
Astrid teringat akan masa lalunya yang kelam dan sangat menyakitkan, karena di vonis gila oleh Karina sebagai psikiater yang dulu memeriksa kesehatannya.
Saat itu, Astrid baru saja di pindahkan kerumah sakit jiwa setelah sebelumnya Dia mendekam dalam penjara, di sebuah rumah tahanan khusus remaja.
Selama di dalam penjara, Astrid remaja rutin menemui Karina sebagai psikiater yang di tunjuk untuk memeriksa kesehatan jiwa dan pikirannya.
Karina bertugas sebagai psikiater yang memeriksa kesehatan mental Astrid remaja karena di tunjuk langsung oleh keluarga Gerard dan Zahara, sebab, mereka berteman baik, dan sama sama bersekongkol memfitnah dan menjebak bapak Astrid.
Tujuan sebenarnya Gerard dan Zahara memasukkan Astrid ke dalam rumah sakit jiwa dan menyuruh Karina untuk memvonisnya mengalami gangguan jiwa dan berbahaya, agar Astrid tersingkir dan menjauh dari kehidupan mereka selamanya. Dengan begitu, mereka leluasa menguasai harta benda dan rumah milik bapak Astrid.
Sering kali Astrid remaja di temui Karina sebagai psikiater dan mengadakan sesi tanya jawab seputar kehidupan dan apa saja yang Astrid ingat, lalu diakhiri dengan diberikan obat untuk di minum atau pun Karina menyuntikkan ketubuh Astrid.
Astrid tak pernah mau menjawab apapun pertanyaan yang di lontarkan Karina, Dia hanya diam saja dan menutup mulutnya rapat rapat.
Astrid remaja tahu, bahwa Karina adalah komplotannya Zahara yang telah merusak kebahagiaan hidupnya dan menjebak Bapaknya sehingga Bapaknya di penjara dan mati dalam rumah tahanan.
Astrid remaja tak tahu, apakah Bapaknya mati karena sakit, ataukah karena di bunuh. Dia bertekat ingin mencari tahu kebenaran atas kematian Bapaknya saat dalam rumah tahanan.
Dalam sesi pertemuan Astrid bersama Karina, selalu di rekam dengan Kamera, itu di lakukan Karina, karena sebagai psikiater Dia memang sering melihat kembali rekaman hasil sesi tanya jawabnya dengan pasien, guna mempelajari dan memahami serta mengetahui karakter atau bagaimana kejiwaan pasiennya.
Berbeda dengan Astrid remaja, Karina merekam sesi tanya jawab saat pertemuan Dia dan Astrid hanya sebagai formalitas saja, Karina sudah memvonis Astrid terganggu kejiwaannya, dan tak mengizinkan untuk melepaskan Astrid.
Justru Karina menyarankan agar Astrid remaja tetap di tahan dalam penjara, atau di tempatkan di rumah sakit jiwa untuk di rawat.
--- Flash Back ---
Kembali ke masa lalu, saat Astrid remaja.
Saat itu, Astrid baru saja selesai bertemu dengan Karina, saat Karina memberikannya obat suntik, Astrid remaja meronta, Dia tak mau di suntik obat obatan dari Karina, karena Dia tahu, obat itu hanya akan merusak dirinya.
Namun, Astrid remaja tak bisa berbuat apapun juga, karena dua petugas rumah sakit jiwa memegangi tubuhnya, dan Karina leluasa menyuntikkan obat ke lengan tangannya.
"Bawa Dia ke ruang isolasi !" Ujar Karina.
"Lepaskan...Lepaskaaaan!! Aku gak gila ... Aku gak gila !!" Teriak Astrid remaja meronta ronta.
__ADS_1
Kedua petugas rumah sakit jiwa terus memegang erat tubuh Astrid remaja, dan mereka cepat membawanya pergi keluar dari dalam ruangan Karina.
Karina tersenyum sinis melihat Astrid remaja yang dibawa dua petugas rumah sakit jiwa.
Astrid remaja di kurung dalam kamar isolasi yang ada di rumah sakit jiwa, kedua tangannya di ikat ke pinggir ranjang, agar Astrid tak bisa bergerak atau pun mencoba melarikan diri.
"Lepaskaaan !! Aku gak gila, Aku gak gilaaa !!" Teriak Astrid meronta terus.
Dua petugas mengabaikan teriakan Astrid, mereka segera keluar dari dalam kamar isolasi, meninggalkan Astrid sendiri terbaring di atas ranjang dengan kedua tangannya di borgol.
Astrid geram, Dia berusaha melepaskan borgol yang menempel di besi pinggir ranjangnya, pengaruh obat bius dari Karina mulai bekerja, dan Astrid semakin melemah tubuhnya.
Pandangan matanya mulai buram melihat sekitarnya, dan kepalanya terasa pusing, lalu, Dia pun memejamkan kedua matanya, terlelap tidur karena pengaruh obat bius yang diberikan Karina tadi dengan cara menyuntikkannya ke tubuh Astrid.
--- Flash back berakhir ---
Kembali ke masa sekarang.
Di kamarnya, Astrid menghela nafasnya, Dia terus memandangi photo Karina yang masih di pegangnya itu.
"Kamu juga telah menghancurkan hidupku , karenamu, selama dua tahun Aku berada di rumah sakit jiwa, sebelum kembali di pindahkan ke rumah tahanan !" Geram Astrid.
"Sebentar lagi, kamu pasti akan Aku hancurkan, Karina !" Gumam Astrid.
Astrid lantas meletakkan photo Karina di atas meja, bercampur dengan tumpukan photo photo lainnya.
Mata Astrid tertuju pada photo Gerard, Dia lalu mengambil photo tersebut, Di tatapnya photo Gerard yang tersenyum itu, Astrid pun kembali geram melihat photo yang dipegangnya itu.
Astrid masih ingat betul, bagaimana Gerard saat Dia Kecil dulu datang kerumahnya bersama dua orang petugas kepolisian dan juga Zahara.
Mereka menerobos paksa rumah, dan langsung memukul Bapaknya lalu menyeret Bapaknya, Astrid kecil melihat jelas semuanya , bagaimana perlakuan Gerard pada Bapaknya.
Sejak Bapaknya di bawa pergi dan di masukkan ke dalam penjara, Astrid kecil tinggal sendirian di rumahnya. Hingga datang Pamannya, Saudara kandung dari Bapaknya.
Pamannya lantas membawanya pergi, dan mulai saat itu Astrid tinggal bersama Pamannya, yang merawat dan melindungi dirinya, menggantikan Bapaknya yang di penjara.
Selama hidup dengan pamannya, Astrid kecil tetap bersekolah seperti saat Dia masih bersama Bapaknya.
__ADS_1
Astrid kembali menghela nafasnya, mengingat kenangan pahit itu, Dia menatap geram photo Gerard yang di pegangnya itu.
"Dan kamu, Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan pada Ayahku, Aku akan menuntut balas padamu Gerard !" Gumam Astrid menahan amarahnya menatap tajam photo Gerard.
Astrid lantas melemparkan photo Gerard ke atas tumpukan photo photo di atas meja riasnya, Dia lantas beranjak menuju ranjangnya, lalu duduk di tepi ranjang.
Astrid diam dan tercenung, Dia merindukan Pamannya yang menghilang, dan tak pernah Dia temukan lagi sampai saat ini.
"Paman, Dimana kamu ?!" Bathin Astrid bicara lirih.
Wajah Astrid berubah sedih, Dia mengenang dan mengingat pamannya yang sudah baik padanya, karena mau merawat dan menjaga dirinya selama Bapaknya berada di dalam penjara.
Namun, kebahagiaan itu singkat, hanya setahun saja, lalu Pamannya tiba tiba saja tak kembali kerumah dan menghilang begitu saja.
Sampai detik ini, Astrid tak tahu, apa yang menyebabkan Pamannya pergi dan menghilang dari rumah dan meninggalkan dirinya begitu saja tanpa ada pesan apapun juga.
Astrid masih ingat, saat awal Pamannya menghilang dan tak pulang pulang ke rumah.
Saat itu, Astrid yang duduk di bangku SMP baru saja pulang dari sekolah, pakaiannya lusuh dan kotor, di sekolah, Astrid berkelahi dengan murid murid cewek yang berusaha membullynya.
Saat Dia pulang kerumah, Pamannya tak ada , hingga malam hari Astrid menunggu tapi pamannya tak kunjung pulang juga, tak seperti biasanya, sebelumnya, Pamannya selalu pulang di sore hari dari kerjanya.
Sampai seminggu lebih Astrid terus saja menunggu pamannya Dia berharap, Pamannya pulang dan bertemu Dia kembali, namun, harapannya sia sia, Pamannya tak juga kembali ke rumahnya, menghilang begitu saja.
Sejak kepergian Pamannya yang menghilang, hidup Astrid tak bersemangat, Dia lebih banyak diam dan murung, di sekolah pun Dia menjadi anak yang murung dan pendiam.
Sikapnya itu membuat teman teman sekolahnya semakin sinis dan semakin berusaha untuk membullynya.
Mereka terus saja mengganggu Astrid di sekolah, mengatakan bahwa Astrid anak penjahat, pembunuh dan kata kata hinaan lainnya.
Sebelum sebelumnya Astrid masih bisa bersabar mendengar ejekan teman teman kelasnya itu, Dia mencoba bersabar menahan diri dan mengabaikan semua perkataan kasar teman temannya.
Tapi, setelah kepergian pamannya, pendirian Astrid mulai goyah, Dia semakin tak bisa menahan diri, hingga pada akhirnya, Astrid tak bisa lagi menahan dirinya.
Amarahnya semakin memuncak, perbuatan teman teman sekolahnya sudah keterlaluan, karena Dia diam saja, mereka menjambak rambut Astrid dan menendang serta menamparnya.
Teman teman kelasnya berani melakukan hal itu, karena mereka mengikuti Klara, siswi yang menjadi pimpinan di sekolah dan kelas mereka, Klara sangat di takuti murid murid cewek yang ada di sekolahan.
__ADS_1
Klara dan komplotannya setiap hari selalu membully , mengganggu murid murid cewek yang terlihat lemah.
Seperti halnya, Astrid, Klara dan komplotannya mengira Astrid lemah, hingga mereka terus saja mengejek dan menghina Astrid dengan menuduhnya sebagai anak pembunuh dan penjahat, anak narapidana, dan sebagainya.