
Alex dan Astrid di hari lainnya bertemu dengan Patrick , mereka berkumpul di rumah Alex, mereka sedang ,membahas tentang kematian Sulis.
"Bagaimana hasil autopsi mayat nya?" tanya Alex pada Patrick.
"Sudah selesai, hasil yang didapat, Korban Sulis mendapat banyak luka sayatan di wajahnya dan lehernya di gorok menggunakan pisau lipat." Ungkap Patrick.
"Lantas,apa kalian temukan sidik jari pelakunya?" Tanya Astrid.
Astrid bertanya karena ingin tahu, Dia masih sedikit khawatir, kalau kalau masih tertinggal sidik jarinya di sekitar lokasi kejadian.
" Kami menemukan sidik jari satu orang, mungkin pelakunya. Dan itu bukan milik Samuel." Ucap Patrick.
"Sepertinya Samuel menyuruh seseorang untuk membunuh Sulis." Ujar Alex.
"Ya,sepertinya begitu. Aku akan menyelidiki dan melacak pemilik sidik jarinya." Ujar Patrick.
"Aku juga akan mencari tau dari Samuel, apa hubungannya dengan Sulis,dan ada masalah apa Dia hingga sampai membunuh Sulis." Ujar Astrid.
"Gila Kamu. Gimana mungkin Kamu bisa bertanya langsung sama Samuel, Dia pasti langsung curiga sama Kamu nanti." Ujar Alex.
"Ya gak mungkin lah Aku nanya langsung, Aku punya cara sendiri untuk mencari tau kebenarannya, dan Aku yakin,Samuel nanti pasti akan cerita padaku tentang masalahnya." Ujar Astrid.
"Kamu yakin dan serius mau dekati Samuel?" Tanya Alex.
Ada keraguan dalam diri Alex,apalagi Dia mengetahui,bahwa ternyata Samuel orang yang berbahaya,dan nekat membunuh siapapun juga.
"Aku gak mau terjadi apa apa denganmu." Ujar Alex.
"Kamu tenang aja. Aku bisa menjaga diriku." Ujar Astrid, meyakinkan Alex.
"Kamu tetap jalani rencana kita itu , cari informasi keberadaan orang orangnya Gerard yang sudah menghancurkan orang tuaku dulu." Ujar Astrid.
"Ya." Angguk Alex.
"Baiklah. Aku pergi dulu, ada satu hal yang harus Aku kerjakan saat ini." Ujar Astrid.
"Kemana?" Tanya Alex.
"Menemui salah seorang pelaku yang menyeret dan membawa paksa orang tuaku dulu. Aku akan mulai aksi balas dendam ku." Ujar Astrid.
"Baiklah, Kamu hati hati. Dan jangan lupa kabari Aku, agar Aku bisa mantau dan membantumu." Ujar Alex.
"Ya, pasti Aku kabari." Jawab Astrid.
"Aku juga pergi dulu. Mau mengurus kasus pembunuhan Sulis." Ujar Patrick.
"Apa Kamu mau mendatangi Samuel?" tanya Alex.
"Bukan Samuel, tapi Gerard. Aku akan mulai menyelidikinya dari Gerard, karena Sulis sekretarisnya, Aku mau tau, apakah Gerard ada hubungannya dengan pembunuhan Sulis." Ujar Patrick.
"Oh, Baiklah." Ujar Alex.
__ADS_1
Astrid dan Patrick lalu sama sama pergi meninggalkan Alex setelah terlebih dulu pamit. Alex tampak cemas dengan diri Astrid. Dia khawatir, Astrid gagal menjalankan misinya.
"Mudah mudahan Kamu berhasil, Astrid." Gumam Alex, menghela nafasnya.
---
Malam harinya,di sebuah rumah, tampak suasana hening, sebuah mobil masuk ke halaman rumah tersebut dan meluncur hingga kedalam garasi mobil yang ada di samping rumah.
Tak berapa lama,keluar seorang Pria separuh baya dari dalam mobil dan berjalan menuju teras rumahnya.
Pria itu bernama Julianto, Dia berjalan santai membuka pintu rumahnya, Di sudut rumah yang gelap, tampak sebuah bayangan sosok seseorang sedang mengintainya.
Julianto tak menyadari ,kalau dirinya saat ini sedang di awasi seseorang. Dia melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan tenang.
Sosok pengintai melihat Julianto masuk kedalam rumahnya, kedua matanya terlihat tajam menatap ke arah rumah. Sesaat kemudian, Dia bergegas pergi meninggalkan tempat persembunyiannya, Dia mendekati rumah Julianto.
Julianto menyalakan lampu lampu ruangan dalam rumahnya, tak ada orang lain di dalam,hanya Dia sendiri saja. Julianto melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Dari arah belakang rumah, sosok orang yang mengintai berhasil mencongkel pintu belakang rumah, Sosok orang itu lalu bergegas masuk kedalam rumah, melangkah pelan dan hati hati, agar kehadirannya tidak diketahui Julianto yang tengah berada dalam kamarnya.
Sosok orang yang mengintai berjalan pelan menghampiri kamar Julianto, dengan hati hati Dia membuka pintu kamar dan masuk kedalam.
Setelah Dia masuk kedalam kamar, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang ada dikamar itu. Dia tahu, Julianto sedang mandi didalam kamar mandi.
Tak berapa lama, Julianto keluar Dari dalam kamar mandi, Dia sudah memakai baju tidurnya, bersiap untuk tidur.
Lampu kamar dimatikan , Julianto lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Saat suasana gelap karena lampu sudah dimatikan , Sosok pengintai dengan gerak cepat melesat menghampiri Julianto.
Saat Julianto hendak naik ke atas tempat tidurnya, Sosok pengintai langsung menyergap dengan mencengkram leher Julianto.
Mendapat serangan mendadak, Julianto kaget, Dia berusaha meronta dan melepaskan dirinya, namun, cengkraman dilehernya sangat kuat,apalagi Sosok pengintai yang menyergapnya memegang sebilah pisau tajam. Julianto tak bisa melawan.
"Siapa Kamu?" Tanya Julianto,dengan suara yang tercekat karena lehernya dicengkram tangan sosok pengintai.
Sosok pengintai tak menjawab, dengan cepat, Sosok Pengintai menghujamkan pisau ke perut Julianto, hingga Julianto pun akhirnya mengerang kesakitan, perutnya robek terkena tusukan pisau .
Sosok Pengintai lalu melepaskan cengkraman tangannya di leher Julianto, Julianto rebah di atas kasurnya sambil memegangi perutnya yang terluka dan mengeluarkan darah segar.
"Ss...Sia...pa...Kamu?!" Tanya Julianto, sambil merintih menahan sakit dan memegangi perutnya yang berdarah.
"Sosok pengintai berdiri dihadapannya, tatapan kedua matanya tajam menatap wajah Julianto yang tengah meringis kesakitan diatas kasur. Perlahan lahan, Sosok pengintai membuka masker penutup wajah dan kepalanya.
Julianto terbelalak heran melihat sosok pengintai yang berdiri dihadapannya saat ini. Dia tak menyangka , bahwa sosok itu seorang wanita.
Sosok pengintai yang tak lain adalah Astrid tersenyum sinis menatap wajah Julianto yang meringis menahan rasa sakit di perutnya.
" Kamu gak tau Aku. Tapi , Aku tau Kamu." Ujar Astrid sinis.
__ADS_1
Julianto mengernyitkan keningnya, Dia heran dan benar benar tak kenal dengan Astrid yang saat ini berada di hadapannya.
"Kamu ingat dengan Edward?!" Tanya Astrid.
Tatapan kedua mata Astrid tajam melihat kearah Julianto, terlihat jelas dari raut wajahnya, Astrid memendam rasa dendam yang begitu besar pada Julianto.
"Edward ?! Aku gak kenal." Ujar Julianto, sambil meringis menahan sakit diperutnya yang terluka.
"Jangan pura pura bodoh ! 10 tahun lalu,Kamu datang bersama Gerard dan menyeret paksa Edward. Dan Dia Bapakku !" Ujar Astrid.
Mendengar perkataan Astrid, Julianto tersentak kaget,Dia tak menyangka, jika ternyata Astrid yang berdiri dihadapannya adalah anak Edward.
"Apa maumu?" tanya Julianto.
"Menuntut balas. Aku akan membalas perbuatannya ! Karenamu, Bapakku di penjara dan mati !" Tegas Astrid, dengan menahan geram dan marahnya.
"A...aku gak...tau ap...pa apa..." Ujar Julianto terbata bata.
Tubuhnya semakin melemah,karena darah terus mengalir dari perutnya yang terluka lebar itu. Wajahnya juga memucat dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, menahan rasa sakit dan perih diperutnya.
"Kamu datang bersama Gerard dulu dan membawa paksa Bapakku dengan menyeret dan memukulinya !" Bentak Astrid,sudah mulai emosi marah.
"Aku hanya di suruh Gerard ." Ujar Julianto.
Dia mulai ada rasa takutnya melihat Astrid yang menatap tajam dan raut wajahnya terlihat bengis itu.
"Aku gak perduli. Bagiku, Kamu sama saja dengan Gerard dan yang lainnya. Dulu,Aku masih kecil,dan Aku menyaksikan semua perbuatan kalian! Tapi,tak ada satu pun polisi yang percaya denganku!" Ujar Astrid.
"Karena itu, sekarang saatnya Aku menuntut balas,Aku akan membuat perhitungan atas semua perbuatan kalian padaku dan Bapakku !" Bentak Astrid.
"Tolong...jangan bunuh Aku. Aku hanya mengikuti perintah Gerard. Aku gak tau apa apa." Ujar Julianto.
Raut wajah Julianto memelas,Dia meminta belas kasihan Astrid,agar tak membunuhnya.
Astrid menyeringai buas, tatapan matanya sinis melihat wajah Julianto yang terkulai lemah di atas kasurnya.
"Apa dulu Kamu melepaskan Bapakku saat Dia meronta dan memohon untuk dilepaskan? Tidak bukan ?!! " Bentak Astrid marah.
"Kalian malah memukul dan menendang, bahkan menginjak injak Bapakku, Aku melihat semuanya! Dan Aku gak bisa memaafkan perbuatan kalian!" Bentak Astrid.
Julianto tercekat menelan ludahnya, Dia semakin takut melihat kemarahan Astrid, apalagi Dia sedang memegang pisau ditangannya.
Julianto berusaha menguatkan dirinya, lalu, dengan satu gerakan Dia bangun dan mencoba menyerang Astrid. Namun, usahanya gagal.
Bukannya berhasil memukul Astrid, tapi, malah Dia yang terkena tusukan pisau ditangan Astrid. Dengan gerak cepat Astrid menghujamkan pisau ditangannya keperut Julianto berkali kali, hingga darah terus keluar dan mengalir dari perutnya.
Julianto kembali terjerembab jatuh , dan terhempas dilantai kamar, tubuhnya bersimbah darah yang mengalir dari perutnya. Julianto merintih dan meringis kesakitan memegangi perutnya yang terkena tusukan pisau Astrid berkali kali.
Terlihat Astrid sangat marah sekali, Dia menatap tajam wajah Julianto yang rebah di lantai kamar.
"Matilah karena kejahatanmu !" Ujar Astrid.
__ADS_1
Astrid menatap geram Julianto yang meringis memegangi perutnya dilantai kamar. Astrid menggenggam pisau ditangannya dengan kuat, bersiap untuk menghujamkannya kembali ke tubuh Julianto yang terkulai lemah itu.