Destroy

Destroy
Kesedihan Hati Patrick pada Marwan


__ADS_3

Mobil Astrid masuk ke halaman Paviliun milik Alex yang sementara ini mereka tempati untuk bersembunyi dari incaran Gerard.


Astrid memarkir mobilnya dalam garasi mobil yang ada di samping Pavilliun itu. Lalu, setelah mesin mobil dimatikannya, Astrid segera keluar bersama Edward dari dalam mobilnya .


Mereka berdua berjalan menuju ke teras Pavilliun, di dalam, Antoni yang belum tidur mendengar bunyi bel pintu Paviliun.


Cepat Antoni bergegas ke ruang depan dan membuka pintu Paviliun itu. Dia kaget, karena Astrid datang bersama Edward.


Edward dan Astrid masuk kedalam rumah, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Astrid, Dia cuek dengan Antoni, Astrid terus berjalan dan masuk ke dalam kamarnya .


Edward duduk di sofa ruang tamu, melepaskan lelahnya, Antoni mendekatinya, Dia berdiri disamping Edward.


"Kok Om bisa pulang sama Astrid?" Tanya Antoni, heran menatap wajah Edward yang terlihat lelah itu.


"Ya, Kami bertemu tadi, jadi, Om Ikut bersama Astrid pulang ke sini." Ujar Edward.


Edward tak mau menjelaskan yang sebenarnya pada Antoni, Dia pikir tak ada gunanya Antoni tahu, jika Dia ketemu Astrid dirumah Hardi Wijaya, saat mereka berdua sama sama mau membunuh Hardi dirumahnya .


"Astrid kenapa Om? Kok tadi datang datang Dia diam dan cuek aja masuk ke kamarnya?" Ujar Antoni, bertanya pada Edward.


"Mungkin Dia lelah, biar saja, Kamu gak usah nanya atau mengganggunya, nanti Dia malah kesal jadinya." Ujar Edward menoleh pada Antoni.


"Oh, iya Om. " Jawab Antoni, mengangguk pada Edward .


Edward tahu, Astrid diam saja pulang pulang karena pastinya Dia masih kesal , karena merasa di bohongi Papahnya, dan Papahnya tidak bilang padanya jika mau membalas dendam pada Hardi Wijaya.


Edward tak mempermasalahkan kekesalan Astrid, Dia paham dengan sikap Astrid. Dia tahu, Astrid bersikap demikian , karena Dia khawatir atas keselamatan diri Papahnya . Jadi Edward tak mau mengusik Astrid yang sedang kesal itu .


Edward lantas berdiri dari duduknya disofa, Dia menatap wajah Antoni.


"Saya ngantuk, mau tidur dulu." Ujar Edward.


"Ya, Om." Angguk Antoni .


Edward lantas berjalan pergi meninggalkan Antoni sendirian, Antoni lantas berjalan ke ruang tengah Paviliun .


---


Keesokan harinya , di markas kelompok organisasi Edward, tampak pimpinan kelompok itu marah besar, sementara para anggotanya berdiri berbaris dihadapannya.


Satu persatu mereka di tampar, termasuk Gerard dan juga Januar, tampak Pimpinan itu sangat marah sekali, karena baru saja Dia mendapat kabar, bahwa Hardi Wijaya, salah seorang anggota dan orang dekat serta orang kepercayaannya mati terbunuh di dalam rumahnya .

__ADS_1


"Bodoh !! Kalian bodoh semua !!" Bentak Sang Pimpinan kelompok organisasi Gerard itu.


"Sia sia usahaku membebaskan si Hardi, kalo akhirnya Dia tetap mati juga !!" bentaknya, melampiaskan amarahnya.


"Kamu Gerard !! Mengapa sampe sekarang Kamu belum juga bisa menangkap si Astrid itu ?!! " Hardik sang Pimpinan, marah pada Gerard yang juga hadir diantara anggota anggota lainnya.


"Maaf, Pak. Astrid kabur dari rumahnya, Dia gak ada lagi dirumahnya, sejak lolos dari anak buah saya yang mencoba menangkapnya. Ada yang membantunya, Pak." Ungkap Gerard pada Pimpinan organisasinya itu.


Gerard tak mau mengatakan bahwa anak buahnya gagal menangkap Astrid dan mati terbunuh, Dia hanya bilang kalau Astrid berhasil lolos saja.


"Siaaal !! Jika kalian gak juga bisa menangkap si Astrid, maka bisa Aku pastikan, satu persatu dari Kalian akan menyusul Hardi !! Kalian pasti mati dibunuh Astrid!!" Bentak Pimpinan itu .


"Kalo Kalian gak mau jadi korban berikutnya, segera cari si Astrid, tangkap Dia !!" Hardik Pimpinan.


"Aku gak perduli, kalian menangkap si Astrid itu hidup hidup atau mati, pokoknya, bawa Dia kehadapanku, sekalipun mayatnya saja !!" Ungkap sang Pimpinan memberi perintah.


"Siapa saja diantara Kalian yang bisa menangkap hidup atau mati Astrid, Aku akan memberikan bonus sebesar 500 milyar !!" Ujar Sang Pimpinan.


Mendengar bahwa ada hadiah buat mereka jika berhasil menangkap Astrid hidup atau mati, mereka yang hadir itu terlihat senang dan bersemangat jadinya.


"Baik, akan Kami tangkap Astrid!" Ujar mereka semua secara serentak.


Para anggota itu mengangguk memberi hormat pada Pimpinan itu, lalu, mereka semua bergegas pergi, termasuk Gerard dan juga Januar .


"Januar, Kamu tetap disini dulu." Ujar Sang Pimpinan, pada Januar, Kepala Kepolisian yang juga menjadi anggota organisasi.


"Baik, Pak." Jawab Januar.


Januar lantas tak jadi pergi, Dia diam berdiri ditempatnya semula tadi, Sang Pimpinan mendekatinya.


"Apa Kamu sudah mengurus anak buahmu yang terus menangkapi anggota kita ?" Tanya sang Pimpinan , menatap tajam wajah Januar yang berdiri di hadapannya itu.


"Sudah, Pak. Saya sudah memberi peringatan padanya, tapi Dia mengabaikan Saya dan tetap bertindak sesuai kemauannya sendiri." ungkap Januar.


"Apa Kamu gak bisa mengendalikan Dia ? Bujuk Dia agar menghentikan semuanya dan rayu agar mau bergabung dengan kita." Ujar Sang Pimpinan.


"Sulit Pak, Patrick itu Polisi jujur, Dia gak akan bisa dipengaruhi , Dia gak akan tergiur dengan segala macam jabatan maupun uang." Ujar Januar.


"Saya sangat mengenal watak dan pribadinya." lanjut Januar memberi penjelasan pada Pimpinannya.


"Apa kamu gak bisa memakai kekuasaanmu? Kamu kan pimpinan Dia, jadi, mudahkan buatmu menyingkirkan Dia?" Ujar Sang Pimpinan.

__ADS_1


"Maksud Bapak?" Tanya Januar.


"Kamu singkirkan Dia, buat jebakan untuknya, Kamu bisa membuat skenario untuk menjebaknya , lalu menangkapnya atau memecatnya dari kepolisian, bila perlu, bunuh saja Dia !!" Ujar Sang Pimpinan, menatap serius wajah Januar yang berdiri dihadapannya itu.


"Mudahkan ? Apa Kamu gak mau menyingkirkannya? Kamu takut padanya? Kamu lebih memilih organisasi Kita di hancurkan anak buahmu yang bernama Patrick itu?!!" Ujar Sang Pimpinan, menegaskan pada Januar.


"Nggak Pak." jawab Januar.


"Saya akan melakukan semua yang Bapak katakan tadi, Saya akan menyingkirkan Patrick dari kepolisian." ungkap Januar, meyakinkan pimpinannya.


"Ya, harus ! Agar bisnis kita tetap bisa berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan lagi." ucap sang Pimpinan pada Januar.


"Ya, Pak." Angguk Januar memberi hormat pada Pimpinannya itu.


"Ya, sudah, Kamu boleh pergi sekarang." Ujar Sang Pemimpin.


"Baik, Saya permisi, Pak." Ucap Januar, mengangguk hormat pada Pimpinannya itu.


Lalu Januar segera berjalan pergi keluar dari dalam ruangan itu meninggalkan Pimpinannya sendiri.


Pimpinan itu terlihat masih memendam amarahnya pada Astrid, Dia tahu, Astrid yang membunuh Hardi, salah satu anak buahnya, Dia ingin sekali menghabisi Astrid, karena sudah berani mengusik ketenangan dirinya bersama anggota kelompok organisasinya itu .


---


Di rumah sakit, terlihat Patrick datang untuk melihat kondisi terakhir Marwan. Namun, Marwan belum bisa di temui, karena Dia sampai saat ini masih dalam keadaan koma.


Patrick hanya bisa menunggunya di luar ruangan rawat ICU Marwan. Dia tak bisa melihat keadaan sahabat baiknya itu.


Setiap kali Dia datang kerumah sakit, hanya satu harapannya, yakni, Marwan sudah sadar dari komanya, dan Dia sudah bisa menjenguk dan bicara dengan Marwan.


Namun, kenyataannya berbeda, hingga saat ini Marwan belum juga sadarkan diri dari koma panjangnya, sudah hampir sebulan tak ada perubahan pada diri Marwan .


Patrick lantas duduk di bangku tunggu yang ada di samping ruang kamar ICU itu, Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu, Dia menghela nafasnya. Wajahnya tampak sangat sedih sekali, Dia prihatin dengan kondisi Marwan yang mengalami luka parah di sekujur tubuhnya dan masih koma itu .


"Marwan, Aku janji, Aku akan mencari dan menangkap pelaku yang membuat bom di mobil Kamu dan juga mobil Akmal." Bathinnya.


"Bila perlu, Akan Aku bunuh Dia, karena Dia sudah membuat Akmal mati dan Kamu koma lama di rumah sakit." Bathinnya lagi.


Wajah Patrick tampak geram dan sangat marah sekali, Dia bertekat akan mengejar orang yang memasang bom di mobil Marwan dan juga mobil Akmal.


Patrick juga bertekat, akan mencari dalang yang menjadi otak pembunuhan Akmal dan pengeboman Marwan, Dia bertekat akan membalas perbuatannya dan akan memberikan hukuman yang setimpal nantinya .

__ADS_1


__ADS_2