
"Praaaannnggkkk"
Kaca televisi hancur terkena lemparan remote, duduk seorang Pria separuh baya menatap ke televisi yang sudah pecah kaca layarnya.
Pria itu pimpinan dalam kelompok organisasi kejahatan Gerard. Dia baru saja menyaksikan tayangan penangkapan para pejabat tinggi negara di televisi.
Dia mengamuk dan sangat marah sekali, karena pejabat pejabat yang di tangkap itu semuanya anggota kelompok organisasi yang di pimpinnya .
"Keparaaaattt !! Kenapa ini bisa terjadi ?!!" Teriak Pria separuh baya itu mengamuk.
Marwan, salah satu tangan kanannya hanya diam berdiri disampingnya, dengan menundukkan wajahnya .
"Kamu cepat kumpulkan semua orang ! Saya akan membahas soal penangkapan itu !! Suruh juga Januar dan Gerard datang!!" Ujarnya , memberi perintah pada Marwan.
"Baik, Pak." Ujar Marwan, mengangguk hormat pada Pria tersebut.
"Saya permisi." Ujar Marwan, pamit pada Pria separuh baya itu.
Pria itu mengangkat tangan kanannya, menyuruh Marwan pergi.
Marwan lantas segera berbalik badan lalu pergi meninggalkan Pria tersebut.
Pria itu terlihat sangat marah sekali, karena dengan ditangkapnya para anggotanya, maka, bisnisnya akan menjadi kacau dan bahkan bisa hancur berantakan, Dia geram dan marah pada Polisi yang telah menangkap anak buahnya, Dia ingin mencari tahu, siapa Polisi yang telah berani menangkapi para pejabat tinggi yang semuanya menjadi anggota kelompok organisasi yang selama ini mendukung tindak bisnis kejahatan yang dilakukannya.
Wajahnya terlihat memerah, menahan amarahnya yang sudah mencapai ke ubun ubun kepalanya .
---
Alex terdiam duduk di sofa, Dia menatapi wajah Astrid yang duduk dihadapannya.
Astrid langsung menemui Alex, setelah Dia pergi dari rumah Antoni dan bertemu papahnya lagi.
Dan Astrid menceritakan pada Alex, bahwa Dia baru saja bertemu Papahnya, Alex syock dan kaget, sekaligus tak percaya dengan apa yang dikatakan Astrid, Dia tak mampu berkata kata setelah mengetahui dari Astrid, bahwa Edward, Papah Astrid , dan juga orang yang sangat Dia hormati masih hidup.
Walau Alex tampak Syock, namun hati kecilnya sangat bahagia dan senang, karena ternyata selama ini Edward tidak mati, namun, Dia kaget, karena ternyata selama ini, Edward bersembunyi di dekat Astrid. Dan mereka tak ada yang tahu keberadaan Edward yang bersembunyi dirumah Antoni.
"Papah memintaku membawa Kamu untuk bertemu dengannya." Ujar Astrid.
"Bawa Papahmu ke rumahku , sekalian nanti Aku akan tempatkan Papahmu di Paviliunku, Beliau bisa sembunyi dan tinggal disana." Ujar Alex, menatap wajah Astrid.
"Ya, Akan ku bawa Papahku secepatnya." Ujar Astrid.
"Kamu baik baik saja Lex?" tanya Astrid, menatap lekat wajah Alex yang duduk dihadapannya itu.
__ADS_1
"Ya, Aku baik baik aja, Aku cuma kaget aja mendengar dari Kamu, bahwa pak Edward ternyata masih hidup. " Ungkap Alex.
"Aku senang, pak Edward baik baik saja dan masih hidup." Lanjut Alex.
"Ya, Lex. Aku juga gak nyangka, kalo selama ini Papah tinggal dirumah Antoni, dan Antoni gak pernah mengatakannya padaku, mereka sengaja merahasiakannya dariku." Ujar Astrid.
"Papahmu mengungkap keberadaannya dan menyuruh Antoni membawamu bertemu dengannya, karena Dia tau, Gerard berusaha membunuhmu." Ungkap Alex.
"Papahmu pasti gak mau Kamu terluka, Dia mau melindungimu, maka beliau mengungkap jati dirinya di depan Kamu, bahwa Dia masih hidup." lanjut Alex.
"Ya, Lex." Angguk Astrid.
"Sebaiknya sekarang juga Kamu bawa Papahmu ke tempatku, Jangan menunda nunda waktu, karena , bisa saja anak buah Gerard sekarang sedang mencari rumah si Antoni untuk menangkapnya." Ujar Alex, menjelaskan pada Astrid.
"Baiklah. Aku akan menjemput Papahku sekarang juga." ujar Astrid.
"Ya, cepatlah. Aku tunggu di sini." Ujar Alex.
Astrid lantas bergegas pergi meninggalkan Alex yang masih duduk di sofanya, Dia memandangi kepergian Astrid.
"Syukurlah Astrid, Papahmu masih hidup, Aku senang, Kamu bisa bertemu dengan Papahmu lagi." Bathin Alex bicara.
Alex lantas menghela nafasnya, Dia lalu beranjak dari sofa yang didudukinya, lalu berjalan ke kamarnya, Dia bersiap siap untuk menunggu kedatangan Edward bersama Astrid dan juga Antoni, Dia akan membawa Edward ke Paviliunnya, untuk tinggal sementara disana dan bersembunyi dari Gerard yang sedang mencari keberadaan Antoni.
---
Pria separuh baya yang menjadi pemimpin di kelompok organisasi kejahatan Gerard menggebrak meja kerjanya. Dia sangat marah sekali.
Di dalam ruangan rapat di kantornya, berkumpul para anggota anggota dari kelompok organisasi kejahatan mereka, terlihat semua anggota anggotanya dari kalangan orang orang penting, mereka terdiri dari berbagai macam lapisan profesi, dan rata rata berkuasa dalam pekerjaannya masing masing.
Dalam ruangan, ada juga Gerard serta Januar, Kepala kepolisian, yang juga anggota dari kelompok Gerard, dan menjadi salah satu orang kepercayaan si Pria separuh baya yang menjadi pemimpinnya .
"Bodoh !! Bodoh !! Masak Kamu sebagai Kepala kepolisian gak bisa mencegah anak buahmu, agar tak menangkapi anggota anggota kita !!" Bentak Pria separuh Baya pada Januar.
"Maaf, Pak. Saya gak tau, jika Anak buah Saya bertindak sudah sejauh ini, Dia tak pernah melaporkan pada Saya sebelumnya, kalo Dia sedang menyelidiki mereka, dan akan menangkap anggota kita itu." Ujar Januar, memberi penjelasan pada Pimpinannya itu.
"Siaal !! Besar juga nyali anak buahmu itu !! Siapa Dia ?!!" Ujar Pria separuh baya bertanya dengan menatap tajam wajah Januar.
"Namanya Patrick, Pak. Dia komandan di divisi kriminal dan tindak kejahatan di kepolisian ." Ujar Januar.
"Aku gak mau tau, Kamu dan kalian semua yang ada di sini harus cepat menyelesaikan semua masalah ini!!" Ujar Pria separuh baya itu.
"Bereskan semua, jangan biarkan bisnis yang sudah kita jalani hancur dan di tutup gara gara penangkapan anggota anggota kita itu!!" Ujar Pria Separuh Baya itu lagi.
__ADS_1
"Dan Kamu Januar ! Tugasmu untuk menyingkirkan anak buahmu yang bernama Patrick ! Jangan biarkan Dia terus menangkapi anggota kita, Kamu harus memberinya pelajaran, agar Dia gak berani mengusik kelompok kita dan menghalangi bisnis bisnis kita!!" Tegas Pria Separuh baya itu memberi perintah pada Januar.
"Baik, Pak. Akan Saya bereskan masalah ini." Ujar Januar, memberi hormat pada Pria Separuh baya itu.
"Dan Kamu Gerard !! Apa Kamu sudah menemukan Pelaku yang membunuh Ishadi ?!" Tanya Pria Separuh baya itu pada Gerard yang diam saja duduk disamping Januar.
"Saya masih berusaha menangkapnya, Pak. Dan Saya sudah mengetahui Siapa pelaku itu." Ungkap Gerard.
"Oh ya? Siapa Dia ?!!" Ujar Pria separuh baya bertanya pada Gerard.
"Namanya Astrid, Pak. Dia anak kandungnya Edward !" Ungkap Gerard, memberi laporan pada pimpinannya itu.
"Astrid ?!! Anaknya Edward ?!!" Pria separuh baya itu tersentak kaget.
Pria Separuh baya itu lantas terdiam di kursinya, tampak Dia sedang memikirkan sesuatu hal, lalu, Dia menatap tajam wajah Gerard yang duduk di samping Januar.
"Hmm...Ternyata anaknya Edward sudah besar, dan menjadi pembunuh, Baiklah." Ucap Pria separuh baya itu dengan tersenyum sinis.
"Kamu cepat bereskan masalah Ishadi, dan tangkap anaknya Edward ! Bawa si Astrid kehadapanku !! Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Pria separuh baya memberi perintah pada Gerard.
"Ya, Pak. Akan Saya usahakan secepatnya bisa menangkap Astrid dan membawanya ke hadapan Bapak." Ujar Gerard.
"Ya, Aku tunggu hasil kerjamu!" Tegas Pria separuh baya.
Gerard mengangguk hormat pada pimpinannya itu, sementara si Pria separuh baya diam kembali, Dia berfikir, dan mencoba mengingat wajah Astrid, anak Edward yang sudah membunuh Ishadi, salah satu anggota kelompok organisasi yang di pimpinnya.
"Hmm...Sudah lama Aku gak mendengar namamu, Sudah lama juga Aku gak melihatmu, Astrid... !" Bathin Pria separuh baya bicara.
"Waktu ternyata berlalu sangat cepat, dan Kamu sudah besar sekarang, Kamu mau membalas dendam Astrid? Lakukanlah. Aku menunggumu. Kita akan bertemu secepatnya." Bathinnya lagi.
Pria separuh baya tampak tersenyum sinis, Dia menunggu hari pertemuan Dia nanti dengan Astrid, Dia tahu Astrid anaknya Edward .
Marwan berjalan mendekati Pria Separuh baya yang masih duduk tercenung di kursinya.
"Pak Anwar, menteri perekonomian baru saja ditangkap Pak. Dengan tuduhan kasus korupsi." Ujar Marwan, memberi laporan pada Pria separuh baya.
"Kepaaaarraaaatt !!" Teriak Pria Separuh baya sambil menggebrak meja.
Pria separuh baya semakin marah besar, karena baru saja mendapat kabar, bahwa salah satu anggotanya di tangkap Polisi lagi, Dia geram dan marah, karena Polisi sudah bertindak diluar batas , dengan terus saja menangkapi anggota anggotanya.
Sementara anggota anggota yang hadir diruangan itu, termasuk Gerard dan Januar hanya terdiam saja ditempatnya masing masing, mereka tak ada yang berani bicara pada pimpinan mereka itu yang terlihat saat ini dalam keadaan murka dan sedang marah besar .
Mereka semua hanya bisa terdiam , menyaksikan kemarahan Pria separuh baya, yang menjadi pimpinan kelompok organisasi kejahatan mereka .
__ADS_1