Destroy

Destroy
Astrid semakin Penasaran


__ADS_3

Ternyata suara teriakan Astrid cukup keras, sehingga terdengar sampai ke rumahnya Zahara. Samuel yang baru saja pulang dan baru keluar dari dalam mobilnya kaget mendengar suara teriakan dari arah rumah Astrid.


Samuel berdiri terdiam sesaat, memastikan suara teriakan tersebut, begitu Dia yakin bahwa suara itu berasal dari rumah Astrid, Dia segera berlari kecil menuju ke rumah Astrid.


Di halaman rumahnya, terlihat Astrid tengah menyeret mayat Jackson menuju ke samping rumahnya. Saat Astrid masuk ke samping rumahnya, Samuel tiba dan langsung berlari ke arah rumah karena melihat pintu rumah Astrid terbuka.


Samuel tak melihat ada ceceran darah ditanah, karena Dia focus dengan Astrid.


"Lia !! Camelia !!" Panggil Samuel, berdiri di depan pintu dan melongo ke dalam rumah.


Namun tak terdengar suara jawaban dari Astrid, Samuel penasaran, Dia langsung saja masuk ke dalam rumah mencari Astrid.


Samuel menyusuri seluruh ruangan dalam rumah, tapi tak di temukannya Astrid di dalam.


"Kemana Camelia? Apa yang terjadi?!" Gumamnya, berfikir.


Samuel lantas kembali berjalan keluar dari dalam rumah Astrid, Dia masih penasaran , mengapa Astrid berteriak tadi dan lalu tak ada di dalam rumahnya. Dia bertanya tanya, apa yang terjadi pada Astrid.


Saat Samuel keluar dari dalam rumah dan berjalan ke halaman rumah, bertepatan dengan Astrid yang juga muncul dari arah samping rumahnya.


Betapa terkejutnya Astrid saat melihat Samuel ada di halaman rumahnya, Dia berdiri terpaku.


"Lia !!" Ujar Samuel.


Samuel yang melihat Astrid datang dari arah samping rumahnya langsung mendekati Astrid. Wajah Samuel terlihat cemas menatap Astrid yang berdiri terdiam dihadapannya.


Jantung Astrid berdegup cepat, Dia bertanya tanya, mengapa Samuel tiba tiba saja ada di halaman rumahnya, sedang apa Dia? Dan Astrid juga khawatir, apakah Samuel melihat Dia menyeret mayat Jackson ke samping rumahnya.


"Kamu gak kenapa kenapa kan Lia?" Tanya Samuel, dengan wajah cemas menatap Astrid.


"Ah, Aku...Aku gak apa apa." ujar Astrid, berusaha menutupi rasa kaget dan gugupnya dihadapan Samuel.


"Kamu sedang apa di sini?!" tanya Astrid, menatap cemas wajah Samuel.


"Oh, Aku baru aja pulang dari kantor, pas mau masuk ke rumahku, Aku mendengar suara teriakanmu yang keras, karena kaget, dan mau tau, apa yang terjadi padamu, Aku langsung datang ke sini buat melihatmu." Ujar Samuel memberi penjelasan.


"Oh, begitu. Maaf, kalo Aku membuat kaget Kamu." Ujar Astrid.


"Kamu kenapa berteriak malam malam begini? Ada apa?" tanya Samuel, ingin tahu.


"Oh, itu...tadi, Aku kaget karena meliat ular tiba tiba ada di teras rumahku, makanya Aku langsung refleks berteriak karena kaget." ujar Astrid.


Astrid berusaha menutupi apa yang sudah Dia lakukan, Dia sengaja berbohong pada Samuel.


"Ular ?! Terus, kemana ularnya?!" Tanya Samuel.

__ADS_1


Samuel percaya saja dengan ucapan Astrid, karena Dia tak mendengar jelas apa yang di ucapkan Astrid saat berteriak tadi.


"Sudah ku pukul dan matikan, lalu ku buang ke kebon di belakang rumahku." Ujar Astrid, membohongi Samuel.


"Oh, syukurlah kalo Kamu gak kenapa kenapa.Aku khawatir." Ucap Samuel, menatap lembut wajah Astrid.


Ada rasa suka dalam diri Samuel pada Astrid, itu terlihat dari tatapan kedua matanya saat menatap wajah Astrid. Namun, Dia masih berusaha menyembunyikan perasaannya terhadap Astrid.


"Terima kasih ya, Kamu udah perhatian padaku." Ucap Astrid, tersenyum.


"Ya."Angguk Samuel, juga tersenyum pada Astrid.


"Maaf ya Sam. Aku lelah, mau istirahat." Ujar Astrid.


Astrid tak ingin Samuel berlama lama di rumahnya, apalagi Dia melihat darah Jackson masih ada di tanah, Dia khawatir Samuel melihat darah itu. Astrid memberi alasan saja mau istirahat agar Samuel pulang dan tak berlama lama di rumahnya.


"Oh, baiklah." Ujar Samuel tersenyum.


"Maaf ya." Ujar Astrid.


"Ya, gak apa apa. Istirahatlah, Aku juga mau istirahat, besok pagi, Aku ada meeting di kantorku." Ujar Samuel tersenyum.


"Ya, Sampai ketemu lagi ya." Ujar Astrid.


"Oh ya Lia. Bagaimana kalo besok malam kita makan bersama di restoran." Ujar Samuel.


"Ya, nanti Aku kirim ke nomor hapemu nama restoran dan jam nya." Ujar Samuel.


"Iya." angguk Astrid.


"Aku pulang ya." Ujar Samuel.


Astrid sekali lagi mengangguk, mengiyakan, Samuel lantas berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Astrid.


Tiba tiba saja, Samuel menghentikan langkahnya, karena Dia melihat ada ceceran darah di tanah.


"Oh, itu darah ular tadi." Ujar Astrid.


Astrid cepat cepat memberitahu Samuel bahwa itu darah ular, agar Samsull tak curiga dan juga tak bertanya padanya.


"Oh, gitu." Ujar Samuel.


Samuel percaya saja dengan apa yang di katakan Astrid. Dia lantas melanjutkan langkahnya, pergi meninggalkan Astrid dan kembali kerumahnya.


Astrid menghela nafasnya lega setelah melihat kepergian Samuel, hampir saja Dia ketahuan oleh Samuel. Jika saja Samuel sampai melihat mayat Jackson, maka akan timbul masalah besar buat dirinya. Dan Astrid tak ingin itu terjadi, Dia tak ingin rahasia dan penyamaran dirinya terbongkar oleh Samuel dan keluarganya, terutama Zahara dan Gerard, musuh besarnya.

__ADS_1


Astrid lantas bergegas lari ke garasi mobilnya, Dia lalu mengambil pacul dari dalam garasi, lalu Astrid kembali ke halaman rumah , dengan pacul Dia menguruk tanah yang ada ceceran darah dan menutupi darah itu dengan tanah tanah yang ada, agar tak ada yang melihat lagi ceceran darah di halaman rumahnya.


Setelah selesai, Pacul di simpannya kembali dalam garasi mobil, lalu Dia bergegas masuk ke dalam rumahnya. Tak lupa Dia menutup dan mengunci pintu rumahnya.


Dengan terburu buru Astrid lantas berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu, Dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja rias. Astrid kemudian menelpon.


"Hallo, Lex. Tolong ke rumahku." Ujar Astrid, bicara di telepon dan duduk di pinggir ranjangnya.


"Malam ini juga? Ada apa?!" Ujar Alex, bertanya dari seberang telepon.


"Ya, karena penting sekali, Aku baru membunuh Jackson." Ujar Astrid, bicara di telepon.


"Jackson?!! Kamu membunuhnya dirumahmu?!" Ujar Alex kaget di seberang telepon.


"Ya, Jackson datang sendiri ke rumahku, lalu menyerangku, saat Dia lengah, Aku membunuhnya." Ujar Astrid, di telepon.


"Sekarang , Kamu simpan dimana mayatnya?" Ujar Alex bertanya dari seberang telepon.


"Aku pindahkan ke samping rumahku, Aku meminta tolong Kamu untuk menyingkirkan mayatnya dari rumahku." Ujar Astrid, di telepon.


"Di buang ke tempat lain atau di kubur di kebon rumahmu malam ini juga?!" Tanya Alex, dari seberang telepon.


"Terserah kamu saja gimana baiknya, pokoknya mayatnya harus di singkirkan." Ujar Astrid.


"Oke, Aku ke rumahmu sekarang juga, tunggu Aku." Ucap Alex di seberang telepon.


"Ya, Aku tunggu." Jawab Astrid, di teleponnya.


Astrid lantas menutup teleponnya dan meletakkan ponsel ke atas meja riasnya lagi.


Astrid lantas mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu, Dia menghela nafasnya.


Masih terngiang dalam telinga dan ingatannya akan ucapan Jackson sebelum mati.


"Siapa orang yang dimaksud Jackson? Mengapa Dia bilang, Aku akan kaget dan gak menyangka jika tau, siapa orang yang menyuruh dan membayar Jackson untuk membunuh Bapakku?!" Gumam Astrid.


Astrid diam masih duduk di pinggir ranjangnya, Dia tercenung memikirkan semua ucapan ucapan Jackson yang di sampaikannya sebelum mati tadi.


"Kalo dari omongan Jackson tadi, berarti bukan Gerard yang menyuruh dan membayarnya. Karena kalo Gerard, Aku gak bakalan kaget , sebab, selama ini Aku memang curiga sama Gerard." Gumamnya lagi.


"Kalo bukan Gerard, siapa orangnya? Siapa yang ada di belakang Gerard dan komplotannya itu? Siapa orang yang menjadi otak dan dalang dalam menjebak dan memfitnah serta membunuh Bapakku?!" Ucap Astrid berfikir keras.


Astrid terus memikirkan perkataan Jackson, rasa penasaran dan ingin tahunya pada orang yang berada dibelakang Gerard dan komplotannya semakin besar, Dia ingin segera bisa mengungkap sosok orang yang dimaksud Jackson.


Orang yang sengaja menyuruh dan membayar Jackson untuk membunuh Bapaknya saat di dalam penjara dulu.

__ADS_1


"Aku benar benar penasaran dibuat orang itu, Siapa Dia?" Gumamnya lagi, masih terus memikirkan sosok orang yang menjadi otak pembunuhan Bapaknya tersebut, saat beberapa tahun yang lalu di dalam penjara.


__ADS_2