
Zahara terlihat sudah rapi dan bersiap hendak pergi bekerja ke kantornya, Dia berdiri menunggu Melani, anaknya di selasar ruangan dalam rumahnya.
"Mel, ayo buruan kalo mau berangkat sama Mama, udah kesiangan Mama ini." Teriak Zahara, memanggil anak gadisnya itu.
"Ya, Ma, tunggu sebentar." Teriak Melani dari dalam kamarnya.
Zahara menghela nafasnya, Dia melirik jam tangannya, Zahara sebenarnya sudah lama menunggu anaknya selesai berdandan, tapi, Dia tak mau meninggalkan anaknya, Dia sudah janji akan mengantarkan anaknya itu ke tempat kerjaannya .
Zahara lalu duduk disebuah sofa yang ada diruang tengahnya, Dia menunggu Melani yang masih berdandan didalam kamarnya tersebut .
Sementara itu, dirumah Alex, terlihat Alex sedang menggunakan laptopnya, Dia sedang melacak nomor telepon milik Edward, yang dipasanginya alat pelacak .
Disamping Alex, berdiri Astrid, wajahnya tegang dan terlihat serius menatap layar laptop, Astrid tak sabar, ingin segera mengetahui posisi Papahnya saat ini.
"Akhirnya, ketemu juga !" Ujar Alex, dengan wajah senang menoleh pada Astrid.
"Dimana posisinya, Lex?" Tanya Astrid bersemangat.
Mereka berdua lantas melihat pada layar laptop, dimana terlihat letak lokasi Edward saat ini berada. Astrid tercengang kaget, begitu juga dengan Alex.
"Papah di rumah Zahara ?!!" Astrid terperangah kaget.
Dia syock saat melihat titik lokasi Papahnya berada saat ini, begitu juga dengan Alex.
"Papahmu kayaknya mau nemui Zahara." Ujar Alex menatap wajah Astrid yang berdiri di sampingnya.
"Ah, Gila !! Papah nekat !!" Ujar Astrid kesal.
"Itu sama aja Papah nunjukkan batang hidungnya pada Zahara, dan kalo Gerard dan Zahara tau Papah masih hidup, mereka pasti akan membunuhnya !!" Ucap Astrid geram.
"Ah, ini gila !! Papah benar benar gak bisa dipercaya !! Keras kepala!! Tetap saja pergi diam diam dan gak bilang padaku mau kemananya!!" Lanjut Astrid, dengan raut wajahnya yang kesal pada papahnya.
Astrid lantas berbalik badan dan melangkah, Alex menoleh padanya dan bertanya.
"Mau kemana Kamu?" Tanya Alex, menatap Astrid.
Astrid menghentikan langkahnya dan menoleh pada Alex yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Aku mau nemui Papah ! Aku gak mau Papah terluka disana !!" Ujar Astrid.
Terlihat wajah Astrid ada rasa khawatir juga pada Papahnya, walau Dia kesal pada Papahnya yang suka bertindak sendirian itu, tapi sebagai anak, tetap saja Dia cemas pada Papahnya. Dia khawatir dengan keselamatan diri papahnya .
"Aku ikut !" Ujar Alex.
Alex lantas beranjak dari duduknya di kursi kerjanya dan berjalan mendekati Astrid .
"Kita naik mobilku aja Lex." Ujar Astrid, menatap wajah Alex yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Ya." Angguk Alex , menurut dengan perkataan Astrid.
Lalu mereka berdua segera berjalan pergi keluar dari dalam rumah Alex.
Astrid dan Alex masuk kedalam mobil, Astrid menyalakan mesin dan mulai menyetir mobilnya, mobil mulai berjalan dan pergi meninggalkan rumah Alex.
Kembali kerumah Zahara, Zahara sudah semakin tak sabar menunggu Melani yang tak juga keluar dari dalam kamarnya .
Zahara lantas beranjak dari duduknya di sofa, Dia berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut .
Zahara melangkah keluar dari dalam rumahnya, Dia lantas membuka pintu mobilnya yang sudah terparkir dihalaman rumah dan siap berangkat .
Zahara masuk kedalam mobilnya, Dia duduk di jok depan, belakang stir mobilnya.
Saat Dia hendak menyalakan mesin mobilnya, pandangannya tertuju ke arah luar, di depan mobil berdiri seorang Pria sambil menatap pada Zahara yang berada didalam mobilnya.
Zahara heran melihat Pria tersebut, dari dalam mobilnya Dia perhatikan sosok Pria yang saat ini tengah berdiri di depan mobilnya itu .
"Edwaaaarrrdd ?!!"
Zahara terhenyak kaget, begitu Dia menyadari, bahwa yang berdiri di depan mobilnya adalah Edward, Zahara syock melihat kehadiran Edward yang secara tiba tiba itu .
Lalu, dengan cepat, Zahara membuka pintu mobil, Dia keluar dari dalam mobil dan tak jadi menyalakan mesin mobilnya.
Terlihat didepan mobil , Edward berdiri diam melihat Zahara yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
Dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Dia tak menyangka dan tak pernah menduga sama sekali, jika ternyata, Edward masih hidup, dan Dia dalam keadaan segar bugar, seperti yang saat ini Dia lihat secara langsung .
"Apa kabar Zahara?" Ucap Edward, dengan suara datar dan sikapnya yang dingin, menatap tajam wajah Zahara .
"Edward ?" Ucap Zahara lagi, menyebut nama Edward.
Dia ingin memastikan , bahwa yang berdiri didepan mobilnya adalah benar benar Edward. Orang yang dulu pernah sangat Dia cintai dan sekaligus Dia khianati.
"Ya, Aku Edward." Ucap Edward dengan suara datarnya.
Sikap Edward tampak tenang menatap tajam wajah Zahara yang masih kaget dan tak percaya itu.
"Ka...Kamu...benar Edward, Ka...kamu masih hidup?!!" Ucap Zahara, terbata bata karena syock dan sangat kaget sekali.
"Kenapa ? Kamu gak suka meliatku masih hidup? Kamu berharap Aku mati terbunuh di penjara ?!" Ucap Edward, dengan sinis pada Zahara.
"Oh Edward. Aku senang, Aku senang melihatmu masih hidup!" Ucap Zahara, menatap nanar dan sedih wajah Edward .
"Kamu sudah menghancurkan hidupku dan mengkhianatiku Zahara." ucap Edward, mulai menahan geram dan marahnya pada Zahara.
"Maafkan Aku Edward, Aku terpaksa melakukannya, Aku dipaksa Gerard, Aku di ancamnya!" ujar Zahara, menatap lekat wajah Edward yang masih berdiri di depan mobilnya itu .
__ADS_1
"Jujur, Aku sebenarnya gak mau mengkhianatimu, Aku gak mau menjebakmu, Aku terpaksa, karena Aku di ancam Gerard, jika Aku gak menurut, Gerard akan membunuhku dulu !" Lanjut Zahara, menjelaskan pada Edward.
"Aku mencintaimu Edward, Aku gak pernah mengkhianatimu, maafkan Aku...Maafkan Aku...Aku terpaksa melakukannya." ucap Zahara, dengan nada suara yang sedih dan rasa penyesalan.
"Tak ada gunanya meminta maaf, Kamu sudah melakukannya Zahara. Dan bagiku sudah jelas, Kamu mengkhianatiku, sekongkol dengan Gerard buat menyingkirkanku !" Tegas Edward, menatap tajam wajah Zahara.
"Lalu Kamu dan Gerard serta kelompoknya mengambil semua harta benda dan seluruh perusahaan Aku!! Kalian membagi baginya !!" Ungkap Edward geram menahan amarahnya pada Zahara.
"Dan Kamu, Kamu gak sedikitpun merasa menyesal, bahkan Kamu senang, mendapatkan harta kekayaanku dan juga perusahaanku !!" Tegas Edward.
"Dan satu hal lagi yang membuatku semakin kecewa padamu, bahkan membenci dirimu Zahara !" Ucap Edward, menatap tajam wajah Zahara yang berdiri tak jauh darinya itu.
"Aku tau apa yang Kamu lakukan bersama Karina pada anakku Astrid, Aku tau kalian memasukkan anakku ke rumah sakit jiwa dan menyatakan bahwa anakku gila , sehingga anakku gak mendapatkan apa apa dari harta kekayaanku!!" Tegas Edward.
"Karena perbuatan Kalian, anakku hidup menderita selama bertahun tahun, dan Kamu gak pernah perduli, Kamu gak mau tau bahwa Astrid anakku." ungkap Edward.
"Jika Kamu benar benar cinta padaku, terpaksa mengkhianatiku karena di ancam suamimu Gerard, setidaknya, Kamu tetap perduli dengan anakku dan mengurusnya!!" Tegas Edward.
"Bukan malah menelantarkannya begitu saja, bahkan menjadikan dirinya gila dan disekap dalam rumah sakit jiwa !" Hardik Edward.
Nada suara Edward semakin meninggi, Dia sudah tak tahan menahan amarahnya pada Zahara, Dia sangat marah sekali pada Zahara, yang telah mengkhianati dirinya dan membuat dirinya di penjara dulu.
"Apa Kamu datang mau membalas dendam padaku?!" Tanya Zahara, menatap nanar wajah Edward.
"Ya, selain membalas dendam atas perbuatanmu dulu padaku, Aku sengaja datang ke sini menemuimu untuk bertanya hal penting lainnya!" Tegas Edward.
"Apa yang mau Kamu tanyakan padaku?!" Tanya Zahara, menatap nanar wajah Edward.
Masih terlihat rasa bersalah dalam diri Zahara, Dia mengakui bahwa perbuatannya dulu salah, dan sudah membuat hidup Edward hancur.
"Dimana anak kita ?!" Tanya Edward.
Tiba tiba saja Edward melontarkan pertanyaan yang membuat Zahara tersentak kaget mendengarnya.
"Apa anak kita juga Kamu masukkan kedalam rumah sakit jiwa ? Sama seperti yang Kamu lakukan pada anakku Astrid?!!" Ujar Edward, bertanya pada Zahara.
Zahara syock dan kaget, Dia tak menyangka sama sekali, Edward menanyakan anak mereka, hasil dari hubungan perselingkuhan yang dulu mereka jalani .
Zahara tertunduk diam berdiri ditempatnya, Edward menatapnya tajam, wajahnya semakin geram dan marah melihat Zahara yang terdiam itu .
"Kenapa Diam?!! Dimana anak kita ? Aku mau bertemu dengannya!!" Hardik Edward, dengan nada sedikit meninggi.
Zahara masih saja terdiam, lidahnya kelu, Dia tak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya pada Edward, tentang anak mereka.
Zahara sama sekali tak menyangka, setelah sekian tahun menghilang, Edward tiba tiba saja muncul di hadapannya, lalu bertanya tentang anak mereka berdua .
Zahara tampak bingung dan ragu, antara mau mengatakan yang sebenarnya atau tidak, Dia tak ingin mendapatkan masalah, jika Edward tahu dimana anak mereka , pasti Edward akan berusaha mengambilnya.
__ADS_1
Dan hal itu akan membuat Gerard menjadi tahu, bahwa Zahara mempunyai anak dari hasil hubungan gelapnya bersama Edward dulu .