
Bel pintu rumah Astrid tiba tiba saja kembali berbunyi, mendengar suara bel, kembali wajah Astrid berubah menjadi kesal sekali.
"Siapa lagi sih yang datang pagi pagi begini ?!" Ujar Astrid kesal.
Astrid lantas bergegas keluar dari ruang makan dan berjalan menuju ruang depan rumahnya. Dia ingin tahu, siapa yang datang dan mengganggu ketenangannya, hingga Dia tak nyaman untuk sarapan pagi.
Dengan kasar Astrid membuka pintu, wajahnya terlihat kesal, berdiri di depan pintu rumahnya, Alex.
"Huu...ternyata kamu, Aku kira siapa." Ujar Astrid sewot.
Astrid pergi begitu saja meninggalkan Alex yang berdiri di depan pintu rumah tanpa menyuruhnya masuk. Alex heran melihat wajah Astrid yang kesal itu.
Alex masuk ke dalam rumah dan mengikuti Astrid yang berjalan ke ruang makan.
"Kamu kenapa? Kayak lagi sewot?" Ujar Alex, berjalan mengejar Astrid.
Astrid tak menjawab, Dia masuk ke ruang makan dan duduk di kursinya, menghempaskan tubuhnya dengan berjuta kekesalan dan amarah dalam dirinya.
Alex berjalan mendekati Astrid, Dia melihat sepiring nasi goreng masih utuh tergeletak di atas meja makannya.
"Apa yang membuatmu kesal?" tanya Alex. Menarik sebuah kursi lalu duduk disamping Astrid.
"Gimana gak kesal, baru aja mau sarapan, eh, datang wanita ular kerumahku." Ujar Astrid sewot.
"Wanita ular?!" Tanya Alex heran menatap wajah Astrid yang sewot.
"Iya. Si Karina, Psikiater yang memvonisku gila, dan memalsukan dataku , sehingga dulu Aku sempat di masukkan ke rumah sakit jiwa !" Tegas Astrid, dengan suara lantang dan kesal.
"Oh. Mengapa Dia datang kerumahmu ini ?" tanya Alex heran.
"Mana Aku tau tujuan sebenarnya, Dia pura pura kenalkan dirinya, katanya Dia pemilik rumah ini sebelum di jual mantan suaminya." Ujar Astrid. Menjelaskan pada Alex.
"Yang buatku kesal dan marah, seenaknya saja Dia mengawasi dan mengamati rumahku, Dia mengubek ubek seluruh ruangan, bahkan mau masuk ke kamarku, benar benar gak ada sopannya!" Ungkap Astrid sewot.
"Oh, begitu. Ya, Aku beli rumah ini pada suaminya, Fredy ." Jelas Alex.
"Tapi kenapa atas nama kamu? Kenapa gak langsung namaku saja?" tanya Astrid, menatap tajam wajah Alex yang duduk di sampingnya.
"Kalo Aku beli rumah ini dan langsung mengatas namakan dirimu, pastilah mereka akan tau siapa dirimu yang sebenarnya." Ujar Alex, mencoba menjelaskan pada Astrid.
Mendengar perkataan Alex, Astrid terdiam, benar juga apa yang di katakan Alex padanya. Dia memang tak ingin, identitas dirinya yang sebenarnya terungkap sebelum Dia menjalankan misi balas dendamnya.
"Kamu nanti tolong urus akte rumah ini, buat menjadi namaku. Dengan nama Camelia." ujar Astrid.
__ADS_1
"Baiklah, akan Aku urus sama notaris nanti." ujar Alex, mengangguk.
"Aku yakin, Zahara dan si Karina itu penasaran denganku, makanya mereka berani datang ke rumah ini, sengaja berpura pura berkenalan, karena mau mengorek dan mencari tau tentang siapa diriku sebenarnya." Ujar Astrid geram.
"Zahara kesini juga?" tanya Alex kaget.
"Ya. Semalam wanita Iblis itu datang, dan paginya, wanita ular yang datang. Seperti sengaja, mereka berdua tiba tiba aja mendatangi rumahku." Ujar Astrid, menahan marahnya.
"Oh, Apa mereka mengenalmu?" tanya Alex.
"Aku pikir nggak. Karena Aku kan udah merubah penampilanku." ucap Astrid.
"Ya, Kamu memang sedikit beda dari saat kecil dan remaja hingga sekarang. " Jelas Alex.
"Lex, Kamu benar benar bisa membantu Aku kan?" Ujar Astrid bertanya pada Alex.
"Ya. Aku akan membantumu. Apa saja yang kamu butuhkan, Akan aku siapkan." ujar Alex tersenyum.
"Bantu Aku balas dendam pada keluarga Zahara dan komplotannya." ujar Astrid, serius menatap wajah Alex.
"Siap. Aku akan membantumu." Ujar Alex, serius menatap wajah Astrid.
"Aku juga mau balas dendam pada anaknya Zahara itu." Ucap Alex .
"Kamu mau balas dendam sama anaknya? Kenapa?" Tanya Astrid heran.
"Apa?! Dari mana kamu tau?" Tanya Astrid.
"Adikku Patrick itu Polisi, Dia gak bisa menerima begitu saja kematian Kakaknya , apalagi sedang hamil tua dan akan melahirkan." Jelas Alex.
"Karena itu Patrick memeriksa kamera cctv di jalan raya sekitar kejadian tabrakan beruntun itu." Ujar Alex.
"Dari kamera cctv, Patrick melihat jelas, bahwa sebelum terjadi kecelakaan, sebuah mobil menyalip mobil kakakku, dan memukuli mobil yang di kendarai kakakku dan suaminya." Ucap Alex serius.
"Setelah itu, mobil sedan terus mengejar mobil Kakakku, hingga datang dari arah lain sebuah mobil, dengan sengaja melaju kencang ke arah mobil kakakku dan menabrak mobilnya hingga terpental dan terguling di jalanan." jelas Alex geram.
"Patrick yakin, kecelakaan itu sengaja dilakukan untuk membunuh Kakakku, Patrick bertekat untuk menyelidiki dan mengungkap kebenarannya." Ujar Alex.
"Apa pelaku yang menabrak sudah ditangkap?" tanya Astrid.
"Belum. Patrick masih mengejarnya hingga saat ini. Jika orang itu nanti tertangkap, pasti akan ketauan, siapa yang menyuruhnya." Ujar Alex, serius menjelaskan pada Astrid .
"Karena itu Aku sekarang datang menemuimu. Untuk bertanya padamu, kapan kamu mulai bergerak melakukan aksi balas dendammu." Ujar Alex.
__ADS_1
"Dan Aku akan menghancurkan si Jack, anaknya Zahara yang mengakibatkan kakakku dan suaminya meninggal." Tegas Alex.
"Secepatnya. Aku juga tadinya berniat mau bertemu kamu, tapi Aku belum tau rumahmu. Tadi Aku mau telpon kamu, mau minta alamat rumahmu. Tapi kamu udah datang ke sini." Ujar Astrid.
"Kalo kamu mau tau rumahku, ikut Aku sekarang. Nanti, sekalian dirumahku kita bahas semua rencana kita." Ujar Alex, menatap serius wajah Astrid.
"Baiklah. Kamu tunggu sebentar ya. Aku mau siap siap dulu." Ujar Astrid.
"Ya." Angguk Alex.
Astrid hendak beranjak pergi, Alex melihat makanan yang masih utuh di meja makan, Dia mencegah Astrid pergi.
"Kamu gak makan dulu?" Tanya Alex.
"Nggak. Aku udah kenyang liat wanita ular masuk kerumahku tadi. Langsung hilang nafsu makanku." Ujar Astrid.
Astrid pergi keluar dari ruang makan meninggalkan Alex duduk sendirian di kursi makan.
Dia lantas berdiri dan beranjak dari kursi, berjalan keluar dari ruang makan.
Astrid bersiap siap, Di dalam kamarnya Dia mengganti pakaian dan merias dirinya dengan seadanya saja. Sementara Alex sudah duduk di sofa ruang tamu, menunggu Astrid selesai berdandan di kamarnya.
Tak berapa lama, Datang Astrid dengan berpakaian casual namun rapi. Alex segera berdiri dari duduknya di sofa.
"Kita berangkat sekarang." Ujar Alex.
Astrid mengangguk mengiyakan. Keduanya lalu bergegas jalan keluar dari dalam rumah.
Astrid lalu segera mengunci pintu rumahnya, lantas, Dia bergegas jalan menyusul Alex yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Astrid membuka pintu mobil, bertepatan dengan itu, Antoni, karyawan kasir di sebuah mini market dan teman masa kecil Astrid tak sengaja melihat Astrid yang sedang membuka pintu mobil.
Rumah Antoni tidak jauh dari rumah Astrid , sejak kecil, Dia sudah tinggal di kompleks perumahan tersebut bersama Almarhum Bapaknya dan juga adiknya yang masih remaja dan sekolah tingkat SMA.
Antoni berdiri diam di jalan depan rumah Astrid, Dia berdiri diatas trotoar jalan, di pinggir rumah dan melihat Astrid.
Astrid masuk ke dalam mobil, Dia tak tahu jika sedang di lihat Antoni, tak berapa lama kemudian, mobil melaju keluar dari halaman rumah.
Mobil melintas melewati Antoni yang berdiri di atas trotoar jalan, di pinggir rumah Astrid. Dia melihat jelas Astrid didalam mobil, duduk di jok depan bersama Alex yang menyetir mobilnya.
"Gadis yang di mini market itu? Kenapa Dia ada di sini? Apa Dia tinggal di rumah itu sekarang?" Gumam Antoni, berfikir.
"Usianya sama seperti Astrid, teman kecilku yang dulu tinggal di rumah itu." lanjutnya berfikir.
__ADS_1
"Apa Dia ada hubungannya dengan keluarga Astrid? Apa Dia telah membeli rumah itu? Karena setauku, pemilik sebelumnya bukan gadis itu." Ujar Antoni.
Antoni menghela nafasnya, Dia melihat ke arah rumah Astrid, kemudian, Dia pun lantas melanjutkan perjalanannya, pergi meninggalkan rumah Astrid dan berjalan menuju ke tempat kerjaannya, di sebuah mini market yang tak jauh dari komplek perumahan tersebut.