Destroy

Destroy
Dimana Kamu bersembunyi?!


__ADS_3

Suasana malam hari sangat hening dan dingin, hujan turun dengan sangat derasnya, sehingga area di sekitar perumahan tampak lengang dan sunyi.


Sosok bayangan berpakaian hitam berkelebat menyelinap masuk dari atas rumah seseorang yang bernawa Marwan.


Sosok bayangan hitam itu masuk ke dalam rumah Marwan yang terlihat gelap tanpa ada satu pun ruangan diterangi lampu. Dan salah seorang lagi yang juga berpakaian serba hitam berdiri menunggu di depan pintu masuk rumah, Dia terlihat sedang berjaga jaga di sekitar rumah itu.


Hujan masih turun dengan sangat derasnya, disertai dengan angin dan suara petir yang menggelegar keras memecah keheningan malam, kilatan cahaya petir menyambar nyambar, sekilas menerangi seluruh area rumah dengan kilatan cahayanya di keheningan malam yang gelap dan sepi itu saat ini.


Dengan langkah kaki perlahan lahan sosok berpakaian hitam menyelinap dan melangkah ke arah kamar. Sosok berpakaian hitam itu masuk ke dalam kamar, ditangannya ada sebilah pisau lipat.


Sosok berpakaian serba hitam melangkah mendekati ranjang didalam kamar yang gelap, namun, tak ditemukan seseorang di dalam kamar itu.


Tatapan mata sosok berpakaian hitam itu tajam, Dia kaget karena Marwan, orang yang sedang di carinya tak berada di dalam kamarnya.


Dengan langkah cepat sosok berpakaian hitam segera keluar dari dalam kamar untuk mencari di setiap ruangan keberadaan Marwan.


Sosok berpakaian serba hitam keluar dari dalam kamar, Dia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah rumah tersebut.


Saat itu, Dia kepergok oleh Marwan, yang baru saja datang dari arah dapur rumahnya.


"Siapa Kamu?!!"Bentak Marwan.


Marwan tersentak kaget begitu melihat sosok berpakaian serba hitam yang ada di hadapannya, sosok berpakaian serba hitam juga kaget, Dia tak menyangka berpapasan dengan Marwan.


"Kamu maling ya ?!!" Bentak Marwan.


Marwan marah dan geram, Dia yang berbadan kekar menatap tajam penuh amarah pada sosok berpakaian serba hitam, Marwan mengira, sosok itu maling yang ingin menjarah rumahnya.


Dengan gerak cepat Marwan lantas menyerang sosok berpakaian serba hitam, sosok berpakaian serba hitam menghindari serangan Marwan.


Baku hantam pun terjadi dalam ruangan rumah itu, Marwan cukup tangguh , beberapa kali serangan pukulan dan tendangannya membuat repot dan kesulitan sosok berpakaian serba hitam.


Namun sosok berpakaian serba hitam tak menyerah, Dia terus memberi perlawanan pada Marwan, di arahkannya pisau lipat yang ada ditangannya pada Marwan, menghujamkannya ketubuhnya.


Marwan menghindari tusukan pisau itu lalu memukul sosok berpakaian serba hitam hingga terjajar kebelakang.


Sosok berpakaian serba hitam geram menatap tajam wajah Marwan yang berdiri di hadapannya dengan siap siaga.


"Kamu kira bisa lolos dariku! Kamu bakal Aku habisi, karena berani masuk ke rumahku!!" Ujar Marwan membentak dengan nada suara penuh amarah.


Sosok berpakaian serba hitam berdiri tenang dihadapannya dan tersenyum sinis mendengar perkataan Marwan.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sosok berpakaian serba hitam kembali menyerang Marwan, maka, terjadilah jual beli pukulan kembali, serangan bertubi tubi di lancarkan sosok berpakaian serba hitam, hingga Marwan menjadi kesulitan dan terjajar kebelakang.


Hingga pada saatnya, Marwan lengah, Sosok berpakaian serba hitam berhasil menghujamkan pisaunya ke dada Marwan, Marwan terkesiap syock, mendapat tikaman pisau belati di dadanya.


Marwan memegangi dadanya yang mengeluarkan darah segar akibat hujaman pisau. Sosok berpakaian serba hitam tak membiarkannya, Dia lantas menyerang kembali, memukuli Marwan dan menendangnya.


Dengan satu tendangan yang kuat dan keras membuat Marwan terpental dan jatuh tersungkur, sosok berpakaian serba hitam cepat menghampiri dan menindih tubuh Marwan yang sudah tergeletak di lantai ruangan rumahnya, darah terus mengalir dari dadanya yang terluka.


Marwan kalah, karena sosok berpakaian serba hitam itu lebih tangguh dan menguasai ilmu bela diri yang tinggi, jauh di atasnya.


Sosok berpakaian serba hitam mengarahkan pisau belatinya ke leher Marwan yang sudah terlihat lemah karena terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


"S...sia...pa Kamu...?!!" Tanya Marwan terbata bata.


Tatapan mata sosok berpakaian serba hitam terlihat tajam, Dia lantas melepaskan cadar penutup wajahnya, Marwan terbelalak kaget melihat wajah itu.


Ternyata Sosok berpakaian serba hitam adalah Astrid, dan Marwan tak menyangka jika yang menyerang dirinya seorang wanita.


"Aku anaknya Edward, orang yang Kamu siksa 15 tahun lalu."Ujar Astrid, dengan tatapan mata tajam dan sikap dinginnya.


Mendengar nama Edward, Marwan tersentak kaget, Dia ingat nama itu, karena memang Dia salah seorang yang terlibat dalam kasus Edward, Dia juga ikut menyeret dan memukuli Edward dan membawanya paksa dari rumah beberapa tahun silam itu.


"Kkk...Kamu...anak...nya?!" Ujar Marwan, sambil meringis menahan rasa sakit di bagian dadanya yang terluka.


"Ya, Aku anak kandungnya, yang Kalian asingkan kerumah sakit jiwa dulu."Ungkap Astrid geram.


Marwan terdiam mendengar perkataan Astrid, Dia pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.


"Sekarang, Aku akan menuntut balas atas perbuatanmu, Aku akan menyingkirkanmu dan menempatkanmu kedalam neraka!" Geram Astrid.


Lalu, Astrid pun lantas menyayat pisau belati yang ada ditangannya ke leher Marwan, sayatannya persis seperti orang yang menyembelih hewan.


Marwan kelojotan menahan sakit, darah segar keluar dengan banyaknya dari leher yang tersayat pisau belati.


Tidak hanya sampai disitu saja, Astrid lantas menghujamkan pisau belatinya ke dada Marwan, Dia benar benar melampiaskan kemarahan dan rasa dendamnya.


Astrid terus saja menghujamkan pisaunya ke tubuh Marwan yang sudah tak bernyawa itu, Astrid berteriak teriak sambil menusukkan pisau ke tubuh Marwan.


Suara teriakannya tak terdengar keluar, karena saat itu hujan turun sangat derasnya. Saat itu, satu orang datang dan menghampiri Astrid. Dia lantas memegang tangan Astrid, menahan dan menghentikan perbuatan Astrid.


Orang itu adalah Alex, Dia datang menemani Astrid untuk menyerang Marwan malam itu.


"Lepaskan, biar Aku membunuhnya !!" Teriak Astrid kalap.


"Dia sudah mati ! Hentikan !!" Teriak Alex.


Alex mengingatkan Astrid agar menghentikan perbuatannya, Astrid terdiam menatap wajah Marwan yang sudah menjadi mayat.


Akhirnya, Dia menghentikan perbuatannya menghujamkan pisau ke tubuh Marwan, Alex mengangkat tubuh Astrid, Astrid lalu berdiri dihadapan mayat Marwan.


"Pergilah. Biar Aku yang mengurus mayatnya. Jangan sampai ada yang melihatmu."Ujar Alex, menenangkan Astrid.


Astrid tak menjawab, Dia hanya mengangguk saja, terlihat wajahnya masih menunjukkan kebencian dan rasa amarah yang begitu besar, di tatapnya mayat Marwan, lalu, Dia tersenyum sinis.


Astrid lantas berbalik dan pergi meninggalkan Alex. Selama Astrid membunuh musuh musuhnya, Alex selalu datang membantunya.


Setiap Astrid selesai membunuh, Alex datang dan menyingkirkan mayat korban , Alex juga yang membawa mayat anak buah Gerard dan meletakkannya di garasi mobil rumah Gerard tempo hari.


Karena janjinya pada orang tua Astrid, Alex benar benar mengabdikan seluruh hidupnya pada Astrid, dan Dia sepenuh hati membantu Astrid untuk membalas dendam pada musuh musuhnya.


Alex menatap mayat Marwan, lalu, Dia bergegas melakukan tugasnya, menghilangkan jejak Astrid di dalam rumah itu dan menyingkirkan mayat Marwan.


Keesokan paginya, para karyawan di kantor Gerard geger, karena menemukan mayat Marwan tergeletak di halaman depan perkantoran.


Ramai orang orang berkerumun menyaksikan mayat itu, dan petugas keamanan yang berjaga juga sibuk, ada yang segera menghubungi pihak kepolisian karena telah menemukan mayat di area perkantorannya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Gerard datang, Dari dalam mobilnya Dia terlihat heran karena banyak para karyawannya berkerumun di depan halaman gedung perkantoran.


Gerard menyuruh supir pribadinya untuk berhenti, lalu, Dia segera turun dan keluar dari dalam mobilnya.


Gerard melangkahkan kakinya menghampiri kerumunan orang orang, sementara supir pribadi menjalankan mobilnya masuk ke area parkiran kantor.


"Ada apa ini?!" Tanya Gerard, pada salah seorang Karyawan yang ada di dekatnya.


"Ada mayat Pak."Jawab Karyawan, dengan raut wajah ketakutan.


"Mayat ?!!" Gerard tersentak kaget.


Dengan cepat Gerard bergerak melangkah maju, Dia menyeruak diantara kerumunan orang orang yang tengah menyaksikan mayat itu.


Setelah mendekat pada mayat tersebut, Gerard tersentak kaget, Dia terpaku diam, kedua matanya terbelalak lebar menatap mayat yang terbaring ditanah, dihadapannya dan orang orang.


"Marwan ?!!" Gumam Gerard, syock dan kaget.


Gerard terdiam menatap lekat mayat Marwan yang ada ditanah, Dia sangat mengenali wajah Marwan, salah seorang anak buahnya, yang di libatkannya dahulu membawa dan menyiksa Edward sebelum mereka masukkan ke penjara.


Gerard terdiam, sesaat Dia berfikir, bahwa ini pasti perbuatan orang yang sama dengan sebelumnya. Sudah dua orang anak buahnya mati terbunuh dengan cara yang mengenaskan.


Dan yang membuat Gerard yakin bahwa pelakunya orang yang sama, karena kedua anak buahnya mati dengan cara yang sama. Sama sama lehernya di gorok dan dadanya di tusuk pisau.


"Apakah memang Dia yang melakukan ini?!" Bathin Gerard bicara.


Gerard terlihat mulai mempercayai perkataan istrinya, bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah Astrid, anaknya Edward.


"Apa Dia memang sengaja membunuh anak buahku untuk menuntut balas?!" Bathinnya bicara lagi.


Gerard benar benar memikirkan sosok anaknya Edward, Dia mulai yakin, bahwa pelaku pembunuhan itu adalah Astrid, anak Edward.


Sebab, yang di bunuh dua anak buahnya, dimana keduanya sama sama terlibat dalam aksi penculikan Edward beberapa tahun yang silam.


"Jika memang benar Kamu, dimana Kamu bersembunyi?!" Bathin Gerard kembali bicara.


Gerard sesaat berfikir, Dia ingin tahu, bagaimana sosok Astrid, anak Edward saat ini dan dimana Dia berada.


Gerard geram, tak terima dengan kematian dua anak buah yang sangat Dia percaya selama ini.


Dari raut wajahnya terlihat, jika Dia bersikeras mencari Astrid dan membuat perhitungan pada Astrid atas perbuatannya.


"Liat, ada kertas di kantong bajunya."Teriak salah seorang Karyawan.


Gerard tersentak kaget , lalu melihat kearah yang di tunjuk karyawan itu.


Cepat Gerard mengambil secarik kertas yang ada di kantong baju mayat Marwan. Lalu, Dia membuka lembaran kertas dan membaca tulisannya.


"Yang berikutnya, orang orang terdekatmu, dan pada Akhirnya, Aku akan membunuhmu, tunggu kedatanganku."


Gerard terkesiap kaget dan menyeringai geram setelah membaca pesan tulisan dalam secarik kertas yang di pegangnya.


Dengan menahan geram dan amarahnya, Gerard meremas kertas tersebut, Dia benar benar tak terima diperlakukan seperti itu Dia merasa sudah di pecundangi dengan isi pesan yang mengancam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2