Destroy

Destroy
Selangkah Lagi


__ADS_3

Sosok Pria yang ada diatas atap rumah Hardi Wijaya adalah Edward, Dia datang kerumah Hardi Wijaya , karena rencananya Dia akan membunuh hardi Wijaya .


Setelah Dia melihat kebebasan Hardi Wijaya di televisi dan ditayangkan secara langsung beberapa waktu yang lalu, Edward juga sangat marah sebenarnya, karena dengan mudahnya Hardi Wijaya bebas dari jerat hukum . namun, didepan anaknya, Astrid dan juga Antoni, Dia tak mau memperlihatkan kekecewaan dan amarahnya .


Diam diam Edward berniat akan mendatangi Hardi Wijaya dan membuat perhitungan padanya, karena Edward tahu, bahwa Hardi Wijaya termasuk orang yang ikut menghancurkan dan memfitnahnya dulu.


Hardi Wijaya lah yang bertugas mengumpulkan bukti bukti palsu lalu membuatnya seolah olah bukti itu milik Edward , sehingga Edward tak bisa menghindar dari tuduhan yang disematkan pada dirinya dulu .


Namun, melihat Astrid yang ternyata juga datang ke rumah Hardi Wijaya membuat Edward berfikir ulang untuk menemui dan membuat perhitungan pada Hardi Wijaya .


Edward berfikir diatas atap sambil melihat ke arah Astrid yang berusaha mencari cara untuk bisa menyelinap masuk ke dalam rumah Hardi Wijaya itu .


Edward berfikir, jika Dia meneruskan niatnya, Dia pasti nanti akan bertemu dengan Astrid, dan jika Astrid mengetahui bahwa Dia datang menemui Hardi, maka Astrid akan marah padanya .


Edward sebenarnya tak mau melibatkan anaknya dalam masalah Dia, karena khawatir anaknya akan terluka dan akan mendapatkan bahaya besar, Edward ingin, Dia sendiri yang menyelesaikan masalahnya dengan orang orang yang tergabung dalam sebuah kelompok satu organisasi kejahatan yang di pimpin oleh orang dekat Edward, dan Edward tahu siapa orangnya , Dia akan menemui orang itu suatu saat nanti .


Namun, karena sudah terlanjur Astrid ikut campur dan berniat membalas dendam karena mengira bahwa Edward sudah mati, Edward jadi tak bisa melarangnya .


Edward melihat ke bawah, Dia melihat Astrid sudah berhasil membongkar pintu rumah Hardi Wijaya dan menyelinap masuk.


Melihat Astrid sudah masuk ke dalam rumah, cepat Edward beranjak dari tempatnya, Dia hendak turun dari atas atap rumah tersebut .


Rumah itu cukup besar dan luas serta mewah, Hardi Wijaya memang pengusaha sukses dan seorang pejabat yang sangat kaya raya, semua uang yang didapatnya lebih banyak dari hasil bisnis ilegal, yang Dia jalani bersama anggota organisasinya yang lain .


Hardi Wijaya juga salah satu bandar sekaligus pemilik beberapa situs judi online, dan kejahatannya sudah tercium oleh Marwan serta Patrick, sehingga Hardi ditangkap, walau pada akhirnya di bebaskan dan namanya bersih dari tuduhan kejahatan tersebut .


Edward berhasil turun dari atap rumah Hardi Wijaya, Dia hendak pergi , namun, Dia tiba tiba saja menghentikan langkah kakinya, Dia ingin melihat, apa yang akan dilakukan Astrid, anaknya itu terhadap Hardi Wijaya .


Akhirnya, Edward mengurungkan niatnya untuk pergi, Dia melangkah ke arah samping rumah , mencari celah celah lubang jendela, agar bisa digunakannya untuk mengintip kedalam rumah dan melihat apa yang akan di lakukan Astrid terhadap Hardi Wijaya .


Di kamarnya, tampak Hardi Wijaya yang baru pulang berpesta pora dalam keadaan setengah mabuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, Dia terlentang diatas kasur .


Sementara didalam ruangan rumah, Astrid yang sudah masuk kedalam rumah berjalan menyusuri selasar ruangan, Dia berpapasan dengan Asisten rumah tangga.

__ADS_1


Asisten rumah tangga terperanjat kaget melihat Astrid ada didalam rumah, Astrid juga kaget, tak menyangka, Dia di pergoki Asisten rumah tangga Hardi Wijaya .


Dengan cepat Astrid menodongkan pistolnya pada Asisten rumah tangga, seketika wajah Asisten rumah tangga memucat dan tubuhnya gemetar ketakutan melihat pistol ditangan Astrid dan diarahkan ke wajahnya .


"Jangan berteriak ! Atau Kamu akan Saya bunuh !" Ujar Astrid .


Asisten rumah tangga mengangguk anggukan kepalanya, menyatakan bahwa Dia tak akan berteriak dan diam.


Asisten rumah tangga dengan jelas melihat wajah Astrid, karena memang Astrid tak memakai penutup wajahnya.


Dia sengaja tak memakai masker penutup wajah, agar kehadirannya bisa di ketahui Hardi Wijaya, Dia ingin Hardi Wijaya melihatnya dengan jelas, bahwa Dia, anaknya Edward, orang yang sudah di fitnah, datang menuntut balas sekarang .


Astrid menatap tajam wajah Asisten rumah tangga, dan Dia masih mengarahkan pistolnya pada Asisten rumah tangga .


"Jalan !" Ujar Astrid, menyuruh Asisten rumah tangga berjalan .


Asisten rumah tangga menurut saja, karena takut ditembak Astrid, Astrid lantas menyuruhnya masuk ke dalam sebuah ruangan, Asisten rumah tangga menurut, Dia masuk kedalam ruangan sebuah kamar kosong, Astrid juga masuk mengikutinya .


Asisten rumah tangga menurut, Dia lantas melangkah mendekati lemari pakaian, lalu berdiri diam disamping lemari pakaian.


Astrid cepat membuka pintu lemari pakaian, Dia mencari cari sesuatu dalam lemari pakaian tersebut .


Kamar itu milik Anak gadis Hardi Wijaya, tapi sekarang kamar itu kosong karena anaknya sudah pergi keluar negeri , dan setelah menikah anaknya menetap tinggal di luar negeri, sementara isterinya sudah tak tinggal bersama Hardi Wijaya lagi, mereka baru setahun ini bercerai, karena berbeda pandangan satu sama lainnya . Sehingga Hardi Wijaya hanya tinggal sendirian bersama Asisten rumah tangganya yang sudah bekerja dengannya selama 10 tahun lamanya .


Didalam lemari itu, hanya ada beberapa potong pakaian dan juga beberapa helai selendang panjang.


Astrid lalu mengambil tiga helai kain selendang dari dalam lemari pakaian itu.


Astrid lalu menutup mulut Asisten rumah tangga dengan kain selendang, kemudian Astrid juga mengikat kedua tangan dan kedua kaki Asisten rumah tangga dengan menggunakan kain selendang yang diambilnya dari dalam lemari pakaian .


"Jangan coba coba melepaskan dirimu ! Dan jangan coba coba kabur, jika Kamu masih mau hidup!" Ucap Astrid, mengancam.


Asisten rumah tangga mengangguk angguk takut dengan ancaman Astrid itu.

__ADS_1


Astrid tersenyum sinis menatap wajah Asisten rumah tangga yang ketakutan itu , Astrid lantas berbalik badan dan pergi meninggalkan Asisten rumah tangga yang berdiri disamping lemari pakaian dengan kondisi mulut ditutup dan diikat kain selendang, serta tangan dan kakinya juga di ikat .


Astrid tak mau membunuh Asisten rumah tangga itu, walaupun Dia sudah ketahuan, Astrid tak tega membunuhnya, apalagi Dia tahu kalau Asisten rumah tangga tak bersalah .


Dia hanya berada dalam situasi yang salah saja, bertemu dengan Astrid yang masuk ke dalam rumah dan berniat ingin membunuh Hardi Wijaya .


Di luar rumah, tepatnya disamping rumah Hardi Wijaya, Edward berdiri disamping jendela dan mengintip dari celah lubang jendela .


Edward bisa melihat ke dalam rumah , walaupun tak begitu jelas, Edward melihat Astrid keluar dari satu ruangan sambil memegang pistol di tangannya .


"Apa Astrid sudah membunuh Hardi? Dia bawa pistol." Bathin Edward bicara .


Edward mengira , Astrid sudah membunuh Hardi, karena Dia melihat Astrid memegang pistol dan baru saja keluar dari dalam ruangan .


"Ah, Tapi, kok Aku gak dengar suara tembakannya ? Apa Pistolnya pakai peredam ?!" Bathin Edward lagi .


Karena penasaran, Edward mengintip lagi dari celah lubang jendela, Dia ingin memastikan, apakah Astrid memang benar benar sudah membunuh Hardi Wijaya atau belum.


Edward menduga duga, karena Dia tak melihat Astrid berada diruangan tersebut karena menyekap dan mengikat serta mengurung Asisten rumah tangganya Hardi Wijaya, agar Astrid bisa melakukan rencananya tanpa ada yang menghalangi .


Dari celah lubang jendela samping rumah, Edward melihat Astrid berjalan dan masuk ke sebuah kamar . Edward menegaskan pandangannya, Dia melihat Astrid sudah masuk ke dalam kamar itu .


Edward lantas bergegas pergi dari tempatnya, Dia berjalan mencari jendela kamar dimana Astrid tadi masuk, agar Dia bisa mengintip dari jendela kamar dan melihat perbuatan Astrid .


Astrid melangkah pelan masuk ke dalam kamar, Dia membiarkan saja pintu kamar tetap terbuka dan tak menutupnya lagi.


Astrid melangkah pelan mendekati ranjang, Dia melihat Hardi Wijaya terlentang tidur diatas kasurnya .


Astrid berdiri di samping ranjang, Dia terlihat sinis menatap wajah Hardi Wijaya yang rebah diatas kasur.


Astrid berdiri diam, lalu, Diangkatnya tangannya yang memegang pistol , kemudian, di arahkannya pistol ditangannya itu pada Hardi Wijaya yang rebahan dikasurnya .


Sama sekali Hardi Wijaya belum menyadari kehadiran Astrid dikamar pribadinya itu saat ini . Selangkah lagi Astrid akan menghabisi Hardi Wijaya .

__ADS_1


__ADS_2