Destroy

Destroy
Wajah si Pelaku di kenal Patrick


__ADS_3

Sebuah mobil terlihat memasuki pelataran area halaman villa, Peter yang masih duduk di bangku teras villa melihat kedatangan mobil itu, Dia tahu, siapa yang datang ke tempat itu.


Peter lantas segera bangun dan berdiri dari duduknya di bangku teras villa, lalu, Dia melangkah ke halaman villa, menghampiri mobil yang datang.


Mobil itu berhenti di halaman villa, mesin mobil lantas mati, dan sesaat kemudian, keluar Zahara dari dalam mobil. Peter menyambut kedatangannya, Dia berdiri dihadapan Zahara.


"Dimana Dia ?!" Tanya Zahara.


Zahara langsung saja bertanya tentang keberadaan Karina, Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Karina, kebencian dan kemarahan terlihat jelas di raut wajahnya saat bertanya tentang Karina.


Tanpa menunggu jawaban dari Peter, Zahara cepat melangkah dan berjalan hendak masuk ke dalam villa, Dia mengira Karina ada di dalam villa.


Peter berbalik badan dan melihat Zahara yang berjalan cepat memasuki teras villa.


"Dia gak ada di dalam." Ujar Peter.


Mendengar perkataan Peter, Zahara menghentikan langkahnya, Dia kaget, ternyata Karina tidak ada di dalam rumah.


Zahara cepat berbalik badan dan kembali mendekati Peter yang masih berdiri diam dihalaman villa, tepat di samping mobil Zahara.


"Apa maksudmu? Saya liat mobilnya ada di sini.'Ucap Zahara, menatap tajam wajah Peter.


"Maaf, Bu. Karina kabur, saat Saya mau mengikatnya dan membawanya masuk kedalam villa." Ungkap Peter.


Peter tertunduk di hadapan Zahara, ada rasa bersalah dalam dirinya, sebab gagal menjalankan tugas yang diberikan Zahara kepadanya.


"Gobloook !! Kenapa bisa lolos?!" Bentak Zahara marah.


"Waktu Saya menyeret dan hendak membawanya masuk, tiba tiba saja mata saya dilempar tanah sama Karina, lalu Dia kabur ke jalan raya." Ujar Peter.


"Terus, gak Kamu kejar? Kamu biarkan aja Dia lari dan lolos ?! Bodoh !!" Bentak Zahara lagi.


Zahara benar benar geram dan marah di buat Peter, Dia merasa Peter sangat bodoh telah melepaskan Karina begitu saja.


"Saya mengejarnya Bu, tapi, Di jalan raya, Karina tiba tiba di tabrak mobil." Ungkap Peter.


"Apa ?!!" Zahara tersentak kaget.


"Ya, Bu. Dia di tabrak, dan pas Saya mau mendekatinya, dan membawanya ke villa lagi, orang orang udah ramai berkumpul disekitarnya, jadi, Saya mundur dan pergi meninggalkannya begitu saja." Ujar Peter, memberi penjelasan.


"Plaaakk"


Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Peter, karena geram, kesal dan marah, seketika Zahara menampar Peter.


"Bodoh !! Kenapa Kamu gak liat dari dekat, pastikan, apa Dia mati atau masih hidup?!!" Hardik Zahara emosi marah.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya gak berani mendekati kerumunan orang banyak, takut mereka curiga pada Saya." Ujar Peter.


"Goblok ! Kalo si Karina ternyata masih hidup, urusannya bisa jadi runyam ! Dia pasti ngoceh dan mengatakan, kalo Saya mau membunuhnya ! Dia kan tau, kamu anak buah Saya !" Ucap Zahara menegaskan dengan nada suara berapi api karena emosi marahnya.


"Maafkan Saya bu." Ujar Peter.


Peter menyadari kesalahannya pada Zahara, sebab itu Dia terus meminta maaf pada Zahara.


"Sekarang Kamu cari Dia sampai ketemu!! Datangi semua rumah sakit yang terdekat dari villa ini !! Saya yakin, orang orang pasti membawanya ke rumah sakit, dan berusaha menolong Dia !" Bentak Zahara, memberi perintah pada Peter.


"Baik, Bu. Saya akan mencarinya." Ucap Peter.


"Ya sudah sana pergi! Nunggu apa lagi?!" Bentak Zahara.


Zahara semakin kesal dan marah dibuat Peter yang hanya diam dan masih saja berdiri dihadapannya.


"B...baik Bu." Ujar Peter.Sedikit gugup dihadapan Zahara yang terlihat sangat emosi marah itu.


"Kamu harus mendapatkan Karina ! Jika tidak, Kamu gak akan mendapatkan bayarannya, dan Jika Karina ngoceh tentang Saya yang mau membunuhnya, Kamu akan mendapatkan hukuman dari Saya!!" Ancam Zahara pada Peter.


"Iya, Bu. Baik." Jawab Peter.


"Sudah sana cari Dia !" Hardik Zahara kesal.


Peter lantas mengangguk hormat pada Zahara, Zahara diam saja dan membuang mukanya tak mau melihat wajah Peter, Dia marah besar pada Peter yang sudah membiarkan Karina kabur .


Peter bergegas jalan dan pergi meninggalkan Zahara, Dia berjalan ke samping villa, hendak mengambil motor yang disimpannya di belakang villa tersebut.


"Siaaall !! Kalo Karina masih hidup, Dia pasti akan ngoceh soal ini!" Gumam Zahara.


Ada kekhawatiran pada diri Zahara, Dia cemas Karina ternyata masih hidup, dan pada akhirnya cerita ke orang orang, bahwa Dia hendak di bunuh. Dan jika itu terjadi, urusan semakin rumit, apalagi jika Gerard sampai tahu masalah ini. Gerard pasti marah besar dan akan melakukan balasan pada dirinya, sebab Dia tahu, Gerard juga masih mencintai Karina, dan tentu saja Gerard pasti akan marah, jika Karina mengadu dan cerita padanya, bahwa Zahara berniat untuk membunuhnya. Dan Zahara tak mau masalah ini menjadi besar, Dia ingin cepat cepat mendapatkan Karina dan menyelesaikan masalah ini, sebelum Gerard mengetahui perbuatannya terhadap Karina.


Zahara semakin marah, Dia kesal, karena sudah capek dan jauh jauh datang ke villa, ternyata sia sia, Karina tidak ada di villa tersebut.


Dan yang membuatnya semakin emosi, Karina lolos dan di biarkan kabur begitu saja sama Peter. Seharusnya, menurut Dia. Peter langsung mengambil dan membawa tubuh Karina setelah kecelakaan , sebelum orang orang datang ramai berkerumun di dekat Karina yang tertabrak itu.


Zahara menarik nafasnya, lalu, Dia berjalan kembali ke mobilnya, dibukanya pintu mobil, lalu, Dia segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.


Beberapa saat kemudian, nelintas motor Peter keluar dari arah belakang villa dan melaju cepat di halaman rumah sampai kejalanan. Peter melaju menbawa motornya pergi dan meninggalkan Zahara sendirian di villa itu.


Zahara melihat kepergian Peter yang mengendarai motornya, Dia lantas menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan villa tersebut untuk kembali ke rumahnya. Wajahnya masih memerah karena menahan emosi marah yang menggebu gebu.


---


Di sebuah rumah sakit, si Penabrak tiba membawa Karina, Petugas medis yang ada di rumah sakit cepat memberikan pertolongan , mereka segera membawa Karina, korban tabrakan untuk segera di tangani oleh Dokter yang bertugas di rumah sakit. Dan si Penabrak yang bertanggung jawab mengurus segala biaya administrasinya serta memberi pernyataan dan tanggung jawabnya atas kejadian yang sudah menimpa Karina.

__ADS_1



Beberapa saat kemudian, di dalam ruang operasi, terlihat Karina terbaring di atas ranjang, Dia sudah ditangani. Dokter yang di temani oleh beberapa suster dan asistennya sedang mengoperasi Karina. Karina tak sadarkan diri.


Dan si penabrak tetap berada di rumah sakit, menunggu Dokter selesai mengoperasi Karina.


Wajahnya terlihat tegang, Dia menyesali kejadian tersebut, Dia menyesal sudah menabrak Karina, namun, kejadian itu sangat cepat terjadi, Dia tak menyangka Karina berlari dan tiba tiba saja muncul di jalanan, sehingga Dia tak sempat menghindari mobilnya, dan lalu menabrak tubuh Karina.


Si Penabrak berharap dan berdoa, Karina tidak mati dan bisa di sembuhkan, jika pada akhirnya Karina mati, Dia sudah berniat akan tetap bertanggung jawab dan menyerahkan dirinya pada pihak yang berwajib, karena sudah menabrak Karina dan menyebabkan kematian.


Hanya sedikit sekali orang seperti si Penabrak ini, sudah menabrak, mau bertanggung jawab apapun yang terjadi, kebanyakan, orang setelah menabrak langsung melarikan diri dan tak mau bertanggung jawab, karena takut di hakimi massa atau di penjara.


Si Penabrak sangat baik, Dia malah merasa dirinya yang bersalah, apapun alasan dan kebenarannya. Seharusnya Dia tak menabrak Karina, itu pikirannya. Dia menunggu dengan harap harap cemas di ruang tunggu yang ada di dekat ruang operasi rumah sakit tersebut.


---


Di Kantor Kepolisian, dalam ruang kerjanya, terlihat Patrick sedang mengamati rekaman kamera video amatir dari ponsel tamu undangan yang hadir di acara Ishadi, korban yang mati di bunuh beberapa waktu yang lalu.


Patrick terlihat serius. Dia terus saja mengulang ulang adegan saat pengantar minuman berjalan dan berpapasan dengan Ishadi yang mau ke podium untuk memberikan pidatonya.


Patrick lantas menghentikan tayangan rekaman video itu, lalu, wajah si pengantar minuman di perbesarnya, Patrick ingin melihat lebih jelas lagi wajahnya. Dia penasaran, siapa pengantar minuman tersebut.


Tak berapa lama, datang Nasir, salah satu petugas kepolisian yang menjadi anak buah Patrick, Dia masuk ke dalam ruang kerja Patrick sambil membawa selembar kertas ditangannya.


Melihat kedatangan Nasir, cepat Patrick menoleh dan melihatnya, Dia juga menghentikan rekaman video di laptop yang sedang di tontonnya.


"Bagaimana hasil gambarnya?" tanya Patrick, menatap lekat wajah Nasir yang berdiri dihadapannya.


"Ini, Pak. Hasil gambarnya setelah diperbesar dan Saya print." Ucap Nasir.


Nasir memberikan lembaran kertas gambar, dan Patrick cepat mengambil dari tangan Nasir, lalu, dilihatnya gambar itu, diamatinya dengan seksama dan teliti, wajahnya terlihat sangat serius memperhatikan gambar sosok wajah si pengantar minuman yang di duga sebagai pelaku pembunuhan Ishadi.


Patrick mengernyitkan keningnya saat Dia melihat gambar wajah sosok pengantar minuman yang di perbesar dan di cetak photo itu.


"Seperti Aku kenal wajahnya?" Bathin Patrick.


Patrick terus saja mengamati sosok gambar wajah si pengantar minuman, tiba tiba saja matanya terbelalak lebar, seperti Dia mengingat sesuatu hal.


"Dia ?!! Apa benar Dia yang melakukannya?!!" Bathin Patrick bicara lagi.


Terlihat raut wajahnya menyiratkan rasa kaget mendalam, Dia tahu dan mengenali wajah si pengantar minuman yang ada digambar tersebut. Dia yakin, bahwa si pengantar minuman itu adalah orang yang Dia kenal. Wajahnya tak asing dan ciri cirinya sama persis.


Memang, dalam gambar tersebut, wajah si pengantar minuman terlihat sedikit jelas, walau pun memakai topi, dan Patrick tahu, Dia seorang wanita, dari lekuk tubuh dan wajahnya yang tirus serta rambut panjang yang sedikit terurai dibelakang, walau memakai topi, tetap tak bisa menutupi rambut panjangnya yang sedikit tergerai dibelakang bahunya.


Patrick terdiam menatap gambar ditangannya, Dia syock, tak menyangka dengan apa yang Dia lihat dan temukan pada gambar itu. Nasir masih berdiri diam menunggu dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2