
Di Hotel Kelas Mewah, Gerard menemui Karina, di dalam kamar hotel mereka menghabiskan waktu bersama, memadu kasih, mencurahkan segala nafsu mereka berdua.
Karina benar benar wanita yang pandai menyenangkan dan memberi kepuasan pada Pria, itu sebabnya, biar sudah memiliki istri seperti Zahara yang cantik, Gerard tetap saja berpaling dan tetap mendambakan Karina.
Gerard selalu membandingkan pelayanan Karina dan Zahara jika di atas kasur, Zahara tidak selihai dan sepandai Karina dalam bercinta dan memberikan kepuasan pada Gerard.
Karina tau, titik titik sensitif dan bagian tubuh Gerard yang mana saja yang sangat di sukai Gerard, jika Karina menyentuh bagian bagian sensitif pada tubuh Gerard, Gerard pasti merasa nikmat, dan sangat menyukainya.
Gerard juga sangat menyukai permainan ranjang Karina, Karina benar benar wanita yang bisa memuaskan hasrat Pria seperti gerard.
Jika sudah berhubungan badan dengan Karina, Gerard seringkali melakukannya berkali kali, tak ada puasnya, Dia tak ingin berhenti dan selalu ingin meniduri Karina, karena baginya, tubuh Karina penuh kehangatan dan kenikmatan yang tiada bandingannya.
Karina sangat tahu, apa saja yang bisa membuat Gerard senang dan terpuaskan jika mereka berhubungan badan, dalam melayani Gerard, Karina selalu berbuat maksimal, berusaha untuk memuaskan Gerard, dan itu sebabnya, Gerard tak ada puas puasnya, Dia selalu saja ingin meniduri Karina, bahkan, jika Dia sedang berhubungan badan, sering kali Dia membayangkan wajah Karina saat berhubungan intim dengan zahara, dengan begitu, hasrat nafsunya semakin terpacu dan liar, Zahara tak pernah tahu, jika setiap berhubungan badan Gerard selalu membayangkan dirinya sebagai Karina.
Seusai berhubungan badan dengan Karina, Gerard buru buru memakai pakaiannya kembali, sementara Karina masih rebahan diatas kasur dengan tubuh telanjang tanpa sehelai pakaianpun, Dia menutup tubuhnya dengan kain selimut yang ada di atas kasur.
"Mengapa Kamu seperti terburu buru? Bukankah Kamu sudah bilang, bahwa Kamu gak pulang malam ini?" ujar Karina, bertanya pada Gerard.
"Ya, memang, Zahara taunya Aku di bandung ada urusan pekerjaan." ujar Gerard.
"Lantas, apa yang membuatmu hendak pergi meninggalkanku?" tanya Karina.
"Aku harus menemui Kuncoro, Dia minta bertemu denganku malam ini, bahas soal surat wasiatku yang ada padanya." Jelas Gerard.
"Apa Kamu akan ke sini lagi setelah selesai urusanmu nanti?" tanya Karina.
"Ya, Aku pasti ke sini, tunggu saja." ujar Gerard.
"Baiklah." Jawab Karina.
"Satu hal yang Aku tegaskan padamu, Kamu harus bisa menjaga sikapmu jika di rumahku dan jika sedang bersama Zahara, jangan sampai Dia mengetahui, kalo kita masih berhubungan." Ujar Gerard, menekankan perkataannya pada Karina.
"Mengapa Kamu gak menceraikannya saja?" tanya Karina pada Gerard.
"Bukankah Kamu sudah gak mencintainya lagi? Dan cintamu itu hanya padaku saja ? Ceraikan saja Dia, lalu kita bisa menikah." Ujar Karina.
Karina berusaha mempengaruhi hati dan pikiran Gerard, agar mau menceraikan Zahara, Dia ingin, Gerard menjadi miliknya seutuhnya. Jika mereka sudah hidup bersama, mereka tak harus sembunyi sembunyi lagi jika bertemu, dan bebas melakukan apa saja berdua.
"Tidak semudah itu menceraikan Zahara." Tegas Gerard, sambil mengancingkan celana dan ritslitingnya.
"Kenapa?" tanya Karina heran.
"Kamu tentu ingat soal Edward ?" tanya Gerard pada Karina.
__ADS_1
"Iya, apa hubungannya dengan Edward? Bukankah Dia sudah mati terbunuh dalam penjara?" ungkap Karina.
"Zahara banyak tau tentang rencanaku melenyapkan Edward, Rahasiaku ada ditangan Zahara, Dia tau, siapa orang yang Aku suruh menghabisi Edward dalam penjara, dan Dia juga tau, Aku bekerja sama dengan siapa saat menyingkirkan Edward!" Jelas Gerard.
"Kamu kan juga bagian dari rencanaku dan juga Zahara? Kamu ambil bagian membuat anaknya Edward masuk ke rumah sakit jiwa dan menyatakan bahwa anaknya terganggu kejiwaannya." ungkap Gerard.
"Jadi, Kalo Zahara tau hubungan kita, atau Aku tiba tiba menceraikannya, Dia pasti akan membongkar semua rahasiaku itu, dan itu akan jadi masalah besar." Jelas Gerard.
"Kalo Zahara membongkar rahasiamu, Dia pasti akan terbawa juga, Dia kan ikut menjebak Edward dulu, bahkan Dia yang memberitahu, dimana Edward menyimpan dokumen dokumen tentang para petinggi perusahaannya yang korup, Dia juga yang menjebak Edward, lalu memanggil polisi dan menyuruhmu datang menangkap Edward." Jelas Karina.
"Jadi, mengapa Kamu harus takut padanya?" tanya Karina.
"Karena semua rencana itu atas perintahku, bukan Zahara sendiri yang punya ide. Dia hanya menjalankan semua perintahku!" Tegas Gerard.
"Aku tau, Zahara berselingkuh dengan Edward, bahkan mereka punya anak dari hasil hubungan gelap itu, saat itu, Aku mengancam Zahara, jika Dia gak mau menuruti kemauanku, Aku akan membunuh Dia dan anaknya!" Ungkap Gerard.
"Karena itu, Zahara bersedia melakukannya, jika tidak Aku ancam, Dia gak bakal mau menjebak Edward, karena Dia mencintai Edward." Lanjut Gerard.
"Aku tau, Zahara bimbang dan ada rasa bersalah pada Edward karena mengkhianatinya, dan Aku juga tau, Dia terpaksa melakukannya demi keselamatan nyawa anaknya." tegas Gerard.
"Jadi, Dia pasrah dan melakukannya, tapi Aku tau, Dia dendam dan marah padaku, Karena melibatkan Dia dalam menyingkirkan Edward." Ungkap Gerard.
"Aku sengaja menyingkirkan Edward dan menghabisinya, Karena sakit hati, sebab , Dia berselingkuh dengan Zahara, istriku. Bertahun tahun mereka melakukannya tanpa sepengetahuanku." Tandas Gerard.
"Kamu terlibat juga karena permintaanku, Aku menyuruh Zahara, merayu dan mempengaruhimu, agar Kamu bersedia melakukan pemeriksaan kejiwaan dan menjebak anak Edward." Ujar Gerard.
"Oh, begitu." ujar Karina.
Karina baru tahu, bahwa Gerardlah otak semua dari kejahatan yang mereka lakukan dulu kepada Edward, Bapak dari Astrid, Karina mengira, bahwa selama ini, Zahara yang memintanya, untuk menyingkirkan Astrid, anak Edward.
"Itu sebabnya, Aku berhati hati pada Zahara, Aku sedang mencari cara, bagaimana menyingkirkan Dia tanpa Dia harus membongkar rahasiaku." Jelas Gerard.
"Ya, Aku paham." Ujar Karina.
"Ya, sudah, Aku pergi dulu." ujar Gerard yang sudah rapi itu.
Gerard lantas mengecup dahi Karina, lalu bergegas keluar dari dalam kamar hotel yang luas dan megah itu, Karina masih terbaring berselimut diatas kasur, memandangi kepergian Gerard, Dia membiarkan pintu tertutup dan tak terkunci.
---
Mobil Astrid masuk ke halaman garasi rumahnya, lalu, Dia segera keluar dari dalam mobilnya.
Astrid berjalan santai menuju teras rumahnya, namun, langkahnya terhenti, saat melihat sosok Pria sedang duduk di kursi teras.
__ADS_1
"Samuel ?!" Ujar Astrid.
Astrid terkesiap kaget, Dia tak menyangka, Samuel ada di teras rumahnya dan seperti sedang menunggunya.
Mendengar suara Astrid, Samuel menoleh dan segera berdiri menyambut kedatangan Astrid.
"Hai Camelia." Sapa Samuel.
"Ngapain Kamu malam malam sendiri diteras rumahku?" tanya Astrid heran.
"Maaf, Kalo kehadiranku membuatmu kaget." ujar Samuel.
"Gak apa apa. Ada apa kamu ke sini?" tanya Astrid.
"Oh, itu, Aku ke sini cuma mau meminta nomor teleponmu saja. Tadi, pas kita ketemu, Aku lupa mintanya ke Kamu." ujar Samuel.
"Aku kira Kamu udah di rumah, pas Aku liat rumahmu kosong, Aku sengaja menunggu, lagian, Aku sedang jenuh di rumahku." jelas Samuel.
"Oalah Saam...kirain ada apa." Ujar Astrid tertawa kecil, Samuel nyengir.
"Mana Hapemu." Ujar Astrid.
Samuel cepat mengambil ponsel dari kantong celana dan memberikannya pada Astrid.
Astrid mengambilnya, lalu, Dia mulai menekan tombol angka di ponsel , memasukkan nomor ponsel miliknya ke dalam kontak telepon di ponsel Samuel.
"Ini, Sudah Aku simpan dan Aku namai." ujar Astrid.
Astrid memberikan ponsel pada Samuel yang lantas mengambil dan menyimpannya di dalam kantong celananya.
"Terima kasih ya." Ujar Samuel tersenyum senang.
Dia senang, karena sudah mendapatkan nomor telepon Astrid, dengan begitu , kapan saja Dia ingin mengajak Astrid bertemu, Dia bisa menghubungi melalui ponselnya.
"Kamu gak buru buru kan? Masuklah dulu, kebetulan, Aku beli makanan siap saji tadi, kita makan bersama di dalam rumahku, mau kan?" ujar Astrid.
"Oh, Okay." Angguk Samuel tersenyum.
Astrid sengaja mengajak dan mengundang Samuel masuk ke dalam rumahnya dan makan bersama, agar Dia bisa lebih dekat dan lebih banyak tahu tentang Samuel. Dia ingin mendapatkan informasi jelas tentang sosok Samuel dan juga keluarganya.
Samuel dengan senang hati menerima ajakan Astrid untuk makan bersamanya, hitung hitung seperti kencan pertama, lagi pula, Dia memang sedang suntuk di rumah.
Samuel masih membawa rasa marah dan kesalnya, karena Dia belum juga bisa menemukan dimana Sulis berada, sementara Dia sangat butuh berkas dokumen berisi warisan dari papahnya.
__ADS_1
Samuel berharap, Dia bisa mendapatkan berkas tersebut, agar bisa merubahnya, dan sekaligus menghentikan Jack , agar gagal menjadi ahli waris tunggal, untuk bisa mendapatkan harta kekayaan dan perusahaan Papahnya.