Destroy

Destroy
Astrid Berbohong


__ADS_3

Pada sore hari, Astrid sudah berpakaian rapi dan bersiap siap hendak pergi, Antoni yang melihatnya mau pergi langsung saja mendekati Astrid.


"Mau kemana Kamu ?" tanya Antoni.


"Aku mau ketemu Alex, Kami ada urusan sebentar." Ujar Astrid.


Astrid berbohong pada Antoni, Dia sebenarnya tak bertemu Alex, ada sesuatu hal yang mau di urusnya dan sudah direncanakannya. Agar Dia bisa pergi dari Paviliun milik Alex itu, Dia sengaja membohongi Antoni, agar Antoni ataupun Papahnya tak berusaha mencegah kepergiannya.


Astrid tak mau Antoni dan Edward tahu rencana yang akan Dia jalani itu, makanya Dia sengaja berbohong kepada Antoni, agar Antoni ataupun Papahnya tak cemas lalu menghalangi kepergiannya dari Paviliun itu .


"Oh." Angguk Antoni.


Antoni percaya saja dengan apa yang dikatakan Astrid, Dia tak bertanya lagi.


"Aku pergi dulu, Antoni." ujar Astrid, menatap wajah Antoni.


"Ya, hati hati dijalan." Ujar Antoni.


Astrid mengangguk, mengiyakan perkataan Antoni yang mengingatkan Dia untuk tetap berhati hati.


Astrid kemudian berjalan pergi meninggalkan Antoni . Dia keluar dari dalam Paviliun itu , Antoni hanya berdiri diam saja sambil melihat kepergian Astrid, Dia tak mengantar kepergian Astrid.


Tak berapa lama, datang Edward, Dia baru saja keluar dari dalam kamarnya, Edward berjalan menghampiri Antoni.


"Astrid mana?" Tanya Edward, pada Antoni yang berdiri disampingnya itu.


"Baru saja pergi Om, katanya mau ketemu Alex." Ujar Antoni, memberitahu Edward.


"Oh, begitu." Angguk Edward mengerti.


"Antoni, nanti malam, Saya mau pergi sebentar, ada sesuatu yang mau Saya urus , tolong jangan bilang Astrid, kalo Saya pergi ya." Ujar Edward .


"Tapi kan diluar berbahaya Om. Bagaimana jika ada yang melihat dan mengenali Om ?" Ujar Antoni bertanya pada Edward.


"Kamu jangan khawatir, Om bisa menjaga diri dan berhati hati, gak akan ada yang tau." ujar Edward, tersenyum ramah menatap wajah Antoni.


"Ya, Om." Jawab Antoni.


Antoni menuruti perkataan Edward, Dia tak membantahnya, Edward berjalan menuju ke ruang tengah Paviliun untuk menonton televisi, Antoni berjalan masuk ke dalam kamarnya.


 


Sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah Astrid, tak lama kemudian, setelah membayar ongkos taksi, Astrid keluar dari dalam taksi tersebut.

__ADS_1


Taksi lalu pergi meninggalkan tempat itu, Astrid lantas berjalan memasuki halaman rumahnya.


Dia sengaja kembali kerumahnya karena ada sesuatu yang mau diambilnya dan masih tertinggal di rumahnya yang ditinggalnya karena mengungsi untuk sementara waktu. Astrid juga mau mengambil mobilnya.


Astrid masuk kehalaman rumah dan berjalan terus ke teras rumahnya, Dia menghentikan langkahnya, Astrid berdiri tepat di depan pintu masuk rumahnya, Dia melihat pintu rumahnya sudah berganti baru, tidak rusak seperti sebelumnya saat Dia meninggalkan rumahnya karena diserang anak buah Gerard .


"Hmm...Pasti Alex yang mengganti pintu rumahku ." Gumam Astrid, tersenyum senang.


Astrid lantas membuka pintu, pintu tak terkunci, Setelah pintu terbuka, Astrid langsung saja masuk kedalam rumahnya, sebuah kunci menempel di lubang kunci bagian dalam pintu .


Sebelum menutup pintu, Astrid melihat ke arah luar rumahnya, Dia mengawasi sekitarnya, khawatir ada yang melihat kedatangannya, setelah Dia memastikan bahwa tak ada satu orang pun yang melihatnya, Astrid lantas bergegas menutup pintu rumahnya, Dia lalu berjalan menuju ke satu ruangan khusus yang ada dirumahnya itu .


Astrid masuk kedalam ruangan khusus, Dia langsung saja mengambil tas ransel berukuran besar dan panjang. Diletakkannya tas ransel itu diatas meja panjang yang ada di dalam ruangan khusus tersebut.


Astrid membuka tas ransel tersebut, terlihat didalamnya banyak jenis senjata senjata api. Astrid memeriksa senjata senjata itu, setelah memastikan semua jenis senjata yang dibutuhkan sudah ada didalam tas ransel berukuran besar dan panjang itu, Dia lalu menutup tas ransel kembali.


Astrid lalu mengambil tas kotak, Dia membuka tas kotak itu, didalamnya berisi peluru peluru dari berbagai jenis senjata, dan ada juga pisau belati di dalamnya.


Astrid menutup kembali tas kotak tersebut, lalu, Dia segera pergi keluar dari dalam ruang khusus dengan membawa tas ransel berukuran besar dan panjang, beserta tas kotak tersebut .


Astrid keluar dari dalam rumahnya, dengan kunci yang diambilnya di lubang pintu bagian dalam, Astrid segera mengunci pintu rumahnya.


Lalu, Dia bergegas jalan menuju garasi mobil sambil menenteng tas ransel dan tas kotak di tangannya.


Dia meletakkan tas ransel berukuran besar dan panjang itu dilantai garasi, dekat belakang mobilnya, Dia lalu mengambil kunci mobilnya yang selalu di bawanya dan disimpan dalam kantong celananya.


Kemudian, Astrid bergegas masuk kedalam mobilnya, sesaat kemudian, mesin mobil menyala, lalu Astrid menjalankan mobilnya. Mobil pun lantas berjalan keluar dari garasi mobil menuju halaman rumah , mobil terus meluncur keluar dari halaman rumah menuju ke jalanan.


Astrid pergi membawa mobilnya dan meninggalkan rumahnya , Dia sudah punya rencana, untuk melakukan sesuatu hal, oleh sebab itu Dia mengambil semua peralatan senjatanya, karena Dia butuh senjata senjata itu untuk menjalankan rencana yang sudah di aturnya .


 


Malam harinya, Astrid belum juga pulang, Alex baru saja datang ke Paviliun itu, Dia membawa sebuah tas koper berukuran sedang.


Alex masuk ke dalam Paviliun dengan membawa tas koper, Dia bertemu dengan Antoni.


"Loh, kok gak sama Astrid?" Tanya Antoni.


Antoni heran karena Alex datang sendirian , sementara Astrid tak ikut bersamanya.


"Memang Astrid gak di sini?" Tanya Alex pada Antoni.


"Nggak, belum pulang, dari sore tadi pergi, katanya mau ketemu Kamu, Lex." ujar Antoni, menjelaskan pada Alex.

__ADS_1


"Astrid gak ketemu Aku. Makanya Aku ke sini, lagian, Aku baru sempat membawa tas koper yang di minta pak Edward." Ujar Alex, menjelaskan pada Antoni.


"Lah, Aku dibohongi Astrid kalo gitu." Ujar Antoni nyengir.


Antoni nyengir karena merasa telah di bohongi Astrid, Alex diam dan berfikir sesaat, lalu Dia menatap wajah Antoni yang berdiri dihadapannya itu.


"Kemana perginya Astrid ya? Kalo Dia mau melakukan sesuatu hal, pasti Dia mengabarkan Aku lebih dulu, gak pernah pergi diam diam sendirian." Ujar Alex berfikir.


"Aku jadi khawatir, Lex, jangan jangan Astrid mau nyari pimpinan organisasi kelompoknya Gerard, karena Dia penasaran sama sosoknya itu." ungkap Antoni.


"Hmm...Apa iya? Baiklah. Nanti Aku coba lacak keberadaan Astrid." Ujar Alex, menatap wajah Antoni.


"Ya, Lex." ujar Antoni , mengangguk pada Alex.


"Oh ya, pak Edward mana?" tanya Alex pada Antoni.


"Ada dikamarnya. Sebentar Aku panggilkan." Ujar Antoni.


"Ya." Angguk Alex.


Antoni lalu bergegas pergi untuk memanggil Edward, Alex lalu duduk di sebuah sofa yang ada di ruang tamu Paviliun miliknya itu.


Alex diam berfikir, Dia masih memikirkan kemana perginya Astrid dan apa yang akan dilakukannya, Ada kekhawatiran dalam diri Alex . Dia khawatir Astrid bertindak nekat dan benar benar mencari keberadaan pimpinan organisasi kelompok Gerard yang masih misterius dan belum diketahui siapa orangnya sampai saat ini .


Tak lama kemudian, datang Edward bersama Antoni, mereka segera menemui Alex yang duduk menunggu di sofa ruang tamu.


"Hai, Lex." Sapa Edward ramah.


Melihat kedatangan Edward, Alex langsung saja berdiri dari duduknya di sofa, Dia mengambil tas koper yang diletakkannya di lantai, disamping sofa tempat Dia duduk tadi.


"Ini Koper yang Bapak minta ke Saya, maaf, baru sekarang Saya sempat menyerahkannya pada Bapak." ujar Alex, menyerahkan tas koper itu pada Edward.


"Gak apa apa, Lex. Terima kasih karena sudah menyimpan dan menjaga tas koper ini." Ujar Edward, tersenyum senang menatap wajah Alex .


Edward mengambil tas koper dari tangan Alex, Antoni melihat tas koper tersebut.


"Apa isi tas itu Om?" Tanya Antoni ingin tahu.


"Ada berkas berkas penting didalam tas ini, dan juga, ada surat surat berharga yang berisi tentang perusahaan perusahaan Saya." Ujar Edward.


"Saya sengaja menitipkannya pada Alex, agar tas ini gak ditemui oleh Gerard dan komplotannya saat menggeledah rumah Saya dulu, sebelum mereka menangkap Saya." jelas Edward pada Antoni.


"Oh, begitu." Angguk Antoni.

__ADS_1


Antoni lantas diam dan tak bertanya lagi, Edward lantas duduk di sofa panjang, Dia meletakkan tas koper diatas meja, Alex juga ikut duduk di sofa yang tadi Dia duduki sebelumya.


Antoni lantas ikut duduk juga, Dia sengaja duduk disamping Edward, agar bisa melihat jelas isi dalam tas koper tersebut .


__ADS_2