Destroy

Destroy
Sebuah Pesan Peringatan


__ADS_3

Tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun Astrid membantai Julianto , Setelah menghujamkan pisau belati ke perut Julianto berkali kali, Dia juga menyayat leher Julianto hingga tewas dengan luka yang sangat parah.


Astrid benar benar sudah tak tahan lagi , Sudah sekian tahun Dia memendam rasa amarah dan dendam dalam jiwanya. Hingga akhirnya datang hari saat pembalasan, dan Dia tak menyia nyiakan kesempatan itu , Astrid sangat menikmati membunuh Julianto, Dia melampiaskan dendamnya pada Julianto. Salah seorang kaki tangan Gerard yang menyeret dan memukuli bapaknya dulu saat di bawa pergi dan di jebloskan kedalam penjara karena tuduhan fitnah yang dihembuskan komplotan Gerard.


Astrid menyeka darah Julianto yang mengenai wajahnya, Dia menyeringai buas dan tersenyum sinis menatap mayat Julianto yang sudah terkapar bersimbah darah itu.


Astrid lalu mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, kemudian Dia menelpon seseorang.


"Tugasku sudah selesai, giliran Kamu sekarang membereskan sisanya." Ujar Astrid, bicara melalui ponselnya.


Astrid lalu menutup telepon dan menyimpannya kembali kedalam kantong celana. Dengan sikap dingin dan santai Dia lalu keluar dari dalam rumah meninggalkan mayat Julianto.


---


Keesokan pagi harinya, Gerard bersiap siap hendak berangkat kerja ke kantornya, tiba tiba saja Dia di kagetkan karena mendengar suara teriakan dari luar rumahnya.


Gerard tersentak kaget, begitu juga dengan Zahara yang hendak mengantarkan kepergian Gerard bekerja, mereka berdua saling pandang heran.


Dengan cepat Gerard dan juga Zahara bergegas lari keluar, menghampiri arah teriakan suara yang mereka dengar.


Di luar rumah, terlihat Supir pribadi Gerard terduduk di lantai depan garasi mobil, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin keluar dari tubuhnya, dan Dia juga terlihat gemetar ketakutan, matanya terbelalak lebar, Duduk diam kaku tak bergerak menatap ke arah depannya.


Gerard dan Zahara berlari menghampiri Supir pribadinya yang terduduk lemas di lantai depan garasi mobil.


"Ada apa pak Minto?!" tanya Gerard mendekati pak Minto, Supir Pribadi Gerard.


Pak Minto, Supir Pribadi Gerard masih gemetar ketakutan, lidahnya keluh , mulutnya tak bisa di gerakkan, Dia sulit bicara karena rasa takut yang begitu besar dalam dirinya saat ini.


"Aaaarrrggghh!!" Teriak Zahara.


Tiba tiba saja Zahara berteriak keras , Dia syock dan kaget menatap ke sosok tubuh yang tergeletak di atas kap mobil Gerard.


Gerard kaget mendengar teriakan Zahara, Dia lalu menoleh pada istrinya yang terlihat kaget dan ketakutan itu.


"Ada apa ?!" Tanya Gerard kaget dan bingung.


"I...itu...mayat siapa...itu?!" Ujar Zahara, dengan terbata bata karena takut.


Gerard cepat melihat ke arah yang di tunjuk Zahara, Dia lantas melangkah mendekati mobilnya, begitu Dia melihat mayat tergeletak diatas kap depan mobilnya, Dia pun lantas terperanjat kaget dan juga syock.


Gerard terdiam berdiri terpaku untuk sesaat, tubuhnya tak bergerak, wajahnya tegang menatap mayat yang ada dihadapannya, Dia mengenali sosok mayat yang ada di atas kap mobilnya itu , sementara pak Minto masih gemetaran ketakutan terduduk di lantai.

__ADS_1


Perlahan lahan Zahara melangkah dan mendekati Gerard , diberanikannya dirinya sekali lagi melihat sosok mayat itu untuk menegaskan siapa sosok mayat yang tergeletak diatas kap mobil suaminya saat ini.


"Julianto?!!" Zahara tersentak kaget.


Dia syock dan sangat kaget saat melihat jelas wajah mayat tersebut. Zahara mengenali sosoknya , dan Dia juga tahu nama orang yang telah menjadi mayat itu.


"Bu...bukan...kah Dia... Anak buahmu? Preman anggora genk yang menjadi pembunuh bayaran yang dulu membawa Richard ?!!" Ujar Zahara pada Gerard.


Zahara menatap tajam wajah Gerard yang masih berdiri diam tak bergerak disampingnya. Wajah tegang Gerard menyiratkan, bahwa Dia tak menyangka, Julianto, anak buahnya mati dengan cara yang sangat mengenaskan, Dia juga bertanya tanya pada dirinya, Siapa yang sudah membunuh Julianto.


"Ya...Dia Jul...Julianto." Ujar Gerard dengan suara datar.


"Mengapa Dia mati dan mayatnya ada di atas mobilmu?!" tanya Zahara, menatap tajam wajah Gerard.


"Entahlah, Aku gak tau." Ujar Gerard.


"Apa maksudnya membawa mayatnya ke sini ?!!" Tanya Zahara.


"Mana Aku tau?!! Kamu bertanya terus, sementara Aku gak tau apa yang terjadi !!" Bentak Gerard.


Gerard menjadi marah dan membentak Zahara karena bertanya terus padanya, sementara Dia masih bingung dengan apa yang terjadi pada Julianto , dan Dia tak mengerti mengapa Julianto dibunuh lalu mayatnya di bawa ke tempatnya.


Gerard melihat ke kantong baju Julianto yang di tunjuk Zahara, dengan cepat Gerard mengambil secarik kertas dan membuka lembaran kertas itu lalu membaca tulisan yang ada di dalam secarik kertas tersebut.


"Waktunya membalas dendam, satu persatu akan aku habisi kalian. Ini peringatan buatmu, agar berhati hati , Aku akan datang menemuimu dan keluargamu, Aku akan menuntut balas atas kejahatan yang sudah Kamu lakukan 15 tahun lebih yang lalu."


Begitu isi dari tulisan yang dibaca Gerard pada lembaran secarik kertas ditangannya. Zahara juga ikut membaca, Dia kaget membacanya dan bingung.


"Apa maksudnya? Siapa yang mengirimkan surat ini?!" Ujar Zahara.


"Aku gak tau. Pasti Dia yang udah membunuh Julianto dan menuliskan surat berisi peringatan padaku." Ujar Gerard dengan raut wajah tegang.


"Siapa Dia ? Apa maksudnya mau menuntut balas dengan Kamu ?!" tanya Zahara cemas.


"Entahlah." Ucap Gerard menghela nafasnya.


"Apa ada hubungannya dengan Richard ?!!" Seru Zahara.


"Apa maksudmu?!!" Tanya Gerard, menatap tajam wajah Zahara.


"Dia bilang, akan menuntut balas atas kejahatan yang Kamu lakukan 15 tahun lalu , dan setau Aku, Kamu melakukan kejahatan 15 tahun lalu terhadap Richard. Apa Kamu lupa?!" Ujar Zahara menjelaskan dan mengingatkan Gerard.

__ADS_1


Gerard terdiam, untuk sesaat Dia berfikir , Gerard memikirkan dan mencoba mengingat ingat kejadian masa lalu yang dikatakan istrinya.


"Kalian menjebak dan memfitnah Richard, dan Aku terpaksa menuruti permintaanmu untuk menjebak Richard, lalu, Kalian membawanya paksa dan menjebloskannya ke penjara, lalu, Kamu membunuhnya saat di dalam penjara, apa Kamu lupa kejadian itu?!!" Tegas Zahara.


"Bukan Aku yang membunuhnya dalam penjara ! Aku gak pernah menyuruh orang untuk membunuh Richard !!" Hardik Gerard.


Gerard marah pada Zahara karena menuduh dirinya dulu sengaja membayar orang untuk membunuh Richard, orang tua Astrid saat dalam penjara.


Dia membantahnya dan tak mengakui, karena memang bukan Dia yang melakukan pembunuhan itu , tapi, Dia tahu, siapa orang yang berada dibelakang pembunuhan Richard dan menjadi otak kejahatannya.


"Lantas, siapa yang bunuh Richard dalam penjara ?!" tanya Zahara.


Zahara mendesak Gerard untuk menjelaskan siapa pelaku yang membunuh Richard dalam penjara, karena walau pun Dia sudah mengkhianati Richard dan menjebaknya dulu karena paksaan Gerard, hingga detik ini Dia masih penasaran, siapa yang telah menyuruh untuk membunuh Richard saat dalam penjara.


"Aku gak tau !" Ujar Gerard.


"Kalo memang ini ada hubungannya dengan kasus Richard dulu, lantas, siapa orang yang membunuh anak buahmu itu?!" Ujar Zahara.


Gerard diam tak menjawab pertanyaan Zahara, Dia masih terlihat memikirkan semua kejadian itu , Zahara juga terlihat berfikir, mencoba mencari cari jawaban atas apa yang telah terjadi saat ini.


Pak Minto yang gemetaran ketakutan masih terduduk lemas di lantai, Dia tak kuat mengangkat tubuh dan kedua kakinya tak sanggup berdiri, Dia sangat ketakutan sekali, karena seumur hidupnya tak pernah melihat mayat, apalagi mayat yang terluka parah dan berlumuran darah kering seperti yang Dia lihat saat ini.


"Apa ini perbuatannya Astrid ?!!" Sontak Zahara.


Tiba tiba saja Zahara tersentak dan ingat akan anaknya Richard, Dia masih ingat jelas nama dari anak kandungnya Richard.


"Astrid ?!! Siapa Dia ?!" tanya Gerard.


Gerard menatap tajam wajah Zahara, Dia tak tahu dan tak mengenal nama yang di sebutkan istrinya itu.


"Astrid, anaknya Richard ! Kamu lupa ? Dulu, saat Dia kecil dan berusia 9 atau 10 tahun, Kita memasukkannya ke rumah sakit jiwa dengan bantuan Karina, agar ahli waris Richard tak ada !" Ujar Zahara, menegaskan.


"Setelah itu , Kamu ambil alih semua harta dan warisan Richard, hingga Kamu menjadi seperti sekarang ini, apa Kamu lupa?!" Ujar Zahara lagi.


Zahara menjelaskan dan mencoba mengingatkan Gerard atas apa yang pernah di perbuatnya dahulu. Gerard menghela nafasnya.


"Apa mungkin Dia ?!" Tanya Gerard.


Dia masih berdiri diam ditempatnya dengan raut wajah yang tegang dan masih menunjukkan kebingungan atas apa yang telah terjadi, Zahara menatap tajam wajah Gerard.


Zahara menduga, ini semua perbuatan anaknya Richard, karena baginya, hanya ada satu orang saja yang bisa menuntut balas atas kematian Richard, dan Zahara menyimpulkan, bahwa yang akan menuntut balas itu adalah Astrid, anak kandung dari Richard. Orang yang sudah mereka jebak dan fitnah melakukan tindak kejahatan bertahun tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2