Destroy

Destroy
Penelpon Misterius


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Alex tiba di depan sebuah mini market, Alex langsung memarkirkan mobil di halaman depan mini market, lalu, Dia mematikan mesin mobilnya .


Astrid bergegas keluar dari dalam mobilnya, Alex juga ikut keluar dari dalam mobil .


Astrid berdiri didepan mini market yang sudah tertutup itu, Alex berdiri disampingnya. Mereka berdua melihat suasana disekitar mini market itu sudah sepi dan lengang, tak ada orang orang yang berlalu lalang yang terlihat disekitarnya .


"Antoni gak ada di sini, kita harus mencarinya kemana ?" tanya Alex, menatap lekat wajah Astrid.


Astrid memandangi sekitar jalanan depan mini market, Dia sedang mengamati sekitarnya, melihat lihat, dengan harapan, siapa tahu saja Dia melihat Antoni.


Namun, suasana disekitar sangat sepi dan lengang, Astrid tak melihat Antoni di sekitar jalanan depan mini market .


"Kamu bisa melacak telepon Antoni kan Lex ?" tanya Astrid, menatap lekat wajah Alex, yang berdiri disampingnya .


"Bisa aja, tapi Aku gak bawa laptopku." Ujar Alex .


"Oh , iya juga ya." Ujar Astrid .


Astrid menghela nafasnya, wajahnya terlihat semakin cemas karena tak bertemu Antoni .


"Di mana Kamu Antoni?" Gumam Astrid, dengan wajah cemasnya memikirkan nasib Antoni.


Astrid kembali menghela nafasnya, tiba tiba saja, tanpa di sengajanya, Kedua matanya melihat ceceran darah di aspal jalanan.


Astrid ingin memastikan, apakah yang dilihatnya benar darah atau bukan, Astrid melangkah mendekati ceceran darah di aspal jalanan, Alex mengamati Astrid.


Astrid lantas berjongkok didepan ceceran darah itu, lalu Dia menyentuh ceceran darah yang masih mengental dan belum mengering itu, Dia lantas mengamati darah yang menempel di jari telunjuknya .


"Ini darah Lex ." Ucap Astrid, menoleh pada Alex .


Alex cepat mendekati Astrid, Dia berjongkok juga disamping Astrid. Alex melihat ceceran darah di aspal jalanan .


"Ya, sepertinya memang darah. Keliatannya masih segar dan belum mengering ." Ujar Alex .


Astrid lantas cepat berdiri, wajahnya semakin tegang dan cemas, Alex juga ikut berdiri disampingnya.


"Ini pasti darahnya Antoni, Dia pasti terluka, dan mencoba berlari, lalu meminta tolong Aku tadi di telepon." Ujar Astrid, dengan wajah tegang dan cemasnya menoleh pada Alex .


Alex diam, Dia mengamati ceceran darah yang ada di aspal jalanan, Dia melangkah ke depan, melewati Astrid yang berdiri diam dan berfikir itu .


Alex melihat ke aspal jalanan, dimana ada bercak bercak darah menetes di aspal jalanan, Alex mengamati dan terus melangkah mengikuti ceceran darah itu .


"Kita bisa mengikuti tetesan darah di aspal ini Trid !" Ujar Alex .

__ADS_1


"Mudah mudahan aja, dengan petunjuk tetesan darah di aspal ini, kita bisa menemukan Antoni." lanjut Alex , menjelaskan pada Astrid.


"Ayo Lex, kita ikuti tetesan darah ini mengarah kemana." Ujar Astrid, menghampiri Alex .


"Ayo." Angguk Alex .


Lalu mereka berdua berjalan, mengikuti tetesan tetesan darah yang ada di aspal jalanan itu , mereka berdua yakin, bahwa itu darah Antoni, yang jatuh menetes di aspal jalanan saat Antoni berusaha melarikan diri dari sergapan anak buah Gerard yang menyerang dirinya .


Astrid dan Alex terus berjalan , mereka sudah semakin jauh dari mini market dan mobil mereka yang parkir di halaman depan mini market .


Beberapa saat kemudian, Astrid dan Alex berhenti melangkah, tetesan darah itu berakhir tepat di depan gardu listrik.


Astrid berdiri diam dan mengamati sekitarnya, wajahnya terlihat kecewa, karena ditempat tersebut, Dia tak menemukan Antoni juga .


"Darah ini berakhir di sini, dan Antoni gak ada juga ." Ucap Astrid, lesu dan kecewa.


Alex diam, Dia melihat ada genangan darah di samping gardu listrik yang ada di belakang Astrid.


Alex melangkah dan mendekati genangan darah itu, lalu, Dia berjongkok dan melihat pada genangan darah di samping gardu listrik itu .


Astrid melihat Alex berjongkok cepat mendekatinya, Dia berdiri disamping Alex dan melihat pada genangan darah .


"Sepertinya Antoni bersembunyi di belakang gardu listrik ini, banyak genangan darah di sini." Ujar Alex .


"Apa mungkin Antoni ketauan, lalu Dia ditangkap dan di bawa pergi Lex?!" Ujar Astrid, bertanya pada Alex .


"Kayaknya begitu, Trid. Ini tempat terakhir Antoni, pasti Dia udah dibawa penjahat penjahat itu." Ucap Alex, menatap lekat wajah Astrid.


"Ah, Sial !! Kita telat datang menolong Antoni !" Ujar Astrid, kesal dan marah .


"Kalo udah begini, harus kemana kita mencarinya ? " Ujar Astrid kesal dan kecewa, karena tak menemukan Antoni .


Alex diam, Dia melihat ada ponsel tergeletak di aspal jalanan, tak jauh darj gardu listrik dan tempat mereka berdiri saat ini .


Alex mendekati ponsel itu, Dia melihat ponsel itu sudah hancur dan berantakan .


"Trid ! Sepertinya ini Hapenya Antoni." Ujar Alex , menoleh pada Astrid.


Mendengar perkataan Alex, Astrid cepat melangkah mendekati Alex, Dia lantas melihat ponsel yang sudah hancur berantakan itu .


"Hmm...Pantes aja telepon Antoni terputus , padahal Dia baru mau bilang dimana lokasi Dia. Ternyata penjahat itu menghancurkan Hapenya." Ujar Astrid .


Wajah Astrid berubah geram dan marah, Dia marah pada orang yang telah menculik dan menyerang Antoni, Astrid juga marah pada Gerard, karena Dia menduga, orang yang menyerang Antoni pastilah orang suruhannya Gerard .

__ADS_1


Dengan ditemukannya ponsel milik Antoni yang sudah hancur berantakan di aspal jalanan itu, Astrid yakin, bahwa memang Antoni di tangkap dan sudah di bawa oleh anak buah Gerard .


"Aku harus menemui Gerard !!" Ujar Astrid geram dan marah .


"Hei, tenang dulu, Kamu jangan langsung main pergi dan datangi gerard, jangan gegabah Astrid !" Ujar Alex, mencegah dan mengingatkan Astrid .


"Aku yakin, Lex. Antoni pasti di bawa ke tempatnya Gerard, Aku yakin itu!!" Ujar Astrid menegaskan pada Alex.


"Ya, tapi Kamu mau menemui Gerard dimana ? Di rumahnya ?! Gak mungkin Trid ! Gerard gak mungkin membawa Antoni kerumahnya !" Ungkap Alex, menjelaskan dengan serius pada Astrid.


"Gerard pasti menyuruh anak buahnya untuk membawa Antoni ke suatu tempat , yang hanya di ketahui Gerard saja , Gak mungkin ke rumahnya !!" Tegas Alex, menjelaskan pada Astrid.


Astrid terdiam setelah mendengarkan penjelasan Alex, Dia berfikir, memang benar yang di katakan Alex, Antoni pasti di bawa kesuatu tempat .


"Astrid . Sebaiknya kita pulang kerumahku, dirumahku, kita bisa melacak keberadaan Antoni." Ujar Alex, menatap lekat wajah Astrid yang terlihat menahan amarahnya itu.


"Bagaimana Kamu melacaknya, Lex ? Antoni udah gak punya Hape, Kamu kan liat sendiri, Hapenya hancur !" Ujar Astrid , menatap tajam wajah Alex .


"Kamu lupa? Aku kan menyadap telepon Gerard !" Ujar Alex .


"Aku bisa melacak Gerard, dari situ Kita bisa tau, kemana Gerard pergi, dan jika benar Gerard menemui Antoni di suatu tempat, Kita bisa melacak lokasinya dan datang ke sana menolong Antoni !" Ungkap Alex, dengan serius menjelaskan pada Astrid .


"Oh , Iya Lex, Kamu benar. Ayo kita kerumahmu sekarang, Mudah mudahan belum terlambat, dan Antoni baik baik saja." Ujar Astrid, dengan wajah cemas menatap Alex .


"Ayo." Ujar Alex pada Astrid .


Lalu mereka berdua bergegas pergi meninggalkan lokasi gardu listrik itu, mereka berdua berjalan cepat, kembali ke mini market untuk mengambil mobil yang parkir di halaman depan mini market .


Astrid dan Alex tiba di mini market tempat Antoni bekerja, mereka berdua langsung masuk kedalam mobil, Alex lantas menyalakan mesin mobil, dan memakai sabuk pengamannya. Di sampingnya, Astrid juga memakai sabuk pengamannya .


Alex bersiap siap menjalankan mobilnya, tiba tiba saja telepon Astrid berbunyi, Astrid dan Alex saling pandang .


Astrid heran, siapa yang menelponnya tengah malam begini, Dia lalu cepat mengambil ponsel dari kantong celananya.


Dilayar ponsel, tertera nomor telepon tak di kenal dan tak bernama, Astrid bertanya tanya, siapa yang menelponnya.


"Angkat dan terima aja Trid." Ujar Alex, menoleh pada Astrid .


Astrid masih diam dan ragu ragu, telepon terus berbunyi ditangan Astrid, lalu Astrid menghela nafasnya, Dia lantas menerima panggilan telepon tersebut .


"Hallo ? Siapa ini?" Ujar Astrid, bertanya di teleponnya .


"Hallo Astrid, lama gak bertemu." Ucap Suara di seberang telepon .

__ADS_1


Astrid terbelalak kaget dan syock mendengar suara di teleponnya, suara itu terdengar berat dan parau, dan Astrid tahu, bahwa itu bukan suaranya Gerard , tapi suara Pria lainnya.


Suara berat dan parau itu terdengar jelas ditelinga Astrid, Dia terdiam, memikirkan, siapa orang yang bicara diteleponnya itu .


__ADS_2