
Terdengar suara telepon terputus, Astrid jadi semakin cemas mengetahui teleponnya terputus dan Dia tak lagi bisa bicara dengan Antoni .
"Antoni...Antoniii...!! Ah, Sial !!" Ucap Astrid, kesal dan cemas .
Astrid menyimpan ponselnya kedalam kantong celana panjangnya, lantas bergegas lari dan pergi keluar dari dalam Paviliun, Dia tak memberi tahu Papahnya, jika Dia mau pergi, sudah tak ada waktu lagi buat bicara dan bilang pada Papahnya, sebab Astrid sudah sangat mencemaskan keadaan Antoni yang menelpon dan meminta tolong padanya .
Astrid keluar dan berdiri di halaman Paviliun , Dia baru sadar jika mobilnya tak ada karena di pinjam Alex yang pulang tadi .
"Ah, Gimana caranya Aku menolong Antoni? Mobilku gak ada." Gumamnya kesal .
Astrid lantas mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, Dia segera menelpon Alex.
"Kamu dimana Lex?" Tanya Astrid, dengan wajah tegang dan cemas ditelepon .
"Masih dijalan, ada apa?" Tanya Alex , dari seberang telepon .
"Balik ke Paviliun sekarang juga Lex , jemput Aku." Ujar Astrid, ditelepon .
"Kamu mau kemana ?" Tanya Alex, dari seberang telepon .
"Mau nolong Antoni, Antoni telpon dan minta tolong padaku, sepertinya Dia di keroyok orang suruhannya Gerard ." Ujar Astrid, menjelaskan pada Alex, di telepon .
"Oh, Okay. Aku akan balik ke Paviliun dan menjemputmu sekarang juga, tunggu aku." ujar Alex, dari seberang telepon .
Astrid lantas menutup telepon dan menyimpan ponselnya itu ke dalam kantong celananya, Dia menghela nafasnya dengan berat, kekhawatiran begitu besar dalam diri Astrid. Dia takut, hal buruk menimpa Antoni saat ini .
Sementara itu, di ujung jalan, Antoni bersembunyi di balik gardu listrik, Dia terluka, pelipis dan bibirnya berdarah, begitu juga tangannya, juga terluka , terkena sabetan golok .
Antoni bersembunyi, berusaha meloloskan diri dari kejaran anak buah Gerard .
Seperti yang di khawatirkan Astrid, dan ternyata benar apa yang dikatakan Astrid pada Antoni .
Gerard masih menugaskan anak buahnya untuk mencari keberadaan Antoni. Dan karena Antoni bandel, malah bekerja , akhirnya anak buah Gerard berhasil menemukan Antoni.
Mereka menemukan Antoni di mini market tempat Antoni bekerja ,lalu anak buah Gerard menunggu Antoni selesai kerja dan pulang kerumahnya . Anak buah Gerard mengawasinya .
Setelah Antoni selesai kerja , Dia berdiri dipinggir jalan dekat mini market tempatnya bekerja, Antoni menunggu taksi online, Dia pulang naik taksi online ke Paviliun, tempat persembunyian sementara mereka .
Saat itulah, empat anak buah Gerard datang lalu menyergap Antoni , Antoni kaget melihat empat orang berdiri mengepung dirinya.
Antoni tahu, mereka orang suruhan Gerard, Dua orang memegang golok ditangannya, Antoni pun lantas bersiap siap menghadapi ke empat anak buah Gerard .
Lalu, terjadilah perkelahian tak seimbang, Antoni di keroyok, walaupun Dia punya ìlmu bela diri yang bagus, namun, tetap saja Antoni kesulitan menghadapi ke empat anak buah Gerard, apalagi dua diantaranya menggunakan golok menyerang Antoni .
__ADS_1
Antoni berusaha keras menghadapi mereka, namun, akhirnya Dia kalah, Dia mendapatkan luka luka akibat terkena pukulan dan sabetan golok .
Saat ada kesempatan, Antoni lari, Dia berusaha untuk menyelamatkan dirinya, hingga pada akhirnya Dia bersembunyi di balik gardu listrik dan menghubungi Astrid untuk meminta bantuan pada Astrid .
Namun, belum sempat Antoni menjelaskan posisinya ada dimana saat ini, ke empat anak buah Gerard sudah ada dihadapannya, mereka menemukan Antoni yang bersembunyi, mereka tahu, Antoni bersembunyi di balik gardu listrik dari ceceran darah milik Antoni yang menetes di aspal jalanan. Keempat anak buah Gerard mengikuti tetesan darah lalu menemukan persembunyian Antoni .
Salah seorang dari ke empat anak buah Gerard lantas merampas ponsel Antoni lalu , Dia membanting ponsel Antoni ke aspal jalanan, hingga hancur berantakan , sehingga telepon mati total, karena itu telepon terputus dan Astrid tak bisa lagi mendengar suara Antoni .
"Mau lari kemana Kamu cecunguk !" Ujar salah seorang anak buah Gerard .
"Angkat dan bawa Dia !" Perintah orang itu pada ke tiga temannya.
Ketiga temannya lalu mendekati Antoni yang berjongkok di balik gardu listrik, dua orang mengangkat tubuh Antoni dan memegangi tangan Antoni, kiri dan kanan, lalu, seorang lagi memukuli Antoni berkali kali , sehingga Antoni semakin melemah dan tak berdaya .
"Bawa Dia ke mobil !" Ujar Orang pertama tadi .
Ketiga orang lainnya mengangguk, mereka lantas membawa Antoni ke mobil mereka, orang pertama mengambil ponselnya , lalu Dia menelpon .
"Misi sukses Bos, Target udah di temukan, dan sekarang akan Kami bawa ke boss !" Ujar Orang pertama itu , bicara di telepon .
"Bagus, cepatlah ke sini, Saya tunggu !" ujar Gerard, dari seberang telepon .
"Baik Bos !" Ujar Orang pertama itu .
Di Halaman Paviliun, Astrid masih resah menunggu kedatangan Alex , Dia sudah tak sabar dan ingin cepat cepat menemui dan menolong Antoni .
Astrid resah dan mundar mandir di halaman Paviliun . Tak berapa lama kemudian, datang mobil Alex, mobil langsung saja masuk ke halaman dan berhenti tepat di depan Astrid yang berdiri menunggu .
Dengan terburu buru Astrid cepat membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, Dia duduk di jok depan disamping Alex yang menyetir mobilnya .
"Kamu tau, Antoni dimana sekarang?" Ujar Alex bertanya pada Astrid .
"Nggak. Belum sempat Aku nanya posisinya dimana, Hapenya udah mati." Ujar Astrid, menoleh pada Alex .
"Lah, terus , kemana kita nyari Antoni kalo gak tau posisi akhirnya Dia dimana ?" Ujar Alex, menatap wajah Astrid .
"Kita ke tempat kerjaannya aja Lex, Aku yakin, Antoni di serang dekat dari tempat kerjaannya ." ujar Astrid .
"Oke, kita kesana, mudah mudahan aja dugaan Kamu benar , Antoni masih ada di sana." ujar Alex.
"Ya, Lex, Ayo cepat pergi, Kasihan Antoni, Dia pasti butuh pertolongan sekarang." Ujar Astrid, dengan wajahnya yang cemas .
"Oke." ujar Alex.
__ADS_1
Alex lalu menjalankan mobilnya, mobil melaju dihalaman Paviliun lalu meluncur pergi keluar dari halaman Paviliun menuju ke jalanan .
Di jalan raya, mobil ke empat anak buah Gerard melaju dengan kecepatan sedang, Antoni di masukkan kedalam bagasi mobil , Dia pingsan dan kedua tangan serta kakinya dalam posisi terikat .
Keempat anak buah Gerard dengan mudah menemukan dan menangkap Antoni, mereka lalu membawa Antoni untuk bertemu dengan Gerard .
---
Sementara itu, dirumah sakit, dalam ruang ICU, tempat Marwan, Jaksa Penuntut di rawat, Dokter dengan dibantu dua suster sedang memeriksa tubuh Marwan, mereka memberikan penanganan pada Marwan yang sedang berada dalam kondisi kritis saat ini .
Patrick ada diluar ruangan kamar ICU, Dia menunggu hasil pemeriksaan Dokter yang sedang menangani Marwan.
Wajah Patrick terlihat cemas dan panik, Dia tegang saat mendapatkan kabar , bahwa Marwan dalam kondisi kritis saat ini.
Tak berapa lama, pintu ruang kamar ICU terbuka , Lalu, dari dalam ruangan keluar Dokter yang memeriksa Marwan .
Patrick langsung saja menghampiri Dokter tersebut, untuk bertanya kepadanya tentang kondisi Marwan .
"Bagaimana hasilnya Dok?" Tanya Patrick, menatap serius wajah Dokter yang berdiri dihadapannya itu .
"Maaf, Pasien sudah meninggal ." Ucap Dokter pada Patrick.
"Apa ?!!" Patrick terhenyak kaget dan syock.
Kedua matanya berkaca kaca, Dia hendak menangis karena sedih mengetahui Marwan telah meninggal dunia dan tak bisa di selamatkan nyawanya yang mengalami kritis .
Dokter lantas pergi meninggalkan Patrick yang berdiri diam dan terpaku itu, kedua suster keluar dari dalam ruang kamar ICU , Patrick lalu bergegas lari dan masuk ke dalam ruang ICU .
Didalam ruangan kamar ICU, Patrick menghampiri Marwan yang terbujur kaku diatas ranjang, dengan seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki ditutupi kain putih .
"Marwaan ?!!" Ucap Patrick, berdiri disamping ranjang .
Patrick menangis, menyaksikan sahabatnya itu sudah tak bernyawa, Dia menangis tersedu sedu melihat kematian Marwan .
"Aku akan membalas perbuatan mereka padamu, Wan ! Aku Akan membunuh mereka semua !! " ujar Patrick, di antara isak tangisnya .
"Aku akan membuat perhitungan dengan Januar, Aku gak takut Dia kepala kepolisian, Dia harus bertanggung jawab atas kematianmu ini , karena Dia yang menyuruh meledakkan mobilmu !!" Ucap Patrick dengan geram dan marah, sambil terus menangis .
Patrick lantas menghapus air matanya, Dia lalu menghela nafasnya, Dia berusaha menenangkan dirinya, agar tak terus menangis dan larut dalam kesedihan .
Patrick membuka kain putih yang menutupi kepala Marwan, untuk terakhir kalinya Patrick melihat wajah sahabatnya itu. Wajah yang memucat dan sudah kaku serta mulai dingin .
Patrick lalu menutup kembali kain putih di kepala Marwan, kemudian, Dia berbalik badan dan berjalan pergi keluar dari dalam ruang kamar ICU.
__ADS_1
Wajahnya tampak memerah, Dia memendam kemarahan yang begitu besar saat ini , amarahnya menjadi satu dengan kesedihan hatinya di tinggal mati Marwan .