
Astrid mengendap endap melangkah pelan mendekati depan mobil, dimana Peter sedang duduk di jok depan dalam mobilnya sambil mengawasi bangunan Villa.
Astrid menggenggam erat pisau belatinya, Dia bersiap siap menyerang Peter, yang tak sadar dengan keberadaan Astrid yang bersembunyi di samping mobilnya.
Astrid melihat Peter masih duduk diam sambil melihat ke arah bangunan Villa, Dia melihat, Peter sedang merokok santai dan kaca jendela pintu depan mobil terbuka. Setelah Dia memastikan bahwa Peter tak melihat dan tak menyadari kehadirannya, dengan gerakan yang cepat, Astrid berdiri lalu berjalan mendekati jendela pintu depan mobil.
Lalu, dengan gerakan tangan yang cepat, Astrid langsung saja mengarahkan pisau belatinya ke leher Peter.
Betapa terkejutnya Peter mendapatkan pisau belati yang menempel di lehernya, Dia kaget bukan kepalang dan melirik pada Astrid yang berdiri di samping mobil, tepat didepan pintu depan mobilnya.
"Siapa kamu?!" Bentak Peter.
Walau lehernya menempel sebuah pisau belati, tapi Peter tetap berani dan bertanya pada Astrid dengan membentaknya.
"Jangan berisik ! Apa tujuanmu datang ke sini?! Dan siapa yang menyuruhmu?!" Tanya Astrid geram dengan menatap tajam wajah Peter yang duduk di jok depan mobilnya itu.
Peter diam dan tak mau menjawab pertanyaan Astrid, Astrid semakin geram, lalu, di bukanya pintu mobil tersebut.
"Cepat keluar Kamu." Ujar Astrid geram.
Peter masih diam saja tak bergeming duduk diam di tempatnya, melihat reaksi Peter yang cuek dan tidak menghiraukan perkataannya, Astrid marah dan menyeringai geram menatap wajah tengil Peter.
"Keparat Kamu!!" Bentak Astrid.
Tiba tiba pintu di buka , diam diam tangan Peter dari dalam membuka pintu, Dia lalu mendorong pintu dengan kuat, hingga mengenai tubuh Astrid yang berdiri tepat di depan pintu mobil. Astrid terjajar mundur kebelakang, namun, Dia sempat menggoreskan pisau belati ke leher Peter, saat Dia terdorong pintu dan mundur kebelakang.
Peter cepat memegang lehernya yang terluka, Dari celah jari tangannya keluar darah, Dia kaget, karena lehernya tersayat pisau belati milik Astrid.
"Siaall!!" Geram Peter marah.
Dia menggeram marah karena Astrid sudah melukai lehernya, Peter lalu menendang pintu mobil dan cepat keluar dari dalam mobil dan menyerang Astrid.
Astrid menghindar dari serangan Peter, lalu balik menyerang Peter, Perut Peter terkena sabetan pisau belati hingga terluka. Peter semakin marah karena Astrid melukai tubuhnya.
Darah terus mengalir di lehernya yang terluka, Astrid kembali menyerang Peter, Dia mengarahkan pisau belatinya ke tubuh Peter, Astrid sangat mahir sekali menggunakan senjata tajam, Dia sangat terlatih dalam hal memakai senjata tajam sejenis pisau maupun pedang.
Lalu, pada satu kesempatan, saat Peter lengah, Astrid berhasil menyabet lengan tangan Peter dengan pisau belatinya. Peter meringis memegang lengan tangannya yang terluka itu.
__ADS_1
Astrid tak mau menunggu lama, Dia terus menyerang Peter, perkelahian terjadi antara mereka berdua, Peter keliatan semakin melemah, sebab, Dia banyak kehilangan darah karena luka di leher dan perutnya. Hingga akhirnya, Astrid menghujamkan pisau belati ke perutnya lagi. Pisau belati menembus perut Peter, dihujamkannya pisau belati berkali kali ke tubuh Peter, hingga mulutnya mengeluarkan darah kental.
Lalu, mata Peter terbuka lebar menatap wajah Astrid yang berdiri dihadapannya dengan tatapan mata penuh amarah.
Astrid sekali lagi menghujamkan pisau belatinya ke tubuh Peter, lalu, dicabutnya pisau belati dari tubuh Peter, hingga Peter lunglai dan terjatuh di tanah. Astrid tersenyum sinis melihat Peter yang terkapar di tanah dan mati.
Tiba tiba saja terdengar suara telepon berbunyi, Astrid melihat, suara bunyi telepon berasal dari dalam mobil tersebut. Cepat Astrid masuk ke dalam mobil, lalu, Dia mengambil ponsel dari dalam dahsboard. Dia tahu, suara itu berasal dari dalam dashboard mobil.
Astrid keluar dari dalam mobil, Dia melihat di layar ponsel, ada satu panggilan telepon yang masuk. Astrid tersentak kaget membaca nama si penelpon tersebut.
"Zahara ?!!" Ujarnya kaget.
"Berarti Dia orang suruhan Zahara." Ujar Astrid, sambil melihat tubuh Peter yang sudah meregang nyawa di tanah.
"Apa Zahara sengaja membayar orang itu untuk membunuh Karina?!" Bathinnya.
"Ah, pasti Zahara marah setelah melihat rekaman video perzinahan Gerard dan Karina yang Aku berikan waktu itu." Gumamnya lagi.
Astrid tersenyum sinis, Dia melihat ponsel, telepon terus saja berbunyi, tapi Astrid membiarkannya terus berbunyi dan tak mau menerima panggilan telepon itu.
Astrid lalu masuk kembali kedalam mobil, lalu, Dia menyimpan ponsel yang terus berbunyi itu ke dalam dashboard mobil lagi. Kemudian, Dia segera keluar dari dalam mobil.
"Aku singkirkan kemana mayatnya? Kalo Aku biarkan disini, pasti nanti Zahara tau, kalo Dia datang ke sini dan melihat mayat orang ini." Gumam Astrid berfikir keras.
Lalu, sesaat kemudian, Astrid tersenyum, Dia menemukan ide, lantas, Dia mengangkat tubuh Peter yang sudah terbujur kaku di tanah, dengan susah payah Dia mengangkat tubuh Peter, lalu, Dimasukkannya dan di dudukinya tubuh Peter di jok depan mobil, kemudian, Dia menutup pintu mobil.
Astrid meletakkan mayat Peter didalam mobil, agar tak ada yang mengetahui jika Peter sudah mati terbunuh.
Astrid lalu cepat menutupi bercak bercak darah yang ada di tanah, Dia menutupinya dengan tanah tanah, setelah tak ada lagi ceceran darah, Dia lantas bersiap siap berjalan mendekati bangunan Villa yang ada didepannya.
Di dalam Villa, terlihat Karina tertidur duduk disofa, sementara tv masih menyala. Bukan Dia yang menonton tv, tapi tv yang menonton Dia tidur.
Karina terlelap tidur disofa karena kelelahan dan sangat ngantuk, selain itu, Dia capek menunggu Gerard yang tak kunjung kembali dari kota dengan membawa makanan untuknya.
Karena jenuh dan rasa lelahnya, Dia tak sadar jika dirinya tertidur di sofa ruang tengah Villa.
Dia juga tak tahu, jika saat ini, Astrid di luar Villa sedang berjalan mengendap endap menuju ke dalam Villa.
__ADS_1
Dengan langkah pelan dan berjalan mengendap endap, agar langkah kakinya tak terdengar, Astrid terus berjalan pelan menuju pintu masuk Villa.
Astrid berdiri didepan pintu, Dia menggenggam pisau belati ditangannya, bersiap siaga, sebelum masuk ke dalam Villa, Dia menyempatkan diri untuk menoleh ke kanan dan ke kiri, Dia melihat ke sekitarnya, berjaga jaga, kalau ada orang yang datang ke tempat itu.
Setelah dirasanya aman dan tak ada satu orang pun di sekitar bangunan Villa, lalu, dengan pelan, Astrid membuka pintu Villa.
Pintu terbuka dan mengeluarkan suara berderit. Astrid berhenti membuka pintu, Dia tak membuka lebar pintu karena ternyata pintu berbunyi saat dibukanya.
Dia tak ingin suara itu di dengar Karina yang ada didalam Villa, Lantas, dengan pelan pelan, Astrid melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa tersebut.
Astrid melangkah masuk ke dalam Villa, Dia membiarkan pintu masuk terbuka sedikit dan tak mau menutupnya, karena jika di tutup, pintu pasti akan mengeluarkan bunyi lagi seperti tadi.
Astrid berdiri sesaat dan diam ditempatnya, Dia mengamati seluruh ruangan yang ada didalam Villa tersebut.
Dia melihat ada gambar lukisan wajah Gerard terpajang di dinding ruang tamu Villa, gambar lukisan dengan bingkai yang sangat besar. Astrid tersenyum sinis melihat gambar lukisan Gerard.
Tahulah Dia bahwa Villa tersebut milik Gerard pribadi, karena ada gambar lukisan wajah Gerard didalam Villa. Dan tak ada photo lainnya, juga tak ada satu pun photo Zahara didalam ruangan.
Astrid lantas melangkahkan kakinya lagi, Dia masuk ke dalam ruangan Villa. Saat Dia tiba di depan ruang tengah, Dia melihat televisi menyala, dan mendengar suara yang berasal dari televisi.
Astrid bersiap siap memegang erat pisau belati di tangannya, berjaga jaga, kalau kalau, orang yang sedang menonton tv menyadari kehadirannya.
Astrid juga melihat sosok wanita sedang duduk di sofa dan menghadap ke tv. Dia tahu, bahwa Wanita itu pastilah Karina.
Tak ada Gerard di dalam Villa, Karina di tinggal pergi Gerard dan sendirian saat ini. Astrid tersenyum senang, pikirnya, ini kesempatan emas baginya. Karena tak akan ada yang tahu, jika Dia membunuh Karina nantinya.
Dengan langkah pelan Dia berjalan mendekati Karina yang duduk di sofa, Astrid tak tahu kalau Karina tertidur di sofa, Dia pikir, Karina sedang menonton televisi.
Sambil berjalan mendekati Karina, Dia terus menggenggam pisau belatinya, bayangannya terlihat di layar kaca televisi, Astrid terus mendekat.
Setelah Dia tiba didekat Karina yang ada di sofa, dengan gerakan cepat Astrid langsung saja menempelkan pisau belatinya ke leher Karina.
Karina tersentak kaget, karena merasakan ada sesuatu yang menempel di lehernya. Kedua mata Karina terbuka .
"Hai, Karina." Ujar Astrid, dengan sikap dingin menatap wajah Karina.
__ADS_1
Betapa sangat terkejutnya Karina, melihat Astrid sudah berdiri di hadapannya dengan tangan menggenggam pisau belati yang tajam dan tengah menempel di lehernya.
Karina sangat takut sekali melihat Astrid, apalagi saat ini, di lehernya menempel sebuah pisau, Dia tahu, Astrid datang pasti akan membunuhnya .