
Malam harinya, terlihat kobaran api begitu besar dan banyak membakari seluruh gedung kantor kejaksaan .
Kobaran api yang cukup besar cepat menjalar dan melahap seluruh bangunan gedung kantor kejaksaan, sehingga membuat suasana malam hari menjadi terang benderang karena cahaya kobaran api yang membakar gedung kantor kejaksaan tersebut .
Beberapa mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian kebakaran, lalu, para petugas pemadam kebakaran cepat bergerak memadamkan api yang terus membakar dan melahap bangunan gedung kantor kejaksaan.
Sementara itu, Para petugas Penyidik kepolisian juga sudah hadir di lokasi kebakaran itu, mereka segera mengamankan sekitar lokasi kebakaran dan memasang garis pembatas kepolisian .
Penyelidikan dilakukan oleh petugas penyidik kepolisian dan ahli forensik, mereka bergerak masuk ke dalam gedung kantor kejaksaan setelah api telah berhasil di padamkan.
Belum bisa dipastikan apa yang menyebabkan kebakaran di gedung kantor kejaksaan tersebut, pihak penyidik kepolisian bersama tim ahli forensik masih menyelidiki dan mencari tahu penyebab kebakaran tersebut .
Pagi harinya, berita tentang kebakaran yang terjadi di gedung kantor kejaksaan sampai juga ke telinga Patrick. Dia mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya, bahwa semalam terjadi kebakaran hebat di kantor kejaksaan.
Patrick tak terkejut, Dia biasa saja menyikapi kabar tentang kebakaran yang terjadi di gedung kantor kejaksaan tersebut. Seperti sudah mengetahui, bahwa gedung itu akan terbakar atau di bakar .
Setelah mendapatkan kabar tentang kebakaran di gedung kejaksaan , Patrick meminta Marwan untuk bertemu dengannya. Dan mereka bertemu di taman, Di taman kota itu, tempat biasa mereka melakukan pertemuan .
Setibanya di taman, Marwan langsung menemui Patrick yang sudah menunggunya.
"Tempat penyimpanan barang bukti hangus terbakar." Ujar Marwan, memberi laporan pada Patrick.
"Sudah ku duga, mereka pasti sengaja membakar gedung kejaksaan itu, dan menargetkan untuk melenyapkan barang bukti, sehingga mereka membakar ruangan itu." Ujar Patrick geram.
"Mereka berfikir, dengan hancurnya barang bukti yang di simpan di gedung kejaksaan, maka, para pejabat tinggi yang di tangkap akan bebas dan tak akan di penjara, karena tak ada bukti lagi." Lanjut Patrick.
"Ya, untung Kamu sudah menyimpan barang bukti itu di tempat rahasia. Sehingga barang bukti itu tetap aman ditempatnya." Ujar Marwan .
"Ya, Biar saja mereka mengira, bahwa semua barang bukti sudah hancur karena terbakar. Kita akan membuat kejutan nanti saat di pengadilan, dengan mengeluarkan barang bukti tersebut yang disangka mereka sudah hancur terbakar." Ujar Patrick.
"Ya, Kamu benar." Jawab Marwan mengangguk, membenarkan perkataan Patrick.
"Sekarang, kita tunggu hasil penyelidikan kepolisian, apa mereka nanti akan memberi pernyataan, bahwa kebakaran itu ada yang sengaja membakarnya, atau, menutupi kasus kebakaran itu, dengan menyatakan kebakaran terjadi karena kerusakan listrik atau lain halnya lagi." Ungkap Marwan pada Patrick.
"Aku kira, Kasus kebakaran kantor kejaksaan itu akan di tutup, dan kebakaran dinyatakan karena faktor kerusakan listrik. " ungkap Patrick.
"Gak mungkin mereka membiarkan Polisi mengusut kasus kebakaran itu, karena mereka yang membakar gedung kantor kejaksaan tersebut, jadi, mereka pasti akan menutup kasusnya." Lanjut Patrick.
"Ya. Kamu benar, tapi, kita jangan hanya diam saja dan membiarkan saja kasus kebakaran gedung kejaksaan itu menguap atau di tutup selamanya. " ujar Marwan.
__ADS_1
"Kita harus bisa mengungkap siapa pelaku yang membakar gedung kantor kejaksaan itu, dan mengungkap otak serta dalang yang menyuruh membakar gedung kantor kejaksaan tersebut ." Lanjut Marwan, memberi penjelasan pada Patrick.
"Sudah pasti pelakunya organisasi kelompok pak Januar dan Gerard." Ujar Patrick pada Marwan.
"Ya, biar kita sudah tau, mereka yang melakukannya, tetap kita harus mengungkap dan menangkap pelaku yang membakar gedung kejaksaan, agar terungkap semua kejahatan mereka nantinya."Jelas Marwan.
"Ya. Kamu benar." Angguk Patrick.
"Ya, sudah, Aku pergi dulu, Aku mau membahas soal kasus kita ini dengan Akmal dan tim kejaksaanku." ujar Marwan.
"Okay." Jawab Patrick.
Lalu, Marwan segera pergi meninggalkan Patrick sendirian ditaman itu, Patrick lantas menghela nafasnya, lalu, Dia juga bergegas pergi meninggalkan taman tersebut .
---
Mobil Gerard berhenti di halaman rumahnya, lalu, Dia segera keluar dari dalam mobilnya, kemudian disusul oleh Melani, dan juga Zahara. Lalu, keluar Jack dari dalam mobil.
Jack sudah sembuh dari sakitnya akibat over dosis obat obatan terlarang, selama satu bulan lebih Dia di rawat di rumah sakit, dan sekarang, Dia dinyatakan sudah sehat dan boleh pulang kembali kerumahnya .
Gerard dan Zahara senang sekali mengetahui Jack sudah dinyatakan sehat, begitu juga dengan Melani, adiknya Jack. Mereka bersuka cita menjemput dan membawa pulang Jack kerumah lagi .
Dengan wajah penuh amarah lalu Samuel bergegas pergi, Dia tak mau bertemu dengan keluarganya yang sangat Dia benci itu .
Gerard dan Zahara serta Melani dan Jack masuk ke dalam rumah, Jack tampak senang sekali, bisa kembali kerumahnya lagi, setelah merasa jenuh berada di dalam kamar rumah sakit .
Walau semua kebutuhannya di penuhi dan terjamin selama tinggal di kamar rawat rumah sakit, tetap saja Dia merasa jenuh dan tak bisa berbuat bebas, karena banyak larangan yang harus Dia terima selama mendekam di dalam ruang rawat rumah sakit .
Dan sekarang Dia lega dan senang, karena sudah dirumahnya lagi, sehingga Dia bisa berbuat sesuka hatinya dan berbuat bebas seperti biasanya.
"Kamu mau istirahat Jack?" Tanya Zahara pada Jack.
"Ya, Ma. Aku capek." Jawab Jack.
Jack hanya beralasan saja, padahal Dia sudah tak sabar, ingin sendirian di dalam kamarnya, dan tak mau berlama lama bersama keluarganya itu .
"Ya, sudah, Kamu istirahat, nanti, Papah mau bicara denganmu." Ujar Gerard.
"Bicara apa Pah?" tanya Jack, menatap lekat wajah Gerard yang berdiri dihadapannya itu.
__ADS_1
"Soal pengangkatan Kamu jadi pimpinan perusahaan dan ahli waris tunggal Papah." Ungkap Gerard, menjelaskan pada Jack.
"Oh." Ucap Jack datar dan cuek.
Dia menanggapinya biasa saja, tak ada rasa senang maupun riang gembira darinya menanggapi perkataan Papahnya itu. Malah terkesan, Jack tak menyukai apa yang di sampaikan Papahnya itu, tapi , Dia berusaha berpura pura bersikap biasa dan tak memperlihatkan rasa tak sukanya terhadap Papah dan Mamanya yang menginginkan Dia menjadi penerus Gerard memimpin perusahaan milik mereka .
"Jack ke kamar dulu Ma, Pah. " Ucap Jack, menoleh pada Mama dan Papahnya.
"Ya, Jack." Jawab Zahara dan Gerard, hampir secara bersamaan.
" Melani juga mau istirahat di kamar ya, Ma, Pah." Ucap Melani pada Papah dan Mamanya.
Mama dan Papahnya mengangguk, mengiyakan perkataan Melani.
Lalu, Jack segera berjalan pergi meninggalkan Zahara dan Gerard, lalu disusul Melani yang juga pergi menuju ke kamarnya.
Setelah hanya tinggal mereka berdua saja diruangan itu, Zahara langsung saja pergi meninggalkan Gerard, Dia tak mau berlama lama di dekat Gerard, Dia muak dan jijik melihat Gerard.
Dia hanya berpura pura bersikap baik pada Gerard di depan anak anaknya, agar anak anaknya tak melihat dan tak tahu, jika kedua orang tuanya sedang ribut besar, dan sedang dalam proses menjalankan perceraian.
Zahara pergi meninggalkan Gerard, Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka berdua, masing masing diam dan cuek. Gerard juga cuek saja mengetahui Zahara pergi meninggalkannya. Dengan santainya Dia juga pergi, berjalan menuju ke ruang kerjanya yang ada di dalam rumahnya itu .
Pintu kamar terbuka, Jack lantas melangkah masuk ke dalam kamarnya, tak lupa Dia menutup dan mengunci pintu kamarnya. Agar tak ada yang bisa masuk kedalam kamarnya, Dia ingin menyendiri dalam kamarnya saat ini .
Wajahnya tampak sangat lega dan senang serta puas sekali , karena Dia sudah terbebas dari kungkungan rumah sakit, Dia sekarang bisa menikmati kebebasannya dengan sepuas puasnya, Dia bisa berbuat semaunya lagi di dalam kamarnya dan juga di luar rumah.
Jack melompat ke atas kasurnya, Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, melepaskan kepenatan dan kejenuhannya selama berada di dalam kamar rawat rumah sakit.
"Apa Kabar Jack?!"
Terdengar suara Samuel menyapa, Jack langsung saja melompat kaget mendengar suara itu. Karena tak menyangka, ada Samuel didalam kamarnya.
Jack cepat bangun dan duduk di tepi ranjang, Dia kaget melihat Samuel berdiri di samping lemari pakaiannya.
"Sam ?!!" Ucap Jack, terkesiap kaget .
Jack heran melihat Samuel bersembunyi disamping lemari pakaian di dalam kamarnya, Dia melihat Samuel berdiri diam dengan sikap dingin dan sorot mata yang tajam menatap wajahnya .
Jack heran melihat sikap aneh Samuel seperti itu . Dia kernyitkan keningnya, menatap heran dan bingung wajah dingin Samuel yang masih berdiri diam di samping lemari pakaian miliknya tersebut di dalam kamar .
__ADS_1