Destroy

Destroy
Pertarungan


__ADS_3

Ketiga orang bayarannya Gerard langsung saja masuk kedalam rumah dan bertemu Antoni yang sudah berdiri bersiap siap menunggu mereka .


"Hei , Kamu Antoni !!" Bentak Pria 1 pada Antoni.


"Mau apa kalian datang kerumahku?" Bentak Antoni.


Antoni menantang ke tiganya , sama sekali Dia tak gentar dengan ketiga orang yang berdiri dihadapannya, tak ada niat bagi Antoni untuk mundur atau pun lari, Dia sudah siap menghadapi ketiga orang tersebut, yang datang memang untuk menyingkirkan dirinya.


"Hajar Dia !!" Ujar Pria 1 kepada dua temannya.


Kedua temannya mengangguk, lalu cepat mereka menyerang Antoni, Antoni menghindari serangan kedua orang itu .


Pria 1 masih berdiri diam mengamati, Dia membiarkan kedua temannya yang melawan Antoni, Antoni terlihat berusaha menghindari pukulan pukulan dari kedua orang yang menyerangnya. Perlawanan sengit di perlihatkan Antoni, Dia berhasil menghindar dari pukulan dan sesekali menyerang balik dengan memukul dan menendang kedua orang yang mengeroyoknya itu. Perkelahian dua lawan satu pun terjadi didalam rumah Antoni.


Antoni berhasil menangkap tangan salah seorang yang mengeroyoknya, lalu, dipelintirnya tangan orang itu, kemudian Dia menendang dan melemparkan orang tersebut. Orang itu terlempar menghantam meja yang ada di situ, Dia terjerembab jatuh, meringis kesakitan .


Melihat temannya berhasil di jatuhkan Antoni, Pria 3 tak terima, Dia lantas menyerang Antoni, berusaha untuk memukul dan menjatuhkan Antoni, Pria 1 masih berdiri mengamati, Dia diam saja tak membantu temannya .


Perkelahian masih terus terjadi, Pria 2 yang di lempar Antoni cepat berdiri kembali, lalu, Dia membantu temannya, menyerang Antoni lagi .


Antoni berkali kali menghindari pukulan kedua orang itu, namun, Pria 2 akhirnya berhasil memukul Antoni, Antoni sempat terjajar kebelakang, lalu Pria 3 menerjang dan menendangnya, Antoni tersungkur jatuh .


Antoni lantas cepat berdiri dan langsung menyerang kedua orang tersebut .Kali ini, pertarungan di kuasai Antoni, berkali kali Antoni memberi pukulan telak ke wajah kedua orang tersebut, hingga keduanya tampak kesulitan menghadapi Antoni.


Melihat kedua temannya mulai kesulitan melawan Antoni, cepat Pria 1 bergerak , Dia turun tangan dan menyerang Antoni, Antoni lantas dikeroyok oleh ketiga orang tersebut .


Sementara itu, dibelakang rumah Antoni, Astrid dan Edward sudah berada di luar rumah.


"Pah, Papah sembunyi dulu di sini ya." Ujar Astrid, pada Edward.


"Kamu mau kemana ?" tanya Edward, menatap tajam wajah Astrid yang berdiri dihadapannya.


"Aku mau bantu Antoni, Aku gak mau membiarkan Antoni berjuang sendirian, mengorbankan dirinya melawan orang orang itu. Ujar Astrid, memberi penjelasan pada Edward .


"Ya, pergilah, bantu Antoni, Papah biar sembunyi disini dan menunggu kalian datang." Ujar Edward pada Astrid.


"Ya, Pah." Ujar Astrid.


Astrid lantas berbalik badan, saat Dia mau melangkah pergi, Edward memanggilnya .


"Astrid." Ujar Edward.


Astrid tak jadi melangkah, Dia kembali berbalik badan dan melihat Edward.

__ADS_1


"Ya, Pah." jawab Astrid.


"Hati hati, Kamu jangan sampai terluka." Ujar Edward, menatap tajam wajah Astrid.


"Astrid akan baik baik saja, Pah, Papah jangan khawatir." Ucap Astrid, meyakinkan Papahnya .


"Papah tunggu ya, Aku menyusul Antoni dulu." Ujar Astrid.


"Ya " Angguk Edward .


Lantas, Astrid berbalik badan, Dia kemudian bergegas lari masuk kembali ke dalam rumah untuk membantu Antoni yang berjuang sendirian melawan ketiga orang suruhannya Gerard .


Di ruangan dalam rumah , Antoni masih terus memberi perlawanan sengit terhadap ketiga orang itu, meja dan sofa sudah berantakan di sekitarnya.


Antoni terjajar jajar di pukuli oleh Pria 1 dan Pria 2, berkali kali wajahnya terkena pukulan, dan perutnya ditendang, Hingga Antoni terjatuh ke lantai .


Saat Pria 3 mau menyerang Antoni dengan menendangnya, Astrid datang, Dia langsung menghajar Pria 3 yang hendak menendang Antoni.


Pukulan Astrid tepat mengenai dada Pria 3 , hingga Dia terjajar kebelakang dan meringis memegangi dadanya yang terasa sakit akibat terkena pukulan Astrid .


Antoni kaget melihat Astrid datang, Ketiga orang itu semakin marah melihat kehadiran Astrid yang membantu Antoni .


"Astrid, kenapa Kamu gak pergi juga?!" Ujar Antoni bertanya heran.


Antoni diam, Dia meringis menahan sakit dibagian perut dan dadanya, bibir Antoni berdarah, dan wajahnya lebam terkena pukulan .


"Sikat dan habisi mereka !!" Perintah Pria 1 pada dua temannya.


Langsung saja kedua teman si Pria 1 menyerang Astrid dan juga Antoni .


Astrid menghindari pukulan mereka, begitu juga dengan Antoni, pertarungan terjadi kembali, Dua lawan dua. Pria 1 diam mengamati.


Astrid dan Antoni bersama sama melawan kedua orang tersebut, mereka berhasil mengalahkan kedua orang itu, Kedua orang itu terjerembab kelantai akibat terkena pukulan Antoni dan tendangan Astrid .


Pria 1 geram dan marah melihat kedua temannya kalah, Dia lantas menyerang Astrid, Dia mengamuk membabi buta memukul Astrid, namun Astrid berhasil menghindari pukulannya .


Dua temannya cepat bangun dan berdiri, mereka lantas kembali menyerang Antoni, perkelahian masih terus berlanjut, Antoni dan Astrid bekerja sama memberi perlawanan pada ketiga orang tersebut .


"Doorr...Dooor...Dooorr !!"


Tiba tiba saja, terdengar suara tembakan dari senjata api, suara tembakan tiga kali terdengar, Antoni dan Astrid tersentak kaget mendengar suara letusan tembakan dari senjata api .


Namun letusannya tak terdengar keras , karena memakai peredam suara, hanya terdengar kecil saja suaranya saat peluru ditembakkan tadi .

__ADS_1


Mereka melihat, ketiga orang yang menyerang itu jatuh tersungkur di lantai, dengan semuanya mendapatkan luka tembak yang sama, dibagian dadanya .


"Papah ?!!" Astrid terkesiap kaget.


Astrid terkejut, karena ternyata Papahnya yang menembak ketiga orang itu, sehingga ketiga orang itu mati tersungkur di lantai .


Astrid dan Antoni melihat Edward berdiri di belakang mereka sambil masih mengarahkan pistol ditangannya kepada ketiga orang yang sudah mati itu .


"Dari mana Papah punya Pistol?" tanya Astrid, menatap heran Papahnya .


Astrid sama sekali tak menduga, jika ternyata Papahnya memiliki pistol, dan digunakannya menembak ketiga orang yang ingin menangkap Antoni .


"Papah selalu membawa pistol ini bersama Papah. " Ujar Edward, sambil menurunkan tangannya yang masih memegang pistol itu .


"Papah mendapatkan pistol ini di markas Simon dulu, saat Papah berusaha melarikan diri. Sejak itu, Papah menyimpannya untuk melindungi diri Papah ." Ungkap Edward .


"Oh." Jawab Astrid paham.


"Papah gak mau berlama lama menunggu, dan Papah gak mau Kamu dan Antoni sampai terluka, itu sebabnya, Papah memutuskan kembali menemui Kalian dan membunuh ketiga orang itu." ujar Edward, memberi penjelasan pada Astrid dan juga Antoni .


Antoni menghela nafasnya, Dia menghapus darah dari pinggir bibirnya, Astrid diam berdiri dihadapan Edward .


"Kita harus pergi sekarang, tempat ini gak aman, Papah yakin, jika ketiga orang ini gak kembali dan gak memberi laporan, pasti Gerard akan menugaskan anak buahnya yang lain untuk ke sini atau kerumahmu Astrid." Ungkap Edward, menjelaskan dengan serius.


"Ya, Pah. Kita pergi sekarang." ujar Astrid.


"Lantas, bagaimana dengan mayat mereka ?" Tanya Antoni .


"Biarkan saja sementara di sini, Nanti Aku pikirkan bagaimana cara menyingkirkan mayat mayat itu tanpa diketahui warga disekitar rumahmu." Ujar Astrid, menjelaskan pada Antoni .


"Apa Warga gak dengar suara tembakan tadi ?" tanya Antoni khawatir.


"Warga gak akan ada yang mendengarnya Antoni, Om memakai peredam suara, jadi suara tembakannya gak sampai kedengaran keluar rumahmu ." Ujar Edward, memberitahu Antoni .


"Oh, begitu. Saya gak mau masalahnya semakin ribet saja kalo para warga sampai tau dan mendengar suara tembakan tadi." ujar Antoni.


"Gak akan ada yang tau, kamu tenang saja." Ujar Astrid, meyakinkan Antoni .


"Ya." Angguk Antoni, menuruti perkataan Astrid .


"Kita pergi sekarang, ayo." Ujar Edward.


"Ayo, Kita lewat belakang." Ujar Antoni .

__ADS_1


Lantas, mereka bertiga bergegas pergi meninggalkan rumah Antoni, mereka membiarkan saja ketiga orang suruhannya Gerard terkapar dilantai dan sudah tak bernyawa lagi .


__ADS_2