Destroy

Destroy
Menyelidiki Astrid


__ADS_3

Hari berikutnya, Karina pun mulai bergerak untuk menyelidiki dan mencari tahu keberadaan Astrid, anak dari Edward, yang mereka jebak dan fitnah lalu di bunuh beberapa tahun silam.


Karina juga penasaran, ingin tahu, bagaimana sosok anak Edward setelah menjadi dewasa, sebab, Dia bertemu dengan anak Edward yang bernama Astrid saat anak itu masih kecil dan remaja, setelah itu, Karina belum pernah bertemu, apalagi mendengar kabarnya.


Hanya satu yang terpenting, Karina meyakini, bahwa wajah anak Edward tak akan banyak berubah dari saat remaja hingga tumbuh menjadi gadis dewasa.


Karina mendatangi rumah sakit jiwa, tempat Dia dulu pernah bekerja dan menjadi Dokter utama dan pengawas dari Astrid kecil, saat Astrid kecil dimasukkan ke dalam ruang isolasi yang ada di rumah sakit, dengan tujuan menyingkirkan dan melenyapkan keturunan dari Edward.


Di rumah sakit jiwa itu, Karina mencari tahu data data tentang diri Astrid, setelah Dia menemukan data data pribadi Astrid di masa lalu, Dia pun membawanya untuk di teliti, Dia juga membawa photo Astrid yang di temukannya dalam dokumen data pribadi Astrid.


Selain itu, Karina juga mendatangi penjara remaja khusus wanita, tempat di mana Astrid saat remaja dulu di penjara. Dia tahu, Astrid remaja dulu di tahan karena kasus pembunuhan yang dilakukan Astrid terhadap teman sekolahnya.


Namun, Karina kecewa, karena di rumah tahanan Dia tak bisa bertemu dengan Astrid.


Karina mendapatkan informasi dari pihak rumah tahanan, bahwa Astrid sudah lama di bebaskan dari penjara, karena masa tahanannya sudah selesai.


Selain kecewa, Karina juga tampak khawatir, sebab, dengan di bebaskannya Astrid, maka, bisa saja pembunuhan yang terjadi pada anak buah Gerard dilakukan Astrid, dalam rangka menjalankan aksi balas dendamnya.


Karina pulang dari rumah tahanan dengan membawa kabar yang tidak menyenangkan, di dalam mobil, sebelum Dia pergi meninggalkan lokasi penjara, terlebih dahulu Dia menghubungi Zahara.


"Anaknya Edward sudah tidak di penjara, Dia sudah lama bebas, itu info yang Aku dapatkan dari pihak rumah tahanan."Ujar Karina, dengan wajah serius dan tegang, bicara di telepon.


Di rumahnya, Zahara yang menerima telepon dari Karina tampak wajahnya berubah menjadi tegang juga, namun, Dia berusaha untuk tetap tenang.


"Apa benar yang dikatakan petugas tahanan itu tentang anaknya Edward?"tanya Zahara , bicara di teleponnya.


"Ya, Aku udah cek semuanya, petugas rumah tahanan memberikan dokumen data Astrid, bahwa Dia sudah di bebaskan."Jelas Karina, bicara di teleponnya.


"Jika Astrid benar benar sudah bebas, berarti Dia sedang bergerak untuk menuntut balas, dan bisa saja pembunuhan yang terjadi itu pelakunya Astrid."Lanjut Karina , di teleponnya.


"Hmm...Baiklah. Kita harus waspada, jangan sampai lengah, Aku yakin, jika memang anaknya Edward bebas, Dia pasti berusaha mendekati dan menemui Kita satu persatu untuk menuntut balas."Ujar Zahara dari seberang telepon.


"Ya, Kita harus mencari tau, bagaimana sosok anak itu sekarang, Aku yakin, wajahnya gak banyak berubah dari saat remaja dulu hingga sekarang. Dan Aku yakin, akan mengenalinya jika bertemu Dia."Ucap Karina, penuh keyakinan, bicara di telepon.


"Baiklah, kita saling komunikasi dan memberi kabar, mudah mudahan kita bisa tau dimana anaknya Edward, agar Kita gak di celakainya."Ucap Zahara.


"Ya."Jawab Karina singkat.

__ADS_1


"Oke, Udah dulu ya, Aku mau mengecek rekaman video video saat Astrid kecil dulu Aku periksa di ruang kerjaku. Aku mau menegasi wajahnya, agar bisa membandingkannya dengan yang sekarang jika bertemu Dia nanti." Ujar Karina, di telepon.


"Oke."Jawab Zahara, dari seberang telepon.


Karina lalu menutup telepon , Dia selesai bicara dan memberi laporan pada Zahara perihal Astrid yang sudah di bebaskan dari rumah tahanan.


Karina menyalakan mesin mobilnya, lalu segera menjalankan mobilnya, pergi dari lokasi rumah tahanan tersebut.


Di rumahnya, Zahara menghela nafasnya, Dia masih memegang ponselnya sehabis bicara di telepon dengan Karina.


"Dimana Kamu Astrid?!" Gumam bathin Zahara.


Zahara tampak tengah memikirkan diri Astrid, Dia penasaran dengan sosok anaknya Edward sekarang. Ada keinginan Zahara untuk mencari tahu bagaimana sosoknya dan dimana keberadaannya.


Zahara khawatir, Astrid benar benar muncul di hadapannya untuk menuntut balas, Dia khawatir jika nantinya Astrid menghancurkan keluarganya.


Zahara bertekat untuk melacak keberadaan Astrid, dan mencegahnya untuk membalas dendam, Dia ingin lebih dulu bisa menemukan keberadaan Astrid, dan melenyapkannya, agar Astrid tak mengusik dirinya dan keluarganya.


"Ya, Aku harus lebih dulu menemukanmu, Astrid, Aku gak akan membiarkan Kamu menghancurkan diriku dan keluargaku."Gumam bathinnya bertekat.


---


Terlihat Karina sangat serius menonton hasil wawancaranya itu, dari rekaman video itu Karina bisa melihat jelas, bahwa sosok Astrid kecil memiliki sorot mata yang tajam, dan tatapan matanya kepada Karina menyiratkan kebencian yang mendalam.


"Aku gak gila, Aku normal. Kamu udah menghancurkan hidupku, Aku akan menghancurkanmu manusia ular."Gumam Astrid kecil mendesis menatap tajam wajah Karina.


Terdengar suara ucapan Astrid kecil dalam rekaman video saat diwawancarai Karina, tatapan matanya sangat tajam, dan Astrid menyeringai sinis pada Karina yang duduk di kursi, dihadapannya.


Karina lalu mengakhiri sesi tanya jawabnya pada Astrid, Dia menyudahi pemeriksaan kejiwaan Astrid kecil. Dari rekaman video itu terlihat, Dua perawat rumah sakit jiwa segera membawa Astrid kecil keluar dari dalam ruang kerja Karina.


Karina lantas mematikan video yang di tontonnya, Dia menarik nafasnya dengan berat, sesaat Dia berfikir, di pegangnya photo lama Astrid, lalu, dipandanginya photo tersebut.



Karina mencoba mengamati seluruh raut wajah Astrid kecil dan remaja, lalu, Dia mencoba untuk menerka nerka bagaimana wajah Astrid sekarang ini.


"Apakah benar Kamu akan menuntut balas Astrid?!" Gumam bathin Karina.

__ADS_1


Karina resah, ada rasa khawatir dan takut dalam dirinya, Dia tahu, apa yang dilakukannya pada Astrid kecil dulu salah, Dia tak seharusnya menyatakan bahwa Astrid kecil terganggu jiwa dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


Sebab, Dia tahu, Astrid kecil saat itu normal, jiwa dan pikirannya tak terganggu ataupun rusak, Dia hanya menuruti permintaan Gerard untuk menyingkirkan Astrid, dan menyatakan jiwanya terganggu, agar Astrid tak bisa mewarisi harta kekayaan milik orang tuanya.


"Aku siap menunggu kedatanganmu, Astrid."Gumam Karina.


Karina kembali menghela nafasnya, Dia siap bertemu Astrid, jika memang benar Astrid akan datang menemuinya untuk menuntut balas atas perbuatan kejinya dulu, Karina sudah siap menanggung resikonya, Dia siap berhadapan dengan Astrid yang akan menuntut balas, bahkan Dia siap untuk mati, jika Astrid benar benar nantinya menemui dirinya lalu membunuhnya, karena dendam di masa lalunya itu.


---


Malam harinya, Gerard baru saja pulang dari bekerja, Dia masuk kedalam kamar, melepaskan jas dan dasi serta sepatunya, Zahara menghampirinya.


"Astrid sudah bebas dari penjara." Ucap Zahara.


"Astrid ?!!" Gerard menatap heran wajah Zahara yang berdiri dihadapannya.


"Anaknya Edward."Jelas Zahara.


"Oh, apa Kamu yakin? Dari mana info itu Kamu dapatkan?!' tanya Gerard .


"Karina yang bilang padaku, Dia udah datang ke rumah tahanan tempat anaknya Edward di penjara selama ini, kata petugas Lapas, Astrid sudah lama dibebaskan karena masa tahanannya sudah selesai."Ungkap Zahara, menjelaskan dengan serius pada Gerard.


Gerard lantas terdiam sesaat memikirkan perkataan Zahara, raut wajah Zahara terlihat cemas dan khawatir.


"Kita harus waspada, jangan sampai Astrid datang menyerang kita." Ujar Zahara.


"Ya, Akan Aku bereskan semuanya, Aku akan menugaskan orang untuk mencari keberadaan si Astrid dan menangkapnya." Ujar Gerard.


"Apa si Boss perlu tau masalah ini?!" Tanya Zahara.


"Maksudmu?" Gerard balik bertanya.


"Ya, kalo memang Astrid sudah dibebaskan dan mau menuntut balas, apa nggak sebaiknya Boss juga tau, agar Beliau bisa mengambil sikap dan keputusan, apa yang akan dilakukannya terhadap Astrid itu."Ujar Zahara.


"Nggak perlu, dalam hal ini Boss gak perlu tau. Kalo pun Dia tau, pasti Dia menyuruh agar Aku yang membereskan masalah ini." Jelas Gerard.


"Oh, baiklah kalo begitu."Ujar Zahara.

__ADS_1


Zahara menghela nafasnya, sementara Gerard dengan cuek berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada didalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Zahara lantas berbalik dan keluar dari dalam kamar , Dia hendak menyiapkan makan malam buat Gerard.


__ADS_2