Destroy

Destroy
Gerard Tak Menyangka


__ADS_3

Zahara berlari kencang dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar Jack, Betapa kagetnya Dia saat melihat Jack terkapar di lantai kamar, dan dihadapannya Melani yang tengah menangis meratapi Jack.


"Jaaackkk!" Teriak Zahara panik.


Zahara langsung bersimpuh dihadapan Jack, Dia memegangi tubuh Jack dan mengguncang guncang tubuhnya , namun Jack tak juga sadarkan diri.


Tak berapa lama datang Gerard, Dia terpaku diam berdiri di depan pintu kamar saat melihat Jack yang sudah terkapar di lantai,. Dari mulutnya yang masih menyisakan busa yang sudah mengering dan jarum suntik serta botol botol kecil bekas obatan terlarang yang dilihatnya diatas meja kamar, Gerard tahu, Jack sudah pingsan karena over dosis obat obatan terlarang yang di pakainya.


"Gimana ini?!! Kamu jangan diam aja, ambil tindakan !!" Hardik Zahara, dengan wajah kesal menoleh pada Gerard yang hanya berdiri diam terpaku di depan pintu kamar.


Gerard tak menjawab, namun Dia cepat mengambil ponsel dari kantong celananya, lalu, Dia segera menghubungi petugas medis dan mobil ambulance untuk segera datang ke rumahnya dan menjemput Jack.


Wajah wajah keluarga Gerard tegang dan panik. Terlebih Gerard, Dia syock karena mengetahui, bahwa Jack ternyata masih saja memakai obat obatan terlarang. Padahal Dia pernah mengingatkan Jack untuk berhenti dan meninggalkan itu semua, sebab, Jack akan menjadi ahli warisnya, dan juga sebagai penerus dirinya untuk memimpin perusahaan perusahaan yang di milikinya.


Terutama satu perusahaan besar, yang di atas namakan Gerard, namun Dia bukan sebagai pemilik, hanya sebagai yang menjalankannya dan cuma memakai namanya sebagai pemimpin, dan perusahaan itu milik Boss nya.


Dan karena Gerard sudah semakin tua, Dia meminta izin pada Boss untuk menjadikan Jack sebagai penggantinya, dan si Boss menyetujuinya.


Namun, melihat keadaan Jack seperti sekarang ini, yang sering over dosis, Gerard khawatir, jika dewan direksi perusahaan dan para pemegang saham mengetahui Jack sebagai pecandu berat, tentu mereka akan meragukan kemampuan Jack memimpin perusahaan.


Terlebih si Boss. Dia akan berfikir ulang untuk memberikan kepercayaan pada Jack menjalankan roda perusahaan yang di amanahkannya pada Gerard untuk mengelolanya selama ini.


"Akh sudah menghubungi pihak medis, tunggu saja." Ujar Gerard, sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya.


Zahara terlihat menangis memeluk tubuh Jack yang pingsan itu, begitu juga dengan Melani, biar pun Jack orangnya keras kepala dan suka membuat kesal Melani, namun, Jack adalah abang satu satunya yang di miliki Melani, dan mereka sangat dekat satu sama lainnya.


"Kenapa Kamu gak melarang Jack untuk meninggalkan kebiasaan buruknya?!" Ujar Gerard pada Zahara.


"Sudah sering ku katakan, tapi Jack gak mau mendengarku! Dia bahkan pernah bilang, Kalo Dia gak mau menjadi pimpinan di perusahaan !!" Ungkap Zahara .


"Gila itu anak ! Kalo Dia gak mau memimpin perusahaan, lantas, mau jadi apa Dia?!" Ujar Gerard kesal.

__ADS_1


"Aku udah bilang dan nasehati Jack, agar Dia mau menjalani perusahaan menggantikan Kamu. Aku bilang, itu untuk masa depannya. Tapi Dia cuek saja menanggapinya. Dan terus berkutat dengan obat obatan terlarangnya." Ujar Zahara.


"Pokoknya setelah ini, Kamu nasehati Jack Kalo gak mau harta warisan dan perusahaan jatuh ke tangan Samuel, Dia harus mau menjadi pemimpin di perusahaan, atau, kalo Dia tetap menolak, Maka Samuel akan menghancurkan kalian, Kamu kan tau, bagaimana Samuel pernah mengancammu? Akan mengusirmu dan anak anak jika Dia berkuasa ?!" Ujar Gerard, mengingatkan Zahara.


"Ya, Aku tau itu. Nanti pelan pelan Aku nasehati Jack. Yang penting sekarang, Jack harus sadar dan sembuh!" Tegas Zahara.


Mereka semua yang ada di kamar itu terlihat sangat cemas dan panik sekali, berbeda dengan Samuel, yang tetap cuek asyik membaca buku di ruangan santai rumahnya .


Samuel tak perduli dengan apa yang sedang terjadi di dalam rumahnya. Dia masa bodoh dengan semuanya, dan menganggap itu bukan urusan dirinya.


Beberapa saat kemudian, datang mobil Ambulance kerumah Gerard.


Gerard menyambut para medis yang datang dengan membawa brankar dorong. Gerard mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya.


Dengan cepat dua petugas medis mendorong brankar dorong masuk ke rumah dan menuju ke kamar.


Setibanya di kamar, Dua petugas medis langsung mengangkat tubuh Jack yang pingsan itu dan meletakkannya di atas brankar dorong, lalu, cepat mereka membawa Jack keluar dari dalam rumah.


Zahara , Gerard dan juga Melani mengikuti, mereka ikut keluar dan mengantarkan Jack.


Zahara masuk ke dalam mobil Ambulance, Melani juga ingin naik dan masuk ke dalam mobil Ambulance, tapi di larang salah satu petugas medis.


"Maaf, hanya satu orang saja yang boleh ikut." Ujar Petugas Medis.


"Tapi..." Melani diam karena ucapannya langsung di potong Mamanya.


"Sudah, Kamu nanti nyusul sama Papah, biar Mama yang menemani abangmu, ya." Ujar Zahara pada Melani.


Melani hanya mengangguk lemah, Dia kecewa karena tidak bisa ikut mengantarkan Jack ke rumah sakit. Gerard mendekati Melani.


Tak berapa lama, mobil ambulance segera membunyikan sirenenya, lalu, mobil mulai bergerak, berjalan keluar dari halaman rumah menuju ke jalanan.

__ADS_1


Melani berdiri bersama Gerard di depan teras rumah memandangi kepergian mobil ambulance yang membawa Jack kerumah sakit.


Dari lantai atas rumahnya, Astrid melihat jelas mobil ambulance yang pergi dari rumah Gerard. Dia mendengar suara sirene mobil ambulance saat datang kerumah Gerard tadi.


Sehingga Astrid penasaran dan ingin tahu, apa yang terjadi dalam rumah Gerard sehingga memanggil mobil ambulance.


Astrid melihat dari lantai atas, Dia melihat jelas saat Jack di bawa keluar dari dalam rumah dan di masukkan ke dalam mobil ambulance, namun, Astrid belum tahu, mengapa Jack di bawa mobil ambulance.


"Apa yang terjadi? Apa Samuel berkelahi dengan Jack? " Bathin Astrid bertanya tanya.


Setelah mobil ambulance pergi, Gerard mengajak Melani untuk ikut dengannya, menyusul Jack dan Zahara kerumah sakit. Melani mengikuti Papahnya.


Astrid dari teras lantai atas rumahnya melihat jelas, Gerard masuk ke dalam mobil bersama Melani, lalu, mobil kemudian pergi meninggalkan rumah .


Astrid lantas berbalik badan dan segera masuk ke dalam rumahnya, Dia berjalan bergegas masuk ke dalam ruangan khusus yang ada di rumahnya.


Di dalam ruangan khusus, Astrid langsung melihat pada layar monitor yang ada di atas meja. Dia lalu mengecek kamera kamera cctv yang di pasangnya secara diam diam di rumah Gerard.


Melalui Kamera cctv Astrid ingin tahu kejadian yang sebenarnya, mengapa Jack di bawa mobil ambulance, Dia penasaran, apa yang terjadi pada Jack.


Astrid duduk di kursi kerjanya, pandangan matanya serius menatap layar monitor, Dia memutar ulang rekaman kamera cctv yang ada di rumah Gerard.


Namun, dari rekaman kamera cctv, Dia tak bisa menemukan jawaban, dari rekaman kamera cctv , Astrid hanya bisa melihat saat Zahara, Gerard berlari ke kamar Jack, lalu, saat datang petugas medis dan membawa Jack keluar rumahnya, dan Jack sudah dalam posisi tak sadarkan diri diatas brankar dorong petugas medis.


Astrid tak bisa mengetahui apa yang terjadi, sebab, Di dalam kamar yang di tempati Jack, Dia dan juga Alex tak memasang kamera cctv, mereka mengabaikan kamar tersebut .


"Sial, Aku gak bisa liat apa yang terjadi dalam rumah Gerard." ujar Astrid kesal.


Astrid lantas diam sesaat, Dia sedang memikirkan sesuatu hal, hingga sesaat kemudian, Dia tersenyum simpul dan terlihat senang, Dia menemukan cara untuk mengetahui apa yang terjadi dalam rumah Gerard dan Zahara itu.


"Sam... Ya...Samuel, Aku pasti bisa mendapatkan info darinya nanti." Gumam Astrid.

__ADS_1


Astrid lantas tersenyum senang, Dia ingat, kalau Samuel mengajaknya untuk makan malam bersama malam ini. Dan Astrid tak akan menolak dan akan mengambil kesempatan tersebut.


Astrid berencana akan mengorek keterangan dari Samuel, atas apa yang telah terjadi di dalam rumahnya dan mengapa Jack pingsan dan di bawa ke rumah sakit .


__ADS_2