Destroy

Destroy
Dia Astrid Kan ?


__ADS_3

Patrick lantas cepat mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, Dia segera menelpon. Nasir masih berdiri disampingnya, menunggu perintah Patrick selanjutnya.


"Dimana Kamu bang? Ada yang mau Aku tanyakan padamu. tunggu Aku." Ujar Patrick, bicara di teleponnya dengan raut wajah yang serius.


Setelah menelpon, Dia cepat cepat memasukkan ponselnya ke dalam kantongnya kembali, lalu Dia mengemasi berkas yang ada di atas meja dan mematikan laptop, tak lupa di cabutnya flash disk yang menempel di laptop, flash disk rekaman kamera video amatir milik seorang tamu undangan yang di ambil pihak kepolisian untuk menjadi bukti dan di cek hasil gambar rekamannya.


Patrick juga mengambil lembaran photo yang tadi diberikan Nasir kepadanya.


"Saya mau pergi dulu, jika ada kabar lain soal kasus ini, segera kabari Saya." Ujar Patrick pada Nasir.


"Siap, Pak." Jawab Nasir, mengangguk hormat.


Patrick lalu segera bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya, Nasir melihat kepergian Patrick yang terburu buru menjadi heran.


Di rumahnya, Alex yang di telpon Patrick tadi duduk santai di sofa rumahnya. Ponsel miliknya tergeletak diatas meja tamu.


"Apa yang mau di bicarakan Patrick? Nada bicaranya seperti Dia terburu buru dan tegang." Gumam Alex, berfikir tentang Patrick.


Dia lantas mengambil gelas berisi sirup dari atas meja, lalu, di minumnya sirup tersebut , lalu, setelah di letakkannya kembali gelas minuman sirup diatas meja, Dia duduk dengan santai menunggu kedatangan Patrick menemuinya.


Sementara itu, dirumahnya, Gerard terlihat sedang menelpon, namun, Dia mengkernyitkan keningnya, Ponsel yang Dia hubungi mati dan terputus, sejak tadi telepon tak bisa di hubungi, membuat Dia penasaran dan terus mencoba menelpon.


Gerard bingung dan heran, mengapa nomor telepon itu tak bisa di hubunginya.


Beberapa saat kemudian masuk Zahara ke dalam rumahnya, Dia baru saja pulang dari villanya, wajahnya masih menunjukkan kekesalan dan amarah yang terpendam.


Saat Dia berjalan masuk ke ruangan tengah, Dia melihat Gerard sedang terus menelpon namun tak juga tersambung.


Zahara menghentikan langkahnya, Dia berdiri dibelakang Gerard, diamatinya gerak gerik Gerard. Zahara tahu, Gerard berusaha untuk menelpon Karina.


"Siapa yang Kamu telpon?" Tanya Zahara, dengan nada suara yang sedikit meninggi karena masih kesal.


Mendengar suara Zahara yang tiba tiba saja muncul dan bertanya, membuat Gerard terperanjat kaget.


"Ah, tidak. Aku cuma mau nelpon Pak Pramono, tapi telponnya mati." Ujar Gerard berusaha untuk tetap tenang dan tidak gugup dihadapan Zahara.


"Pak Pramono? Tumben Kamu yang telpon, biasanya kan Dia yang selalu hubungi Kamu jika ada yang mau di sampaikan si Boss padamu?" Tanya Zahara, dengan tatapan penuh curiga pada Gerard.


"Iya, Aku cuma mau tanya beliau, apa si Boss udah tau soal kematian Ishadi." Ujar Gerard, mencoba berbohong dan menutupi siapa yang sebenarnya Dia telepon.


"Jangan nambah masalah ! Kalo ternyata si Boss belum tau, Dia pasti murka mendapat kabar darimu langsung! Lebih baik Kamu biarkan, gak usah pikirkan, Boss tau atau tidak , Kalo Boss tau, Dia pasti memanggilmu!" Ucap Zahara ketus pada Gerard.


"Ya." Angguk Gerard.


Lantas Dia menutup teleponnya dan tak melanjutkan lagi menelpon. Zahara lantas melangkah pergi meninggalkan Gerard.


Gerard melihat kepergian Zahara yang masuk kedalam kamar mereka, Dia menghela nafasnya, Dia masih terlihat heran karena telepon Karina tak bisa di hubunginya.


"Dimana Kamu Karina? Kenapa telponmu mati?!" Bathin Gerard bicara.

__ADS_1


Gerard kembali menghela nafasnya, lalu, Dia menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya, kemudian, Dia bergegas pergi menuju ke ruangan kantornya yang ada di dalam rumahnya tersebut.


---


Mobil Patrick berhenti dihalaman rumah Alex yang sangat luas dan megah, setelah mematikan mesin mobil, Patrick segera keluar dari dalam mobil. Tak lupa Dia membawa kertas berisi gambar seseorang yang ada ditempat kejadian pembunuhan Ishadi.


Patrick cepat berjalan menuju rumah Alex, Dari dalam, Alex membuka pintu rumah.


"Ah, Kamu udah datang, masuklah." Ujar Alex.


Patrick diam tak menjawab, Dia segera masuk ke dalam rumah Alex, wajahnya terlihat sangat serius sekali, berbeda dengan biasanya.


"Duduklah. Kamu mau minum apa?" Ujar Alex bertanya.


"Gak usah. Aku bisa ambil sendiri nanti." Jawab Patrick.


Dia segera duduk di sofa yang ada dalam ruang tamu rumah Alex , Alex melihat ditangannya Patrick memegang selembar gambar berisi photo yang di cetak.


Alex lantas berjalan mendekatinya, lalu Dia duduk di sofa yang ada di samping Patrick duduk.


"Ada apa ?" Tanya Alex, menatap lekat wajah Patrick yang terlihat tegang dan serius.


"Kamu harus jujur padaku." Ucap Patrick, menatap serius wajah Alex.


"Hei, ada apa ini? Mengapa Kamu tiba tiba jadi berubah serius begini?" Tanya Alex, sambil tertawa kecil.


"Mana laptopmu?" Tanya Patrick.


"Kamu mau pake laptopku? Sebentar, Aku ambilkan." Ujar Alex.


Alex lantas bergegas bangun dari duduknya, dan pergi meninggalkan Patrick yang lantas mengeluarkan flash disk dari kantong celananya.


Diletakkannya flash disk diatas meja bersama lembaran kertas berisi cetakan gambar photo seseorang.


Tak berselang lama, datang Alex sambil membawa laptopnya, Dia duduk kembali di sofa yang tadi Dia duduki, diletakkannya laptop di atas meja.


"Ini, pakailah." Ujar Alex, sambil menyalakan laptopnya.


Patrick mengangguk, lalu, cepat dimasukkannya flash disk pada laptop yang sudah menyala itu.


"Aku ingin Kamu melihat ini, perhatikan baik baik." Ujar Patrick serius.


"Ya." Jawab Alex.


Alex kernyitkan kening heran, Dia bertanya tanya, apa yang mau di tunjukkan Patrick kepadanya, dan mengapa Patrick terlihat sangat tegang dan serius sekali.


Patrick lalu segera membuka file video dan langsung memutar rekaman video, Alex melihat rekaman video tersebut.


Alex menelan ludahnya, Dia tahu rekaman video apa itu, Ya. Itu rekaman video proses sebelum Ishadi mati terbunuh.

__ADS_1


Lalu, Patrick cepat menghentikan video tersebut, tepat di gambar saat Pengantar minuman berpapasan dengan Ishadi yang mau berjalan ke podium.


"Perhatikan, siapa yang membawa minuman itu?!" Ujar Patrick, menatap serius Alex yang melihat rekaman video itu.


"Siapa ? Aku gak tau?!" Jawab Alex santai dan cuek.


Dia berpura pura tak tahu dan memasang wajah bingung, padahal Dia tahu, siapa sosok si pengantar minuman tersebut. Namun, Dia tak mau mengatakannya pada Patrick.


"Dia Astrid kan?!" Ucap Patrick serius.


Alex tersentak kaget, saat mendengar Patrick menyebut nama Astrid. Dia juga tak menyangka, jika Patrick mengetahui bahwa si pengantar minuman itu adalah Astrid.


"Astrid? Ah, Kamu salah liat mungkin." Ujar Alex.


Alex berusaha menutupinya dan tetap bersikap berpura pura tak tahu menahu. Patrick mengambil kertas gambar cetakan photo dan memberikannya pada Alex.


"Liat ini lebih jelas ! Aku sangat kenal sekali wajahnya, begitu Aku melihatnya berkali kali, Aku pastikan Dia Astrid !" Ungkap Patrick menegaskan pada Alex.


Alex lantas terdiam tak menjawab, Patrick menatap tajam wajah Alex yang duduk terdiam itu.


"Katakan padaku, Apa Kamu tau soal ini juga?!" Tanya Patrick, menatap serius wajah Alex.


"Ya. Aku tau, Karena Aku membantu Astrid saat itu." Ungkap Alex.


Alex akhirnya berkata jujur pada Patrick, karena Patrick sudah tahu dan tak ada alasan lagi bagi Dia untuk membohongi adiknya.


"Baaang !! Apa yang ada dalam pikiranmu?! Mengapa Kamu jadi kaki tangan Astrid dsn membunuh orang?!" Hardik Patrick marah.


"Karena Aku udah janji dulu sama Bapaknya dan juga Astrid, kalo Aku akan membantunya membalas dendam." Ungkap Alex.


"Balas dendam ? Apa hubungannya dengan pak Ishadi yang dibunuhnya itu?!" Ucap Patrick dengan nada kesal.


"Jika Kamu terlibat dalam pembunuhan dan menjadi kaki tangan Astrid, Apa yang harus Aku lakukan Bang?!!" Ujar Patrick, menatap serius wajah Alex.


Tatapan matanya terlihat kesal pada Alex , Alex menghela nafasnya, Lalu, ditatapnya wajah kesal Patrick.


"Sebaiknya Kamu dengar langsung dari Astrid, mengapa Dia membunuh Ishadi, dan siapa serta bagaimana sepak terjang Ishadi, Aku gak bisa menjelaskannya." Ucap Alex.


"Di mana Astrid?!" Tanya Patrick.


"Dirumahnya, Jika kamu mau mendengar alasan Astrid membalas dendam pada Ishadi, sebaiknya kita kerumahnya sekarang." Ujar Alex.


"Ya, udah. Kita kesana. Aku butuh penjelasan kalian berdua, sebelum rekan rekan kepolisian mengetahui hal ini, dan agar Aku bisa bertindak, apa yang harus Aku lakukan nantinya!" Ucap Patrick menegaskan pada Alex.


"Ya. Ayo kita pergi." Ucap Alex.


Patrick mengangguk, Dia lantas melepaskan flash disk dan mematikan laptop, lalu, Patrick segera berdiri dari duduknya di sofa, tak lupa diambilnya juga kertas gambar berisi wajah Astrid.


Lalu Dia segera berjalan pergi mengikuti Alex yang sudah lebih dulu jalan keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Dengan wajah tegang dan serius Dia melangkah. Patrick ingin tahu, mengapa Astrid sampai membunuh, Dia juga ingin tahu, apa hubungan Ishadi dengan Gerard dan Zahara, yang Dia tahu, bahwa keduanya adalah musuhnya Astrid.


__ADS_2