
Dengan penuh rasa ketakutan yang begitu besar, Karina terus berlari mencari persembunyian, untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Peter.
Ilalang ilalang yang tumbuh liar dan tinggi tak menghalangi larinya, Dia tak perduli kulit tangannya tersayat sayat ilalang ilalang liar tersebut.
"Kaaa...rrriii...nnaaaa...!" Terdengar suara panggilan Peter dari kejauhan.
Suara itu semakin mendekat kearahnya. Karina diam sesaat, Dia berdiri dan menoleh ke kanan serta kekiri, mencari cari tempat bersembunyi yang paling aman dan tidak di ketahui Peter.
"Aku harus bisa selamat dari kejaran orang itu !" Gumamnya, penuh kekhawatiran dan takut karena nyawanya sedang terancam saat ini.
Peter terus melangkahkan kakinya, dengan sikap dingin dan tenang Dia berjalan menyusuri ilalang ilalang liar, Dia tahu, tak akan ada tempat buat Karina berlari dan bersembunyi.
Peter sangat hafal dan tahu sekali tentang area sekitar villa milik Hasmidar itu , karena dulu, di tempat yang sama, Dia pernah membunuh musuh Zahara yang menjadi lawan bisnisnya.
Peter tahu, di sekitar villa hanya ada ilalang liar dan di ujungnya, terbentang jurang yang sangat dalam. Dia yakin, jika Karina terus berlari, Dia akan menemukan jalan buntu dan berakhir pada tepi jurang. Karena itu Peter tak mau menghabiskan tenaganya untuk berlari mengejar Karina, cukup berjalan saja, Dia yakin akan menemukan Karina nantinya.
Karina menarik nafasnya dalam dalam, Suara Peter yang mengalun alun berirama memanggil terus namanya, dan suara itu semakin dekat dengannya.
Dengan cepat Karina melanjutkan larinya, menyelamatkan diri dari kejaran Peter.
Saat Dia berlari, Dia tersandung pada bongkahan sebatang kayu besar yang patah dan tergeletak ditanah, diantara ilalang ilalang liar, Karina merintih kesakitan memegangi lututnya yang terluka karena jatuh.
Lalu, dengan cepat Dia berdiri dan kembali berlari, Dia meninggalkan tas kecilnya yang terjatuh dan tergeletak di tanah. Karina tak sempat mengambil tasnya.
Dalam pikirannya saat ini, bagaimana caranya agar Dia bisa selamat dari kejaran Peter yang ingin membunuh dirinya atas perintah Zahara.
Karina terus berlari, pada suatu kesempatan, Dia menemukan tempat yang dianggapnya bisa buat Dia bersembunyi, tempat diantara gundukan ilalang ilalang liar dan tinggi, Karina menghentikan larinya, Dia lantas berjongkok dan bersembunyi.
Wajahnya pucat, keringat mengucur dari seluruh tubuhnya, Karina kelelahan karena terus saja berlari, dari persembunyiannya, Dia melihat ke arah suara yang memanggilnya.
Dia melihat Peter berjalan tenang menuju ke arahnya sambil terus memanggil namanya dan mencari cari .
"Apa salahku, Mengapa Zahara menjebakku datang ke sini, lalu ingin membunuhku?!" Gumam bathinnya.
"Apa Zahara tau soal hubunganku dengan Gerard ? Ah, tapi mana mungkin , gak ada yang tau, gak ada yang melihat Aku bersama Gerard." Bathinnya lagi.
Karina penasaran dan berfikir mengapa Zahara berniat ingin menghabisi nyawanya, Dia merasa, dirinya tak punya salah apa apa pada Zahara, jadi, menurut pikirannya, seharusnya, tak ada alasan buat Zahara untuk membunuhnya.
"Mengapa tiba tiba Zahara ingin membunuhku? Apa yang terjadi, padahal sikapnya baik padaku." Gumamnya.
Karina menghela nafasnya dengan berat, Dia benar benar tak habis pikir dengan perbuatan Zahara yang ingin menghilangkan nyawanya.
Karina sadar, bahwa Zahara memang sengaja menyuruhnya datang ke villa tersebut, karena Zahara sudah berencana untuk membunuh dirinya, sehingga Peter ditugaskan menunggunya di dalam villa tersebut.
__ADS_1
Dari kejauhan, Karina melihat jelas Peter berjalan semakin dekat ke arahnya, Dia melihat sikap Peter yang dingin dan kaku, serta tatapan mata tajamnya.
"Mau lari kemana Kamu Karina? Di sini, gak ada tempat buatmu bersembunyi, kemanapun Kamu lari, Aku pasti akan menemukanmu." Teriak Peter dari kejauhan.
Karina bergidik takut mendengar suara teriakan Peter, Dia berfikir, jika Dia diam saja di tempatnya yang sekarang, pastilah Peter akan menemukannya.
"Kemana Aku harus bersembunyi?" Bathinnya.
Wajahnya cemas dan semakin takut, sebab Dia melihat Patrick sudah semakin dekat ke arahnya berjalan.
Dengan cepat, Karina lantas berdiri dan keluar dari tempat persembunyiannya, Dia kemudian segera berlari kembali, mencari tempat yang lebih aman dari sebelumnya.
Peter terus berjalan menyeruak diantara ilalang ilalang yang tumbuh liar dan tinggi, lalu Dia menghentikan langkahnya, Peter melihat tas milik Karina tergeletak ditanah. Peter tersenyum sinis. Benar dugaannya, bahwa Karina berlari ke arah yang sudah Dia duga sebelumnya.
Peter lantas mengambil tas Karina, Dia menimang nimang tas tersebut ditangannya, mulutnya tersenyum sinis, lantas, Dia melanjutkan langkahnya , berjalan sambil membawa tas milik Karina.
Karina terus berlari menembus ilalang ilalang liar, tiba tiba saja langkahnya terhenti, Dia terkesiap, Karina menatap ke depan, kedua matanya terbuka lebar, Dia syock saat tiba di tempat tersebut.
Karina bingung, tak tahu harus berlari kemana lagi, di hadapannya jalan buntu, hanya ada jurang yang menganga lebar.
Hampir saja Karina terjatuh ke dalam jurang jika Dia tak cepat menghentikan larinya tadi. Karina kebingungan, celingak celinguk, melihat kekanan dan ke kiri , mencari jalan lainnya untuk berlari.
Namun, tak ada jalan buatnya melanjutkan pelariannya, Karina cemas.
Karina menyesal, karena Dia tak lari dengan menggunakan mobilnya, Dia panik, takut di bunuh Peter, sebab itu, saat berlari, Dia tak ingat akan mobilnya, Dia hanya ingin menyelamatkan nyawanya, sehingga berlari masuk ke dalam area tanah lapang yang sekitarnya di tumbuhi ilalang ilalang liar dan tinggi.
"Kaaariiinnnaaa...!" Terdengar suara teriakan berirama dari Patrick memanggilnya. Suara itu semakin dekat dengannya.
"Apa hidupku harus berakhir seperti ini?" Gumamnya.
Karina berfikir keras, mencari cara untuk bisa lepas dari kejaran Peter yang sudah semakin mendekat ke arahnya.
Perlahan lahan, Karina melangkah ke depan, Dia berdiri di tepi jurang itu, lalu, dengan pelan pelan, Dia menggerakkan tubuhnya ke depan, Dia melihat ke arah jurang.
Karina takut saat melihat, begitu dalamnya jurang yang ada di hadapannya saat ini, Karina bingung, tak tahu, harus bagaimana menyelamatkan dirinya. Dia sudah terpojok di tempat itu.
"Hai Karina."
Karina terkesiap kaget, dan sontak cepat berbalik badan ke belakangnya saat mendengar suara Peter menyapanya.
Karina semakin kaget dan takut, melihat Patrick sudah berdiri dihadapannya, tak jauh dari tempatnya berdiri. Karina melihat tatapan mata Peter sangat menyeramkan, dan Dia menyeringai buas menatap wajah Karina.
"Tak ada tempat lagi untukmu berlari, disini akhir dari pelarianmu, Karina." Ucap Peter dengan suara datar dan sikap dinginnya.
__ADS_1
"Jangan mendekat ! Kalo Kamu coba coba mendekat, Aku akan melompat ke jurang itu !!" Hardik Karina, mengancam Peter.
Dia sengaja mengancam Peter, Dia berfikir, jika Dia mengatakan bahwa Dia akan melompat masuk kejurang yang sangat dalam itu, Peter tak berani mendekatinya, namun, dugaannya salah, Peter malah mentertawakan ucapannya.
"Hahaha... Cobalah lompat. Apa Kamu berani melompat ? Tubuhmu akan hancur berkeping keping jatuh ke dasar jurang itu." Ujar Peter tertawa sinis menatap wajah Karina.
"Jangan mendekat !!" Teriak Karina.
Karina melarang Peter mendekat, saat melihat Peter hendak melangkahkan kakinya, namun, Peter tak perduli, Dia melangkah satu langkah ke depan.
"Menyerahlah Karina." Ujar Peter, menatapnya tajam.
"Aku gak mau !! Apa alasanmu membunuhku , mengapa Zahara menyuruh dan membayarmu untuk membunuhku ? Apa salahku?!!" Ucap Karina berteriak histeris karena panik dan takut di bunuh.
"Aku gak tau dan gak mau tau. Tugasku hanya menjalankan perintah orang yang membayarku, yakni membunuhmu dan melenyapkan tubuhmu dari dunia ini, agar gak ada orang yang menemukanmu nantinya." Ungkap Peter.
Mendengar perkataan Peter, Karina semakin bergidik ngeri dan takut, Peter benar benar akan membunuh dirinya.
"Jika Kamu mau tau alasannya mengapa Kamu mau di bunuh, ikutlah denganku, Kita kembali ke Villa. Nanti Kamu akan tau semuanya." Ujar Peter.
Peter berusaha membujuk Karina agar menyerahkan dirinya lalu ikut kembali dengannya ke Villa.
Peter tak ingin membunuh Karina langsung di tepi jurang itu, sebab, sebelumnya, Perintah Zahara, Sebelum Dia membunuhnya, Dia harus menyiksa dan menyakiti Karina terlebih dulu, dan juga, sebelum membunuh Karina, Dia harus menunggu kedatangan Zahara yang ingin menyaksikan secara langsung, saat dirinya membunuh dan menghabisi nyawanya Karina.
"Aku gak mau ikut denganmu, Kalo Aku ikut, Kamu akan membunuhku!" Teriak Karina marah.
"Tidak, Aku gak akan membunuhmu di sini, percayalah." Ujar Peter, mencoba meyakinkan Karina.
Karina tak yakin dan tak percaya dengan perkataan Peter, Dia menatap wajah Peter yang berdiri dihadapannya dan sedikit jauh darinya. Dia melihat sorot mata Peter tajam, seakan siap melahap dirinya, dan mulut Peter terus saja menyeringai menyeramkan, membuat Karina semakin takut.
Karina menoleh ke belakangnya, melihat ke arah jurang yang menganga lebar, jurang itu menunggu dirinya melompat dan menelan seluruh tubuhnya.
Karina memejamkan kedua matanya, lantas, Dia menarik nafasnya, Di cobanya dirinya untuk tetap tenang, Dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Perlahan lahan, Dia membuka kedua matanya kembali, lalu, dengan pelan pelan, Dia mulai melangkahkan satu kakinya ke belakang.
Peter melihat, Karina melangkah mundur dan semakin mendekati jurang. Karina menghentikan langkahnya, saat Dia tahu, bahwa Dirinya saat ini sudah berada tepat di bibir jurang.
Jika Dia melangkahkan kakinya dua langkah lagi , maka, bisa di pastikan, Dia akan terjatuh dan masuk ke dalam lubang jurang yang dalam itu.
Peter yang berdiri tak jauh darinya menatap tajam wajah Karina, Dia diam tak bergerak, tatapan matanya dingin menyeramkan.
Peter menunggu apa yang akan di lakukan Karina berikutnya, Dia menanti, apakah Karina berani menjatuhkan dirinya ke dasar jurang yang menganga itu.
__ADS_1