
Mobil yang dikendarai Alex meluncur di jalan raya dengan kecepatan sedang, Astrid yang duduk di samping Alex terus menerus menoleh ke belakang, Dia melihat Antoni pingsan di jok belakang mobil, Astrid tampak sangat cemas dan sangat mengkhawatirkan kondisi Antoni, Dia tak ingin terjadi hal buruk pada diri Antoni .
"Lebih cepat lagi Lex, Aku gak ingin Antoni kenapa kenapa, Kita harus cepat sampai kerumah sakit, biar Antoni segera di rawat!" Ucap Astrid, dengan wajah cemas dan penuh rasa khawatirnya terhadap Antoni .
"Ya, Trid." Ucap Alex mengangguk pada Astrid.
Alex lantas menambah kecepatan mobilnya, mobil pun langsung melaju dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya, meluncur cepat menyusuri jalan raya melewati kendaraan kendaraan yang juga berseliweran dijalan raya tersebut .
Keresahan tampak jelas di raut wajah Astrid, Dia cemas melihat kondisi Antoni yang penuh luka dan lemah serta pingsan, Dia menyesali diri Antoni yang keras kepala tak mau mendengarkan perkataannya sebelumnya.
"Kalo saja Antoni mau nurut denganmu untuk gak kerja dulu, pasti hal ini gak terjadi." Ucap Alex, sambil tetap menyetir mobilnya.
"Ya, Lex, Antoni keras kepala, Dia gak mau mendengarku, dan mengira bisa menjaga dirinya dari incaran Gerard ." Ungkap Astrid, sambil menghela nafasnya dengan berat .
"Aku harus memberi pelajaran pada Gerard ! Aku harus membalas perbuatannya pada Antoni!" Ujar Astrid geram .
"Ya, Trid. Gerard benar benar iblis berhati dingin, Dia ingin membunuh Antoni, Dia menyiksanya dengan menyetrum tubuh Antoni ." Ujar Alex, sambil terus menyetir mobilnya.
"Gerard benar benar biadab !" Ucap Astrid geram dan marah .
Astrid sangat marah pada Gerard, Dia tak terima karena Gerard telah menyiksa Antoni dan hampir saja membunuh Antoni.
Jika saja Dia dan Alex datang terlambat, bisa dipastikan Antoni pasti sudah meregang nyawa, mati di kursi listrik tersebut .
Astrid bertekat akan membalas segala macam perbuatan jahat Gerard terhadap Antoni, Dia tak bisa menerima kondisi Antoni yang sangat memprihatinkan tersebut .
---
Sementara itu, di lokasi pemakaman, tampak baru saja selesai acara pemakaman Jack, tak ramai orang yang datang mengantarkan jenazah Jack ke pemakaman tersebut, hanya segelintir orang saja yang diberi tahu Zahara, termasuk tetangga dan ketua RT dan RW .
Semua orang sudah membubarkan diri dan pergi meninggalkan pemakaman Jack, tinggal Zahara sendirian , Dia masih berdiri di samping pemakaman, Zahara menangis sedih menatap batu nisan Jack yang ada di atas tanah pemakaman itu .
"Selamat istirahat anakku . Mama janji, Mama akan membalas perbuatan Papahmu yang telah membunuhmu." Gumam Zahara, sambil menangis sedih.
"Mama akan membunuh Papahmu, karena Dia menyebabkan kematianmu ini." Gumamnya lagi.
__ADS_1
"Mama gak akan pernah memaafkan perbuatan Papahmu, Dia tega membunuhmu, dan Mama juga lebih tega membunuh papahmu nanti." Ungkapnya, di sela sela isak tangis sedihnya .
Samuel yang juga hadir di pemakaman terlihat berdiri disamping sebuah pohon besar dan rindang, jaraknya berjauhan dengan pemakaman Jack , namun, Dia bisa melihat jelas Zahara yang berdiri disamping makam Jack sedang menangis, meratapi kematian Jack . Anak yang di bangga banggakan dan sangat di manja itu .
Samuel memandangi Zahara yang bersedih hati di makam Jack, Samuel tersenyum licik, tampak rona kebahagiaan terpancar diwajahnya .
"Akhirnya, Aku bisa bernafas lega dan hidup dengan tenang, tanpa susah payah menyingkirkan Jack, akhirnya, Jack mati juga di tangan Papahku sendiri." Gumam Samuel, tersenyum licik.
"Sekarang, gak ada lagi alasan untuk menghalangiku, gak ada lagi alasan Papah untuk tidak memberikan warisannya kepadaku." Gumamnya lagi.
"Jack sudah mati, dan otomatis, Aku satu satunya anak Papah yang berhak memiliki harta kekayaan Papah." Ucapnya dengan wajah senang .
"Akhirnya, Aku kaya raya, Aku mendapatkan warisan yang sudah lama Aku inginkan !!" Ujar Samuel, tertawa senang .
Samuel lalu berbalik badan, Dia lantas berjalan pergi meninggalkan lokasi pemakaman itu, Dia membiarkan Zahara sendirian di pemakaman Jack.
Suasana dipemakaman sudah sepi, tak ada satu orang pun yang ada di lokasi pemakaman, hanya tinggal Zahara seorang diri saja .
Zahara menghapus air matanya, lalu, Dia membelai batu nisan Jack dengan penuh cinta dan kasih sayangnya .
Zahara memandangi makam Jack, tatapan matanya sendu, berat hatinya untuk pergi meninggalkan pemakaman Jack. Zahara benar benar masih tak bisa merelakan kematian Jack yang mendadak itu . Dia tak menyangka, Jack mati dengan cara yang mengenaskan ditangan Papahnya .
Sebenarnya Gerard tak bermaksud membunuh Jack, Dia tak sengaja melakukannya, karena terbawa emosi marah yang begitu besar, Gerard mendorong kuat tubuh Jack yang berada dibawah pengaruh obat terlarang dan sedang mabuk, sehingga membuat Kepalanya terluka parah membentur meja kayu jati dirumahnya, dan Gerard sama sekali tak menyangka, jika perbuatannya itu mengakibatkan kematian Jack saat itu juga , Dia pikir, Jack hanya mengalami luka di kepalanya saja dan akan baik baik saja.
Gerard sama sekali belum mengetahui , jika Jack sudah meninggal dunia, nyawanya tak bisa di tolong, karena luka dikepalanya mengenai otaknya, apalagi saat itu Jack dibawah pengaruh over dosis obat terlarang.
Zahara tidak memberi tahu Gerard, bahwa Jack sudah mati karena perbuatannya, Zahara marah besar dan sudah tak sudi lagi bicara dengan Gerard, Dia hanya ingin membunuh Gerard, membalas perbuatan Gerard, yang menyebabkan kematian Jack, anak tersayangnya itu .
Zahara menghela nafasnya, lalu Dia berbalik badan, dengan langkah gontai dan wajah yang bersedih, Zahara melangkah pergi meninggalkan lokasi pemakaman jack .
---
Sesampainya dirumah sakit, Antoni langsung dibawa para perawat rumah sakit ke ruang operasi untuk segera mendapatkan penanganan dari dokter .
Astrid dan Alex berdiri di depan ruang tunggu operasi, Astrid mundar mandir, Dia sangat cemas sekali .
__ADS_1
"Bagaimana kalo nyawa Antoni gak selamat , Trid ?!" tanya Alex, menatap wajah Astrid yang berjalan mundar mandir itu .
"Aku akan membunuh Gerard ! Mau Antoni sembuh atau mati, Aku tetap akan membunuh Gerard , Lex !" Ungkap Astrid, dengan wajah yang penuh amarah membara pada Gerard .
"Aku kasihan liat Antoni, sangat sulit bertahan dari siksaan keji itu, Gerard benar benar manusia biadab, Dia tega menyetrum Antoni." Ujar Alex geram.
Astrid berhenti mundar mandir , Dia berdiri disamping Alex dan menatap lekat wajah Alex .
"Aku akan membalasnya dengan lebih keji lagi nanti Lex, liat saja, apa yang akan Aku lakukan pada si Gerard itu !" Ungkap Astrid, dengan wajah penuh amarahnya .
"Ya, Trid, Aku setuju sama Kamu, Gerard harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya pada Antoni !" Ujar Alex, menatap wajah Astrid .
"Ya." Ujar Astrid, mengangguk geram .
"Bagaimana dengan Papahmu? Apa Dia tau kepergianmu menyelamatkan Antoni ?" tanya Alex .
'Nggak, Papah gak tau, Aku sengaja pergi diam diam dan gak bilang padanya." Ujar Astrid .
"Kalo Papah tau, Dia pasti akan memaksa untuk ikut denganku menolong Antoni, apalagi Dia kan juga sangat dendam sama Gerard !" Ujar Astrid .
"Iya juga ya." Angguk Alex mengerti.
"Kalo Papahmu ikut, urusannya malah runyam, bisa bisa, kita bukan menyelamatkan Antoni saja, tapi juga harus menyelamatkan Papahmu, untungnya Papahmu gak tau." Ujar Alex.
"Ya, Lex , Aku mau, Papah tetap diam di tempat persembunyiannya, urusan balas dendam, biar Aku yang menyelesaikannya." Ujar Astrid.
"Aku gak ingin Papah terluka, karena itu, Aku gak mengizinkan Papah pergi kemanapun sendirian tanpa memberi tahu padaku tujuannya ." Lanjut Astrid, menjelaskan pada Alex .
"Kalo papahmu tetap mengaktifkan ponselnya, kemanapun Dia pergi, walau gak bilang Kamu, kita tetap bisa melacak keberadaannya Trid." Ujar Alex .
"Ya, Aku tau itu Lex, tapi tetap aja, Aku gak mau, apa yang di alami Antoni saat ini terjadi juga pada Papahku nantinya ." Ungkap Astrid, menatap lekat wajah Alex yang berdiri disampingnya .
"Iya, Aku paham." Angguk Alex .
Lalu keduanya saling diam, Astrid melihat ke arah ruang operasi, lampu masih menyala, pertanda, operasi masih berlangsung dan belum selesai, Astrid menghela nafasnya, lalu Dia duduk di bangku ruang tunggu yang ada di dekat ruangan operasi tersebut, sementara Alex masih berdiri di depan ruang operasi .
__ADS_1