Destroy

Destroy
Patrick Syock


__ADS_3

Astrid baru saja hendak pergi dan masuk kedalam mobilnya, bertepatan dengan kedatangan mobil Alex dan juga mobil Patrick masuk kepelataran halaman rumah Astrid.


Astrid melihat kedatangan mereka, lalu, Dia berdiri disamping mobilnya, menunggu.


Setelah mematikan mesin mobil, Alex dan Patrick bersamaan keluar dari dalam mobil masing masing. Patrick tak lupa membawa lembaran kertas bergambar .


Alex segera berjalan menghampiri Astrid yang berdiri menunggu disamping mobilnya, Patrick mengikutinya.


"Ada apa ini? Kok gak ngabari dulu kalo kalian mau datang ke sini." Ujar Astrid , menatap wajah Alex yang berdiri dihadapannya.


"Kami buru buru tadi, Aku gak sempat ngabari Kamu." Jelas Alex.


Astrid lantas menoleh dan melihat Patrick yang berdiri disamping Alex, diperhatikannya wajah Patrick tegang dan serius menatapnya.


"Kayaknya ada yang serius ya." Tanya Astrid pada Alex.


"Kita bicara di dalam saja." Ujar Alex.


"Ya, udah, Ayo masuk." Ujar Astrid.


Astrid lantas mengajak Alex dan Patrick masuk ke dalam rumahnya, Dia tak jadi pergi karena kedatangan Alex dan Patrick kerumahnya.


"Duduklah." Ujar Astrid, mempersilahkan duduk Alex dan Patrick di sofa ruang tamu rumahnya.


Patrick dan Alex lantas segera duduk di sofa masing masing, Astrid masih berdiri disamping Alex.


"Sebentar ya, Aku ambilkan air minum buat kalian." Ucap Astrid.


"Gak usah. Nanti aja." Ujar Alex.


"Ada yang mau Aku bicarakan dan tanyakan padamu." Ujar Patrick langsung saja ke pokok persoalan mengapa Dia datang kerumah Astrid.


"Oh, begitu. " Ujar Astrid.


Astrid melirik Alex, Alex mengangguk dan memberi kode isyarat pada Astrid agar menurut dan duduk di sofa.


Astrid paham dengan isyarat Alex ,walau Dia bertanya tanya, apa yang mau dibicarakan Patrick, akhirnya, Dia duduk juga di sofa, berhadapan dengan Patrick dan Alex.


Patrick lantas meletakkan kertas berisi cetakan gambar wajah Astrid saat menyamar menjadi pengantar minuman di lokasi kejadian pembunuhan Ishadi.


"Ini Kamu kan?" Ucap Patrick, tembak langsung pada Astrid.


Astrid terdiam melihat gambar itu, ya, Dia mengakui dalam hatinya, bahwa itu memang gambarnya, namun, Dia bingung darimana Patrick bisa mendapatkan gambarnya, padahal, Alex sudah meretas semua kamera cctv sehingga Dia tak bisa terekam saat menjalankan aksinya.


"Darimana Kamu dapatkan ?" Tanya Astrid.


"Jangan balik bertanya, jawab saja pertanyaanku." Tegas Patrick.


Astrid terdiam tak menjawab, Dia tak menyangka Patrick bicara tegas pada dirinya, kembali Dia melirik Alex, meminta penjelasan pada Alex, apa yang terjadi.


"Patrick menemukan bukti di lokasi kematian Ishadi, pejabat penting itu. Dan Dia juga menemukan pelakunya, dan itu Kamu . Aku juga sudah mengakuinya tadi." Ujar Alex, menjelaskan pada Astrid.

__ADS_1


Astrid terhenyak kaget, Dia tak menyangka Alex mengaku dihadapan Patrick bahwa mereka berdua yang membunuh Ishadi.


"Aku gak bisa berbohong, karena Patrick tau, gambar yang terekam itu Kamu." Ucap Alex.


"Ya, Aku mengenal wajahmu Astrid. Aku gak nyangka, Kamu pelakunya." Ujar Patrick.


"Ya, memang Aku yang membunuh Ishadi, kenapa?" Ujar Astrid, menantang Patrick.


Karena sudah ketahuan oleh Patrick, Astrid berfikir, tak ada gunanya lagi dirinya berkelit dan mencoba menghindar serta tak mengakuinya, lebih baik Dia jujur mengaku.


"Maaf Trid, Aku terpaksa menangkapmu, bukti bukti sudah jelas semua. Dan dari hasil rekaman kamera video di hape seseorang ,wajahmu terekam jelas saat melakukan pembunuhan, menyayat leher korban Ishadi." Jelas Patrick.


Astrid hanya tersenyum kecut dihadapan Patrick, Patrick lantas berdiri dari duduknya di sofa, lalu, di keluarkannya borgol miliknya.


Saat Patrick hendak memborgol kedua tangan Astrid, Alex cepat mencegahnya.


"Apa yang mau Kamu lakukan Trick?" Ujar Alex, memegang tangan Patrick agar tak memborgol Astrid.


"Lepaskan Bang. Aku akan menahan Astrid, dan Kamu juga ikut di tahan, karena terbukti menjadi kaki tangan Astrid menurut pengakuanmu sendiri tadi di rumahmu." Ujar Patrick pada Alex.


"Kamu serius mau menahanku Patrick? Bagaimana dengan janjimu padaku, Kamu akan membantuku membalas dendam pada keluarga Gerard dan Zahara, Kamu juga ingin balas dendam atas kematian Kakakmu kan?!" Ujar Astrid, mengingatkan Patrick.


"Iya, memang Aku ingin membalas dendam pada Jack, yang menyebabkan kecelakaan dan kematian Kakakku bersama suaminya, tapi bukan dengan cara yang seperti kalian lakukan !" Tegas Patrick.


"Kalian berdua main hakim sendiri, sementara Aku gak bisa begitu, Aku penegak hukum, jika Aku mengetahui suatu kejahatan dan pelakunya, maka Aku wajib menangkapnya dan membawanya kepengadilan untuk diberikan hukuman." Ujar Patrick.


"Jika Kamu menahan Kami berdua, sampai Kapanpun Kamu gak akan bisa membalas dendam, Kamu gak tau siapa Gerard, dan siapa saja orang orang kuat yang berada dibelakangnya." Ujar Astrid.


"Kalian jangan membuat Aku hancur karena keegoisan kalian yang bertindak seenak hati ! Kalo Aku ketahuan telah melindungi dan membiarkan Kalian yang terus melakukan pembunuhan, Aku bisa di pecat dan di beri sanksi!" Ungkap Patrick.


"Kalo Kamu takut posisi dan jabatanmu hilang, Kamu boleh gak membantuku membalas dendam." Ujar Astrid.


"Tapi, Aku mohon padamu, lepaskan Aku, biarkan Aku membalaskan dendamku dulu, nanti setelah semua selesai, Aku janji, Aku akan menyerahkan diriku padamu." Ujar Astrid, menjelaskan pada Patrick.


Patrick terdiam , sesaat Dia terlihat memikirkan kata kata Astrid itu. Alex menatapnya.


"Kamu mau tau, siapa Ishadi dan bagaimana sepak terjangnya kan? Dengarkan Astrid, Dia akan menjelaskan semuanya." Ujar Alex.


"Ya, Kalo kamu mau tau alasanku membunuh Ishadi, ikut Aku, akan ku bongkar rahasia mereka padamu, dan siapa siapa orang orang yang ada dalam lingkaran Ishadi dan Gerard." Ujar Astrid serius.


Astrid lantas berdiri dari duduknya di sofa, Alex juga berdiri, Patrick masih duduk di sofanya. Astrid sudah berjalan menuju ruangan khususnya.


"Ayo ikut." Ajak Alex.


Patrick mengangguk, lantas , Dia segera berdiri dari duduknya, bersama Alex , Dia lalu berjalan menyusul Astrid yang sudah masuk ke dalam ruang khususnya.


Patrick dan Alex masuk ke dalam ruangan khusus itu, Astrid sudah berdiri menunggu mereka berdua, Dia berdiri tepat di depan papan tulis besar yang berisi photo photo musuh musuh yang akan di burunya.


Patrick mengamati seluruh ruangan, Dia lantas melihat pada banyak photo photo yang menempel di papan tulis besar. Patrick lantas berjalan mendekati.


"Lihat, dan perhatikanlah dengan serius, Inilah jaringan komplotan Gerard." Ungkap Astrid.

__ADS_1


Patrick diam, diperhatikannya satu persatu photo photo itu, ada photo Gerard, Zahara, Samuel, anaknya Gerard, Jack, anaknya Gerard, Karina, dan juga Ishadi, yang sudah mati di bunuh Astrid.


Selain photo photo itu, Patrick juga mengamati photo photo lainnya yang menempel di papan tulis besar itu. Ada beberapa yang sudah diberi tanda silang, pertanda pemilik photo sudah mati dibunuh Astrid.


Saat Dia melihat beberapa photo yang menempel, Dia syock dan sangat kaget. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Mengapa? Kaget ya ? Kamu tau kan, photo siapa itu?" Ujar Astrid.


"Ya. Dia Irjen pol , pimpinanku, dan ke tiga orang di sampingnya itu juga pejabat pejabat tinggi kepolisian." Ucap Patrick, terperangah kaget.


"Darimana Kamu bisa mendapatkan bukti, Kalo ke empat Pejabat petinggi kepolisian terlibat dalam jaringan komplotan kejahatan Gerard ?!" tanya Patrick, menatap serius wajah Astrid.


"Dari Ishadi, saat Aku menyelidiki soal kasus Bapakku, Aku menemukan, bahwa ada konspirasi besar dibelakang yang sengaja menjebak Bapakku." Ungkap Astrid.


"Setelah kuselidiki lebih jauh dan lebih dalam, Aku semakin tahu, tentang siapa siapa yang berada dalam lingkaran komplotan Gerard itu." Lanjut Astrid menjelaskan.


"Dan Aku lalu menyelidiki Ishadi, salah satu anggota komplotan Gerard, dan Aku menemukan bukti, bahwa Ishadi yang juga terlibat menjebak Bapakku punya jaringan kejahatan yang sangat besar." Ungkap Astrid.


"Apa itu?" Tanya Patrick.


"Dia punya bisnis terlarang, pengedaran obat obatan terlarang, pencucian uang, dan juga bisnis judi online." tegas Astrid.


"Dan Kamu mau tau, siapa pemegang saham judi online dan yang menjadi backingan Ishadi?" Tanya Astrid.


"Keempat petinggi kepolisian , para pimpinanku." Ujar Patrick, menjawab.


"Ya, merekalah yang membacking dan memberi dukungan atas sepak terjang kejahatan yang dilakukan Ishadi, mereka juga pemilik situs judi online, karena itu Aku membunuhnya." Ungkap Astrid.


"Trick. Kamu sekarang udah tau , ternyata dalam tubuh instansi kepolisianmu, ada sarang penyamun, dan itu di kuasai oleh para pimpinan pimpinanmu, apa Kamu siap menanggung resikonya dalam mengungkap kasus ini?" Tanya Alex.


"Jika Kamu mengangkat dan mengungkap kasus kejahatan para pejabat kepolisian itu, Aku akan berbagi informasi dan data data mereka semua dan kemana aliran dana mereka berakhir." Ujar Astrid.


Patrick terdiam, terlihat wajahnya berfikir keras, Dia tak menyangka sama sekali, jika ternyata, dalam tubuh kepolisian, ada kejahatan yang tersembunyi, dan Dia tak menyangka, bahwa pemain pemainnya adalah para petinggi kepolisian sendiri.


"Jika Aku mengusutnya sendiri, Aku gak kan mampu menghadapi mereka." ujar Patrick, terus terang.


"Aku hanya bisa memberi bantuan dan dukungan pada kalian berdua dalam mengungkap kejahatan mereka dan membalas dendam. Aku akan berusaha menangkap mereka dengan mencari caraku sendiri juga selain dengan bantuan kalian." Ujar Patrick.


"Ya, baiklah. " Jawab Astrid.


"Sekarang, apa Kamu masih mau menahan Astrid?" tanya Alex.


"Nggak, Aku akan melepaskannya, dan Aku juga akan mencoba untuk menutupi dan menghilangkan bukti keterlibatan Astrid dalam kematian Ishadi. Beruntung, hanya Aku saja yang baru mengetahuinya." Ujar Patrick.


"Tapi Aku minta pada kalian berdua, jangan sampai ceroboh dan ketahuan lagi jika bertindak. Berhati hatilah. Jika ketauan, Aku gak akan bisa menolong kalian, dan mungkin Aku juga akan terkena masalah nantinya." ujar Patrick, memberi peringatan pada Astrid dan Alex.


"Ya, Kami akan lebih berhati hati lagi." jawab Alex dan Astrid, hampir bersamaan.


Patrick lantas menghela nafasnya dengan berat, kembali di lihatnya keempat photo pejabat tinggi kepolisian yang menjadi pimpinannya di kepolisian, Dia terlihat tengah memikirkan cara, bagaimana agar Dia bisa mengungkap kejahatan para petinggi kepolisian itu.


Dia tahu dan sudah siap dengan segala resiko yang akan terjadi pada dirinya kedepan, sekali saja Dia membuka kasus tersebut, maka bisa dipastikan, para pejabat tinggi kepolisian itu tidak akan begitu saja membiarkannya lolos, mereka pasti akan mencari cara untuk membungkam dan menghalangi dirinya dalam mengungkap kasus kejahatan mereka berempat itu.

__ADS_1


__ADS_2