
Astrid keluar dari dalam kamar Papahnya, Dia berjalan menuju ke ruang depan Paviliun.
Diambilnya ponsel dari dalam kantong celananya, lalu, Dia menyalakan ponselnya yang dalam keadan mati itu, kemudian, cepat Dia membuka layar ponsel dan segera menelpon .
Astrid mencoba menghubungi Papahnya, Dia ingin tahu, kemana Papahnya pergi dan mengapa tak mengabarinya.
Terdengar nada suara terputus dari ponsel, Astrid lantas mencoba menghubungi kembali, tapi, telpon tak juga tersambung dan terputus .
"Sial, telponnya gak aktif!" Ujarnya kesal.
"Kemana sih perginya Papah? Padahal udah Aku bilang, kasih tau Aku kalo mau pergi kemana aja, jadi Aku gak khawatir begini , Papah keras kepala !" Ujarnya kesal sekali pada papahnya, karena tak mau memberitahu dirinya . Dia mengomel sendirian .
Astrid lantas mencoba menelpon Antoni, Dia mencari nomor telepon Antoni di daftar kontak teleponnya.
Setelah menemukan nama Antoni pada kontak teleponnya, Astrid langsung saja menelpon Antoni, terdengar nada panggil berbunyi di ponselnya. Astrid diam menunggu dan mendengarkan suara nada panggil di teleponnya itu .
"Ya, Hallo." Terdengar suara Antoni dari seberang telepon, menjawab panggilan telepon dari Astrid.
"Antoni, dimana Kamu?!!" Astrid langsung saja bertanya pada Antoni, setelah Antoni menerima panggilan teleponnya .
"Aku di tempat kerjaanku, kenapa?" Tanya Antoni, dari seberang telepon.
"Kenapa Kamu gak kasih kabar sama Aku kalo mau kerja?" Ujar Astrid, kesal bicara di teleponnya.
"Sorry, Trid, Aku udah coba telepon Kamu, tapi Hape Kamu gak aktif tadi pagi." Ujar Antoni, menjelaskan pada Astrid dari seberang telepon.
"Oh." Jawab Astrid singkat di telepon.
Dia baru sadar, kalau teleponnya memang tak aktif, Dia sengaja mematikan teleponnya, agar teleponnya tak berbunyi, saat Dia datang kerumah Tarmiji untuk membunuhnya tadi malam.
Sampai Dia pulang kerumah, Astrid lupa mengaktifkan kembali teleponnya. Karena itu, Antoni tak bisa menghubunginya .
"Kamu ngapain kerja ? Kan bahaya diluar sana Antoni?! Bagaimana kalo Gerard menyuruh orang lagi buat mencarimu?" Ujar Astrid di telepon.
"Lantas, kalo orang suruhan Gerard tau kamu kerja di tempat kerjamu itu , mereka bisa datang dan menangkapmu, bahkan akan menghabisimu!" Tegas Astrid, mengingatkan Antoni diteleponnya.
"Maaf Trid, sudah lama Aku bolos kerja, Aku pikir, sebaiknya Aku kerja, daripada terus berdiam diri dalam paviliun, aku jenuh." Ungkap Antoni, dari seberang telepon.
"Lagi pula, Kamu gak usah khawatir padaku, Aku bisa jaga diriku sendiri, Aku gak takut, anak buah Gerard datang menemuiku , Aku gak akan lari dan akan menghadapi mereka." Ujar Antoni, menjelaskan pada Astrid dari seberang telepon.
"Kamu jangan membahayakan dirimu Antoni ! Sebaiknya Kamu cepat kembali ke Paviliun, jangan bekerja dulu, sampai situasi aman nantinya." Ucap Astrid, di telepon .
Astrid khawatir dengan keselamatan nyawa Antoni, Dia tak ingin melihat Antoni terluka atau bahkan terbunuh nantinya. Astrid sangat menyayangi sikap Antoni yang malah pergi dari Paviliun dan memutuskan untuk kembali bekerja di mini market tempatnya bekerja selama ini .
__ADS_1
Astrid sedikit kesal pada Antoni, karena sama sekali Antoni tak mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri, padahal, bahaya mengancam, dan sewaktu waktu, Dia bisa terbunuh, jika Orang bayarannya Gerard menemukan Dia dan mengetahui, bahwa Dia bekerja kembali .
"Nanti, habis jam kerja Aku pulang." Ujar Antoni, dari seberang telepon.
"Antoni..."
Astrid terdiam, karena mendengar nada suara telepon terputus, Dia semakin kesal, karena Antoni langsung saja mematikan teleponnya .
"Sial !! Antoni sama Papah sama sama keras kepala !! Susah di bilangin !!" Ujarnya geram dan kesal.
Astrid masih cemas dan khawatir pada Papahnya, karena Dia belum mengetahui keberadaan papahnya hingga saat ini, dan telepon Papahnya tak bisa Dia hubungi .
"Aku harus minta bantuan Alex buat melacak keberadaan Papah saat ini. Ya, dalam hal ini, hanya Alex yang bisa diandalkan." Ujarnya .
Astrid lantas menyimpan ponsel kedalam kantong celananya, lalu, Dia bergegas keluar dari dalam Paviliun tersebut .
Di halaman Paviliun, Astrid cepat membuka pintu mobilnya, lalu, Dia segera masuk ke dalam mobilnya itu .
Mesin mobil menyala, sesaat kemudian, Astrid menjalankan mobilnya, mobil segera melaju pergi meninggalkan Paviliun tersebut . Paviliun kosong, tak ada satu orang pun yang ada dalam Paviliun, karena semuanya pergi saat ini .
---
Alex sedang duduk di kursi kerjanya dan menatap layar laptopnya, Dia sedang mengutak atik laptopnya, tak berapa lama, terdengar suara mobil datang dan berhenti di halaman rumahnya.
Astrid sudah berdiri di depan pintu masuk rumah Alex, Dia menekan bel rumah, lalu berdiri menunggu didepan pintu masuk rumah.
Tak berapa lama kemudian, pintu rumah itu terbuka, dan Alex berdiri di depan pintu. Alex kaget melihat Astrid yang datang kerumahnya pagi pagi tanpa memberi kabar terlebih dulu padanya jika mau datang kerumahnya .
"Kamu? Ku kira siapa pagi pagi yang datang kerumahku." Ujar Alex, menatap wajah Astrid yang berdiri didepan pintu masuk rumahnya.
"Kenapa gak telpon dulu kalo mau ke sini?" Ujar Alex pada Astrid.
Astrid diam saja tak menjawab perkataan Alex, Dia malah cuek melangkah masuk ke dalam rumah, Alex heran melihat sikap Astrid yang duek dan tak seperti biasa itu.
"Kamu kenapa? Kayak panik dan cemas gitu?!" Ujar Alex, menatap wajah Astrid yang berdiri dihadapannya itu.
"Tolong lacak telepon Papahku, Lex." Ucap Astrid, menatap tajam wajah Alex.
"Papahmu? Memang pak Edward pergi dari Paviliun?!" Ujar Alex bertanya pada Astrid.
"Iya, Dia pergi dan gak bilang bilang mau kemananya, Aku coba telepon, tapi Hapenya gak aktif . Aku khawatir Lex." Ujar Astrid, menatap wajah Alex.
"Saat pagi tadi Aku pulang, Antoni dan Papah gak ada di Paviliun." Ujar Astrid.
__ADS_1
"Oh, begitu, ya, Kamu pergi membunuh Tarmiji semalam, ya." angguk Alex mengerti dan paham.
"Ya, Lex." jawab Astrid.
Astrid terlihat sangat cemas dan mengkhawatirkan keselamatan diri Papahnya .
"Gak biasanya Pak Edward pergi dari paviliun, apalagi secara diam diam tanpa memberi tau Kamu." Ujar Alex , heran .
"Entahlah, Lex. Aku juga gak tau, apa Papahku mencoba nelpon Aku dan mau ngasih tau kalo Dia pergi, tapi karena teleponku mati jadi gak bisa dihubungi, atau, memang papah gak nelpon Aku sama sekali." Ujar Astrid, memberi penjelasan pada Alex.
"Aku khawatir, Papah nekat mendatangi rumah salah satu musuhnya, seperti beberapa waktu yang lalu, Dia datang ke rumah Hardi wijaya " ujar Astrid.
"Oh ya?!" Alex kaget mendengar perkataan Astrid.
"Ya, niatnya Papah mau membalas perbuatan Hardi Wijaya dulu kepadanya, tapi tanpa disengaja, Papah malah ketemu Aku disana, Papah meliat Aku membunuh Hardi Wijaya." Jelas Astrid.
"Aku menegur Papah, karena gak bilang kalo mau menemui musuhnya itu, Papah minta maaf, karena alasannya gak mau Aku terlibat dalam urusannya." Ujar Astrid.
"Aku lantas meminta Papah agar memberi tau padaku, jika Dia mau menemui musuhnya lagi, setidaknya, jika pun Aku gak ikut campur, Aku tau kemana Dia pergi, gak seperti sekarang ini, Aku gak tau kemana Papah." Ungkap Astrid, dengan wajah cemasnya pada Alex.
"Oh begitu. Kamu tenang aja, Trid. Gampang melacak telepon Papahmu." Ujar Alex, menatap lekat wajah Astrid yang berdiri cemas di hadapannya itu.
"Benarkah? Tapi Hapenya mati dan gak aktif ?" Ujar Astrid, memberi tahu Alex.
"Gak masalah mau Hapenya mati atau gak aktif nomor teleponnya. Aku sudah menanamkan chip mini pelacak di sim card ponsel Papahmu." Ungkap Alex.
"Serius Kamu?" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Alex.
"Ya, Jadi, Aku akan mudah mencari dan melacak keberadaan Papahmu dimana saat ini." Ujar Alex, tersenyum senang menatap wajah Astrid.
"Gila ! Kamu memang brilian Lex , Kamu malah udah duluan memasang alat pelacak di ponsel Papahku. Aku malah baru tau sekarang." Ujar Astrid.
"Ya, waktu itu, Aku meminjam ponsel Papahmu dan juga ponsel Antoni, lalu, Aku tanam chip mini di dalam ponsel mereka, agar sewaktu waktu mudah melacak mereka." ujar Alex.
Dan di hapeku juga ada ?!" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Alex yang berdiri dihadapannya.
"Ya, justru dari awal Aku kasih hape padamu dulu udah Aku taruh chip didalam sim card ponselmu. Agar Aku bisa melacak dan mencarimu, serta cepat menolongmu, jika Kamu dalam bahaya saat jalani misi balas dendammu." Ungkap Alex menjelaskan pada Astrid.
"Oh begitu. Pantas Kamu selalu tau dimana Aku." Ujar Astrid, mengangguk mengerti dan paham.
"Ya udah, ikut Aku ke ruang kerjaku, kita cari dimana Papahmu berada saat ini." Ujar Alex pada Astrid.
"Ayo, Lex." Jawab Astrid dengan wajahnya yang senang .
__ADS_1
Lantas, mereka berdua bergegas jalan menuju keruang kerja Alex untuk melacak keberadaan Edward saat ini .