Destroy

Destroy
Cerita Masa Lalu Edward


__ADS_3

Lampu di atas ruangan operasi mati, akhirnya, setelah menunggu hingga 6 jam lebih, operasi Marwan selesai juga .


Patrick yang masih menunggu di ruang tunggu dekat dengan ruangan operasi langsung berdiri dari duduknya di bangku tunggu setelah melihat lampu ruang operasi mati.


Alex dan Astrid yang juga masih ada dan menemani Patrick juga ikut berdiri, Alex dan Astrid berdiri disamping Patrick, menunggu Dokter yang mengoperasi Marwan keluar dari dalam ruang operasi.


Tak berapa lama, Pintu ruang operasi terbuka, lalu, keluar sang Dokter dari dalam ruangan operasi tersebut. Patrick bersama Alex dan Astrid langsung mendekati sang Dokter .


"Bagaimana Dok?" Tanya Patrick, dengan wajah cemasnya bertanya pada Sang Dokter.


"Operasi berjalan lancar ." Ucap Sang Dokter dengan sikap tenangnya.


"Oh, syukurlah." Ucap Patrick.


Patrick lega setelah mendengar dari Dokter bahwa operasi Marwan berjalan lancar .


"Untuk sementara waktu, Pasien akan dirawat di ruang ICU, dan belum boleh di kunjungi siapapun, sampai nanti Saya mengizinkan pasien untuk di kunjungi ." Ujar Sang Dokter, memberi penjelasan pada Patrick.


"Oh ya, baiklah Dok. " Ujar Patrick.


"Maaf, Saya tinggal dulu ya." Ujar Dokter, pamit pada Patrick.


"Ya, Dok. Terima kasih." Ucap Patrick.


Sang Dokter tersenyum ramah pada Patrick dan juga Alex serta Astrid. Lalu sang Dokter berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.


Patrick menghela nafasnya dan mengusap wajahnya, Dia sangat lega dan sudah bisa sedikit tenang, setelah Marwan selesai di operasi.


"Mudah mudahan kondisinya semakin baik, dan cepat pulih." Ucap Alex, pada Patrick.


"Ya, Lex." Angguk Patrick.


"Kalo gitu, Aku dan Astrid pulang dulu, Trick, nanti Aku kabari Kamu kalo mau datang ke sini lagi." Ujar Alex pada Patrick.


"Ya, Untuk sekarang, Aku masih di sini, sekalian mau mengurus biaya administrasi dan lainnya dirumah sakit ini." Ujar Patrick.


"Gak usah, biar sekalian nanti Aku yang ngurusnya, sebelum pulang Aku akan mampir ke bagian administrasi rumah sakit ini." Ujar Alex.


"Oh, terima kasih Lex." Ucap Patrick, menatap lekat wajah Alex.


"Kalo perlu apa apa, kabari Aku ya." Ujar Alex lagi.


"Ya." Angguk Patrick.


"Aku pulang." Pamit Alex.


"Aku juga pulang dulu ya , Trick." Ucap Astrid pada Patrick.


"Ya, terima kasih karena kalian berdua udah datang ke sini nemani Aku." Ujar Patrick.

__ADS_1


"Santai aja, Trick. " Ucap Alex.


Patrick dan Alex sangat akrab sebagai saudara kandung, mereka bukan saja seperti saudara, tapi terlihat juga seperti sahabat saja .


Astrid senang melihat keakraban antara Alex dan Patrick tersebut.


Alex dan Astrid lantas berjalan pergi meninggalkan Patrick, Patrick yang masih berdiri itu melihat kepergian Alex dan Astrid.


Patrick lalu menghela nafasnya, Dia kemudian melangkah dan duduk kembali di bangku tunggu dekat ruangan operasi.


Tak lama kemudian, pintu terbuka lebar, lalu, keluar tiga orang perawat dan dua suster dari dalam ruang operasi. Perawat mendorong brankar dorong yang diatas ranjangnya ada Marwan.


Patrick langsung berdiri melihat Marwan dibawa pergi oleh perawat dan Suster, Patrick langsung saja mengikuti mereka. Patrick tahu, Marwan dibawa karena Dia akan dipindahkan ke ruangan kamar ICU, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut lagi .


 


Keesokan harinya, Astrid sedang menonton berita di televisi, di temani Antoni dan juga Edward. Mereka berkumpul di ruang tengah , Paviliun milik Alex. Tak ada Alex bersama mereka .


Di televisi saat ini sedang ditayangkan siaran langsung pembebasan salah satu pejabat yang di tangkap Marwan dan Patrick.


Seperti dugaan Patrick, karena Marwan mengalami kecelakaan, dan tak bisa melanjutkan penyidikan serta menjalani sidang di pengadilan untuk menuntut pejabat itu, akhirnya, pejabat itu dibebaskan dari semua tuduhan yang di limpahkan padanya.


" Sebagai Pengusaha sukses dan Walikota, Saya gak akan pernah melakukan perbuatan ilegal, atas tuduhan kepada Saya yang tak terbukti, Saya memaafkan pihak kejaksaan dan kepolisian yang sudah salah menangkap Saya." ujar pejabat itu memberi pernyataan pada para wartawan yang mewawancarainya .


Astrid terdiam menatap wajah pejabat yang memberi pernyataan secara langsung ditelevisi, dihadapan para awak media cetak dan media surat kabar, Astrid geram melihatnya, Astrid marah, karena pejabat itu di bebaskan dari segala macam tuduhan yang di sematkan padanya oleh Patrick dan juga Marwan sebagai Jaksa penuntut yang menangkapnya .


"Papah kenal sama Dia?" Tanya Astrid.


"Ya, Sangat kenal, dulu, Papah banyak membantunya saat Dia pertama kali menjalani bisnisnya, hingga sukses, setau Papah, ini periode kedua baginya menjabat sebagai Walikota." Ujar Edward, menjelaskan pada Astrid.


"Apa Dia juga salah satu yang berusaha menyingkirkan dan memfitnah Papah?" Tanya Astrid.


"Ya, Dia salah satu orangnya. Papah punya banyak bukti tentang siapa saja yang melakukan korupsi, penggelapan dana negara, pencucian uang, bahkan menjadi bandar serta investor judi online." Tegas Edward.


"Dan bukti bukti itu sebagian sudah Papah berikan padamu sebagian lagi, masih Papah titip ke Alex , untuk menyimpannya." Ujar Edward.


"Ya, Astrid udah liat, makanya Astrid tau, siapa saja orang orang yang terlibat dalam usaha menyingkirkan Papah dulu." Ujar Astrid, menatap serius wajah Papahnya .


"Papah dulu menegur mereka, meminta agar mereka menghentikan semua tindak kejahatan mereka, jika tidak, Papah bilang, Papah gak akan mau lagi menanamkan modal menjadi investor dan pemegang saham diperusahaan mereka, karena Papah gak mau ikut terlibat dalam tindak kejahatan mereka." Ujar Edward.


"Papah beri peringatan, bahwa Papah akan membongkar kejahatan mereka dan melaporkannya ke pihak kepolisian." lanjut Edward.


"Itu sebabnya, mereka sekongkol mau menyingkirkan Papah, lantas mereka membuat fitnah keji pada Papah ?" Ujar Astrid.


"Ya, dulu, ledakan bom di pesawat itu sudah di atur, karena didalam pesawat ada musuhnya Gerard, Dia berteman baik sama Papah, dan Kami berdua berencana mengungkap kejahatan mereka semua, termasuk kejahatan Gerard yang menjual aset negara, itu sebabnya Dia dibunuh." ujar Edward.


"Mereka sengaja memasang bom dalam pesawat, sehingga teman Papah itu mati, lalu, tiba tiba saja, mereka menuduh Papah sebagai pelaku yang mengebom pesawat, Papah dituduh sudah menghabisi nyawa teman Papah itu dan juga banyak orang dalam pesawat ." ungkap Edward.


"Kenapa bisa Om yang dituduh?" Tanya Antoni, menatap wajah Edward serius, karena Dia ingin tahu.

__ADS_1


"Karena mereka sudah punya rencana untuk menyingkirkan Om, makanya mereka memfitnah." ujar Edward, menjelaskan pada Antoni.


"Mudah bagi mereka memalsukan bukti bukti, mereka membuat semua bukti itu tertuju pada Om, sehingga Om ditangkap dan dijebloskan dalam penjara, dengan tuduhan korupsi menggelapkan uang negara dan sebagai pelaku pengeboman pesawat." Ungkap Edward.


"Keji sekali mereka." Ucap Antoni geram .


Astrid hanya diam saja mendengar penjelasan Papahnya, karena Dia sudah tahu dengan semua cerita Papahnya itu, sebab, Dia sudah pernah membaca surat Papahnya saat baru bebas dari penjara, dan dalam suratnya, Papahnya menjelaskan sama persis seperti yang sekarang Dia ceritakan pada Antoni .


"Mereka itu dari berbagai macam kalangan, mereka berada dalam kelompok organisasi yang sama, ada pejabat dewan legislatif, pengusaha dari berbagai profesi, Polisi, Jaksa, Hakim, pengacara, dan banyak lagi. " Ungkap Edward.


"Dan Gerard tangan kanannya , Dia salah satu orang terkuat dan di segani dalam kelompoknya, karena Gerard, orang kepercayaan pimpinan mereka." Ujar Edward, menjelaskan pada Astrid dan juga Antoni.


"Papah tau, dimana tempat kelompok mereka kalo berkumpul?" Tanya Astrid.


"Papah gak tau, karena, jika Pimpinannya mau membahas sesuatu, mereka selalu berkumpul ditempat tempat yang berbeda, sehingga Papah gak tau dimana markasnya." Ujar Edward pada Astrid.


"Tapi Papah tau kan siapa Pimpinannya?" Tanya Astrid.


"Ya, Papah tau, Dia orang dekat Papah, dan Papah tau, Dia sangat benci Papah, dan memang ingin menguasai harta kekayaan Papah, juga ingin mengambil semua perusahaan milik Papah." Ungkap Edward, memberi penjelasan pada Astrid.


"Itu sebabnya, setelah Dia tau kalo Papah menyimpan bukti bukti penting atas kejahatan anggota kelompok organisasinya, Dia lalu membuat rencana untuk menyingkirkan Papah selamanya, agar Dia dan anggota bisa tetap menjalankan kejahatan mereka ." Ungkap Edward.


"Setelah berhasil menyingkirkan Papah, pimpinan mereka itu langsung mengambil harta dan juga semua perusahaan Papah, Dia menguasai semuanya. Hanya sebagian kecil yang masih bisa Papah selamatkan dan Papah berikan ke kamu ." Ujar Edward.


"Ya, Alex yang memberinya padaku." Jawab Astrid.


"Karena Papah minta tolong pada Alex, saat Alex berkunjung ke penjara menemui Papah." Ujar Edward.


Astrid diam dan mengangguk mengerti dengan penjelasan Papahnya itu .


"Siapa orangnya yang jadi pimpinam itu, Pah?" Tanya Astrid.


Astrid menatap tajam wajah Papahnya, Dia ingin, Papahnya memberitahukan siapa nama pimpinan organisasi Gerard itu.


Sebab, sudah sangat lama Astrid penasaran dan berusaha mencari , tapi Dia tak juga bisa menemukan keberadaan pimpinan itu, dan Dia tak bisa melacak keberadaan pimpinan organisasi kelompok Gerard itu.


Mendapat pertanyaan Astrid, Edward tersenyum kecil menatap wajah Astrid yang duduk di sofa, disampingnya itu.


"Belum saatnya Kamu tau siapa orangnya." Ujar Edward, tersenyum kecil pada Astrid.


"Memang kenapa Pah?" Tanya Astrid heran menatap lekat wajah Papahnya.


"Nanti, setelah Papah menemui orang yang menjadi pemimpin organisasi kelompok Gerard, Papah akan memberitaunya padamu." Ujar Edward.


Astrid terdiam, Dia kecewa, karena Papahnya tak mau memberitahu sekarang juga, padahal Astrid sudah tak sabar dan ingin segera tahu, siapa pimpinan itu.


Jika Dia sudah tau siapa orangnya, Dia tinggal melacak keberadaannya dengan bantuan Alex .


Tapi, karena Papahnya belum mau memberitahu saat ini, Astrid berfikir, bahwa Dia harus mencari tahu sendiri tentang sosok pemimpin itu .

__ADS_1


__ADS_2