
Gerard yang menahan geram dan amarahnya segera melangkahkan kakinya menyeruak diantara kerumunan orang, saat berjalan, Dia sempat mengatakan sesuatu pada petugas keamanan yang juga ada di tempat itu.
"Urus mayatnya."Ujar Gerard , memberi perintah.
"Baik, Pak."Jawab Petugas Keamanan, mengangguk.
Gerard lalu berjalan menaiki anak tangga pelataran perkantorannya, sementara petugas keamanan berjaga jaga, mengamankan tempat penemuan mayat, agar orang orang yang berkerumun tak semakin mendekati mayat yang tergeletak ditanah itu.
Tak berapa lama datang mobil ambulance ketempat itu, para petugas medis cepat keluar dari dalam mobil ambulance dengan membawa kereta dorong untuk mengangkut mayat.
Tak berapa lama, para petugas penyidik kepolisian juga tiba di lokasi tersebut, diantara petugas kepolisian yang datang, terlihat Patrick keluar dari dalam mobilnya, Sebagai komandan kepolisian, Dia yang memimpin saat ini.
Melihat kedatangan petugas medis dan tim penyidik kepolisian, petugas keamanan menyuruh orang orang yang berkerumun untuk menyingkir dan memberi jalan pada petugas medis dan kepolisian.
Orang orang pun menyingkir dan sedikit menjauh dari mayat tersebut, Patrick beserta pasukannya tiba di depan mayat, Dia menghela nafasnya melihat mayat yang tergeletak ditanah.
Petugas medis cepat menggotong mayat itu dan meletakkannya di kereta dorong, lalu, mereka segera membawa mayat tersebut dan di masukkan ke dalam mobil ambulance.
"Kalian tanyain orang orang yang ada di sini, minta keterangan dan kesaksian dari semuanya."Ujar Patrick, memberi perintah pada salah seorang anak buahnya.
"Siap, laksanakan !" Jawab salah satu petugas penyidik kepolisian yang ada di dekat Patrick.
Patrick lantas melangkahkan kakinya , berjalan masuk ke dalam gedung perkantoran, sementara, tim petugas penyidik kepolisian mulai mendata dan meminta keterangan orang orang yang berkerumun di sekitar mayat, mereka juga meminta keterangan dan kesaksian petugas keamanan.
Di dalam ruang kerjanya, Gerard menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, Dia tampak kesal dan marah, mengetahui bahwa dua orang kepercayaannya mati terbunuh.
Gerard melamun, memikirkan sesuatu, tiba tiba saja Dia di kagetkan dengan suara ketukan pintu., Gerard tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah pintu.
"Ya, masuk."Ujar Gerard, sambil menghela nafasnya dengan berat.
Tak berapa lama, pintu ruang kerjanya terbuka, lalu, Patrick berjalan masuk ke dalam ruang kerja itu dan segera menghampiri Gerard.
Gerard yang melihat kedatangan Patrick heran, cepat Dia berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiri Patrick.
"Siapa anda ?!" Tanya Gerard, berdiri tepat di hadapan Patrick.
"Saya Patrick, Komandan tim penyidik kepolisian yang di tugaskan."Ujar Patrick, memperkenalkan dirinya pada Gerard.
"Oh, begitu. Ada apa anda menemui Saya?!" tanya Gerard.
__ADS_1
Dia merasa tak senang dengan kehadiran Patrick di ruang kerjanya, pikirannya yang sedang berkecamuk membuat Dirinya merasa terusik serta tak nyaman dan juga terganggu dengan kehadiran Patrick.
"Saya minta waktu Bapak sebentar, ada yang ingin saya tanyakan."Ujar Patrick.
"Maaf, mau tanya apa?Saya lagi banyak pikiran dan gak ada waktu."Ucap Gerard.
Gerard berusaha menolak permintaan Patrick yang mau menanyakan sesuatu hal pada dirinya.
"Apa Bapak kenal dengan mayat yang ditemukan di halaman kantor ini?!" Tanya Patrick.
Patrick tak perduli Gerard menolaknya, Dia tetap bertanya pada Gerard, apalagi di lihatnya gerak gerik Gerard mencurigakan, dan terlihat resah, itu membuat Patrick sebagai Polisi menjadi semakin ingin mengorek keterangan dari Patrick.
"Mayat itu sengaja di buang ke halaman kantor ini, seakan pelakunya sedang memberi peringatan pada orang yang ada di kantor ini."Ujar Patrick.
"Saya pikir, jika benar pelaku memberi peringatan, hanya ada satu orang saja yang di tujunya di kantor ini, yakni, Bapak. Sebagai pemimpin dan pemilik gedung perkantoran ini."Lanjut Patrick.
"Karena itu Saya langsung menemui Bapak, untuk bertanya, apa Bapak ada hubungan dengan kematian korban itu?" Ujar Patrick bertanya.
Gerard diam sesaat, tak ada cara untuk menghindar di pikirnya, karena Patrick sebagai Polisi sudah bisa menduganya.
"Ya, Saya kenal, Dia orang kepercayaan Saya, salah satu yang terbaik dari anak buah yang saya miliki."Ungkap Gerard.
Mau tak mau Dia harus mengakui, bahwa Dia mengenal korban yang di bunuh itu, Patrick mencatat keterangan dari Gerard.
"Tidak ada. Dia gak pernah menemui Saya, sudah lama kami gak bertemu, biasanya, Dia akan datang menghadap jika saya panggil dan ada tugas untuknya." Ujar Gerard, memberi penjelasan.
"Oh, begitu. Baiklah. Untuk sementara, hanya itu saja yang Saya tanyakan pada Bapak. Mungkin, jika di perlukan nantinya, Saya akan kembali lagi bertemu Bapak untuk meminta keterangan lebih lanjut."Ujar Patrick.
"Ya, angguk Gerard.
"Saya permisi."Ujar Patrick, memberi hormat dan pamit.
"Ya."Angguk Gerard .
Patrick lantas berbalik badan dan segera pergi keluar dari dalam ruang kerja meninggalkan Gerard.
Dengan wajah kesal dan memendam amarahnya Dia kembali ke kursi kerjanya, di hempaskannya tubuhnya pada kursi, Gerard lantas menghela nafasnya.
Pikirannya saat ini benar benar sedang berkecamuk, ada tanda tanya besar pada dirinya saat ini, bagaimana caranya anak Edward yang bernama Astrid bisa menemui anak buahnya lalu membunuhnya.
__ADS_1
Gerard terlihat geram, Dia tak terima dengan perbuatan Astrid, anak Edward, Dia sudah yakin sekali, bahwa pelakunya adalah Astrid, anak Edward, yang ingin membalas dendam atas kematian Bapaknya beberapa tahun yang lalu.
---
Di hari lainnya, terlihat sebuah acara meriah sedang di gelar di sebuah gedung mewah. Begitu banyak orang orang yang hadir. Semua terlihat berduit dan kaya raya.
Lalu, muncul diantara orang orang itu seorang Pria paruh baya, seumuran dengan Gerard, Dia adalah Ishadi. Teman baik Gerard sejak mereka muda hingga sekarang.
Saat ini, Ishadi tengah merayakan kesuksesannya menjadi salah satu orang yang duduk di dalam majelis tertinggi di negara ini, dan orang orang yang hadir menyambutnya dengan suka cita.
Ishadi terlihat berdiri di depan podium, bersiap hendak memberikan pidatonya pada para hadirin yang sudah menunggunya.
Tepuk tangan meriah terdengar menyambut kehadiran Ishadi yang berdiri di atas podium, Ishadi terlihat tersenyum senang, Dia bangga mendapat sambutan meriah.
"Terima kasih atas dukungan kalian semua selama ini pada Saya." Ucap Ishadi, mulai membuka pidatonya.
Namun, saat Dia hendak melanjutkan pidatonya, tiba tiba saja Dia tercekat, matanya terbelalak, dan tangan kanannya cepat memegang lehernya.
Orang orang semua diam, menunggu kelanjutan dari pidato Ishadi, namun, Ishadi diam dan tak bergerak untuk sesaat.
Terlihat darah mengalir diantara celah jari jari tangannya yang memegangi lehernya. Ishadi lalu mengangkat tangannya dari lehernya, Dia melihat darah ada di telapak tangannya, Ishadi syock dan terlihat kaget.
Tiba tiba saja, pandangan mata Ishadi kabur, dan Dia berdiri mulai limbung, lalu, akhirnya, Dia terjatuh ke lantai karena tak tahan dan tak kuat menahan bobot tubuhnya.
Ishadi tergeletak dilantai, melihat Ishadi terkapar, orang orang kaget, ada yang berteriak menjerit ketakutan saat melihat darah keluar dari leher Ishadi.
Orang orang mulai panik melihat kejadian itu, mereka segera berhamburan keluar, petugas keamanan yang ditempatkan di ruangan itu cepat menghampiri Ishadi yang terkapar di lantai.
Salah seorang petugas keamanan mendekati Ishadi, Dia melihat, leher Ishadi tersayat, seperti sayatan dari pisau lipat.
"Cepat, amankan tempat ini, jangan ada yang boleh keluar dari dalam ruangan ini!" Teriak salah seorang petugas keamanan dengan wajah panik dan tegang.
Petugas keamanan itu tahu, Ishadi sengaja di lukai seseorang , dengan menyayat lehernya, namun, belum bisa diketahui siapa pelakunya. Karena itu Petugas keamanan meminta rekannya untuk mencegah para tamu undangan yang hadir untuk tetap diam dan berkumpul di dalam ruangan itu, agar mereka bisa memeriksa satu persatu orang orang yang hadir dan mencari pelakunya.
Petugas keamanan yang lain segera menghubungi petugas medis dan kepolisian, agar segera menolong Ishadi.
Namun, nyawa Ishadi tak tertolong, Dia menghembuskan nafasnya, mati terkapar di tanah, bibir dan wajahnya mulai terlihat membiru, begitu juga diantara luka sayat lehernya, mulai muncul warna kebiruan.
Ternyata, pisau yang menyayat leher Ishadi sudah di bubuhi racun yang sangat mematikan, sehingga dalam hitungan menit saja, Ishadi tewas, karena racunnya mulai menyebar, masuk kedalam tubuhnya melalui luka yang menganga di lehernya.
__ADS_1
Tak ada yang melihat dan mengetahui, siapa pelaku yang telah membunuh Ishadi. Semua masih misteri, karena kejadian itu terjadi dihadapan mereka dengan sangat cepat sekali, dan tanpa mereka duga sama sekali. Sebab, Ishadi sebelumnya terlihat baik baik saja berdiri diatas podium , siap menyampaikan pidatonya, sebelum Dia terkapar dan mati di lantai ruang gedung tersebut.
Orang orang riuh dan ramai berkumpul di dalam ruangan, petugas keamanan mengawasi mereka semua, salah satu petugas keamanan mulai bergerak , memeriksa satu persatu tamu yang hadir. Wajah wajah mereka terlihat panik dan tegang, ada juga yang ketakutan melihat Ishadi tewas terbunuh.