriksanya ke rumah tahanan tempat Astrid di penjara. Menurut petugas Lapas tahanan, Astrid sudah di bebaskan, karena mendapat pengurangan hukuman." Ungkap Gerard.


Si Boss terdiam, Dia tak menyangka , jika ternyata Astrid, anaknya Edward sudah di bebaskan dari penjara, sama sekali Dia tak tahu kabar beritanya, Dia baru tahu dari penjelasan Gerard saat ini.


"Jika benar Astrid, anaknya Edward yang membunuh Ishadi, maka, bisa dipastikan, Dia juga akan mendatangi dan mengincar anggota anggota kita yang juga terlibat dalam kasus bapaknya dulu." Ujar Si Boss.


"Ya, itu pasti Boss." Jawab Gerard.


"Baiklah. Apa Kamu bisa menangkapnya? Jika Kamu sanggup, Saya akan memberi wewenang penuh padamu untuk mengejar dan menghabisi Astrid." Ujar si Boss.


"Saya sanggup Boss." Jawab Gerard mantap.


"Baiklah. Cari Dia, dan jangan sampai Dia membunuh anggota kita lainnya, dan cegah Astrid, agar Dia tak membongkar segala tindak kejahatan dan menghancurkan semua bisnis kita." Ujar Si Boss.


"Jika Astrid di biarkan berkeliaran bebas menuntut balas, akan membahayakan kita. Kamu juga akan hancur , maka dari itu, Saya beri tugas padamu, cari dan habisi Astrid, sebelum Dia sempat menghancurkan organisasi kita!" Ucap Boss menegaskan dan memberi perintah pada Gerard.


"Baik, Boss. Akan Saya kerjakan secepatnya." Ujar Gerard.


"Ya, Saya percayakan tugas ini padamu." Ujar si Boss.


Gerard mengangguk, memberi hormat, si Boss terlihat geram dan menahan amarahnya , setelah Dia mengetahui bahwa Astrid pelakunya, Dia marah karena Astrid membunuh Ishadi.


Walau itu baru dugaan Gerard saja yang mengatakan bahwa Astrid yang membunuh Ishadi, dan hanya sebagai tuduhan belum ada bukti, tapi, Dia percaya, dan tetap berhati hati.


Sebab, dalam pikirannya, ada benarnya semua yang dikatakan Gerard, bisa saja itu terjadi, dan Astrid, anaknya Edward benar benar ingin membalas dendam atas perbuatan mereka pada Bapaknya dulu.


Sebab, pembunuhan terjadi, tepat setelah Astrid di bebaskan dari dalam penjara wanita, dan sebelumnya, suasana tenang, tak ada anggota mereka yang mati terbunuh.

__ADS_1


__ADS_2