
Di dalam ruang kamar rawat rumah sakit, terlihat Karina baru saja bangun dari tidurnya, Dia lalu cepat melepaskan alat pernafasan yang ada di mulutnya, lalu, Dia cepat duduk di pinggir ranjang.
Karina terlihat tak tenang, Dia tak mau berlama lama berada di dalam kamar rawat rumah sakit, Karina lalu berdiri, Dia memutuskan hendak pergi dari rumah sakit.
Karina ingin kabur, karena Dia takut, orang suruhannya Zahara bisa menemukan dirinya lalu mencoba untuk membunuhnya.
Karena masih merasa takut mati, Karina memutuskan untuk pergi dari rumah sakit, apalagi Dia merasa kondisi kesehatannya sudah mulai berangsur pulih seperti sedia kala.
Karina cepat berjalan hendak keluar dari dalam ruang kamar rawat, Dia masih memakai baju dari rumah sakit dan tak mengganti pakaiannya.
Saat Dia hendak membuka pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu, sehingga membuat Karina kaget , karena di kiranya Dia ketahuan oleh perawat yang datang ke kamarnya.
Namun , tatkala Dia melihat sosok orang yang berdiri di depan pintu kamar rawat, Dia terhenyak syock dan sangat kaget sekali.
"Astriiidd?!! Ucap Karina, dengan suara tercekat karena kagetnya.
Astrid tersenyum sinis, Dia lantas melangkah masuk dan menutup pintu ruang kamar rawat itu. Ditatapnya tajam wajah Karina yang berdiri dihadapannya.
"Wah, ternyata Kamu sudah tau siapa Aku." Ujar Astrid sinis.
"Ya, Aku Tau , Kamu Astrid, anak Edward !" Tegas Karina, menatap tajam wajah Astrid.
Astrid tertawa kecil mendengar perkataan Karina, seperti dugaannya, Karina memang ternyata sudah mengetahui siapa Dia yang sebenarnya , karena itu Astrid tak mau membiarkan Karina hidup.
"Baguslah, Artinya Aku gak perlu capek capek memperkenalkan diriku lagi." Ujar Astrid tersenyum sinis.
Karina melangkah mundur dan sedikit menjauh dari Astrid, Astrid melangkah ke depan, mendekati Karina yang mencoba mundur itu.
"Sejak bertemu pertama kalinya denganmu, firasatku mengatakan, Aku seperti mengenalmu, dan setelah Aku mencari bukti dan data tentangmu dan juga menemukan photo lama kamu, Aku yakin, Kamu Astrid, anaknya Edward !" Ungkap Karina.
"Ya, Aku anaknya Edward, Kamu tentu tau bukan, mengapa Aku datang menemui Kamu di sini?" Ucap Astrid dengan sikap dingin dan nada suara bergetar menahan amarah dan dendamnya pada Karina.
Karina tahu, Astrid pasti datang menemuinya untuk menuntut balas, Karina berfikir, Astrid pasti akan membunuhnya. Karina cepat berfikir, memutar otaknya untuk bisa lepas dari Astrid saat ini.
"Aku sengaja membeli kembali rumahku pada mantan suamimu, dengan tujuan, agar Aku bisa lebih dekat dengan Gerard dan Zahara, serta mengawasi mereka ." Ujar Astrid dengan sikap dinginnya.
"Dan Kamu sengaja mengganti namamu sebagai Camelia, agar Zahara gak curiga padamu kan?!" Ujar Karina, menyambung ucapan Astrid.
"Pintaar, Kamu cerdas Karina. Itu benar." Ujar Astrid tertawa sinis pada Karina.
"Sekarang, giliranmu akan mati di tanganku, Kamu harus membayar semua kejahatan yang Kamu perbuat padaku dan juga Bapakku!" hardik Astrid, dengan wajah geram menatap wajah Karina.
Karina mulai takut, jantungnya berdebar, Dia mundur selangkah lagi, agar tak berdekatan dengan Astrid.
Astrid lantas mengambil pisau belati dari pinggangnya, lalu di hunusnya pisau belati di tangannya, Karina semakin takut dan pucat melihat pisau ada di tangan Astrid, Dia semakin yakin, bahwa Astrid bermaksud mau membunuhnya.
__ADS_1
"Jangan coba coba membunuhku, Astrid ! Aku akan berteriak sekeras kerasnya." Ujar Karina.
"Aku gak perduli Kamu teriak sampai urat suaramu putus ! Aku tetap akan membunuhmu di sini !" Bentak Astrid, mulai marah pada Karina.
Karina terus mundur selangkah demi selangkah, dan akhirnya langkahnya terhenti, karena di belakangnya ada meja kecil, Dia terpojok, sementara Astrid di lihatnya berjalan santai dengan sikapnya yang dingin, semakin mendekatinya.
Karina menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari cari sesuatu untuk melindungi dirinya. Astrid semakin dekat, dan sudah berdiri dihadapannya.
Astrid menatap tajam wajah Karina yang ada dihadapannya, mulutnya menyeringai sadis, lalu, diangkatnya tangannya yang memegang pisau belati.
Saat Astrid hendak menghujamkan pisau belati ketubuh Karina, dengan cepat, Karina meraih termos air minum yang ada di atas meja, lalu melemparkannya pada Astrid.
Astrid kaget dan menghindar dari termos air yang di lempar Karina. Dengan cepat Karina mendorong tubuh Astrid hingga Astrid terjajar dan hampir jatuh.
Karina lalu berlari sekencang kencangnya keluar dari dalam ruang kamar rawat, untuk menyelamatkan dirinya .
"Keparaat Kamu Karina !!" Teriak Astrid marah sekali.
Astrid lalu berlari keluar dari dalam ruang kamar rawat untuk mengejar Karina.
Namun, saat diluar kamar, Astrid menghentikan larinya, Dia mendengar Karina yang berlari sambil teriak teriak minta tolong pada semua orang yang ada di rumah sakit itu.
Astrid mengurungkan niatnya mengejar Karina yang terus berlari ketakutan sambil berteriak teriak minta tolong.
Saat Astrid melihat dua petugas keamanan datang menghampiri Karina, Astrid cepat berbalik lalu pergi dari ruang kamar rawat.
Terlihat Karina melapor pada petugas keamanan, Dia memberi tahu bahwa ada yang mau membunuhnya, Dua petugas keamanan langsung berlari mendatangi ruang kamar yang di tunjuk Karina untuk memastikan ucapan Karina.
Astrid menyelinap masuk ke dalam sebuah lift, Di dalam lift, tampak wajah Astrid sangat geram dan marah sekali, sebab, Karina berhasil lolos, dan Dia gagal membunuh Karina.
"Siaaal !! Aku akan terus mencarimu Karina !!" Bathinnya bicara.
Dia berdiri diam di dalam lift, tatapan matanya tajam, wajahnya memperlihatkan kemarahan yang begitu besar pada Karina.
Sementara itu, Kedua Petugas Keamanan tak menemukan siapa siapa di ruang kamar yang di tunjuk dan dikatakan Karina. Mereka lalu kembali pada Karina yang sudah di amankan oleh perawat rumah sakit itu.
---
Di rumah sakit lainnya, terlihat Mobil Melani memasuki pelataran halaman sebuah rumah sakit kelas mewah, mobil terus melaju menuju ke area parkiran bawah tanah rumah sakit.
Tidak jauh dari mobil Melani, datang mobil Samuel, mobilnya mengikuti mobil Melani, masuk ke dalam rumah sakit.
Dari dalam mobil, sambil tetap menyetir Samuel melihat nama rumah sakit besar itu, Dia akhirnya lega, karena sudah menemukan rumah sakit tempat Jack di rawat.
Mobil Samuel terus mengikuti mobil Melani yang sudah masuk ke area parkir bawah tanah, mobil Samuel juga tiba di area parkir, Dia melihat Melani memarkirkan mobilnya di salah satu tempat parkiran yang kosong. Samuel melihat ada tempat yang kosong, lalu, Dia memarkir mobilnya di tempat yang kosong juga.
__ADS_1
Jarak antara mobil keduanya berjauhan. Namun Samuel masih bisa melihat jelas Melani.
Samuel melihat Melani keluar dari dalam mobilnya, lalu berjalan sambil menenteng tas koper di tangannya , melangkah menuju lift yang ada di area parkiran bawah tanah rumah sakit itu.
Samuel cepat mematikan mesin dan mencabut kunci mobil, lalu, Dia segera keluar dari dalam mobil dan mengunci pintu mobilnya kembali.
Lalu, Samuel bergegas mengejar Melanj yang sudah berdiri menunggu di depan lift.
Tak berapa lama kemudian, pintu lift terbuka, Melani langsung saja masuk ke dalam lift, lalu, Dia menutup pintu lift, bertepatan dengan Samuel yang tiba di depan lift.
Samuel berdiri di depan lift, Dia melihat ke atas, ingin tahu, ke lantai berapa Melani perginya.
Untuk beberapa saat Dia berdiri menunggu di depan lift dan melihat pada nomor nomor lantai lift yang terus berubah, hingga pada akhirnya, nomor lift berhenti di nomor lantai 6.
Samuel akhirnya tahu, bahwa Jack berada di lantai 6 rumah sakit tersebut, Dia lantas menekan tombol lift, lalu berdiri menunggu.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka, dan Samuel langsung masuk ke dalam lift.
Setelah didalam lift, Dia menekan tombol nomor 6, pintu lift tertutup, dan lift mulai bergerak naik menuju ke lantai 6 rumah sakit. Samuel berdiri diam di dalam lift.
Melani berjalan santai sambil menenteng tas koper menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruang kamar ICU tempat Jack di rawat saat ini. Dia lantas berbelok ke kanan, lalu melanjutkan perjalanannya.
Samuel tiba di lantai enam, Dia cepat keluar dari dalam lift, lalu bergegas jalan menyusuri koridor lantai enam rumah sakit.
Matanya terus mengawasi seluruh ruangan koridor, sambil berjalan, Dia mencari cari dimana Melani dan dimana kamar tempat Jack di rawat.
Samuel menghentikan langkahnya di pertigaan koridor, Dia terlihat bingung, mau ke arah mana Dia melanjutkan langkahnya. Dia diam dan berfikir sesaat.
Saat Samuel hendak melangkah berbelok ke kanan koridor, tak sengaja Dia melihat Gerard yang baru saja keluar dari ruangan toilet umum yang ada di lantai enam tersebut.
"Itu Papah." Bathin Samuel.
Dia tersenyum senang karena tanpa susah payah Dia melihat dan bertemu Papahnya.
Diam diam Dia lalu mengikuti Gerard yang berjalan santai dan tak menyadari , jika Dia sedang di ikuti Samuel yang berjalan di belakangnya.
Gerard lalu berbelok ke kanan dan terus berjalan menyusuri koridor, hingga akhirnya Dia berhenti di depan sebuah ruang kamar.
Samuel yang mengikutinya dari belakang menghentikan langkahnya, Dia lalu bersembunyi di balik tembok pembatas koridor, melihat Gerard berhenti di depan sebuah ruangan kamar.
Dari tempat persembunyiannya Samuel melihat, Gerard bertemu dengan Zahara dan Melani yang baru saja datang membawa pakaian ganti buat mereka.
"Oh, ternyata di situ Jack di rawat." Bathin Samuel.
Samuel tersenyum licik, Dia lega, karena sudah menemukan kamar tempat Jack di rawat. Dia tetap bersembunyi dan berfikir, mencari cara untuk bisa menyelinap masuk ke dalam kamar dan membunuh Jack.
__ADS_1