Destroy

Destroy
Bayangan dibalik Horden Jendela


__ADS_3

Zahara menatap sinis wajah Gerard yang berdiri dihadapannya tersebut.


"Jika benar apa yang sudah Kamu katakan, lantas siapa yang telah membunuh Karina dan juga Peter diluar sana?!" tanya Gerard, menatap lekat wajah Zahara.


Zahara hanya diam saja, Dia tak bereaksi dan tak menjawab pertanyaan Gerard, Zahara terus menatap geram wajah Gerard, ada kebencian dan rasa jijik dalam diri Zahara melihat Gerard.


Gerard tahu, Zahara marah besar padanya dan pasti merasa kecewa serta sakit hati karena melihat Dirinya bersama Karina di villa tersebut.


Gerard menghela nafasnya dan menatap lekat wajah Zahara yang masih diam menahan geram dan amarahnya itu.


"Kamu mau membunuhku? Bunuhlah ! Bunuh saja Aku!!" Ucap Gerard, menatap tajam wajah Zahara.


Gerard mengatakan hal itu, sebab Zahara masih saja mengarahkan pistol ditangannya pada wajah Gerard, sehingga Dia berfikir, bahwa Zahara ingin menembak dan membunuhnya saat ini juga.


Zahara tersenyum sinis menatap wajah Gerard, Dia tertawa sinis pada Gerard.


"Gak semudah itu Kamu mati di tanganku Gerard, sebelum kematianmu, Aku akan menghancurkan dirimu terlebih dulu." Ucap Zahara geram.


Gerard terdiam mendengar ancaman yang keluar dari mulut Zahara, karena pandangannya terus tertuju pada Zahara dan pistol yang mengarah ke wajahnya, Gerard tak sadar dan tak melihat ada tulisan berlumuran darah di dinding tembok villa, didekat Zahara berdiri. Tulisan itu sedikit tertutup oleh badan Zahara, sehingga tak terlihat jelas.


"Atas perbuatan hinamu, Kamu harus mendapat hal yang setimpal Gerard, Aku akan membuatmu terhina dihadapan orang orang." Ancam Zahara, menatap geram wajah Gerard.


"Aku gak takut dengan ancamanmu." Tegas Gerard, menentang Zahara.


Zahara tersenyum sinis menatap wajah Gerard, amarahnya sudah semakin menggebu gebu, namun, Dia berusaha menahan dirinya , Dia tak mau membunuh Gerard, karena Dia punya rencana lain buat Gerard nantinya.


"Karena Kamu lebih memilih wanita murahan sang benalu itu dari padaku, maka, Aku akan menceraikanmu !!" Tegas Zahara menatap tajam wajah Gerard.


"Aku akan mengurus perceraian kita dan segala macam harta gono gininya." Lanjut Zahara.


"Dan ingat Gerard ! Atas pengkhianatanmu padaku, Aku akan membalas perbuatanmu itu, Kamu akan hancur !!" Tegas Zahara.


"Rahasiamu ada ditanganku, begitu Aku buka, hancurlah Kamu!!" Ancam Zahara.


Zahara tersenyum sinis, lalu menurunkan pistol ditangannya, kemudian, Dia berbalik badan dan hendak pergi meninggalkan Gerard.


Namun, baru satu langkah Dia berjalan, Zahara menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Gerard yang berdiri diam terpaku ditempatnya itu.


Gerard syock mendengar bahwa Zahara akan menceraikannya, ada rasa cemas juga dalam dirinya, Dia takut, Zahara benar benar akan membongkar rahasia kejahatan dirinya.


"Oh, ya Gerard. Kamu mau tau siapa yang membunuh wanita penghiburmu itu? " Tatap Zahara sinis.


Gerard tersentak dan langsung menatap wajah Zahara yang menatapnya sinis itu.


"Bacalah pesan di dinding tembok itu, mudah mudahan Kamu tau siapa yang menulisnya dan siapa yang membunuh Karina." Ujar Zahara tersenyum sinis.


Zahara lantas berbalik dan segera pergi meninggalkan Gerard yang masih berdiri terdiam ditempatnya.


Dia menoleh dan sekilas melihat Zahara yang sudah berjalan keluar dari dalam ruangan Villanya.

__ADS_1


Gerard lalu menoleh pada dinding tembok yang di tunjuk Zahara, Dia kernyitkan keningnya dan merasa heran, melihat tulisan di dinding tembok.


Lalu, Gerard berjalan mendekat, Dia terhenyak dan terdiam di depan dinding tembok, kedua matanya menatap pada tulisan yang bertinta darah.


Betapa syock dan kagetnya dirinya setelah membaca pesan yang berisi peringatan dan ancaman itu.


"Astrid ?!!" Gumamnya.


Dari bunyi pesan peringatan dan ancaman Dia tahu, bahwa yang menulis pastilah Astrid, anaknya Edward, Pikirnya, Astrid pasti sengaja datang membunuh Karina untuk menuntut balas lalu menuliskan pesan ancaman yang ditujukan pada dirinya dan juga komplotannya serta Zahara.


Gerard terhenyak syock, seluruh tubuhnya tiba tiba lemas, Dia tak kuat berdiri lama, lalu, Gerard terduduk lemas di lantai.


Sama sekali Dia tak menyangka, jika ternyata Astrid, anaknya Edward mengetahui tempat persembunyian Karina, dan datang ke villa miliknya lalu membunuh Karina dan juga Peter.


Gerard marah, Setelah mengetahui, bahwa Astridlah yang telah membunuh Karina, wanita yang sangat di sayangi dan di cintainya itu.


"Aaaaassssttttrrrriiiiddd !!" Teriaknya sekencang kencangnya, melampiaskan amarahnya.


Di luar Villa, dalam mobilnya, Zahara tersenyum sinis mendengar suara teriakan Gerard yang keras dan melengking itu.


Zahara tahu, Gerard pasti sudah membaca tulisan bertinta darah di dinding tembok, Dan Gerard pasti sudah bisa menebak bahwa yang membunuh Karina adalah Astrid, anak Edward. Sebab Gerard berteriak marah.


Zahara lantas menjalankan mobilnya, Dia pun kemudian pergi meninggalkan Villa dan membiarkan Gerard sendirian di dalam Villa tersebut.


Didalam Villa, Gerard masih terduduk lemas, Dia menangisi kematian Karina.


"Maafkan Aku Karina, Maafkan Aku, Aku pergi terlalu lama, sehingga gak bisa menjaga dan melindungimu, maafkan Aku." Ujarnya, sambil menangis tersedu sedu.


"Astrid, Aku akan membalas perbuatanmu ini, Aku akan mencarimu dan akan membunuhmu !!" Ujar Gerard, dengan raut wajah yang penuh amarah.


Darahnya bergejolak dalam jiwanya, Dia sudah tak bisa lagi menahan kemarahannya pada Astrid. Setelah Astrid membunuh anak buahnya dan juga temannya Ishadi, kini Astrid berulah lagi dengan membunuh Karina.


Untuk itu Gerard tak akan membiarkan Astrid, Dia akan mengerahkan segala macam kekuatannya untuk mencari dan memburu Astrid, lalu membunuhnya.


Di jalan raya, Zahara menyetir mobilnya dengan tenang, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sambil menyetir mobil, Dia menoleh pada jok yang ada disampingnya.


Diatas jok depan mobil tergeletak sebuah tas, dan tas itu milik Karina. Saat Zahara pergi dari Villa, Dia menyempatkan diri masuk ke dalam mobil Peter yang sudah mati. Dia berniat mengambil ponsel Peter, dan bermaksud membuang ponsel tersebut, agar tak ada yang menemukan ponsel itu.


Sebab, jika ada yang menemukannya, atau polisi yang menemukan ponsel Peter, dan melihat riwayat panggilan telepon, pastilah Polisi akan mencurigai dirinya terlibat dalam kematian Peter dan juga Karina.


Zahara tak ingin mendapatkan masalah, karena itu Dia memeriksa mobil Peter dan mengambil ponsel Peter.


Saat Dia mengambil ponsel dari dalam mobil, Dia melihat sebuah tas tergeletak di jok depan, Zahara lalu segera mengambil dan membawa pergi tas tersebut.


Sebelum Dia pergi, Dia sempat melihat tas itu, dan Dia tahu, bahwa tas itu milik Karina.


Tas Karina ada pada Peter, karena sebelumnya, Peter mengambil tas tersebut, saat Dia mengejar Karina dan mau membunuhnya beberapa waktu lalu, Dan Karina yang lari menjatuhkan tas nya, lalu diambil dan di simpan Peter. Memang Peter berniat akan memberikan tas milik Karina pada Zahara, namun, Dia keburu mati terbunuh.


Dan tas itu sekarang ada ditangan Zahara, Dia sendiri yang menemukan tas tersebut didalam mobil Peter lalu membawanya pergi.

__ADS_1


Zahara membawa tas Karina, karena Dia berencana ingin memeriksa isi yang ada didalam tas Karina tersebut. Apakah ada sesuatu hal yang disimpan Karina dalam tas, dan masih ada hubungannya dengan Gerard atau tidak.


Zahara terus menyetir mobilnya, mobil melesat dijalan raya, melewati kendaraan kendaraan yang juga ada dijalanan tersebut.


---


Sementara itu, di rumahnya, Astrid terlihat baru saja selesai mandi, Dia sudah pulang dari Villa, dan sesampainya dirumah, Dia langsung membersihkan dirinya karena ada bercak bercak darah yang menempel diwajah dan tubuh serta pakaiannya, darah darah itu menciprat mengenai dirinya saat Dia menggorok leher Karina di dalam Villa.


Astrid duduk santai di kursi , Dia menyeruput juice yang ada diatas meja. Lalu, Dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja, dan segera menelpon.


Beberapa saat Astrid diam menunggu panggilan teleponnya diterima.


"Ya, Hallo." Terdengar suara Alex , dari seberang telepon.


Alex yang di telepon Astrid, Dia baru sempat memberi kabar pada Alex. Sesuai janjinya, jika misinya selesai, Dia akan menghubungi Alex.


"Misi selesai, aman terkendali." Ujar Astrid, bicara diteleponnya sambil tersenyum senang.


"Sukses buatmu." Jawab Alex dari seberang telepon.


"Tinggal mengurus yang lainnya, Lex." Ucap Astrid, diteleponnya.


"Ya, persiapkan dirimu untuk langkah selanjutnya." Ujar Alex, dari seberang telepon.


"Oh ya, Patrick juga sudah mulai bergerak, Dia bersama timnya menggerebek semua tempat lokasi perjudian online, dan menangkap bandar bandar judi serta pemilik judi online. " Ujar Alex, memberi tahu Astrid.


"Ohya ?!!" Ujar Astrid, dengan raut wajah senangnya.


Dia senang, ternyata Patrick mendengarkan apa yang dikatakannya dan mengusut kasus yang Dia berikan pada patrick, Dia senang karena Patrick mulai bergerak dan berani mengambil tindakan menangkapi gembong gembong mafia perjudian online.


"Berita penangkapan itu pasti geger, media media pasti akan menyiarkan dan mengabarkannya secara terus menerus, karena melibatkan para pejabat petinggi negara." Ujar Alex, dari seberang telepon.


"Dan Aku yakin, Aksi Patrick pasti akan membuat marah para pejabat kepolisian yang terlibat dalam bisnis ilegal dan haram itu !" lanjut Alex, dari seberang telepon.


"Ya, Lex, Aku harap, Patrick bisa menghadapi semua tekanan yang akan Dia dapatkan nantinya dari pimpinan pimpinannya di kepolisian." Ujar Astrid di teleponnya.


"Ya, dan mudah mudahan, Patrick tidak mendapatkan hal buruk, karena berani mengusut dan mengungkap kejahatan perjudian online dan menangkap para pejabat petinggi negara itu." Ujar Alex, dari seberang telepon.


"Ya, Kita tunggu kabar selanjutnya Lex, Kita harus menjaga dan melindungi Patrick." Ucap Astrid.


"Ya. " Jawab Alex dari seberang telepon.


"Oke, nanti kita bahas lagi soal itu semua. Aku sekarang mau istirahat dulu." Ujar Astrid, diteleponnya.


"Ya." Jawab Alex dari seberang telepon.


Astrid lantas menutup teleponnya, dan meletakkan ponsel keatas meja. Lalu, Dia meminum air juicenya lagi.


Tiba tiba saja matanya tertuju pada horden jendela yang ada di ruang depan rumahnya. Terlihat ada bayangan seseorang berdiri dibalik kaca, diteras rumahnya dan seperti sedang mengintip kedalam rumahnya.

__ADS_1


Astrid kaget, Dia diam dan berfikir, siapa gerangan orang tersebut, dan apa maksudnya mengintip rumahnya. Apakah orang itu bermaksud jahat dan ingin mencelakai dirinya? Pikir Astrid bertanya tanya dalam hatinya.


__ADS_2