
Di sebuah Cafe mewah, terlihat Zahara datang menemui seseorang yang sebelumnya di teleponnya.
Orang itu seorang Pria, berpakaian rapi memakai kemeja lengan panjang dan berambut pendek, saat melihat kedatangan Zahara , cepat Dia berdiri dari duduknya di kursi untuk menyambut kedatangan Zahara.
Zahara tiba di depan Pria itu, Dia lantas menarik kursi dan duduk di kursi yang ada di hadapan sang Pria yang bernama Peter.
"Sudah lama Kamu menunggu?" tanya Zahara, sambil merapikan duduknya.
"Sudah lumayan lama, Saya langsung ke sini setelah Ibu telpon Saya tadi." Ujar Peter.
"Maaf, Tugas apa yang akan Ibu berikan pada Saya ?!" Tanya Peter.
"Seperti biasanya, Kamu tau kan, Kalo Aku menugaskanmu, Kamu harus melakukannya sampai benar benar selesai." Ujar Zahara.
"Ya, Bu." Angguk Peter.
Zahara lantas mengambil sebuah photo dari dalam tas kecil dan memberikannya pada Peter, Peter mengambil photo tersebut dan melihat wajah yang ada dalam photo tersebut.
"Kamu tau kan, siapa Dia ?" Tanya Zahara.
"Ya, ini bu Karina. Saya tau, walau pun hanya sekali dulu bertemu dengannya, saat Ibu menugaskan Saya menghabiskan nyawa seorang karyawan kantor sebuah instansi pemerintah." Ujar Peter.
"Ya, Kamu benar, Dia Karina, temanku." Jawab Zahara.
Peter ini adalah anak buah dan salah satu orang kepercayaan Zahara, setiap ada masalah besar dan perlu di selesaikan, Zahara selalu saja meminta bantuan Peter, Dia membayar Peter untuk menjalankan tugasnya dengan rapi.
Peter seorang pembunuh bayaran, sudah sering Zahara menugaskannya untuk membunuh orang orang yang menjadi musuh Zahara dan menghalangi langkahnya.
Dan kali ini, Zahara memanggil Peter untuk diberikan tugas yang sama lagi, yakni membunuh seseorang.
"Apa yang harus Saya lakukan pada bu Karina ini?" Tanya Peter sambil menatap wajah Karina dalam photo.
"Bunuh Dia, dan hilangkan mayatnya, jangan sampai tubuhnya di temukan siapapun juga !" Ujar Zahara, dengan tatapan mata dinginnya.
"Oh, Baik, bu. Akan Saya kerjakan." Ujar Peter.
"Ingat, kerjakan yang rapi, jangan sampai tindakanmu ketauan, buat Karina menderita, siksa Dia sebelum Kamu bunuh, Aku ingin Dia merasakan penderitaan yang besar sebelum mati." Ujar Zahara, menahan geramnya.
"Sepertinya Ibu marah besar dan dendam padanya." Ujar Peter.
"Ya, benar. Tapi Kamu gak perlu tau apa masalahnya." Ucap Zahara.
"Iya, bu." Angguk Peter.
__ADS_1
"Satu lagi, Kalo Kamu udah menangkapnya, dan menyiksanya, kabari Saya , biar Saya datang dan menyaksikan kematiannya." Ujar Zahara.
"Baik, bu. Nanti Saya kabari , setelah pekerjaan Saya beres." Ujar Peter.
"Seperti biasanya, Saya akan transfer uang sebesar 50 persen sebelum Kamu menjalani tugasmu, sisanya, akan Saya transfer ke rekeningmu setelah tugasmu selesai dan Karina mati." Ujar Zahara, menegaskan.
"Ya, terima kasih, bu." Jawab Peter.
"Kamu bisa mulai dengan mendatangi rumahnya. Ini alamatnya." Ujar Zahara.
Zahara mengambil secarik kertas yang sudah di siapkannya dari dalam tas, lalu Dia memberikannya pada Peter.
Peter mengambil secarik kertas dari tangan Zahara, lalu Dia membacanya, ada alamat rumah lengkap tertera di dalam secarik kertas itu.
"Saya akan kerjakan mulai saat ini juga, Bu." Ujar Peter.
Peter lantas menyimpan secarik kertas berisi alamat rumah Karina kedalam kantong celananya.
Tiba tiba telepon Zahara berbunyi, Zahara mengambil ponsel dari dalam tas.
Zahara tersenyum sinis saat mengetahui siapa yang menghubunginya saat ini, ya, Karina yang menghubunginya.
Zahara lantas memencet tombol menerima panggilan, Dia ingin tahu keberadaan Karina saat ini, karena itu Dia mau menerima telepon Karina.
"Kamu kemana aja sih? Aku telpon dari tadi Hape Kamu gak aktif, Aku kerumahmu tadi, tapi Kamu gak ada." Ujar Karina, dengan nada kesal dari seberang telepon.
Mendengar suara bernada kesal dari Karina, Zahara tersenyum sinis, Zahara jijik mendengar suara Karina, sebenarnya ingin langsung dimatikannya teleponnya karena muak mendengar ocehan Karina, Zahara menilai Karina tak tahu malu, dan berpura pura baik padanya, padahal berkhianat di belakangnya, dan Zahara sangat marah akan perbuatan Karina.
Dia mau bicara dengan Karina untuk mengetahui keberadaannya, agar mudah Peter melaksanakan tugas yang sudah diberikannya tadi.
"Aku ada urusan sama klien, jadi tadi buru buru berangkat dari rumah." Ujar Zahara, berbohong dan berpura pura bersikap baik pada Karina, bicara di teleponnya.
"Kapan Kamu pulangnya, ada hal penting yang mau Aku sampaikan, Kamu pasti kaget mendengarnya dariku nanti." Ujar Karina, dari seberang telepon.
Zahara kembali tersenyum sinis, dalam hatinya berkata, bahwa Karinalah yang akan terkaget kaget jika Dia tahu, bahwa Zahara sudah mengetahui perselingkuhan dirinya dan Gerard, Zahara benar benar geram mendengar suara Karina yang tak tahu malu itu.
" Apa yang mau Kamu sampaikan, bilang aja sekarang." Ujar Zahara, ditelepon.
"Nggak bisa. Aku harus ketemu langsung dengan Kamu, karena, ada yang mau Aku tunjukkan juga padamu." Ucap Karina, dari seberang telepon.
Zahara diam sesaat, Dia tampak memikirkan sesuatu, diliriknya Peter yang masih duduk di kursinya dan diam saja mendengar pembicaraan Zahara serta Karina.
"Oh, begitu. Baiklah. Kamu posisinya di mana sekarang?" tanya Zahara, di telepon.
__ADS_1
"Dijalanan dekat rumahmu. Kamu dimana?!" Tanya Karina, dari seberang telepon.
"Oh, baiklah. Kita ketemu di Villa ku yang ada di cipanas, Kamu bisa kesana sekarang?!" Ujar Zahara, bertanya pada Karina di telepon.
"Gila ! Jauh banget, bisa dua jam lebih Aku ke sana." Ujar Karina.
"Sorry, soalnya posisiku sekarang ada di cipanas, dekat dengan Villaku, jadi, Kalo Kamu mau ketemu Aku, kesini aja, mumpung Aku masih di area sini." Ujar Zahara, di telepon.
Padahal posisinya tidak di area cipanas, Zahara sengaja mengarahkan Karina untuk datang sendiri ke villa milik Zahara di cipanas, Dia sengaja mengarahkan Karina untuk datang ke sana, agar Peter mudah membunuhnya tanpa di ketahui siapapun juga. karena disekitar Villa tersebut sangat sepi, posisinya sangat jauh dari rumah rumah warga sekitarnya yang ada di sana.
"Ya udah, Aku ke sana sekarang juga deh." Ujar Karina, bicara dari seberang telepon.
"Ok, Kamu berangkat langsung sekarang ya, Aku tunggu di sana." Ujar Zahara, bicara di teleponnya.
"Ok, sampai ketemu disana ya." Jawab Karina, dari seberang telepon.
Lalu, terdengar nada suara telepon terputus, Karina mematikan ponselnya, Zahara menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya, Dia tersenyum penuh arti, menatap wajah Peter.
"Tugasmu lebih mudah sekarang, Saya udah arahkan Karina untuk datang ke Villa yang ada di cipanas. Jadi Kamu gak usah capek capek mengejarnya lagi. Kamu bisa menunggunya di sana." Ujar Zahara, tersenyum sinis.
"Oh, Baik Bu, saya tau tempatnya. Saya pernah kesana." Ujar Peter.
"Ya, lakukan tugasmu dengan baik, nanti Saya menyusul ke sana." Ujar Zahara.
"Baik, bu. Saya pergi sekarang." Ujar Peter.
Peter lantas segera berdiri dari duduknya di kursi, Dia memberi hormat pada Zahara dan pamit, Zahara mengangguk , Peter lantas bergegas pergi meninggalkan Zahara sendirian di dalam cafe tersebut.
"Mampus Kamu Karina, ajalmu sebentar lagi." Gumam Zahara pelan menahan geram dan marahnya.
Terpancar sinar penuh kebencian pada raut wajahnya, Dia benar benar sudah merasa sakit hati pada Karina, Zahara ingin melenyapkan Karina, membunuhnya, agar Karina tak bisa lagi merayu dan mendekati Gerard.
Jika Karina dibiarkannya hidup, sampai kapanpun juga, Dia akan menjadi benalu dan perusak rumah tangga dirinya dan Gerard yang di cobanya untuk tetap dipertahankan selama ini, walau hubungan Dia dan Gerard tak harmonis, setidaknya, demi karir dan jabatan, Dia harus bisa mempertahankan kondisi rumah tangganya bersama Gerard. Apalagi Gerard berniat untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan nantinya.
Zahara sudah tak tahan lagi dengan segala macam perbuatan Karina di belakangnya, Dia merasa, sudah cukup memberi kesempatan pada Karina dan memaafkannya atas kesalahan dan perbuatannya di masa lalu yang berselingkuh dengan Gerard.
Zahara kecewa, kepercayaan yang diberikannya dengan tulus pada Karina di salah gunakan Karina, Karina tak menghargai Zahara, Dia benar benar nekat melanggar janji, dan kembali menggoda serta menjalin hubungan perselingkuhan kembali dengan Gerard.
Dia juga sangat membenci Gerard, karena Gerard tak mampu menahan nafsunya, Gerard begitu mudah terpedaya dengan segala godaan dan bujuk rayu Karina.
Gerard tak bisa memendam nafsunya, tak bisa menghargai Zahara sebagai istrinya. Dia juga sama seperti Karina, melanggar janjinya untuk tidak berselingkuh lagi, namun, kenyataannya, Gerard menjalin hubungan lagi dengan Karina.
Itu sebabnya, tak ada pilihan lain bagi Zahara, untuk menyingkirkan Karina dan menjauhkan dirinya dari suaminya, Gerard.
__ADS_1
Satu satunya cara yang bisa di lakukannya adalah melenyapkan Karina, dengan membunuh Karina, maka, Karina tak akan bisa lagi mengganggu dan mengusik rumah tangga Dia dan Gerard.