
Astrid dan Antoni masih terus memberi perlawanan sengit pada ke empat orang berpakaian hitam dan memakai masker serta penutup wajah.
Dua orang terus menyerang Astrid, mereka berusaha untuk bisa membuat Jatuh Astrid.
Pada satu kesempatan, Astrid lengah, saat berbalik untuk menghindari tendangan, salah seorang yang menjadi lawan Astrid berhasil melukai punggung Astrid.
Astrid terjajar kebelakang, Dia memegangi punggungnya yang terluka dan berdarah.
Antoni melihat Astrid terluka, dan mulai terpojok dengan kedua orang yang menjadi lawannya, Antoni mengamuk, menyerang membabi buta, Dia menyerang dua orang yang menjadi lawannya, dan Antoni berhasil mengalahkan kedua orang itu.
Kedua orang yang menjadi lawan Antoni terjatuh ke lantai halaman rumah Astrid, lalu, Antoni melompat dan melindungi Astrid, Dia membantu Astrid melawan dua orang yang menjadi lawan tarungnya.
Hingga pada akhirnya, kedua orang itu berhasil dikalahkan Antoni dan Astrid.
Lantas, keempat orang tersebut cepat lari dan kabur meninggalkan Antoni dan Astrid. Mereka kalah, dan tak mau jadi bulan bulanan pukulan Antoni yang ternyata sangat tangguh dalam hal ilmu bela diri.
Antoni dan Astrid tak mengejar ke empat orang yang sudah lari menjauh dengan menggunakan mobilnya.
Antoni membiarkan saja mereka kabur, Dia lebih focus pada Astrid yang terduduk lemas di teras rumahnya, sambil memegangi lengan tangannya yang tergores dan berdarah serta punggungnya yang juga terluka.
Antoni mendekati Astrid, Dia duduk di samping Astrid dan melihat luka di lengan tangan dan punggung Astrid.
"Luka di punggungmu cukup lebar dan panjang, Kamu harus kerumah sakit, agar cepat di obati dan lukamu di jahit." Ujar Antoni, menatap khawatir wajah Astrid yang lemas karena kelelahan bertarung itu.
"Aku gak apa apa, Kok. Biar Aku obati sendiri, di dalam rumahku ada obat obat luka." Ujar Astrid, sambil meringis menahan luka di punggungnya.
"Ya, sudah, mari Aku bantu ngobati luka lukamu." Ujar Antoni.
"Ya." Angguk Astrid.
Lalu, Antoni membantu Astrid berdiri, lalu, Dia memapah Astrid, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah Astrid.
Antoni membantu Astrid duduk di sofa ruang tamu rumahnya, lalu, Antoni berdiri disamping Astrid.
"Dimana Kotak obatnya Kamu simpan?" tanya Antoni, menatap wajah Astrid yang kelelahan itu.
"Di dapur, aku taruh di atas kulkas." Ucap Astrid.
"Aku ambil." Ucap Antoni.
Antoni bergegas jalan ke dapur dan mengambil kotak obat di atas kulkas, lalu, Dia segera kembali menghampiri Astrid dengan membawa kotak obat ditangannya.
Antoni meletakkan kotak obat di atas meja, lalu, Antoni langsung saja mulai mengobati luka di lengan tangan Astrid.
Sebelum memberikan obat luka, terlebih dulu Antoni membersihkan luka dengan air alkohol yang ada dalam kotak obat tersebut.
Setelah dibersihkan, luka di olesi obat sama Antoni, lalu, Antoni membalutnya dengan kain perban.
Kemudian, Antoni bergerak ke belakang Astrid, Dia membersihkan luka di bagian punggung Astrid dengan kapas yang sudah di beri air alkohol.
Lalu, Antoni mengoleskan obat luka di bagian yang terluka. Saat Dia membubuhkan obat luka , Dia tak sengaja melihat ada tanda lahir Astrid di bawah tengkuk lehernya.
Antoni terdiam sesaat, matanya menatap pada tanda lahir di bagian tengkuk leher Astrid.
__ADS_1
Tiba tiba saja, Dia ingat dengan Astrid , teman masa kecilnya, yang juga memiliki tanda lahir di bagian tengkuk lehernya, dan Antoni dulu melihat tanda lahir Astrid kecil saat mereka bermain main di tepi sungai dan ditemani Bapak Astrid, Edward.
"Kenapa diam?" tanya Astrid.
Astrid heran, karena Antoni tiba tiba diam dan tak melanjutkan tugasnya mengobati Astrid.
Antoni tersadar dari lamunannya, karena Astrid menegurnya. Dia lantas berusaha bersikap biasa saja.
"Ah, nggak, nggak apa apa kok." Ujar Antoni.
Antoni lantas membubuhkan obat luka di punggung Astrid yang terluka karena kena sayatan pisau dari orang yang menyerangnya.
Lalu, Antoni membalut luka dengan kain perban.
Setelah selesai mengobati luka luka Astrid, Antoni menyimpan obat obatan ke dalam kotak obat dan menutup kotak obat tersebut.
Antoni lalu duduk di sofa, yang ada di hadapan Astrid, Astrid melihat lengan tangannya yang sudah di perban.
"Terima Kasih Antoni, sudah menolongku." Ucap Astrid, menatap wajah Antoni.
"Ah, iya. Kebetulan, Aku tadi baru pulang kerja, terus liat ada orang yang mencurigakan pegang pisau lari ke arah rumahmu, langsung saja Aku datang ke sini buat memastikan, apa yang akan mereka lakukan padamu." Ungkap Antoni.
"Pas Aku liat Kamu di keroyok empat orang, Aku langsung membantumu, Aku gak mau mereka mengeroyokmu." Ujar Antoni, menatap wajah Astrid yang duduk di hadapannya itu.
"Ya. Kalo Kamu gak ada, mungkin mereka berhasil membunuhku." Ujar Astrid, dengan suara lemah, karena masih kelelahan.
"Apa Kamu tau siapa mereka?" tanya Antoni pada Astrid.
"Aku gak bisa liat wajah mereka, jadi Aku gak tau siapa mereka yang menyerangku." Ujar Astrid.
Dan setelah Gerard mengancam , muncul keempat orang tersebut yang menyerang dan berusaha membunuh Dia.
Hanya, Astrid tak mau mengatakan pada Antoni, kalau Dia tahu, siapa yang menyuruh ke empat orang tersebut.
Dia tak mau melibatkan Antoni dalam masalah Dia, cukup Dia saja yang tahu. Astrid tak ingin, Antoni, teman masa kecil yang dulu di sukainya mendapatkan masalah, karena ikut campur dalam urusan Dia.
"Apa mereka tadi itu ada hubungannya dengan Pak Gerard?" Ujar Antoni bertanya lagi.
Astrid terkesiap kaget mendengar pertanyaan Antoni, namun, cepat Astrid menguasai dirinya agar Antoni tak melihat Dia kaget.
Astrid terdiam sesaat, Dia tak menyangka, jika Antoni menebak dengan benar, dan menduga ini semua perbuatan Gerard.
"Kenapa Kamu berfikir begitu?" Tanya Astrid, menatap wajah Antoni .
Astrid bertanya, karena ingin mendengar penjelasan Antoni, mengapa Dia menyimpulkan bahwa semua itu ada hubungannya dengan Gerard.
"Waktu itu, jujur, Aku melihat Gerard datang ke rumahmu, lalu Aku bersembunyi disamping pagar rumahmu, Aku mau tau, apa yang dilakukan Gerard dirumahmu malam malam." Jelas Antoni.
"Aku mendengar semua dengan jelas apa yang di katakan Gerard kepadamu." Ungkap Antoni.
"Kamu mendengar semuanya?!" Astrid terkesiap kaget, Dia menatap tajam wajah Antoni.
Astrid syock, jika Antoni mendengar perkataan Gerard, itu artinya, Antoni juga sempat mendengar dari mulut Gerard, bahwa Dia sebenarnya Astrid, dan bukan Camelia.
__ADS_1
Dan jika benar Antoni mendengar Gerard menyebut namanya sebagai Astrid, itu artinya, Antoni, teman masa kecilnya itu sudah mengetahui siapa Dia yang sebenarnya .
Astrid menghela nafasnya, lalu, Dia menatap wajah Antoni yang duduk di hadapannya.
"Apa yang Kamu dengar dari Gerard, sehingga Kamu menilai, Kalo ke empat orang itu ada hubungannya dengan Gerard." ujar Astrid, bertanya pada Antoni.
"Aku sempat dengar, walau terlihat berbisik, tapi, suara Gerard masih bisa Aku dengar jelas, Dia mengancam akan membunuhmu, intinya begitu." ujar Antoni.
"Setelah itu, datang ke empat orang menyerangmu, makanya, Aku menyimpulkan ini ada hubungannya dengan Gerard." Ujar Antoni.
"Entahlah, Aku gak tau." Ucap Astrid, sambil menghela nafasnya.
Astrid tak mau mengatakan, bahwa penilaian Antoni benar, ke empat orang tersebut memang pasti suruhannya Gerard, karena , selain Gerard dan keluarganya , Dia tak punya musuh lain.
"Apa Kamu ada masalah dengan Gerard, sehingga Dia mengancammu waktu itu?" Ucap Antoni, bertanya pada Astrid.
"Masalahnya rumit, Kamu gak bakal ngerti kalo Aku ceritakan." Ujar Astrid.
Astrid tak mau berkata jujur pada Antoni, Dia tetap memilih merahasiakannya dari Antoni.
"Baiklah. Hanya, setelah kejadian ini, Kamu harus lebih berhati hati lagi." Ujar Antoni.
"Ya." Angguk Astrid.
"Sepertinya, rumah Kamu sudah gak aman, Lebih baik, Kamu mengungsi dan jangan tinggal di sini untuk sementara waktu, karena Aku yakin, mereka akan datang lagi untuk menyerang, bahkan berusaha membunuhmu." Ujar Antoni, menatap tajam wajah Astrid.
"Aku bisa menjaga diriku." ujar Astrid.
"Bagaimana bisa Kamu melindungi dirimu , jika mereka datang dengan membawa banyak orang dan mengeroyokmu lagi?" Ujar Antoni.
"Jika Kamu mau, Kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu sampai semuanya aman." Ujar Antoni.
"Rumahku memang kecil, tapi cukup nyaman buat tempat tinggal." Lanjut Antoni.
Antoni khawatir pada Diri Astrid, karena itu Dia mengajak Astrid agar tinggal di rumahnya untuk sementara waktu, karena, Dia khawatir, jika Astrid tetap dirumah yang ditempati Astrid sekarang, nyawanya akan semakin terancam.
"Terima Kasih, Aku gak mau merepotkanmu, Antoni." Ujar Astrid.
"Hmm...Baiklah, kalo itu mau Kamu, Aku gak bisa memaksa, hanya bisa menyarankan saja." ujar Antoni.
"Ya. Terima kasih sekali lagi." Ucap Astrid, tersenyum manis pada Antoni.
"Ya, sama sama. Aku pulang dulu." Ujar Antoni.
"Ya." Angguk Astrid.
Antoni lantas berdiri dari duduknya di sofa, Astrid juga ikut berdiri, Antoni lantas berjalan keluar dari dalam rumah di ikuti Astrid yang mengantarkannya keluar rumah.
Saat diteras rumah, Antoni menghentikan langkahnya, lalu, Dia berbalik badan dan menatap Astrid yang ada di sampingnya.
"Aku pulang, Astrid." Ujar Antoni, menatap lekat wajah Astrid.
Betapa terkejutnya Astrid, saat Antoni pamit dan mengucapkan nama Dia, Astrid terkesiap, karena sebelumnya, Dia mengaku namanya Camelia pada Antoni, dan sekarang, Antoni malah memanggil namanya "Astrid".
__ADS_1
Seketika Astrid terdiam di tempatnya, lidahnya kelu, Dia syock, mendengar Antoni menyebut nama Dia yang sebenarnya .