
Setelah di bawa dan sempat di tahan di kantor polisi karena bersalah menabrak mobil dinas kepolisian, Akhirnya Sulis di bebaskan oleh pihak kepolisian dengan syarat.
Sulis dibebaskan karena pak Kuncoro datang membayar tebusan atas dirinya, dan polisi membebaskannya.
Pak Kuncoro lalu segera membawa Sulis pulang bersamanya.
Bertepatan dengan itu, Saat mobil yang di tumpangi pak Kuncoro dan Sulis pergi dari halaman gedung kepolisian, Samuel baru saja tiba dan bergegas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung kantor kepolisian.
Di dalam ruang kantor kepolisian, Samuel tampak terlibat pembicaraan serius dengan salah seorang petugas kepolisian. Dia bertanya tentang Sulis, dengan menjelaskan ciri ciri dan kasus yang di alami Sulis.
"Oh, Beliau baru saja pulang, Pak." Ujar Petugas Polisi.
"Sudah pulang? Dibebaskan maksudnya?" Tanya Samuel kaget.
"Ya, ada yang datang membayar uang tebusan untuk Saudari Sulis, jadi kami membebaskannya." Jelas Petugas Kepolisian.
"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih, Pak. Saya Permisi." Ujar Samuel.
Samuel pamit pada Petugas Kepolisian, Dia bergegas keluar dari dalam gedung kantor kepolisian.
Samuel masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal dan geram, Dia marah karena gagal bertemu dengan Sulis.
"Ah, Sial ! Aku lupa nanya, Siapa orang yang membayar tebusan dan menjemput si Sulis itu !!" Ucapnya kesal.
Samuel memukul stir mobil, melampiaskan amarah dan segala macam kekesalannya karena gagal menangkap Sulis.
"Siapa orang yang membebaskannya ?" Ujarnya berfikir.
Samuel penasaran, Dia juga kesal karena keduluan orang lain yang telah menjemput Sulis, sehingga Dia gagal mendapatkan Sulis.
Samuel lantas menyalakan mesin mobilnya, lalu, buru buru Dia pergi dari gedung kantor kepolisian tersebut.
Sementara itu, di jalanan dan di dalam mobil, terlihat wajah Sulis masih sedikit cemas, Dia khawatir dan takut pada Samuel yang sebelumnya mengejar dan berusaha menangkapnya.
Pak Kuncoro yang duduk di sampingnya, di jok belakang mobil melirik Sulis yang diam tercenung.
"Mengapa Kamu sengaja menabrakkan mobilmu dengan mobil patroli polisi dijalan raya?" Tanya Kuncoro.
"Gak ada pilihan lain, Pak. Saya hanya berfikir bagaimana agar Tuan Samuel gak terus mengejar saya , Saya lantas berfikir pendek, dan menabrakkan mobil agar ditangkap polisi." Ujar Sulis.
"Ya, tapi kalo kamu gak hubungi Saya, kamu bisa lama mendekam dalam tahanan kepolisian, bisa aja kamu di sidang dan di jebloskan dalam penjara karena perbuatan salahmu itu." Ujar Pak Kuncoro.
"Ya, saya tau, Pak. Yang kepikir hanya itu, saya tau resikonya, Saya pikir, lebih baik mendekam dalam tahanan kepolisian daripada harus berhadapan dengan Tuan Samuel." Jelas Sulis.
__ADS_1
"Kamu kira Samuel akan diam saja? Dia gak akan melepaskanmu, Dia pasti mendatangimu biar kamu dalam tahanan kepolisian, Akal anak itu banyak, Dia licik juga." Ujar Pak Kuncoro.
"Aku tau, Samuel pasti terus mengejarmu, sampai dokumen itu di dapatnya dan menjadi miliknya, Dia gak akan melepaskanmu." Jelas Pak Kuncoro.
"Iya, Pak. Saya paham." Angguk Sulis.
"Oh, ya. Ini Dokumen dan surat wasiat Pak Gerard, Saya di perintahkan untuk menyerahkannya pada Bapak." Ujar Sulis.
Sulis memberikan map berisi berkas dokumen penunjukkan Jack sebagai pemimpin perusahaan menggantikan Gerard nantinya, dan dalam berkas itu juga tertulis bahwa Jack yang akan mewarisi perusahaan dan sebagian harta milik Gerard.
Sulis membawa berkas dokumen dalam map saat Dia di tangkap dan di bawa ke kantor polisi, Dia tak mau meninggalkan dokumen didalam mobilnya.
Dan saat dibebaskan , Dia mengambil kembali dokumen yang sempat di tahan dan di simpan pihak kepolisian.
Pak Kuncoro menerima map berisi dokumen dari Sulis, Dia membuka lembaran berkas dokumen dan membaca isinya, Pak Kuncoro mengangguk angguk mengerti dan paham.
"Pak Gerard ingin Aku yang mengurus semuanya nanti. Sampai Jack di lantik menggantikannya." Jelas Pak Kuncoro.
"Iya, Pak. Memang begitu yang dikatakan beliau pada Saya." Ujar Sulis.
"Memang sangat bahaya jika dokumen ini jatuh ketangan Samuel, Dia pasti akan melenyapkannya dan merubah isinya." Ujar pak Kuncoro.
"Samuel selain licik juga ambisius, Aku sangat tau karakter anak itu." Jelas pak Kuncoro.
"Ya, Pak." Angguk Sulis.
"Saya mau tinggal dimana kalo gak pulang kerumah?" Tanya Sulis dengan wajah bingung dan cemas.
"Kamu bisa tinggal di villa milik Saya untuk sementara waktu, sampai situasi tenang." Ucap Pak Kuncoro.
"Baik, Pak." Jawab Sulis.
Tak ada pilihan bagi Sulis, Dia pun lantas menerima tawaran pak Kuncoro untuk tinggal di villa sementara waktu, agar Dia terbebas dari kejaran Samuel.
Sulis menghela nafasnya, Dia sudah sedikit tenang dan lega karena di tolong pak Kuncoro , dan berhasil menghindar dari Samuel yang mengejarnya.
Mobil yang di kendarai Supir pribadi pak Kuncoro meluncur di jalan raya dengan kecepatan sedang, Sulis duduk diam di dalam mobil, sementara pak Kuncoro serius membaca dan mempelajari berkas dokumen dari Sulis.
Mobil masuk kepelataran halaman rumah Gerard yang luas dan megah, lalu, keluar Samuel dari dalam mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Dia berpapasan dengan Zahara, Zahara melihat Samuel mukanya merah padam menahan amarah.
"Mana Papah?" Tanya Samuel dengan nada keras pada Zahara.
__ADS_1
"Belum pulang." Jawab Zahara ketus.
Mendengar jawaban ketus dari Zahara, Samuel diam tak menanggapi, Dia pergi begitu saja, tanpa menghiraukan Zahara.
Samuel berjalan cepat membawa amarahnya, Dia masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kamar, melampiaskan amarah dan kekesalannya.
'Huu...!! Anak Sableng !" Celetuk Zahara kesal.
Zahara kesal karena di bentak Samuel saat bertanya tentang Papahnya tadi, di tambah Samuel membanting pintu kamarnya dengan keras, itu membuat Zahara sewot, tapi Dia masih bisa menahan diri untuk tidak menegur Samuel.
Anak dan ibu ini memang tak pernah akur, karena Samuel hanyalah anak tiri Zahara, Sejak Dia menikah dengan Gerard , Zahara sudah tak suka dengan Samuel, begitu juga sebaliknya, Samuel sangat membenci Zahara, apalagi sejak Jack dan Melani, adik tirinya lahir , Samuel makin membenci dan tidak suka dengan Zahara serta adik adik tirinya.
---
Sementara itu, Dirumahnya, Astrid terlihat berdiri di teras lantai atas rumahnya, Dia memandangi langit dan rembulan yang ada di atas langit.
Lalu, Dia membuang pandangan matanya ke arah rumah Zahara, terlihat Astrid sedang diam diam memantau dan mengawasi rumah Zahara.
"Besok acara ulang tahun anaknya si Zahara dan Gerard, Aku harus mempersiapkan diriku, agar semua rencanaku besok berjalan lancar." Gumam bathin Astrid.
Astrid lantas menghela nafasnya, Dia lantas berbalik badan lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, tak lupa Dia menutup dan mengunci pintu teras lantai atas rumahnya itu.
Astrid melangkah menuruni anak tangga, setelah berada di lantai dasar rumahnya, Dia bergegas berjalan ke arah kamarnya, sambil mematikan lampu lampu yang ada di ruangan ruangan rumahnya.
Astrid masuk ke dalam kamarnya, Dia menutup dan mengunci pintu kamar, lalu berjalan menuju ke ranjangnya.
Saat Dia hendak naik ke atas ranjang, pandangan matanya tertuju pada photo photo yang berserakan di atas meja riasnya.
Photo photo itu berserakan, karena sebelumnya, Astrid melihat lihat photo photo tersebut. Astrid mendapatkan photo photo itu dari Alex, yang selama ini telah menyiapkannya untuk Astrid.
Photo itu bukanlah photo dirinya atau bapaknya, melainkan photo photo orang orang yang menjadi musuhnya, beberapa diantara photo itu ada teman teman kerja Bapaknya dulu, selain itu, ada juga photo Gerard dan juga Zahara serta Karina.
Astrid melangkah pelan dan menghampiri meja riasnya, Dia lantas duduk di bangku, lalu, di ambilnya selembar photo dan ditatapnya wajah yang ada di photo tersebut.
"Karina...! Aku gak kan pernah memaafkanmu ! Kamu harus mati!" Gumam Astrid.
Astrid geram, Dia menahan amarahnya sambil memegangi photo Karina di tangannya, Astrid begitu dendamnya pada Karina.
Karena, Karina telah menghancurkan masa remajanya, dengan memasukkannya ke dalam rumah sakit jiwa dan di vonis mengalami gangguan jiwa.
__ADS_1
Atas perbuatan Karina pada dirinya dulu, Astrid sangat sakit hati dan marah sekali, Dia dendam pada Karina dan bertekat akan menghancurkannya.