
Di dalam kamar, dalam Paviliun milik Alex, terlihat Edward duduk diatas kasurnya, didepannya, tergeletak tas koper miliknya yang di bawa Alex sebelumnya.
Edward membuka tas koper itu, dan mengambil berkas berkas yang ada dalam tas koper tersebut .
Edward membaca lembaran berkas tersebut, berkas berisi laporan keuangan perusahaannya, Dia juga melihat ada akte surat kepemilikan perusahaannya.
Selama ini, surat itu aman di simpan Edward, dan orang orang yang mengambil serta menguasai semua perusahaannya tak punya akte surat kepemilikan perusahaannya itu. Dan surat itu menjadikan bukti kuat untuk Edward dalam mengambil alih perusahaan miliknya yang di rebut paksa nantinya .
Saat membuka buka berkas berkas yang ada didalam tas koper, mata Edward tertuju pada dua buah photo usang .
Edward mengambil kedua photo dan melihat photo tersebut , satu photo dirinya sendiri sedang bersama Zahara.
"Kamu sudah mengkhianati kepercayaanku Zahara, Aku akan datang padamu, menuntut balas atas perbuatanmu padaku." gumam Edward, sambil menatap photo Zahara itu .
Lalu, Edward melihat salah satu photo yang ada ditangannya itu , dalam photo, tampak Zahara sedang menggendong bayi perempuan, dan disampingnya, Edward berdiri sambil merangkul Zahara.
"Anakku..." Gumam Edward.
Edward tersenyum memandangi photo bayi perempuan yang ada dalam gendongan Zahara tersebut. Ada kerinduan yang mendalam menyelimuti hatinya saat menatap wajah bayi dalam photo tersebut.
Dia rindu dengan bayi tersebut, bayi perempuan anak kandungnya, darah dagingnya sendiri, hasil hubungan gelapnya bersama Zahara saat Zahara berselingkuh dengan dirinya .
"Papah rindu padamu Nak. Kamu pasti gak tau, kalo Kamu punya kakak, dan Astrid juga pasti gak tau, kalo Dia ternyata selama ini punya adik tiri." Gumam Edward lagi sambil menghela nafasnya.
"Apakah Aku harus jujur dan mengatakan pada Astrid, bahwa Dia sebenarnya mempunyai adik? Dan adiknya itu lahir dari wanita yang sangat dibencinya?" Ungkapnya, bicara dengan dirinya sendiri.
"Ah, bagaimana jika Astrid marah dan kecewa padaku, Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana Aku menjelaskannya pada Astrid?" Gumamnya lagi berfikir.
Edward berada dalam dilema saat ini, Di satu sisi Dia rindu dan ingin bertemu dengan anaknya, Di sisi lain Dia tak ingin Astrid marah pada dirinya karena mengetahui bahwa Dia punya adik tiri , yang lahir dari rahim Zahara.
Edward tahu, bahwa anaknya itu tinggal bersama Zahara selama ini, Sebab, Zahara dulu sempat mengatakan padanya , sebelum Dia di jebak dan di tangkap, bahwa Zahara akan merawat anak mereka.
Edward lantas mengambil lembaran kertas dalam tas kopernya, lembaran kertas berisi akte kelahiran anaknya tersebut .
Edward berfikir, ada keinginan dalam dirinya untuk mendatangi Zahara dan menemui anaknya, Cuma Dia ragu, apakah harus mengungkap dan menunjukkan dirinya di hadapan Zahara, agar Zahara mengetahui bahwa Dia masih hidup selama ini..
Edward tampak gelisah, Dia menghela nafasnya, lalu, Edward meletakkan photo photo itu kembali ke dalam tas kopernya. Dia juga menyimpan berkas berkas dokumen perusahaannya, lalu menutup tas kopernya lagi .
Edward lantas beranjak turun dari ranjangnya, Dia berjalan ke lemari pakaian, lalu menyimpan tas koper itu di dalam lemari pakaiannya, didalam kamarnya tersebut .
---
Malam harinya, Astrid terlihat mengintai rumah Tarmiji, pelaku yang memasang bom di mobil Marwan dan juga Akmal.
Astrid langsung bergerak cepat mendatangi Tarmiji, untuk memberi pelajaran padanya dan membalaskan perbuatannya yang sudah membunuh Akmal dan melukai Marwan, teman baik Patrick.
__ADS_1
Astrid membantu Patrick untuk membalaskan dendamnya pada Tarmiji, sebab, selama ini, Patrick dan juga Marwan, sebagai Jaksa penuntut sudah banyak membantu dan mendukung langkahnya membalas dendam .
Astrid juga merasa, bahwa karena dirinya, Akmal, asisten jaksa mati terbunuh, dan Marwan sebagai Jaksa penuntut mengalami luka parah dan koma.
Andai saja Dia tak memberi tahu dan membocorkan rahasia kejahatan kelompok organisasi Januar kepada Patrick, tentunya Patrick dan Marwan tak akan mendapatkan masalah besar yang mengancam nyawa mereka.
Karena Patrick sudah tahu semuanya, Patrick bergerak cepat menyelidiki dan menangkapi para pejabat tinggi yang menjadi anggota organisasi Gerard dan Januar, dengan dibantu Marwan, Jaksa Penuntut yang jujur , Patrick menangkapi anggota kelompok organisasi Gerard dan Januar.
Karena itu, Astrid bertekat akan membantu Patrick membalas dendam, Dia sendiri yang akan menghabisi Tarmiji juga Januar, yang sudah membunuh Akmal dan mencelakai Marwan .
Astrid menyelinap masuk ke dalam rumah Tarmiji yang sepi itu, Dia berhasil mencongkel pintu depan rumah Tarmiji dengan peralatan yang di bawanya.
Lalu, perlahan lahan, Astrid membuka pintu dan segera masuk kedalam rumah, Dia mengambil pistol dari pinggangnya
Astrid berjalan menyusuri selasar ruangan dalam rumah. Dengan memegang pistol ditangannya Dia berjalan ke arah kamar Tarmiji.
Saat Astrid berdiri didepan pintu kamar dan hendak membuka pintu kamar, tiba tiba saja, Dia merasakan sesuatu menempel di pundaknya.
"Jangan bergerak, atau Kamu akan mati." ucap Tarmiji.
Ternyata Tarmiji sudah berada di belakang Astrid, dan yang membuat Astrid kaget, Tarmiji sebenarnya sudah tahu, kalau Dia di ikuti dan di awasi Astrid.
Karena itu, saat masuk ke dalam rumahnya, Tarmiji langsung bersembunyi, menunggu Astrid, Dia tahu, Astrid pasti akan masuk kerumahnya untuk mencari dirinya.
Astrid terkesiap kaget, Dia tak jadi membuka pintu kamar, Tarmiji menatap tajam wajah Astrid.
Astrid lalu mengangkat kedua tangannya, lalu, tangan kanannya yang memegang pistol bergerak kebelakang, hendak memberikan pistolnya pada Tarmiji.
Tarmiji lantas menggerakkan tangannya , bermaksud mau mengambil pistol dari tangan Astrid.
Karena merasa tidak ada lagi sesuatu yang menempel di pundaknya, dengan cepat Astrid berbalik menghadap Tarmiji.
Dengan cepat Astrid menyerang, Dia memukul Tarmiji, Tarmiji tersentak kaget, Dia terjajar terkena pukulan tiba tiba Astrid yang berbalik dan menyerangnya itu.
"Sialan Kamu!! Mau coba coba bohongi Aku dengan mengancamku!!" Bentak Astrid marah.
Ternyata, ditangan Tarmiji hanya ada pulpen saja, dan bukan pistol , Tarmiji mengarahkan pulpen ke pundak Astrid tadi, seolah olah itu pistol.
Astrid merasa ada yang aneh saat ujung pulpen menyentuh pundaknya, namun, Astrid tadi tetap berhati hati dan mau memastikan terlebih dulu, apakah Tarmiji benar memegang pistol atau benda lainnya seperti pisau.
Karena itu, saat Tarmiji melepaskan pulpen dari pundak Astrid dan mau mengambil pistol, Astrid tak mau menyia nyiakan kesempatan, Dia langsung cepat berbalik dan menyerang Tarmiji.
"Siaaal !!" Bentak Tarmiji.
Tarmiji geram dan marah pada Astrid, Dia hendak menyerang Astrid yang berdiri dihadapannya itu.
__ADS_1
"Dooor "
Terdengar suara letusan dari pistol ditangan Astrid, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Astrid langsung saja menembak lutut Tarmiji, sehingga Tarmiji langsung terjatuh ke lantai ruangan rumahnya, karena lututnya di tembus peluru dari pistol Astrid .
"Keparaat !! Apa maumu sialan?!!" Bentak Tarmiji marah sambil meringis kesakitan memegangi lututnya yang berdarah dan terluka itu.
"Aku akan membunuhmu, karena Kamu sudah membunuh dan melukai teman temanku !!" Bentak Astrid.
"Apa maksudmu?!" tanya Tarmiji, sambil masih meringis kesakitan akibat ditembak Astrid.
"Kamu memasang bom dan meledakkan mobil temanku di parkiran gedung kejaksaan, sehingga satu temanku mati, dan satunya lagi koma !" Bentak Astrid marah.
"Karena itu Aku datang menemuimu, untuk membunuhmu!!" Tegas Astrid, menatap tajam wajah Tarmiji.
"A...Aku...cuma...mengikuti... perintah..." Ucap Tarmiji terbata bata bicaranya karena menahan sakit di lututnya.
"Dooor...Dooor ...!!"
Astrid melepaskan dua tembakan lagi, dan kali ini peluru menembus bahu dan lengan tangan Tarmiji, sehingga Dia terjerembab jatuh ke lantai.
"Aku gak perduli siapa yang menyuruhmu, yang Aku tau, Kamu yang memasang bom dan meledakkannya ! Jadi, Kamu harus mati!!" Bentak Astrid penuh amarah dalam dirinya.
"Jangan bunuh Aku... Aku... mo...hon..." Ucap Tarmiji, meminta belas kasihan Astrid.
"Jan...Januar...Januar yang...menyu...ruhku...Dia...Kepala... Polisi..." Ungkap Tarmiji, terbata bata.
"Aku sudah tahu !!" Bentak Astrid, menatap tajam wajah Tarmiji.
Lalu, Astrid melepaskan tembakan kembali, dan kali ini, peluru tepat mengenai dahi Tarmiji.
Tarmiji seketika terkapar dan mati, tubuhnya jatuh ke lantai, darah mengalir diantara kepala dan dahinya yang tertembus peluru dari pistol Astrid.
"Rasakan pembalasanku!" Ujar Astrid geram.
Tanpa memberi ampun dan memberi kesempatan pada Tarmiji untuk membela dirinya, Astrid langsung saja menembak dan membunuh Tarmiji.
Astrid tak mau berlama lama menghabiskan waktu bicara dengan Tarmiji, Dia cepat menyelesaikan tugasnya membunuh Tarmiji.
Astrid lantas berjalan, Dia melangkah dan menginjak tubuh Tarmiji yang sudah tak bernyawa itu, dengan tenangnya Astrid berjalan keluar dari rumah Tarmiji, meninggalkan mayat Tarmiji yang tergeletak di lantai ruangan dalam rumahnya.
Tak ada siapa siapa dalam rumah itu, hanya Tarmiji saja yang tinggal di dalam rumah, dan Dia belum menikah, hidup sendirian saja .
Astrid masuk ke dalam mobilnya, lalu, Dia menjalankan mobilnya dan segera pergi meninggalkan rumah Tarmiji, satu misinya tuntas di jalaninya, tanpa ada halangan dan hambatan sedikitpun, Astrid berhasil membunuh Tarmiji. Dendamnya dan Patrick sudah terbalaskan, Tarmiji mati di tangan Astrid.
Tinggal Astrid bergerak memburu dan menemui Januar, sebagai otak dan dalang yang menyuruh memasang bom di mobil dan mau membunuh Marwan serta Akmal.
__ADS_1
Astrid akan datang menuntut balas pada Januar, Dia mempersiapkan dirinya untuk segera berhadapan langsung dengan Januar, Kepala Kepolisian yang menjadi otak kejahatan yang mengakibatkan tewasnya Akmal dan terluka parahnya Marwan .