Destroy

Destroy
Melani Kabur


__ADS_3

Samuel masih tersenyum sinis dan puas melihat Papahnya seperti syock dan seakan baru saja mendapatkan pukulan telak.


"Urusanku di sini sudah selesai, Aku pamit, Pah." Ucap Samuel, tersenyum sinis melirik Papahnya yang diam menahan amarahnya.


"Hei, tunggu Sam !!" Ujar Gerard, memanggil Samuel.


Samuel lantas menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Papahnya.


"Ada apa ?" Tanya Samuel, menatap tajam wajah Papahnya itu.


"Kirim rekaman video itu ke Hape Papah." ujar Gerard.


"Ya, ya...ya...nanti Aku kirim, tenang aja." Ucap Samuel.


Dengan cueknya Samuel melangkah dan pergi meninggalkan Papahnya, Dia berjalan keluar dari dalam ruang kantor Gerard .


Di sepanjang koridor perkantoran , Samuel berjalan santai sambil bersiul siul senang . Karena Dia sudah berhasil membuat Papahnya murka pada Zahara, wanita yang sangat di bencinya .


Samuel berharap, dengan ditemukannya bukti kebohongan Zahara tentang Melani, Papahnya akan mengusir dan menyingkirkan Zahara, agar tak tinggal lagi dirumahnya .


Dengan begitu, Samuel pasti akan semakin lega dan bisa hidup tenang dirumahnya, karena sudah tak ada Zahara lagi dirumahnya .


Sementara itu, didalam ruang kantornya, Gerard terlihat masih menahan geram dan amarahnya, Dia lantas bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantornya .


Di halaman parkir gedung perkantoran Gerard, Samuel sudah berada didalam mobilnya, Dia menyalakan mesin mobil. Lalu, diambilnya ponsel dari dalam kantong celananya.


Sesaat kemudian, Samuel sudah mengirimkan rekaman video di ponselnya ke ponsel milik Gerard.


"Sebentar lagi, Kamu bakal mampus Zahara !" Ucap Samuel, tersenyum licik.


Samuel lantas menjalankan mobilnya, mobil lalu berjalan pergi meninggalkan area halaman parkir gedung kantor Gerard itu .


 


Di rumah Gerard, terlihat Melani keluar dari dalam kamarnya, Dia berjalan menuju ke ruang depan rumahnya dengan membawa tas koper.


Suasana dirumah itu sepi, tak ada siapa siapa dirumah, hanya ada Asisten rumah tangga saja yang sedang sibuk sendiri didapur.


Dengan langkah kaki yang cepat Melani berjalan keluar dari dalam rumahnya sambil membawa tas kopernya .


Melani berniat hendak kabur dari rumahnya, Setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya, Melani muak dan sudah tak mau lagi tinggal dirumah itu.


Dia merasa kecewa dan marah pada Zahara, karena sudah merahasiakan tentang jati dirinya selama ini.


Rasa kecewa Melani begitu besar, sehingga Dia tak ingin menjumpai dan bicara lagi dengan Mamanya .


Melani terus berjalan menyusuri halaman rumah lalu berjalan keluar rumah. Dia berdiri diatas trotoar pinggir jalan depan rumahnya.

__ADS_1


Melani menunggu kedatangan taksi online yang sebelumnya sudah di pesannya melalui aplikasi di ponselnya.


Tak berapa lama menunggu, mobil taksi online yang dipesan Melani datang , Taksi itu berhenti tepat didepan Melani berdiri.


Supir taksi online lalu keluar dari dalam mobil, tak lupa Dia membuka pintu bagasi mobilnya.


"Dengan mbak Melani?" Ucap Supir taksi online pada Melani.


"Ya, betul." Angguk Melani.


"Oh, mari saya bawakan tas kopernya, mbak." Ujar Supir taksi online, bersikap ramah dan sopan pada Melani.


"Ya, terima kasih, Pak." Ujar Melani.


Melani menyerahkan tas kopernya, supir taksi online mengambil tas koper dari tangan Melani, lalu, Dia membawa tas koper itu kebelakang mobil dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Setelah tas koper masuk di dalam bagasi, Supir itu segera menutup pintu bagasi mobilnya. Melani masuk ke dalam mobil, Dia duduk di jok belakang mobil itu.


Supir Taksi Online bergegas masuk kembali kedalam mobilnya, Dia lantas segera menjalankan mobilnya. Dan mobil pun lantas melaju pergi meninggalkan rumah Melani .


"Lokasinya sesuai aplikasi kan ya mbak?" Tanya supir taksi online pada Melani yang duduk di jok belakang mobil.


"Ya, Pak." Jawab Melani datar.


Wajah Melani terlihat menahan kekecewaan dan kesedihannya, Saat pergi, Dia sempat menoleh dan melihat ke arah rumahnya itu.


Melani lantas menghela nafasnya, Dia mencoba menenangkan dirinya agar tak terus bersedih hati dan menangis di dalam mobil taksi online, sementara supir terus menyetir mobilnya, dan mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang sedikit ramai itu .


Gerard bermaksud mau menemui pimpinannya, untuk memberitahu tentang Edward, yang di ketahuinya masih hidup dari rekaman video di ponsel Samuel.


Gerard berfikir, lebih penting memberi kabar tentang keberadaan Edward yang ternyata masih hidup dari pada berurusan dengan Zahara.


Sebab Dia pikir, untuk menyelesaikan masalahnya dengan Zahara bisa nanti Dia lakukan sepulangnya Dia kerumahnya, dan Dia lebih mendahulukan memberitahu tentang Edward pada pimpinan organisasinya .


Gerard menemui pimpinannya didalam sebuah ruangan khusus , tampak Sang Pemimpin kelompok organisasi duduk di kursi kerjanya, Dia melihat kedatangan Gerard yang menghampirinya.


"Ada apa Kamu tiba tiba datang ke sini?!" Tanya Sang Pimpinan, menatap tajam wajah Gerard yang berdiri didepan meja kerja dan menghadap pada dirinya.


"Ada kabar yang sangat penting mau Saya laporkan." ujar Gerard.


"Kabar apa?" Tanya Sang Pemimpin pada Gerard.


"Edward masih hidup, Pak." Ujar Gerard.


Gerard langsung saja ke tujuannya, Dia memberitahu tentang Edward pada Pimpinannya itu.


"Apa ?!!!"

__ADS_1


Sang Pemimpin tersentak kaget dan syock mendengar perkataan Gerard.


"Jangan ngada ngada Kamu Gerard !! Samsudin , Kepala Sipir penjara bilang, kalo Edward sudah mati di bunuh dalam penjara dulu." Hardik Sang Pemimpin , menegur Gerard.


"Saya melihatnya sendiri Pak. Edward masih hidup, Dia datang kerumah saya dan bertemu dengan istri Saya, Zahara !!" Ujar Gerard, dengan wajah seriusnya memberi laporan pada Pimpinannya itu.


"Gillaaa !! Bagaimana bisa Edward masih hidup dan lolos dari penjara?!!" Ujar Sang Pemimpin marah.


Gerard lantas mengambil ponselnya, Dia lalu menunjukkan rekaman video yang sudah di kirimkan Samuel ke ponselnya itu.


"Liatlah Pak." Ujar Gerard.


Gerard menyerahkan ponselnya pada Pimpinannya, Sang Pemimpin langsung mengambil ponsel dari tangan Gerard.


Saat melihat wajah Edward benar ada dan nyata dalam rekaman video di ponsel, Sang Pemimpin menjadi semakin marah.


"Bajingaaan !! Rupanya Edward bisa lolos dari kematiannya!" Ujar Sang Pemimpin geram dan marah.


"Berani sekali Dia datang dan menunjukkan wajahnya kerumahmu!" Lanjut Sang Pemimpin geram.


"Ya, Pak. Saya diberi tau anak Saya Samuel, Dia yang merekam semuanya, Saya juga kaget melihat Edward masih hidup, sepertinya Dia datang menemui Zahara untuk menuntut balas." Ujar Gerard, memberi penjelasan pada Pimpinannya.


Pimpinan yang sudah jelas melihat wajah Edward dalam rekaman video lalu memberikan ponsel pada Gerard, Dia tak mau melihat sampai selesai rekaman video tersebut.


Sudah cukup baginya untuk memastikan kebenaran , bahwa memang Edward masih hidup, seperti yang di bilang Gerard .


"Cari Edward, temukan Dia !! Bagaimana pun juga Edward harus di habisi, jangan beri Dia kesempatan mendatangi kita satu persatu!!" Ujar Sang Pemimpin memberi perintah pada Gerard.


"Saya yakin, Edward muncul kembali untuk membalas dendam pada kita!" lanjut Pimpinan Gerard .


"Baik, Pak. Saya akan kerahkan orang orang untuk mencari dan memburu Edward, lalu membunuhnya." Ujar Gerard.


"Ya. Sepertinya, sudah saatnya, Saya juga harus bertindak sendiri menghadapi Edward." Ucap Sang Pimpinan .


"Ya, Pak." Angguk Gerard .


"Ya sudah, Kamu kasih tau anggota lainnya, bilang pada mereka, agar mulai saat ini juga, agar mereka berhati hati, karena bisa saja, sewaktu waktu, Edward datang menemui mereka ." ujar Sang Pemimpin, memberi perintah pada Gerard.


"Ya, Pak. Akan Saya kabari anggota lainnya, agar mereka juga bergerak bersama sama mencari keberadaan Edward saat ini." Ujar Gerard, dengan serius menjelaskan pada Pimpinannya.


"Ya. " Angguk Sang Pemimpin.


"Kalo begitu, Saya pamit Pak." Ucap Gerard.


"Silahkan." Jawab Sang Pimpinan.


Gerard lantas mengangguk hormat pada Pimpinannya itu, lalu Dia berjalan pergi dari dalam ruangan khusus itu meninggalkan pimpinannya sendiri.

__ADS_1


"Edwaardd...Ternyata, gak mudah menyingkirkanmu." Gumam Sang Pemimpin.


Wajah sang Pemimpin terlihat geram dan menahan amarahnya, Dia terlihat marah dan tak senang karena mengetahui, bahwa Edward masih hidup, dan itu artinya, Dia dulu gagal menyingkirkan dan melenyapkan Edward.


__ADS_2