
"Tolong, jangan bunuh Aku, Aku masih mau hidup." Ucap Karina, dengan tatapan mata menghiba pada Astrid.
"Kamu kira, dengan Kamu memohon dengan wajah melasmu itu Aku kasihan dan mengampuni Kamu?! Huu !! Jangan harap ku ampuni !" Ucap Astrid , menatap tajam penuh amarah pada Karina.
Karina yang duduk di sofa semakin gemetar ketakutan, wajahnya pucat pasi, Dia tak bisa bergerak, karena pisau belati yang tajam telah menempel di lehernya.
Sekali saja Dia salah bergerak, maka lehernya pasti akan terkena sayatan pisau tajam yang di genggam Astrid itu.
"Kamu harus menanggung segala macam perbuatan jahatmu padaku Karina !" Tatap Astrid geram.
"Kamu pasti ingatkan? Bagaimana usahamu membuat laporan dan memalsukan dataku, memberi pernyataan atas hasil pemeriksaanmu, dan Kamu tetapkan Aku Gila !!" Bentak Astrid, melampiaskan amarahnya.
"Itu bukan kemauanku Astrid ! Aku terpaksa melakukannya, Gerard dan Zahara yang menyuruhku melakukan itu, mereka mengancamku!" Ujar Karina , dengan raut wajah penuh ketakutan pada Astrid yang terlihat sangat marah.
"Kamu komplotannya Gerard dan Zahara, Aku tau, apa yang telah Kalian perbuat pada Bapakku dan juga Aku !!" Bentak Astrid.
"Bertahun tahun lamanya Aku memendam amarah dan dendamku pada Kalian semua ! Dan sekarang, tiba saatnya Aku menuntut balas atas perbuatanmu padaku !!" Bentak Astrid marah.
"Tolong Astrid, tolong, Aku minta maaf, Aku mohon, jangan bunuh Aku. Ini semua ulah Zahara dan Gerard, Aku cuma ikut ikutan saja." Ungkap Karina.
Karina berusaha meyakinkan Astrid, namun Astrid tak mau mendengar perkataannya, Dia tahu, Karina hanya mencari alasan saja agar Dia di beri ampun.
Tapi Astrid tak akan pernah mengampuninya, bagi Astrid, dosa Karina sudah telalu besar, atas apa yang diperbuatnya dulu , Astrid menaruh dendam. Dia merasa terhina dan marah karena Karina mengatakan bahwa Dia gila.
"Dulu, Kamu yang membuatku Gila! Dan sekarang, Aku benar benar menggila !! Aku gak akan mengampunimu, Aku akan membunuhmu!!" Teriak Astrid, melampiaskan segala macam emosi amarahnya yang menggebu didalam jiwanya.
Suara Astrid menggelegar keras di dalam ruang Villa tersebut, namun, Karena Villa itu jauh dari rumah rumah warga, maka suaranya tak ada yang mendengar.
"Aku mohon Astrid, Aku mohon, jangan bunuh Aku. Aku akan tutup mulut, dan gak akan memberi tahu Gerard atau pun Zahara tentangmu, percayalah!" Ujar Karina, memohon dengan tatapan mata yang memelas pada Astrid.
"Cuiih !! Untuk apa Aku harus percaya padamu? Sahabat baikmu Zahara saja Kamu khianati, Kamu malah berzina dengan Gerard ,apalagi Aku ! Ucapanmu itu sama sekali gak bisa di percaya Karina !!" Ujar Astrid geram.
Karina terkejut mendengar perkataan Astrid , Dia tak menyangka, jika ternyata Astrid mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Gerard.
"Kenapa? Kamu kaget Aku tau perzinahanmu dengan Gerard?" Ucap Astrid, menatap sinis wajah Karina.
Karina terdiam, Dia tak berani menatap wajah Astrid yang sangat mengerikan karena amarahnya itu.
Dia memalingkan wajahnya.
"Aku yang memberi tau Zahara, Aku memasang kamera cctv diruang kerja Gerard, dan didalam rumahnya, lalu, Aku temukan rekaman video perzinahan Kamu dan Gerard !" Ujar Astrid.
__ADS_1
"Aku lalu memberikan rekaman video kalian pada Zahara, Aku sengaja mengadu domba Kamu dan Karina, agar kalian semua saling bunuh !!" Bentak Astrid marah.
Betapa semakin terkejutnya Karina, bahwa ternyata yang melakukan semua itu adalah Astrid, Dia benar benar tak menyangka jika Astrid sudah mempersiapkan itu semua buat menjebak dan mengadu domba Dia dan Karina.
"Dan Aku datang sekarang untuk membunuhmu, Karena Aku tau, Kamu akan memberi tau Gerard, siapa sebenarnya Aku!" Hardik Astrid.
"Tidak Astrid, tidak ! Aku akan tutup mulut !" Ucap Karina sambil menggelengkan kepalanya.
Karina terus saja memohon agar di ampuni dan tidak di bunuh Astrid, namun, Astrid yang sudah memendam amarah dan dendamnya selama bertahun tahun tak mau mendengar apapun yang dikatakan Karina, baginya, semua yang keluar dari mulut Karina adalah dusta belaka.
"Pergilah ke Neraka Karina !!" Bentak Astrid geram.
Lalu, Astrid menggorok leher Karina dengan pisau belati yang ada di tangannya, leher Karina seketika terluka lebar, terkena sayatan pisau belati yang sangat tajam itu, darah mengalir deras dari urat lehernya.
Kedua mata Karina terbelalak lebar, Dia memegangi lehernya yang berdarah, tatapan matanya memelas melihat Astrid yang berdiri dihadapannya.
"Mampus Kamu Karina ! "Ujar Astrid geram dan marah.
Tatapan mata Astrid tajam melihat Karina yang memegangi lehernya, lalu kejang kejang dan kemudian menghembuskan nafasnya.
Karina akhirnya pun mati, terkulai di atas sofa yang Dia duduki. Melihat Karina sudah mati, Astrid menyeringai, Dia tersenyum puas dan terlihat lega.
"Satu lagi musuhku telah mati. Tunggu saja Gerard, Zahara, waktu kalian akan tiba nanti." Ujar Astrid geram dan marah.
Lalu, dengan darah milik Karina itu Dia menuliskan sebuah pesan di dinding ruangan tersebut.
"Hati hatilah ! Aku akan datang untuk membunuhmu !"
Begitu bunyi tulisan yang di tulis Astrid di dinding tembok ruangan villa tersebut.
Dia sengaja menuliskan pesan, agar Gerard membaca dan mengetahui , bahwa Dia telah datang menuntut balas dan membunuh Karina di villa tersebut.
Akhirnya Astrid sedikit bisa bernafas lega, Karena Karina, orang yang telah memasukkannya ke rumah sakit jiwa dan menyatakan bahwa dirinya Gila telah mati di bunuhnya, dendamnya kepada Karina sudah terlaksana.
Astrid lantas berbalik badan dan berjalan santai, Dia melangkah keluar dari dalam Villa, meninggalkan mayat Karina yang terkulai di atas sofa ruang tengah Villa.
Astrid berjalan keluar, menyusuri halaman Villa, terus berjalan menyusuri jalanan yang ada di sekitar villa. Dia melangkahkan kakinya dengan santai, berjalan menuju ke tempat mobilnya yang Dia sembunyikan tadi, sebelum datang ke Villa tersebut.
Pisau belati masih ada dalam genggaman Astrid, wajahnya terlihat masih memerah karena amarahnya yang membara, Dia tiba di tempat persembunyian mobilnya.
__ADS_1
Lalu, Dia membuang daun daun pelepah pisang yang menutupi depan mobilnya. Kemudian, Dia segera membuka pintu dan masuk kedalam mobil.
Astrid lantas menyalakan mesin mobil, disimpannya pisau belati ke dalam dashboard mobil, lalu, sesaat kemudian, mobilnya sudah berjalan, dan pergi meninggalkan tempat itu. Suasana semakin hening dan sepi setelah kepergian Astrid dari lokasi bangunan Villa milik Gerard itu.
---
Beberapa jam kemudian, datang sebuah mobil memasuki jalanan ke arah bangunan Villa. Mobil itu milik Zahara.
Dari dalam mobilnya Dia melihat sebuah mobil parkir di ujung jalan dekat gang yang menuju ke Villa, Zahara kenal dengan mobil itu.
"Itu mobil Peter, dimana Dia?" Gumamnya sambil terus menyetir mobilnya.
Mobilnya melaju pelan mendekati mobil Peter yang parkir, lalu, Dia menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Peter.
Setelah mematikan mesin mobilnya, Zahara lalu mengambil pistol dari dalam dashboard mobil dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang selalu dibawanya kemana pun Dia pergi.
Lalu, Zahara cepat membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya, Dia berjalan mendekati mobil Peter.
Saat berjalan itu Dia melihat Peter ada didalam mobilnya sedang duduk di jok depan mobil. Zahara mengira, Peter masih tetap mengawasi bangunan Villa tersebut.
Zahara melangkah dan mendekat, Dia lantas berdiri disamping pintu depan mobil. Diketuknya pintu. Namun, tak ada reaksi dari Peter.
Zahara heran, Peter diam saja duduk di jok depan mobilnya, Zahara mengira Peter tertidur didalam mobilnya, karena itu Dia tak bereaksi dan tidak melihat kedatangan Zahara.
Zahara kesal , lalu Dia membuka pintu depan mobil itu.
Saat pintu mobil terbuka, langsung terjatuh tubuh Peter dari dalam mobil ke luar. Betapa terkejutnya Zahara.
Zahara berteriak histeris melihat tubuh Peter sudah kaku dan jatuh ke tanah keluar dari dalam mobilnya. Dia melihat disekujur tubuh Peter penuh luka tusukan pisau dan berdarah darah.
Zahara kaget dan syock, Dia tak menyangka, Peter mati terbunuh, Dia mengira Peter hanya tertidur.
"Siapa yang membunuhnya?!" Gumam Zahara, dengan raut wajah yang syock dan kaget.
Zahara terdiam berdiri kaku ditempatnya, untuk sesaat Dia memandangi mayat Peter yang terjatuh di tanah.
"Pantas saja telponku dari tadi gak diangkat angkatnya !" Gumamnya lagi.
Zahara menoleh ke kanan dan ke kiri, Dia melihat kesekitar tempat tersebut, mencari cari, jika Dia melihat orang yang telah membunuh Peter.
Namun, Dia tak melihat ada seorang pun ditempat itu, Zahara menghela nafasnya. Dia lalu teringat akan Karina.
__ADS_1
Dengan cepat Zahara berbalik badan dan pergi berlari menuju Villa, Dia tinggalkan mayat Peter begitu saja .
Sambil berlari lari Zahara mengambil pistol dari dalam tas kecil yang dibawanya, lalu digenggamnya pistol tersebut, Dia terus berlari masuk ke dalam Villa, untuk mencari tau, apakah Karina masih ada didalam Villa atau sudah pergi dari tempat itu.