Destroy

Destroy
Teriakan Melani


__ADS_3

Mobil memasuki jalan terjal dan berlumpur tanah, Alex terus menyetir mobilnya untuk melalui jalan yang bertanah dan belum diaspal. Mobil terus saja meluncur di tengah kegelapan malam.


Hingga pada akhirnya, Mereka sudah tiba di dekat sebuah jurang yang sangat terjal. Alex lantas menghentikan mobil dan mematikan mesinnya.


"Kita udah sampe, ayo turun." Ujar Alex.


Astrid masih terdiam duduk di dalam mobil, dari dalam mobil Dia melihat ke arah luar yang gelap itu.


"Disini?" tanya Astrid, kernyitkan keningnya.


"Iya. Ayo, gak usah pake mikir." Ujar Alex.


Alex lantas segera membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobilnya, Astrid lantas juga ikut keluar dari dalam mobil tersebut.


Astrid lalu membantu Alex mengeluarkan mayat Jackson dari dalam bagasi mobilnya.


Dengan susah payah mereka berdua membopong mayat Jackson dan membawanya ke tepi jurang yang sangat dalam itu.


"Tahan. Hati hati, liat liat langkahmu, tanahnya licin." Ujar Alex, memberi peringatan pada Astrid .


"Ya." Angguk Astrid.


"Letakkan di tanah mayatnya." Ujar Alex.


Astrid mengangguk, mengiyakan perkataan Alex, Dia lantas melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Jackson, Alex meletakkan tubuh Jackson yang sudah menjadi mayat itu di tepi jurang.


Lalu, Alex menendang dan mendorong tubuh Jackson ke arah jurang yang menganga sangat dalam di depannya. Astrid juga ikut mendorong tubuh Jackson dengan kakinya.


Sesaat kemudian, tubuh Jackson pun sudah terjatuh ke dalam jurang, lalu menghilang ke dasar jurang yang sangat dalam dan curam itu.


Astrid menyeka keringatnya, Dia juga menghela nafasnya, lega karena mayat Jackson sudah mereka buang ke dasar jurang.


"Gak akan ada yang menemui mayatnya di dasar jurang." Ucap Alex.


"Iya, Lex. Thanks ya, udah bantu Aku " Ujar Astrid.


"Santai aja." Ucap Alex tersenyum.


"Kita pulang sekarang." Ujar Alex.


"Ya." Angguk Astrid.


Sebelum masuk ke dalam mobil, terlebih dulu Alex menutup pintu bagasi mobilnya yang terbuka, Astrid sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil , Dia duduk diam menunggu.


Tak berapa lama berselang, Alex lalu masuk ke dalam mobilnya, lalu Dia menyalakan mesin mobil. Lampu mobil menyala dan langsung menerangi jalanan setapak.


Kemudian, Alex segera menjalankan mobilnya, mobil melaju menyusuri jalanan tanah setapak itu. Astrid yang duduk disamping Alex hanya diam. Dia memejamkan kedua matanya, terlihat wajahnya sangat lelah sekali.


Alex menoleh pada Astrid, Dia tahu Astrid lelah, apalagi Dia habis berkelahi dengan Jackson. Alex tak mau mengganggu, Dia membiarkan Astrid tidur di dalam mobilnya, dan Dia terus focus menyetir mobilnya, menyusuri jalan terjal dan bertanah.


Beberapa jam kemudian, mobil Alex tiba di halaman rumah Astrid, Alex mematikan mesin mobil, lalu Dia menoleh dan melihat Astrid yang duduk masih tertidur di jok depan, disampingnya.


Alex tersenyum memandangi wajah Astrid yang terlelap tidur. Dia melihat Astrid sangat nyenyak sekali tidurnya.


Alex lantas membuka pintu mobilnya dengan pelan, Dia tak mau membuat Astrid terbangun dan membiarkannya tetap tidur di dalam mobilnya .

__ADS_1


Alex lalu keluar dari dalam mobil, lalu Dia berjalan dan memutar kesamping mobil dan membuka pintu depan samping mobilnya.


Saat pintu mobil terbuka, Astrid terbangun dari tidurnya, Dia mengucek matanya, lalu melihat ke sekitarnya.


Alex berdiri didepan pintu mobil, Dia melihat Astrid yang sudah terbangun itu.


"Kita dimana Lex?" tanya Astrid, sambil mengucek matanya.


"Dirumahmu." Ujar Alex tersenyum.


"Oh, di rumahku?" Astrid kaget.


"Ya. Sepanjang jalan pulang tadi, Kamu tertidur dengan nyenyaknya. Jadi gak terasa kalo kita udah nyampe aja dirumahmu lagi." Ujar Alex.


Astrid merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, Lalu, Dia segera turun dan keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih untuk malam ini, Lex." Ujar Astrid, berdiri dihadapan Alex.


"Ya, sama sama, Trid." Ujar Alex, mengangguk dan tersenyum .


"Kamu mau masuk ke rumahku?" Tanya Astrid.


"Ah, gak usah. Aku langsung pulang aja." ujar Alex.


"Gak apa apa. Kamu bisa istirahat di rumahku, besok pagi Kamu pulangnya." Ujar Astrid.


"Gak usah, nanti Zahara bisa melihatku ada dirumahmu kalo Aku nginap di sini sampe pagi." Ujar Alex.


"Lagi pula, Aku gak mau ganggu Kamu, Kamu harus istirahat yang banyak, Aku perhatikan, Kamu sangat lelah dan seperti kurang istirahat." ujar Alex.


"Iya sih. Soalnya Aku belum bisa tenang, Lex. Sebelum musuh musuhku hancur semuanya. Terutama gembong yang menjadi otak dan dalang kejahatannya yang belum kutemukan, Aku masih terus berfikir untuk mencari tau keberadaannya." Ujar Astrid.


"Iya, sih. Mudah mudahan saja, semuanya cepat selesai." Ujar Astrid.


"Iya." ujar Alex mengangguk.


"Ya, udah , Aku pulang ya. Tadinya Aku mau gendong kamu dan bawa masuk kerumah, karena gak tega banguni Kamu." Ujar Alex.


"Oh." ucap Astrid.


"Aku pulang, Trid." Ujar Alex.


"Ya, Hati hati Lex." Ujar Astrid.


"Oke." jawab Alex.


Alex lalu bergegas jalan dan masuk kembali ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Astrid mundur tiga langkah, memberi jalan buat mobil Alex.


Sesaat kemudian, mobil Alex mulai berjalan dan pergi meninggalkan Astrid yang berdiri dihalaman depan teras rumahnya.


Astrid memandangi kepergian Alex, setelah mobil tak terlihat, Astrid lantas berbalik badan dan berjalan menuju rumahnya.


Astrid berdiri depan pintu, Dia mengambil kunci dari kantong celana dan membuka pintu rumahnya, Astrid lalu masuk ke dalam rumahnya setelah pintu terbuka.


Setelah didalam rumah, Astrid langsung menutup dan mengunci rapat rapat pintu rumahnya, lalu, Dia berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Astrid langsung saja merebahkan tubuhnya di ranjangnya, Dia terlihat sangat lelah sekali malam ini, sehingga malas untuk membersihkan diri.


Hanya dalam hitungan detik, Astrid sudah kembali terlelap tidur di atas kasurnya, Dia benar benar sangat capek dan kelelahan sekali, malam ini sudah sangat menguras banyak tenaganya, sehingga Dia tak sanggup menahan kantuknya lalu langsung tertidur pulas hingga pagi harinya.


---


Keesokan paginya, Di rumah Zahara, di ruang makan sudah berkumpul Gerard, Zahara dan juga Melani. Asisten rumah tangga terlihat sedang menata dan meletakkan piring , gelas dan makanan di atas meja makan.


Zahara melihat kursi yang biasa di tempati Jack kosong, dan Dia heran, karena Jack belum ada di ruang makan.


"Jack belum bangun Bi?" tanya Zahara, pada Asisten rumah tangganya.


"Saya gak tau Nyonya." Jawab Bi Surti, asisten rumah tangga Zahara.


"Coba Bibi panggilkan Jack, kalo belum bangun, cepat bangunkan, bilang, Kami menunggu Dia buat sarapan bersama." Ujar Zahara pada Asisten rumah tangganya.


"Baik Nyonya." Ujar Asisten rumah tangga, mengangguk hormat pada Zahara.


Saat Asisten rumah tangga hendak pergi memanggil Jack dikamarnya, Melani cepat bangun dan berdiri dari kursinya.


"Biar Saya aja yang banguni bang Jack, Bi." Ujar Melani.


Tanpa menunggu jawaban dari Asisten rumah tangganya, Melani segera bergegas berlari menuju ke kamar Jack.


Bik surti akhirnya melanjutkan pekerjaannya merapikan makanan diatas meja makan.


Tak ada Samuel diantara mereka semua, memang, selama ini, Samuel tidak pernah mau makan bersama sama duduk satu meja diruang makan dengan Zahara dan juga Jack serta Melani.


Samuel mengasingkan diri dari Zahara dan adik adik tirinya, dan tak mau dekat dengan mereka, Samuel benar benar sangat membenci keberadaan Zahara dan anak anaknya dirumah Dia tersebut.


Di depan kamar Jack. Melani mengetuk pintu kamar dan memanggil manggil Jack. Namun, tak ada jawaban dari dalam kamar.


Melani penasaran, Dia lantas memegang gagang pintu, tiba tiba pintu terbuka, Dia heran karena pintu tak terkunci dan hanya tertutup rapat saja.


Melani lalu berjalan masuk ke dalam kamar untuk menemui Jack dan mengajaknya makan bersama.


"Bang...Bang Jack." Panggil Melani.


Melani masuk ke dalam dan memanggil Jack. Saat Dia berjalan, Kakinya menyenggol tubuh Jack yang terbaring pingsan di lantai kamar.


"Aaaarrggghhhh !!" Teriak Melani histeris.


Betapa sangat terkejutnya Melani, ketika melihat Jack terbaring di lantai kamar dengan mulut berbusa dan sudah mengering itu.


"Mamaaaa....Papaaaahh ..!! Toolllooonggi Bang Jaaaaccckkk!!" Teriak Melani sekeras kerasnya dari dalam kamar .


Di ruang makan, Gerard dan Zahara yang sedang duduk di kursi makan kaget mendengar suara teriakan Melani yang sangat keras itu.


"Melani kenapa itu?!" Ujar Zahara cemas.


Dengan cepat Zahara langsung berdiri dari duduknya, lalu Dia berlari menuju kamar Jack. Dia ingin segera menemui Melani, Gerard juga ikut berlari ke kamar Jack, karena Dia penasaran juga, mengapa Melani berteriak sekeras itu.


Sementara di ruang santai, terlihat Samuel cuek membaca buku, Dia tersenyum sinis mendengar teriakan Melani yang begitu kerasnya. Dia tahu, pasti Melani histeris dan panik karena melihat Jack pingsan di dalam kamarnya karena over dosis.


"Ini baru awal mula. Aku akan pelan pelan menghancurkan Jack, dan menyingkirkan Dia dari ahli waris tunggal!" Bathin Samuel bicara.

__ADS_1


Samuel tertawa kecil, Dia merasa puas melihat Jack yang pingsan karena over dosis memakai obat obatan terlarang.


Jack sudah menjadi pecandu sangat lama sekali, Dia tak bisa dihentikan, dan tak bisa dilarang agar tidak menggunakan obat obatan terlarang, biarpun Dia sudah dirawat berkali kali di rumah sakit , tetap saja Jack kembali memakai dan menggunakan obat obatan terlarang dari berbagai macam jenis obat obatannya.


__ADS_2