
Gerard menatap lekat wajah Zahara yang masih berdiri di sampingnya itu.
"Mana mungkin anaknya Edward yang melakukan ini ?!" Ujar Gerard.
Gerard masih tak yakin jika yang membunuh Julianto adalah anak Edward yang bernama Astrid.
"Semuanya bisa saja mungkin terjadi." Ucap Zahara, penuh keyakinan.
"Kamu kan tau , kalo anaknya Gerard berada didalam penjara karena kasus pembunuhan teman sekolahnya dulu , Dia di penjara setelah dikeluarkan dari rumah sakit jiwa, jadi gak mungkin Dia pelakunya !" Ungkap Gerard.
Gerard bersikeras bahwa yang melakukan itu bukan anak Edward, karena setahu Dia, anak Edward yang bernama Astrid masih berada dalam penjara saat ini.
"Kalo bukan Dia siapa? Gak mungkin Samuel yang membunuh anak buahmu, apa hubungannya Samuel membunuh Julianto, apa alasannya? Julianto gak pernah terlibat dalam urusan bisnismu yang membuat Samuel marah kan?!" Ujar Zahara pada Gerard.
"Iya, Aku juga ragu, tadinya sempat kepikir olehku, bahwa yang membunuh Julianto adalah Samuel, karena sebelumnya, Sulis, sekretarisku mati terbunuh juga." Ungkap Gerard.
"Sulis di bunuh?!" Zahara tersentak kaget mendengar perkataan Gerard.
"Ya, Aku di kirimi photo photo saat Sulis sudah menjadi mayat , dan tubuhnya di paku di dinding tembok kamar , dirumah persembunyiannya." Jelas Gerard geram.
"Apa Samuel yang telah membunuhnya ?!" Tanya Zahara.
"Ya. Dia yang membunuhnya, Sam yang mengirimkan photo mayat Sulis padaku, dan Dia juga dengan emosi marah mendatangiku di kantor, lalu mengancam !" Ujar Gerard, memberi tahu Zahara.
"Gila anak itu ! Apa Dia masih berharap dan menginginkan harta warisan dan perusahaan Kamu?!!" Tanya Zahara.
"Ya, Dia marah dan gak terima, karena warisan jatuh ke tangan Jack, bukan di berikan padanya." Ungkap Gerard.
"Goblok tuh anak ! Apa Dia kira harta yang ada padamu itu semua milik dan usaha Kamu sendiri ?!! Dia bakal syock dan kecewa besar jika tau, kalo semua ini bukan milikmu ! Tapi Kamu hanya menjalankannya saja atas nama Kamu!" Ungkap Zahara.
"Jika saja Boss gak memberikan mandat padamu, Kamu gak akan mungkin menjadi miliarder seperti sekarang ini, Kamu hanya boneka saja ! Dan Jack, hanya akan meneruskan warisanmu, agar roda perusahaan tetap berjalan, Dia juga bakal menjadi boneka, sama sepertimu!" Jelas Zahara.
"Jika pemilik sebenarnya dari harta hartamu itu tau kelakuan Samuel, Aku yakin, Samuel akan di habisinya, Boss itu orang yang gak punya perasaan, Dia bisa membunuh siapa saja yang mengganggu ketenangannya, Keluarganya saja di bunuh, apalagi orang lain!" Ungkap Zahara.
Zahara kesal dan sangat marah pada Samuel, karena masih saja ngotot ingin mendapatkan hak waris dari Gerard, Samuel tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa orang tuanya bisa menjadi kaya raya dan memiliki banyak perusahaan, Samuel tak tahu, jika semua itu pemberian seseorang.
Seseorang yang berada dibelakang Zahara dan Gerard juga komplotannya, Seseorang yang selama ini sangat berpengaruh dan di segani, serta di sebut "Boss" oleh mereka.
"Boss" itulah otak dan dalang semua yang terjadi pada Edward dan Astrid dahulu kala, Dialah yang merencanakan penjebakan lalu memfitnah Edward agar bisa menyingkirkan Edward dan menguasai semua harta kekayaan dan perusahaan milik Edward.
Dan sampai saat ini, hanya orang orang dekat seperti Gerard dan Zahara saja yang kenal dan mengetahui, siapa sebenarnya orang berpengaruh yang di sebut dengan panggilan "Boss" itu, orang lain tak ada yang tahu siapa Dia dan bagaimana sosok serta keberadaannya.
__ADS_1
"Aku tetap gak yakin, kalo kematian Julianto ini perbuatan anaknya Edward." Ujar Gerard.
Dia menegaskan sekali lagi pada Zahara atas keraguannya pada anak Edward, Dia tak yakin, anak Edward bisa melakukan pembunuhan tersebut.
"Apa Kamu yakin, Astrid, anaknya Gerard masih berada di penjara saat ini?!" Tanya Zahara.
Mendengar perkataan Zahara, Gerard langsung terdiam, Dia juga tak yakin apakah Astrid masih dalam penjara atau sudah di bebaskan, namun, Dia juga tak yakin, kalau yang membunuh Julianto adalah Astrid , anaknya Edward.
"Aku gak tau." Ujar Gerard.
"Ada baiknya Kamu mencari tau, apakah Astrid masih di penjara atau udah bebas, Aku juga akan bicara dengan Karina." Ucap Zahara.
"Buat apa Kamu bicara dengan Karina?!" tanya Gerard.
Dia tak suka dan tak ingin Zahara bertemu dan bicara dengan Karina, Dia takut, Karina kelepasan omong dan mengakui hubungan perselingkuhan mereka, dan jika itu terjadi, maka, bencana besar akan dialaminya.
"Aku mau nanya sama Karina, apakah setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Astrid benar benar di penjara atau hanya di asingkan saja, Karena dari dulu, Karina gak jelas mengatakannya, dan Kita gak melihat langsung kalo Astrid, anaknya Edward itu di masukkan kedalam penjara remaja dulu!" Ujar Zahara, menjelaskan pada Gerard.
Gerard menghela nafasnya dengan berat, Dia sesaat berfikir , lalu, Dia menoleh pada mayat Julianto.
"Sudah beberapa tahun ini Aku gak berhubungan dan gak ada komunikasi dengan Julianto, Aku syock, tiba tiba melihatnya sudah menjadi mayat begini." Ujar Gerard, prihatin akan keadaan Julianto.
"Sudah, gak usah Kamu pikirkan, Dia sudah mati ! Sekarang tugasmu, mencari tau keberadaan Astrid, bagaimana sosoknya sekarang, dan apakah Dia masih dalam penjara atau sudah bebas." Ujar Zahara mengingatkan Gerard.
"Ya, nanti akan Aku cari informasi tentang Dia." Ujar Gerard, menarik nafas berat.
"Sekarang, sebaiknya Kamu amankan mayatnya, terserah, mau Kamu buang kemana atau Kamu kuburkan, dan jangan sampai diketahui orang lain ataupun Polisi, karena Kamu nanti bisa jadi tersangka, dituduh, orang yang membunuh Julianto!" Ujar Zahara mengingatkan Gerard.
"Ya, akan Aku singkirkan mayatnya." Ucap Gerard lemah.
Zahara lantas berbalik badan lalu pergi meninggalkan Gerard. Gerard sesaat diam terpaku menatap wajah Julianto yang pucat pasi karena sudah tak bernyawa itu.
"Pak Minto!" Panggil Gerard.
Pak Minto yang masih duduk di lantai depan garasi mobil menoleh pada Gerard yang memanggilnya.
"I...Iya...Tuan." Ujar Pak Minto gugup.
"Bantu Saya menyingkirkan mayat ini." Ujar Gerard.
"Mau dibawa Kemana Tuan?!" tanya Pak Minto.
__ADS_1
"Ke kebun belakang Villa di atas bukit milik Saya, agar gak ada yang tau." Ujar Gerard.
"B...ba...ik Tuan." Ucap Pak Minto masih terbata bata.
Pak Minto menarik nafasnya dalam dalam, Dia berusaha menenangkan dirinya, agar tak gugup dan ketakutan lagi dengan mayat yang ada di hadapannya.
Pak Minto cepat berdiri, dengan ragu ragu Dia membantu Gerard, mengangkat tubuh Julianto yang sudah menjadi mayat itu, mereka membawanya untuk segera di singkirkan dari tempat itu.
---
Di dalam kamarnya, Zahara terlihat sedang bicara serius di teleponnya.
"Aku nanya ke Kamu soal Astrid anaknya Edward, karena anak buah Gerard yang dulu menyiksa Edward mati dibunuh , dan mayatnya ada di garasi mobil rumahku." Ujar Zahara, menjelaskan di teleponnya.
"Gila ! Nekat sekali yang membunuhnya, baik, Akan Aku cari tau tentang Astrid. " Ujar Karina, bicara dari seberang telepon.
"Ya, Aku curiga dan yakin, bahwa ini perbuatan Astrid, anaknya Edward." Jelas Zahara di telepon.
"Ya, Kalo Aku udah dapat info, akan Aku kabari Kamu." Ujar Karina, dari seberang telepon.
"Oke, Aku tunggu kabarnya." Ujar Zahara di telepon.
Zahara lalu menutup teleponnya, Dia meletakkan ponselnya ke atas meja rias yang ada di kamarnya, Zahara lalu duduk di kursi rias, menghela nafas, dan berfikir, Dia memikirkan tentang Astrid, anaknya Edward.
Tiba tiba saja, terlintas dalam benaknya sebuah ingatan akan sosok Astrid beberapa tahun silam, saat Dia membawa pergi paksa Edward dari rumahnya.
--- Flash Back --- Kembali pada Masa beberapa tahun yang lalu.
Edward di pukul dan di injak injak oleh Julianto dan dua temannya, lalu, mereka menyeret paksa Edward, membawanya pergi.
Astrid kecil yang berjongkok dan bersembunyi di lemari buffet menatap wajah mereka satu persatu, tatapan matanya tajam dan serius. Saat itu, melintas Gerard membawa laptop milik Edward, lalu, Zahara berjalan dibelakangnya.
Saat berjalan keluar dari dalam rumah, Zahara tak sengaja melihat Astrid kecil yang bersembunyi , Astrid juga melihatnya dengan tatapan tajam. Mereka saling berpandangan beberapa detik. Lalu, Zahara cuek berjalan pergi meninggalkan Astrid sambil menyunggingkan senyum sinisnya pada Astrid kecil.
--- Flash Back berakhir ---
Kembali ke Masa sekarang.
Di kamarnya , Zahara menghela nafasnya , Dia ingat dengan tatapan mata tajam Astrid yang masih kecil dulu.
"Aku tau, dari tatapan dan sorot matanya melihatku , Astrid menaruh dendam padaku. "Gumamnya.
__ADS_1
"Aaah...Bagaimana jika memang Astrid yang melakukannya? Bagaimana kalo Dia benar benar muncul untuk membalas dendam?!" Lanjutnya.
Zahara menarik nafasnya dalam dalam, ada keresahan dan rasa khawatir muncul dalam dirinya saat memikirkan dan mengingat Astrid, anaknya Edward.