Destroy

Destroy
Aku tak pernah bisa Melupakanmu


__ADS_3

Antoni melangkah, mendekati Astrid yang masih berdiri diam dan termangu dihadapannya.


"Aku tau, Kamu Astrid, teman masa kecilku dulu." Ujar Antoni, berdiri dihadapan Astrid dan menatap wajah Astrid penuh kerinduan.


"Jangan bersembunyi dan menghindar dariku lagi Astrid." Ucap Antoni, tersenyum manis menatap wajah Astrid.


"Apa karena Kamu mendengarnya dari Gerard?" tanya Astrid, menatap lekat wajah Antoni yang berdiri dihadapannya.


"Ya, salah satunya itu, tapi sebenarnya, jujur Aku katakan, saat pertama kali Aku melihatmu di mini market tempatku bekerja , Aku sudah punya perasaan, jika Kamu adalah Astrid, Aku gak bisa melupakan wajah dan gerak gerikmu." Ujar Antoni.


"Aku cuma masih ragu dan belum yakin, lalu, ditambah, Aku mendengar langsung dari Gerard, Dia bilang, Kamu bukan Camelia, Kamu hanya menyamar sebagai Camelia, dan kata Gerard lagi saat itu, Dia sudah tau kalo Kamu Astrid, anak pak Edward." Ungkap Antoni.


"Oh, begitu." Ucap Astrid mengangguk paham.


"Ya, Aku Astrid, maafkan Aku Antoni, Aku sengaja memalsukan namaku dan menyamar, karena ada yang sedang Aku lakukan ." Ujar Astrid.


"Dan Aku gak mau Kamu terlibat jauh, jika Kamu mengetahui kalo Aku Astrid, karenanya, Aku menyamar dan mengaku sebagai Camelia padamu." Ungkap Astrid pada Antoni.


"Ya, Aku tau dan paham." Ucap Antoni.


"Aku semakin yakin kalo Kamu memang benar Astrid, Tadi, gak sengaja, pas obati luka di punggungmu, Aku melihat tanda lahirmu." Ungkap Antoni.


"Tanda lahirku?" Ujar Astrid kaget.


Astrid memegang tengkuk belakang lehernya, Dia tahu, kalau Dia memang mempunyai tanda lahir.


"Tanda lahir itu sama, Aku dulu pernah melihatnya juga saat kita masih kecil dulu, pas kita bermain main di sungai bersama Papahmu." Jelas Antoni.


"Oh, Aku kira Kamu sudah lupa." Ucap Astrid.


"Aku gak akan pernah melupakanmu, Astrid." Ujar Antoni menatap lekat wajah Astrid.


"Aku berharap, setelah Aku mengetahui bahwa Kamu Astrid, teman masa kecilku dulu, Kamu jangan pernah berusaha menghindar dan menjauh dariku." Ujar Antoni menegaskan pada Astrid.


"Aku gak mau Kamu terlibat dalam masalahku nantinya Antoni." Ujar Astrid.


Astrid khawatir, Antoni nantinya malah jadi terlibat dalam masalah besarnya, Astrid ingin membalas dendam, dan lawannya bukan orang sembarangan, tapi orang orang kuat dan orang penting , Astrid tak ingin, Antoni mendapatkan masalah, karena musuhnya mengetahui kedekatan mereka, karena Astrid yakin, musuhnya, yakni komplotannya Gerard pasti akan berusaha menyingkirkan semua orang orang dekat Astrid.


Astrid tak ingin, orang yang pernah di cintainya, yakni Antoni mendapat bahaya dan terluka, hanya karena dekat lagi dengan dirinya.


"Aku sudah tau, Kamu punya masalah, Aku bisa nilai, karena ada yang menyerangmu dan berusaha mau membunuhmu." ujar Antoni, menatap lekat wajah Astrid.

__ADS_1


"Aku gak mau bertanya, masalah apa itu, tapi satu hal yang harus Kamu ketahui Astrid, Aku akan melindungimu dari bahaya yang mengancam nyawamu." ungkap Antoni.


"Aku gak mau, Kamu terluka, Aku akan tetap berusaha selalu ada di dekatmu dan menjagamu." Ujar Antoni, menegaskan pada Astrid.


"Sekali lagi Aku bilang, Aku gak mau melibatkanmu dalam masalahku Antoni." Ucap Astrid, menegaskan pada Antoni.


Antoni tersenyum manis menatap wajah Astrid, Astrid yang melihat senyum manis Antoni tak sanggup menatapnya lama, Astrid buru buru menundukkan wajahnya, Dia tak sanggup melihat senyum manis Antoni. Biar bagaimana pun, Antoni adalah cinta pertamanya, dan Dia tak pernah bisa melupakan Antoni, perasaan sayangnya masih ada pada Antoni, namun, Dia berusaha menyembunyikan perasaannya itu dan memendamnya sendiri.


Dia tak mau dekat dengan Antoni, karena bisa membahayakan diri Antoni nantinya, namun, Dia bertekat, setelah semua urusannya selesai, Dia akan mendekat lagi pada Antoni, dan menyambung kembali hubungan mereka yang sempat terpisah dulunya.


"Astrid, ikutlah kerumahku sekarang." Ujar Antoni, menatap lekat wajah Astrid.


"Tengah malam begini? Ngapain?" tanya Astrid, menatap heran wajah Antoni.


"Menginaplah, untuk malam ini saja, karena kamu baru saja mengalami kejadian yang hampir saja menewaskan dirimu, Aku ingin Kamu aman, Aku khawatir orang orang itu datang lagi." Ujar Antoni.


"Kan sudah Aku bilang tadi, Aku gak apa apa Antoni, Aku bisa menjaga diriku." Ujar Astrid.


"Hmm...Astrid, ada yang mau Aku katakan padamu, dan Aku juga mau memperlihatkan sesuatu padamu dirumahku." Ujar Antoni.


"Oh, ya? Apa itu? Kenapa gak sekarang aja?" Ujar Astrid bertanya.


"Karena hal yang akan Aku katakan dan Aku tunjukkan itu ada dirumahku, Aku gak bisa mengatakannya di sini, kamu harus kerumahku." Ujar Antoni, mencoba untuk meyakinkan Astrid.


"Sudah tengah malam begini, gak akan ada yang di luar rumah. Kampungku gak pernah mengadakan ronda. Karena menganggap aman lingkungannya." Ujar Antoni menjelaskan.


"Begini saja, Bagaimana kalo besok Aku datang kerumahmu, Kasih alamat rumahmu, besok Aku datang sendiri." Ujar Astrid, menatap lekat wajah Antoni.


"Hmmm...Baiklah. Kalo gitu, besok Pagi Aku jemput Kamu ke sini, kita sama sama kerumahku." Ujar Antoni, tersenyum senang menatap wajah Astrid yang berdiri dihadapannya.


"Pagi? Kamu gak kerja?" Ujar Astrid, bertanya pada Antoni yang berdiri dihadapannya, dengan senyum manisnya itu.


"Kebetulan, besok jadwal liburku." Ujar Antoni.


Bolak balik Antoni tersenyum manis padanya, sehingga membuat jantung Astrid berdebar debar kencang setiap kali Dia melihat senyum manis Antoni, ingin rasanya Dia memeluk tubuh Antoni saat ini juga, namun, Ditahannya, Dia tak mau merusak suasana dan tak ingin rencana yang sudah di buatnya lama menjadi hancur berantakan karena Dia tak bisa menahan dirinya.


"Bagaimana Astrid, Kamu maukan Aku jemput?" Tanya Antoni menatap lembut wajah Astrid.


"Ya, Baiklah, Kamu bisa menjemputku besok pagi." Ujar Astrid.


"Baiklah. Sekarang, Aku pulang, Kamu hati hati dirumah." Ujar Antoni.

__ADS_1


"Kunci pintu kamarmu, dan tetap waspada." Jelas Antoni mengingatkan Astrid.


"Ya, Antoni, terima kasih." Ucap Astrid, tersenyum manis pada Antoni.


Tanpa Dia sadari, Dia tersenyum manis menatap wajah Antoni, untuk sesaat, mereka saling berpandangan mata, lalu Keduanya sama sama tersadar dan menundukkan wajahnya masing masing, Astrid tersipu malu, namun cepat Dia menguasai dirinya dan tetap bersikap tenang dihadapan Antoni, begitu juga halnya dengan Antoni.


"Oh ya, Pintu rumahmu Aku liat rusak parah." ujar Antoni.


"Gak apa apa, nanti Aku perbaiki, untuk malam ini, gak apa Aku menutup pintu seadanya saja." Ujar Astrid.


"Ya sudah, ingat pesanku, kamu harus hati hati." Ujar Antoni.


"Ya, Antoni." Ucap Astrid mengangguk pada Antoni.


"Aku pulang Astrid." Ucap Antoni.


"Ya, Antoni. Sampai ketemu besok pagi." ujar Astrid.


Antoni mengangguk, mengiyakan ucapan Astrid, lalu, Antoni berbalik badan , lalu berjalan pergi meninggalkan Astrid.


Astrid masih berdiri ditempatnya, memandangi kepergian Antoni yang berjalan semakin jauh darinya.


Astrid lantas menghela nafasnya, lalu, Dia berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Dia tak menutup pintu rumahnya, karena pintu Dia lihat sudah rusak parah dan tak bisa menutup, Astrid membiarkan saja rumahnya terbuka dan pintu tak tertutup.


Astrid lantas berjalan menyusuri selasar rumahnya, Dia merapikan sofa dan meja yang berantakan, akibat Dia berkelahi dengan ke empat orang yang menyerangnya di dalam rumahnya itu.


Setelah beres semuanya, Astrid kembali berjalan dan masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur.


Di jalanan, Antoni berdiri diam diatas trotoar, Dia berbalik badan lalu melihat dari kejauhan ke arah rumah Astrid.


"Terima kasih Astrid, sudah hadir lagi di hadapanku, Aku berharap, Kamu gak menjauh dan menghilang lagi dariku." Bathin Antoni bicara.


Antoni menghela nafasnya, lalu, Dia tersenyum, masih memandangi bangunan rumah yang di tempati Astrid saat ini.


"Besok, akan ada kejutan besar yang tak Kamu duga dariku untukmu Astrid." Bathinnya lagi.


" Dan Kamu pasti akan kaget, bahkan bisa syock, karena Kamu gak akan pernah menyangka, setelah melihat langsung dirumahku besok." Bathinnya lagi.


Antoni tersenyum kembali, lalu, Dia berbalik badan dan berjalan kembali.

__ADS_1


Dia melangkah menyusuri trotoar jalanan menuju ke rumahnya .


__ADS_2